Penyebab Pasifnya Pertumbuhan UMKM di Indonesia

Dewi Meisari Haryanti selaku Associate Director UKM Center Universitas Indonesia menjelaskan bahwa Usaha Mikro Kecil menengah khususnya usaha mikro di Indonesia memiliki potensi bisnis yang sangat besar, feasible dan sustainable. Namun sektor ini tidak menarik dimata perbankan. Hal tersebut lantaran sulit ya akses modal untuk pengembangan usaha, karena pola transaksi mereka yang kecil-kecil, sering dan berputar cepat sehingga sulit untuk mengakumulasi laba atau aset. Padahal, Usaha mikro adalah usaha yang perputaran usahanya sampai dengan Rp 300 juta per tahun. Jadi kalau dalam satu tahun ada 300 hari kerja efektif, maka penghasilan rata-rata maksimum adalah Rp 1 juta per hari. Yang termasuk dalam skala ini adalah pedagang kaki lima (PKL), tukang ojek, atau anak-anak muda yang suka berdagang di online shop.

Namun pertumbuhannya bisa dibilang stagnan. Karena, perputaran uangnya itu telalu cepat, dapat uang hari ini, besok sudah dibelanjakan lagi. Jadi mereka tidak sempat menabung. Hal ini membuat pertumbuhan UMKM di Indonesia stagnan karena kesulitan mendapatkan modal. Makanya beruntung ada Fintech. Lebih cepat mendapatkan modal. Menurutnya, kemudahan prosedur yang dihadirkan oleh Fintech sangat membantu UMKM terbukti dengan peningkatan akun borrower hampir 600 persen periode Januari sampai September 2018. Agunan bisa diganti dengan rekomendasi kelompok, adanya pembina atau koperasi sebagai penjamin dan bahkan rekam jejak borrower yang tersimpan baik di sistem dapat berperan sebagai agunan. Jadi dengan adanya perkembangan Fintech ini, diharapkan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku UMKM di Indonesia. Sehingga sektor ini bisa membantu mendongkrak perekonomian di Indonesia. Hal tersebut juga bisa mengurangi jerat rentenir yang marak di daerah-daerah pelosok. Jadi tidak usah lagi pinjem ke retenir, kalau pinjam ke fintech pelaku usaha bisa berusaha dengan nyaman.

Sumber : https://www.suara.com/bisnis/2018/12/11/151038/alasan-pertumbuhan-umkm-di-indonesia-tumbuh-stagnan