Kembangkan Ekosistem Inovasi pada Koperasi

Sejauh ini yang kita ketahui koperasi atau lembaga keuangan lainnya hanya seperti itu-itu saja. Seperti tidak ada jenis usaha lainnya, toko, jasa fotokopi atau kantin yang sering kali di gandrungi oleh mayoritas masyarakat atau mahasiswa. Beberapa hal yang perlu kita kembangkan untuk menjadikan koperasi kita lebih baik, yakni dengan :

Jenius Kreatif

Bagi orang koperasi akan mengetahui bagaimana pergerakan dalam defisit jenius kreatif. Dalam hal ini Indonesia masuk peringkat ke lima dengan jumlah startup 1969 buah, sedangkan untuk peringkat pertama diduduki oleh Amerika yang selanjutnya diduduki oleh India, Inggris dan Canada.
Para jenius kreatif itu merintis bisnisnya dari gagasan. Sebagian besar adalah anak muda yang secara ekonomi tidak kaya. Berdasakan adanya ekosistem yang mendukung seperti adanya inkubator, akselerator, angel investor maupun ventura kapital dapat dikembangkan menjadi masterpiece.

Ekosistem Inovasi

Hal yang sama perlu kita kembangkan di gerakan koperasi tanah air. Ekosistem inovasi menyaratkan adanya beberapa pilar lembaga yang berkolaborasi: perguruan tinggi atau lembaga riset, dunia industri/ bisnis, pemerintah, komunitas/ lembaga swadaya dan lembaga keuangan. Jadilah kerja itu bukan satu pihak, melainkan multi pihak. Pada konteks koperasi seluruh unsur sudah ada. Yang dibutuhkan adalah sebuah peta jalan yang menjahit berbagai pihak dengan perannya masing-masing. Laboratorium Koperasi yang dibangun di beberapa kampus bisa menjadi leader untuk regionalnya masing-masing; Koperasi sektor keuangan bisa menjadi penyangga keuangannya; Komunitas koperasi pada saat bersamaan kembangkan inkubator model; Dan Kementerian Koperasi harus siapkan aneka regulasi yang responsif.

Koperasi Inovatif

Tercatat ada 100 koperasi besar di Indonesia. Dianggap besar yakni ketika memiliki aset diatas 50 milyar. Dan 100 koperasi besar yang profilnya dapat dilihat di buku 100 Koperasi Besar Indonesia, asetnya bahkan sampai triliun rupiah. Namun bila kita ketahui, model bisnis yang dikembangkan masih juga sama dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu. Sama-sama model konvensional. Sehingga soal inovasi tidak sama dengan koperasi itu miliki aset besar atau kecil. Nyatanya, inovasi itu yang pertama-tama adalah soal ide, kreativitas, pengetahuan dan intuisi. Jumlah aset yang trilyun rupiah tak menjamin koperasi menjadi inovatif. Alih teknologi bisa mudah dilakukan dengan membelinya. Namun tanpa serius kembangkan ekosistem yang mendukung, hasilnya hanya di permukaan saja.

Sumber : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/17/121810026/membangun-ekosistem-inovasi-pada-koperasi