Tak mau kalah, Arab Saudi ingin belajar mengembangkan UKM ke Indonesia

Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah (AAGN), Puspayoga segera merealisasikan rencana kemitraan dengan Arab Saudi dalam enam hal yang telah disepakati.

Menteri AAGN mengatakan bahwa pihaknya segera menindaklanjuti nota kesepahaman bersama (Memorandum of Understanding/MoU) antara Menteri Koperasi dan UKM dengan Otoritas UKM Arab Saudi yang ditandatangani di hadapan Raja Salman dan Presiden Jokowi pada tahun 2017 lalu di Istana Bogor, Jawa Barat.

Ia mengatakan, kerja sama dengan Arab Saudi juga diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk UKM Indonesia ke negara-negara Arab dan Timur Tengah karena selama ini Arab Saudi bisa menjadi hub terbesar di kawasan itu.

“Kerja sama dengan Arab Saudi, merupakan peluang sangat besar bagi UKM untuk meningkatkan kapasitas produksi.”

Arab Saudi adalah pasar yang sangat potensial bagi produk UKM Indonesia khususnya produk furniture, kerajinan, makanan halal, dan busana muslim. Sedangkan bagi Arab Saudi, Indonesia dianggap memiliki potensi UKM yang sangat besar, sehingga tepat dijadikan tempat belajar pengembangan UKM. Jumlah pelaku usaha muslim yang besar dan berkembangnya bisnis pola syariah di kalangan UKM menjadi salah satu pertimbangan bagi Arab Saudi.

Keseriusan Arab Saudi untuk menjajaki kerja sama bisnis UKM di Indonesia ditunjukkan dengan hadirnya perwakilan delegasi mereka di SMESCO RumahKU sehari setelah penandatangan MoU.

Delegasi Arab Saudi menemui pejabat Kementerian KUKM, LLP-KUKM, dan LPDB-KUMKM untuk memperoleh informasi umum tentang kebijakan dan juga pemberdayaan UKM di Indonesia, serta mendiskusikan langkah konkrit yang dapat dilakukan segera.

Oleh karena itu sejumlah kesepakatan yang akan segera direalisasikan, antara lain menyerahkan daftar UKM dan produknya yang potensial dikerjasamakan dengan Arab Saudi.

Selain itu, pihak Arab Saudi akan mengirimkan perwakilannya untuk belajar dalam hal pengembangan koperasi di Indonesia.  Terlebih, UKM Indonesia memiliki kunggulan yang tidak dimiliki negara lain seperti sumber bahan baku berkualitas yang baik, termasuk bahan baku rotan, kayu jati, dan bambu.

Kreativitas UKM Indonesia juga sangat bervariasi dan memiliki nilai etnik yang tinggi yang dihasilkan melalui proses buatan tangan menjadi berbagai macam bentuk produk furniture, seperti gebyok, rumah joglo, dan gapura serta produk busana Muslim yang mengikuti tren fashion.

Enam poin MoU yang ditandatangani tersebut adalah pertukaran informasi terkait kebijakan, program-program, proyek, regulasi dan praktik terbaik dalam pengembangan UKM.

Selain itu pertukaran tenaga ahli, kunjungan, tour pada objek yang terkait dengan pengembangan UKM, memfasilitasi kerja sama bisnis di antara UKM melalui kegiatan perdagangan, promosi, pameran baik bertaraf nasional maupun internasional, kerja sama pemasaran serta pengembangan kemitraan usaha.

Kerja sama lain yakni memberikan kesempatan kepada UKM untuk mengikuti pelatihan baik bersifat teknis maupun manajerial, mendukung dan memfasilitasi kegiatan simposium, seminar, konferensi lokakarya dan pertemuan-pertemuan bilateral yang melibatkan UKM.

Sumber : https://www.suara.com/bisnis/2017/03/08/135435/arab-saudi-akan-belajar-pengembangan-ukm-ke-indonesia