Meningkatkan Perekonomian RI 2019 Melalui Beberapa Sektor

Thomas Trikasih Lembong selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan bahwa Estimasi perekonomian Indonesia di tahun 2019 dan 2020 akan lebih baik dibandingkan di tahun 2018 yang didorong oleh sektor perdagangan jasa. Selama ini lebih condong ke sektor manufaktur dan perdagangan barang saja, padahal sejauh ini perdagangan jasa juga telah menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Ia menambahkan sekitar 15 tahun yang lalu bisnis penerbangan di Indonesia belum begitu berkembang yang mana pada saat itu hanya ada tiga maskapai yang beroperasi. Namun perubahan terjadi ketika adanya keterbukaan. Sektor-sektor yang sebelumnya eksklusif kini menjadi terbuka dan pertambahan maskapai saat itu menjadi sekitar 7 hingga 8 perusahaan. Adanya hal tersebut menjadikan pilihan masyarakat semakin beragam, sehingga penurunan harga tiket terjadi. Yang sebelumnya tumbuh hanya 1 hingga 2% pertahunnya kini menjadi double digit. Tak hanya itu, saat itu pun sektor penerbangan Indonesia telah menduduki peringkat terbesar nomor 5 di dunia. Dari hal tersebut, maka sektor jasa juga dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, karena saat ini di sektor manufaktur pekerja harus dapat melawan teknologi mesin dan robot.

Selain di sektor penerbangan, yang dapat menjadi perkembangan bisnis lainnya yakni di industri perfilman. Yang mana pertumbuhan bisnis perbioskopan kini tumbuh hingga 20% tiap tahunnya. Pertumbuhan yang sama juga terjadi di sektor jasa seperti makeup, cathering hingga desain, yang mana beberapa sektor jasa diatas selain mendapatkan penghasilan dan lapangan pekerjaan juga dapat dijadikan sebagai devisa.

Sedangkan menurut Endang Astharanti selaku Direktur Mandiri Manajemen Investasi menjelaskan bahwa di 2019 optimis untuk meningkatan pertumbuhan perekonomian karena banyak sektor yang bergerak untuk dapat mendorong perekonomian domestik. Menurut data, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17% dibandingkan tahun sebelumnya

Terjaganya daya beli konsumen di tengah meredanya tekanan eksternal akan menjadi faktor pendukung bagi pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada kuartal pertama tahun ini. Selain itu, stabilnya perekonomian negara berkembang dan kebijakan Bank Sentral AS yang diharapkan lebih akomodatif di tahun ini akan memberikan sentimen positif bagi kelas aset negara berkembang. Hal tersebut menjadi momentum bagi Mandiri Investasi untuk terus meningkatkan kinerja produk-produk Reksa Dana. Dengan kondisi pasar modal yang diharapkan lebih bergairah di tahun ini, asset class yang dapat menjadi pilihan investor untuk berinvestasi antara lain adalah Reksa Dana Saham dan Reksa Dana Pendapatan Tetap.

Adapun produk Mandiri Investasi yang menjadi unggulan di Reksa Dana Saham adalah Reksa Dana Mandiri Investa Equity ASEAN5 Plus (ASEAN5+) dan Reksa Dana Mandiri Investa Equity Dynamo Factor (DYNAMO). Sedangkan untuk Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah Reksa Dana Mandiri Investa Dana Utama (MIDU). Sebagai jawaban kami kepada minat investor terhadap produk investasi alternatif, Perseroan berencana akan menerbitkan beberapa produk alternatif lainnya di tahun 2019 seperti KIK-DINFRA dan KIK-EBA lainnya. Mandiri Investasi berkomitmen untuk tumbuh lebih baik dan terus mengembangkan kapabilitas, sesuai visi Mandiri Investasi untuk menjadi “The Most Innovative and Leading Asset Management Company in Indonesia”. Mandiri Investasi senantiasa memberikan solusi investasi dengan produk yang inovatif disertai hasil yang optimal untuk memenuhi kebutuhan para Investor.

Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4426529/telekomunikasi-dan-pariwisata-dongkrak-ekonomi-ri-di-2019