Ketahui Seberapa Efektifkah Adanya Diskon Harga Tiket Pesawat

Beberapa masyarakat yang berhasil diwawancarai team CNN membeberkan bahwasanya ia masih mengalami keresahan akibat kenaikan harga tiket pesawat belakangan ini. Glien, atau yang memiliki nama lengkap Glienmourinsie, lelaki yang berusia 30 tahun ini memang memiliki keresahan tersendiri ketika tiket pesawat mengalami kenaikan, pasalnya hal yang menjadikan harus sering-sering terbang adalah pekerjaannya dan hobinya yang senang berjalan-jalan.

“Misalnya saja, 2 tahun yang lalu Ia hanya merogoh kocek sebesar Rp400.000 untuk sekali penerbangan dengan rute Jakarta-Yogyakarta. Namun kini Ia harus merogoh kocek 2x lipat dari harga sebelumnya dengan rute yang sama yakni sekitar Rp800.000 hingga Rp900.000. Kenaikan harga tersebut menjadikannya harus mengatur bagaimana agar pekerjaan dan hobinya tetap bisa jalan tanpa harus menguras isi dompetnya. Ia lebih memilih untuk berpindah transportasi, 3 pekan lalu Ia kembali melakukan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan Kereta Api agar dapat tetap bekerja serta jalan-jalan.”

Selain Glien ternyata Suci Sedya Utami atau yang biasa disapa Suci ini juga mengalami keresahan yang sama. Ia sampai mengagalkan rencananya pulang kampung ke Kota Padang untuk menghadiri acara keluarganya karena adanya kelonjakan harga tiket. Budget tiket kini hanya bisa dibuat untuk membeli tiket saja dulu masih bisa digunakan untuk membeli tiket, hotel serta kepentingan lainnya, sehingga biaya perjalanannya akan terhitung lebih mahal.

Lonjakan harga tiket tersebut telah menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Pekan lalu, pemerintah mengumumkan pelaksanaan program diskon tarif 50% dari Tarif Batas Atas (TBA) LCC untuk jadwal penerbangan di hari Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00 hingga 14.00. Dan periode tersebut dipilih karena merupakan periode low hours atau sepi penumpang, yang mana pemilihan jam-jam tersebut adalah hasil diskusi antara pihak maskapai, bandara dan Airnav.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan pada awal bulan ini, kebijakan diskon tersebut akan diberlakukan mulai hari Kamis. Yang mana rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan melibatkan pelaku industri muali dari maskapai, operator bandar, operator kenavigasian hingga penyedia avtur. Kurang lebih 11.626 kursi setiap harinya atau 30% jumlah kursi yang ditawarkan akan dijual dengan harga yang lebih murah pada jadwal penerbangan tertentu. Rincinannya adalah sebagai berikut, 8.828 kursi dari 146 penerbangan Lion Air Group dan 3.348 kursi dari 62 penerbangan Citylink.

Melejitnya harga tiket berpengaruh pada inflasi selama lima bulan pertama ditahun ini. Padahal pemerintah memiliki kepentingan untuk mengendalikan tingkat inflasi demi menjaga daya beli masyarakat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan tingkat transportasi udara terjadi hingga bulan Mei 2019 yang mana andil transportasi udaa mencapai 0,02 dari inflasi bulanan Mei 2019 yang tercatat 0,68%.

Tak hanya itu, seiring dengan melonjaknya harga transportasi udara tersebut menjadikan penumpang ikut anjlok sejak awal tahun. BPS mencatat, jumlah penumpang pesawat domestik pada periode Januari hingga Mei 2019 turun sebesar 21,33% dibandingkan periode yang sama ditahun lalu menjadi 29,44 juta. Hal tersebut juga berdampak pada menurunnya pengunjung hotel berbintang pada bulan Mei 2019 yang menurun sebesar 10,33 poin. Dengan adanya penurunan tarif ini harapannya dapat meningkatkan permintaan konsumen, namun ternyata kebijakan tersebut masih belum cukup menarik di mata konsumen.

Glien menyambut solusi yang ditawarkan pemerintah. Ia sudah berencana untuk menyesuaikan jadwal perjalanannya dengan keluarga agar bisa mendapatkan diskon tarif. Pemesanan tiket juga akan dilakukan dari jauh-jauh hari. Di saat yang sama, ia mengkritik pemberlakuan tarif yang hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu dengan kuota yang terbatas oleh kedua maskapai LCC terbesar di Indonesia itu.

Sementara itu, Suci menilai pemberlakuan diskon tidak mempengaruhi keputusannya untuk melancong. Pasalnya, diskon diberikan pada hari kerja dan Sabtu. Sebagai karyawan, waktu berpergiannya akan tergantung hari libur maupun periode cuti. Karenanya, ia menilai perlu ada solusi jangka panjang untuk menurunkan harga tiket penerbangan. Misalnya, biaya operasional penerbangan diturunkan dengan melibatkan seluruh pihak terkait, tidak hanya dari maskapai tetapi juga dari operator bandara.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menilai pemberian diskon tiket penerbangan hanya gimmick pemasaran yang menipu konsumen. Pasalnya, turunnya harga tiket hanya terjadi pada jam dan hari non peak season. Menurut Tulus, apabila harga tiket pesawat mau turun, pemerintah harus rela menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen untuk tiket dan avtur. Tulus juga khawatir kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga tiket bisa menjadi kontraproduktif dengan mempertaruhkan sisi finansial maskapai yang pada akhirnya akan merugikan konsumen.

Sementara itu, pengamat penerbangan Arista Atmadjati menilai pemberian diskon tiket dapat menjadi peluang untuk mendorong konsumen dan membangkitkan lagi wisatawan domestik. Pada akhirnya, bisnis hotel dan UMKM akan semakin menggeliat di daerah sekitar. Kendati demikian, pemberian diskon tarif kepada konsumen juga harus diimbangi dengan pemberian diskon kepada ‘maskapai’. Jika tidak, menurutnya, maskapai LCC bisa bangkrut. Diskon kepada maskapai bisa berupa diskon pajak, diskon tarif untuk navigasi, pendaratan, hingga parkir bandara. Selain itu, biaya sewa terminal untuk LCC juga sebaiknya dibedakan dengan maskapai lain. Pemerintah sendiri menjanjikan akan memberikan insentif fiskal bagi dunia penerbangan yang akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Insentif itu diberikan agar maskapai bisa menawarkan jasa penerbangan dengan biaya yang terjangkau kepada konsumen.Saat ini, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono menyebutkan RPP tersebut sudah rampung disusun dan tinggal menunggu paraf Presiden Joko Widodo.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190711112841-92-411192/