fbpx

Pemulihan Berjalan Lambat, Ekonomi 2021 Diramal Merangkak 3 Persen


JawaPos.com – Pandemi Covid-19 akhirnya membawa perekonomian Indonesia ke jurang resesi. Ekonomi triwulan II mengalami kontraksi 5,32 persen dan triwulan III drop negatif 3,49 persen.

Ekonomi nasional secara berturut-turut berada di zona negatif. Namun, membaiknya ekonomi pada triwulan III dibanding triwulan II 2020 memberikan sinyal bahwa pemulihan ekonomi sedang berjalan.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pun memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2021 hanya 3 persen. Ramalan ini didasari beberapa hal, salah satunya yaitu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang pada tahun ini masih belum maksimal.

Indef juga melihat, program perlindungan sosial belum dapat menggerakkan permintaan domestik. Apalagi jumlah bantuan perlindungan sosial berkurang separuh pada tahun depan. Belanja kelas menengah diperkirakan masih belum meningkat ketika pandemi Covid-19 belum mereda.

Lalu, laju kredit perbankan sebagai sumber utama likuiditas perekonomian masih akan tertekan. Sehingga pemulihan ekonomi secara keseluruhan juga akan berjalan pelan. Upaya melakukan ekspansi moneter melalui penurunan bunga acuan juga mengalami keterbatasan seiring menjaga stabilitas kurs.

Di samping itu, ketersediaan vaksin masih terbatas. Kalaupun vaksin sudah tersedia hingga 70 persen dari populasi, tentunya proses distribusi dan vaksinasi akan memerlukan waktu. Selama proses tersebut, pembatasan aktivitas dan protokol kesehatan masih akan berlanjut.

Sementara, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sebesar 14.800. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingkat Credit Default Swap (CDS) masih bergerak tinggi dan cenderung fluktuatif dibandingkan pasar negara ASEAN lainnya. Ketika tingkat CDS tinggi, besarnya dana yang dikeluarkan investor untuk melindungi portofolio pun masih tinggi. Investor akan berhati-hati untuk masuk ke pasar Indonesia.

Optimisme ekonomi Amerika Serikat pasca pemilu justru bisa menjadi berita buruk untuk pasar uang Indonesia yang dinamikanya sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal atau asing. Dolar AS akan menguat seiring membaiknya perekonomian AS, sementara Rupiah lebih berpeluang tertekan.

Pasar uang di Indonesia yang masih dangkal membuat investor lebih tertarik untuk perdagangan jangka pendek dan bukan untuk investasi jangka panjang. Akibatnya Rupiah cenderung fluktuatif dibanding beberapa mata uang negara lain.

Sedangkan, tingkat inflasi sebesar 2,5 persen. Hal ini dikarenakan pada tahun 2021 daya beli masyarakat yang masih tertahan dan aktivitas ekonomi yang belum pulih seperti sedia kala membuat tingkat inflasi masih terpatok rendah.

Sisi suplai kebutuhan bahan kebutuhan pokok perlu tetap tersedia dengan baik serta distribusi yang lancar. Hanya sedikit daerah yang diperkirakan mengalami kesulitan mendapatkan bahan pokok secara tepat waktu.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Pertamina Catat Kontribusi Lebih Rp 1,5 Triliun di Masa Pandemi Korona


JawaPos.com – PT Pertamina (Persero) terus meningkatkan kontribusi dalam membantu pemerintah di masa pandemi Covid-19. Kontribusi pertamina mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun dalam penanganan dampak virus Korona baik di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

Dukungan Pertamina yang cukup besar terlihat pada penanganan di sektor kesehatan. Melalui anak usaha PT Pertamina Bina Medika, Pertamina membangun rumah sakit modular di lapangan bola Simpruk dan menyediakan tujuh Rumah Sakit Pertamina menjadi RS Rujukan Covid-19 yang tersebar di berbagai wilayah operasi.

Untuk membantu Pemerintah dalam penanggulangan penyebaran virus, Pertamina Group juga memberikan bantuan kepada masyarakat mulai dari Alat Perlindungan Diri (APD), masker, sarung tangan, face shield, disinfectant chamber, ventilator, thermo gun, rapid test, wastafel portabel hingga paket makanan dan sembako.

Pjs Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari menjelaskan, 2020 merupakan tahun terberat bagi Pertamina dalam pengelolaan energi nasional. Namun, jelang 63 tahun, perseroan tetap menjaga ekosistem migas nasional serta terus berkontribusi dalam penanganan Covid-19.

“Tahun menjadi momentum Pertamina untuk bangkit. Seluruh upaya dan kontribusi Pertamina selama pandemi Covid-19 menjadi bukti nyata bahwa kami selalu hadir untuk memberi manfaat dan semangat bagi masyarakat dalam kondisi apapun,” ujar Heppy.

Ilustrasi mobil Pertamina dalam proses pendistribusian alat-alat kesehatan di masa pandemi Covid-19. (Dok. Pertamina)

Menurutnya, sejak Covid-19 menghantam dunia pada Maret 2020, Pertamina terus melakukan pemulihan agar dapat menghasilkan kinerja yang baik pada akhir 2020 mendatang. Perseroan juga tetap menjalankan peran strategis untuk membantu keberlangsungan ekosistem energi nasional.

“Dengan mulai naiknya harga minyak dunia pada pertengahan tahun dan penjualan bahan bakar yang berangsur meningkat, Pertamina berharap dapat mencapai kinerja positif dan akan tetap berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuh Heppy.

Sektor hulu Pertamina, tambahnya, juga tetap beroperasi agar bisnis mitra upstream dan drilling company tetap berjalan dan tidak melakukan PHK.

Di sektor pengolahan, ungkap Heppy, enam kilang Pertamina juga tetap memproduksi BBM serta melanjutkan pembangunan RDMP Balikpapan dan GRR Tuban untuk memastikan mitra perusahaan O&M dan EPC Contractor, agar dapat memberikan peluang bagi 32,17 ribu pekerja langsung dan 519 ribu pekerja tidak langsung.

Sementara di sektor hilir, lanjutnya, Pertamina tetap mensiagakan lebih dari 7.000 SPBU serta 10 ribu unit mobil tanki berikut awaknya bekerja untuk menyalurkan BBM ke seluruh pelosok negeri. Selain itu, sebanyak 40 ribu mitra bisnis riteil LPG (Agen/Sub Agen) dan sekitar 180 ribu outlet pangkalan LPG PSO dan Non PSO juga menyediakan kebutuhan LPG bagi masyarakat.

Seluruh moda penyaluran BBM dan LPG Pertamina, termasuk 280 kapal, juga tetap berlayar untuk mengirimkan energi. Ini menunjukkan besarnya komitmen perseroan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menyediakan energi di seluruh wilayah nasional.

“Dengan beroperasinya seluruh ekosistem bisnis, Pertamina dapat mempertahankan seluruh pekerja dan mitra bisnis sehingga dapat menekan jumlah PHK yang marak terjadi dalam sektor industri” tandas Heppy.





Source link

Meski Masih Pandemi, SDM Berdaya Saing Harus Tetap Diciptakan


JawaPos.com – Pemerintah berkomitmen mendorong terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, generasi bangsa yang mempunyai daya saing tinggi di kancah internasional. Upaya membangun SDM berkualitas tetap dilakukan meski saat ini wabah Covid-19 masih melanda.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan, salah satu upayanya yaitu pemerintah memberikan bantuan kepada peserta didik di berbagai tingkatan. Itu dilakukan supaya proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat berjalan optimal.

“Pemerintah tetap berupaya meningkatkan kualitas para peserta didik di tengah pandemi saat ini,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (20/11).

Dia merincikan, terdapat lima langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut. Mereka yaitu, Program Indonesia Pintar (PIP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Tunjangan Guru, Bantuan Peralatan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), dan Program Penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi (PPPTV).

Nizam menjelaskan, pemerintah telah menerbitkan PIP yang telah menjangkau sebanyak 18,1 juta siswa dari berbagai tingkatan pendidikan. Sedangkan untuk peserta didik dengan jenjang pendidikan tinggi sudah menjangkau sebanyak 200 ribu mahasiswa.

“PIP telah menyasar peserta didik dari berbagai tingkatan pendidikan saat pandemi,” katanya.

Selanjutnya, program BOS saat ini masih diberikan kepada setiap fasilitas pendidikan yang terdaftar di tengah pandemi. Agar, kegiatan belajar mengajar para siswa dan guru tetap dilakukan secara maksimal.

“Program Bos juga masih disalurkan secara reguler di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Bantuan TIK diberikan oleh pemerintah kepada seluruh masyarakat di daerah pelosok. Sehingga, para peserta didik bersama guru dapat melakukan kegiatan PJJ di tengah keterbatasan yang disebabkan pandemi.

“Sebanyak 114.730 unit laptop disalurkan ke sekolah-sekolah dalam 23.077 paket,” katanya.

Selain itu, pemerintah telah memberikan bantuan berupa tunjangan kepada para pendidik. Sejak Agustus telah disalurkan bantuan kepada 245.258 penerima di seluruh Indonesia. Bantuan ini diberikan mengingat efek negatif dari Covid-19 yang membuat sebagian pendidik terkena dampaknya.

“Dari mulai 31 Agustus 2020 sudah kami salurkan tunjangan,” imbuhnya.

Program PPPTV sendiri merupakan kemitraan dengan industri agar para siswa tingkat menengah yang telah lulus dapat bekerja pada masa pandemi. Sehingga, kualitas siswa bisa langsung meningkat dengan terjun ke dunia bekerja.

“Kami dorong kemitraan industri meningkatkan skill dari mereka,” tuturnya.

Tercatat, sebanyak 14.048 SMK melakukan kerja sama dengan industri, 272.788 kali kerja sama dengan dunia usaha, 190.842 industri menjadi mitra SMK, dan 87 bidang usaha industri SMK.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Realisasi Baru 37,6 Persen, Pemerintah Optimistis Target PMN Tercapai


JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku optimistis target Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2020 tercapai, meski hingga saat ini baru terealisasi 37,6 persen. Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengatakan, hingga awal November, pemerintah telah menggelontorkan Rp 16,95 triliun dari total Rp 45,051 triliun PMN ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan lembaga.

Adapun wujud PMN yang diberikan terbagi secara tunai Rp 41,020 triliun dan nontunai Rp 4,031 triliun. PMN nontunai dapat berasal dari konversi Piutang Negara pada BUMN (RDI/SLA, hutang dividen), Barang Milik Negara (BMN), dan Bantuan Pemerintah yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS).

“Pemerintah bermaksud untuk memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas produksi BUMN, mendukung pelaksanaan penugasan dari pemerintah, serta meningkatkan efektivitas pengelolaan BMN,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (20/11).

Isa melanjutkan, sebagai investasi pemerintah yang tercatat pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP), setiap penggunaan dana serta tahapan proyek yang berasal dari PMN senantiasa dimonitor secara saksama dan periodik. Namun, berbeda dari investasi pada umumnya, perhitungan untung atau rugi pada PMN tidak dilakukan dalam jangka pendek, dan tidak selalu secara finansial.

Oleh karena itu, pihaknya menegaskan, setiap kebijakan PMN yang disusun, baik tunai maupun nontunai, telah melalui kajian yang mendalam. Misalnya soal pengaruh atau dampak terhadap hajat hidup masyarakat, eksposur terhadap sistem keuangan, peran calon penerima investasi, kepemilikan pemerintah, serta total aset BUMN atau lembaga yang bersangkutan.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Sri Mulyani Akui Covid Hantam Sektor Pekerjaan Kaum Hawa


JawaPos.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, dampak pandemi Covid-19 lebih banyak memukul pekerjaan kelompok perempuan dibandingkan laki-laki. Khususnya bagi perempuan yang bekerja di industri restoran, hotel, pekerja rumahan, dan sektor informal seperti UMKM.

“Covid berdampak luar biasa terhadap sektor pekerjaan yang feminized,” ujarnya secara virtual, Rabu malam (18/11) kemarin.

Sri Mulyani memaparkan, kaum perempuan cenderung kehilangan pekerjaan di bidang perhotelan, restoran, pekerja rumahan, dan informal seiring dengan ketidaksanggupan perusahaan membayar gaji karena pendapatan yang rendah.

Sehingga, hal ini membuat ketimpangan gender menjadi semakin meningkat karena penurunan partisipasi angkatan kerja perempuan. Berdasarkan laporan ADB-UN Womens High Level Roundtable 2020, disebutkan sebanyak 54 persen dari 75 juta pekerja di restoran dan industri akomodasi adalah perempuan.

Selain itu, berkurangnya 50 persen jam kerja perempuan sektor informal di Asia akibat Covid-19, sementara kelompok laki-laki hanya berkurang 35 persen jam kerja. “Pekerjaan mereka lah (perempuan) yang paling terdampak Covid,” jelasnya.

Sementara, di tingkat global, 60 persen dari 740 juta pekerja perempuan di sektor informal juga berkurang pendapatannya pada bulan pertama pandemi ini. 40 persen pekerja perempuan di seluruh dunia bekerja di sektor yang paling terdampak.

Selanjutnya, Sri Mulyani melanjutkan, partisipasi kerja kelompok perempuan menurun menjadi 54,66 persen dari posisi sebelumnya di 54,66 persen, penurunan ini terjadi di tahun 2019.

“Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki justru mengalami peningkatan,” ungkapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah orang yang bekerja sebanyak 128,45 juta orang baik perempuan maupun laki-laki. Angka itu berasal dari 138,22 juta orang yang masuk dalam angkatan kerja. Dari 128,45 juta orang, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan hanya 53,13 persen, sementara laki-laki mencapai 67,77 persen per Agustus 2020.

Sementara dari sisi rata-rata upah nasional, kelompok laki-laki masih lebih tinggi dengan nilai Rp 2,98 juta sedangkan perempuan sebesar Rp 2,35 juta per bulannya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Kontribusi Sektor Ritel terhadap PDB Tetap Positif di Tengah Pandemi


JawaPos.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut kontribusi bisnis ritel bagi pertumbuhan ekonomi tetap tinggi di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong agar bisnis ritel tetap tumbuh. Itu juga bertujuan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan bahwa kontribusi bisnis ritel dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 positif. Jika melihat sumbangsihnya bagi produk domestik bruto (PDB), kontribusi ritel dari sisi perdagangan mencapai 12,83 persen. Sementara itu, kontribusi dari sisi konsumsi berkisar 57,31 persen.

Selama lima tahun terakhir, lanjut Agus, sektor perdagangan selalu berkontribusi lebih dari 10 persen terhadap PDB. Sementara itu, konsumsi selalu memberikan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB. Melihat daya tahan ritel pada masa pandemi ini, pemerintah yakin ritel bisa mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

“Berbagai upaya kami lakukan untuk menjaga kinerja sektor ritel selama pandemi. Di antaranya, dengan usulan pemberian stimulus ekonomi untuk sektor ritel, pembukaan aktivitas perdagangan dengan protokol kesehatan yang ketat, dan dukungan terhadap transformasi digital,” papar Agus Jumat (13/11).

Menurut dia, pemerintah juga telah memberikan insentif untuk bisnis ritel. Yakni, insentif pajak. Dengan insentif pajak, beban pengeluaran pelaku usaha ritel berkurang sehingga dapat menjaga arus kas perusahaan. Agus juga menekankan pentingnya transformasi digital pada sektor ritel.

“Dengan niaga elektronik, pelaku ritel dapat menjangkau konsumen dalam skala yang lebih luas, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.”

Agus berharap Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dapat terus meningkatkan perannya sebagai mitra pemerintah. Terutama menjaga stabilitas harga dan pasokan serta membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program kemitraan.

Sementara itu, terkait dengan upaya kemitraan dengan pengusaha kecil, Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey mengklaim bahwa sebanyak 35 persen produk ritel modern merupakan produk UMKM. Mulai makanan dan minuman (mamin), pakaian, aksesori, hingga kosmetik.

“Ke depannya, Aprindo terus memperaiki kemitraan dengan UMKM. Semua peritel menjaga kebersamaan dengan UMKM untuk bisa maju bersama,” pungkas Roy.

PERTUMBUHAN INDUSTRI RITEL NASIONAL

Tahun | Pertumbuhan

2017 | 3,7%

2018 | 9%

2019 | 8,5%

2020 | 3–3,5%*

*) prediksi

Sumber: Apindo





Source link

Dunia Cemas Lonjakan Kasus Korona, Emas Antam Naik Rp 10.000 Per Gram


JawaPos.com – Harga emas dunia sedikit berubah pada akhir pekan ini. Kekhawatiran disebabkan karena dampak ekonomi akibat lonjakan kasus global Covid-19 melampaui optimisme dari perkembangan vaksin yang potensial.

Mengutip laman Reuters, harga emas di pasar spot stabil di posisi USD 1.876,92 per ounce pada pukul 07.44 WIB. Sementara, emas berjangka Amerika Serikat naik 0,1 persen menjadi USD 1.874,50 per ounce.

Seperti diketahui, Kepala Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa menyambut baik hasil yang menggembirakan dalam uji coba kandidat vaksin Covid-19, tetapi menekankan bahwa prospek ekonomi akan tetap tidak pasti.

Kemudian, jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran menyusut ke level terendah tujuh bulan, pekan lalu. Tetapi laju penurunannya melambat dan perbaikan lebih lanjut bisa terhambat oleh lonjakan kasus infeksi dan minimnya stimulus fiskal tambahan.

Petinggi Demokrat di Kongres Amerika mendesak dilakukan negosiasi atas proposal bantuan virus Covid-19 bernilai triliunan dolar, tetapi tokoh Partai Republik segera menolak pendekatan mereka karena dinilai terlalu mahal.

Di sisi lain, pejabat Eropa memperingatkan agar tidak berpuas diri terhadap Covid-19 dan mengatakan langkah-langkah untuk mengendalikan lonjakan infeksi harus dilanjutkan.

Lebih dari selusin negara bagian Amerika mencatat lonjakan kasus Covid-19 mereka dalam 14 hari terakhir, dibandingkan periode dua pekan sebelumnya, sementara penghitungan global melampaui 52,45 juta.

Adapun logam lainnya, seperti perak naik 0,1 persen menjadi USD 24,26 per ounce. Platinum stabil di USD 879,26 per ounce, sementara paladium 0,2 persen lebih tinggi menjadi USD 2.334,99 per ounce.

Sementara, mengutip emas batangan milik Antam hari ini kembali naik Rp 10.000 per gram ke level Rp 978.000 per gram. Sedangkan harga pembelian kembali atau buyback emas Antam hari ini juga naik Rp 8.000 menjadi Rp 858.000 per gram.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Sri Mulyani Rogoh Rp 34 Triliun Untuk Pengadaan Vaksin Covid-19


JawaPos.com – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengalokasikan cadangan dana untuk pengadaan vaksin hingga sebesar Rp 34 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, untuk pengadaan vaksin pada tahun ini sebesar Rp 5 triliun. Sementara, untuk tahun depan sebesar Rp 29,23 triliun.

Anggaran tersebut telah masuk ke dalam pos kesehatan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2020 dengan total Rp 97,26 triliun.

“Kalau kita lihat totalnya mencapai Rp 5 triliun plus Rp 29 triliun untuk program vaksinasi tahun depan yang ini memang sudah di-earmark,” ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI, Kamis (12/11).

Sri Mulyani mengungkapkan, komposisi PEN ini telah mengalami sejumlah perubahan yang merupakan evaluasi jika ada program yanh terlihat tidak mengalami kemajuan.

“Kami sekarang melaporkan ke Komisi XI realisasi PEN dan komposisi PEN yang mengalami beberapa perubahan karena kita melakukan evaluasi kalau ada program yang terlihat tidak mengalami kemajuan atau tantangannya besar, kita coba atasi atau alokasikan ke bidang yang lain,” ungkapnya.

Sri Mulyani merincikan, pemerintah menganggarkan sebesar Rp 45,23 triliun untuk belanja penanganan Covid-19, Rp 6,63 untuk insentif nakes, Rp 0,06 triliun insentif kematian, Rp 4,11 triliun bantuan iuran JKN, Rp 3,50 triliun untuk gugus tugas Covid-19.

Selanjutnya, insentif perpajakan di bidang kesehatan Rp 3,49 triliun, cadangan penangan kesehatan dan vaksin Rp 5 triliun, dan cadangan program vaksinasi dan perlinsos 2021 sebesar Rp 29,23 triliun.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Legislator Gerindra Kritik Upaya Pemerintah Tangani Covid-19


JawaPos.com – Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Kamrussamad mengkritik upaya pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Kamrussamad melihat, banyak pengusaha bangkrut meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal III lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya.

Legislator Partai Gerindra itu mengatakan, banyak pengusaha yang usahanya gulung tikar. Menurutnya, kebijakan-kebijakan yang telah dirumuskan tak mampu menahan pengusaha-pengusaha untuk tetap bertahan.

“Yang tadinya ada 2-3 gerainya, restoran kafenya, satu-satu sudah pamit mulai bulan Juni, Agustus, September, Oktober. (Mereka) tidak terjangkau kebijakan yang kita rumuskan bersama di sini untuk menahan supaya mereka tetap bisa eksis,” katanya dalam rapat Komisi XI, Kamis (12/11).

Selain itu, dirinya pun mempertanyakan anggaran pemulihan ekonomi nasional untuk sektor korporasi. “Dari anggaran pemulihan ekonomi nasional yang dialokasikan untuk sektor korporasi sejauh mana penyerapannya karena kami melihat ada istilah kawan lama,” tuturnya.

Ia menambahkan, dukungan perbankan diperlukan untuk nasabah yang jadi sasaran program PEN. “Jadi yang di-call perbankan (adalah) mereka yang sudah menjadi nasabah dan dijadikan bagian instrumen penyerapan alokasi anggaran PEN yang digelontorkan pemerintah melalui Himbara,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Perjalanan Pulihkan Ekonomi Masih Panjang


JawaPos.com – Pemulihan ekonomi nasional sebaiknya tidak hanya bertumpu pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menggarisbawahi pentingnya sumber daya manusia (SDM), daya saing, dan produktivitas dalam mekanisme pemulihan ekonomi nasional.

Selasa (10/11) Ani, sapaan Sri Mulyani, menegaskan bahwa APBN punya manfaat yang sangat besar dan luar biasa di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. “APBN melakukan tugasnya secara luar biasa pada tahun ini. Tapi, ini bukan episode terakhir. Masih panjang perjalanan kita untuk memulihkan perekonomian,” jelasnya di Jakarta.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengajak semua pihak untuk terus mengawal efektivitas APBN. Setidaknya, sampai Indonesia benar-benar bisa keluar dari tekanan ekonomi. Sejauh ini, belanja pemerintah yang lebih besar daripada penerimaan membuat APBN tekor terus.

Ani menjelaskan bahwa kondisi itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Seluruh negara di dunia, menurut dia, mengalami defisit fiskal hingga di atas 10 persen.

Kendati demikian, dia optimistis defisit 2021 berada pada angka 5,5 persen dari produksi domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah daripada defisit tahun ini yang diperkirakan tembus 6,3 persen. Itu juga lebih rendah daripada target APBN 2021 yang tercatat sebesar 5,7 persen.

baca juga: Sri Mulyani Optimistis Defisit Tahun Depan Bisa di Bawah Target APBN

“Indonesia sama dengan semua negara lain dalam melakukan countercyclical kebijakan fiskal. Itu membuat defisit APBN meningkat. Sekarang diperkirakan 6,3 persen dan tahun depan 5,5 persen,” kata Ani.

Dalam APBN 2021, pemerintah sudah menetapkan defisit sebesar 5,7 persen atau Rp 1.006,4 triliun. Defisit tersebut lebih lebar 0,2 persen daripada sebelumnya yang berkisar pada angka 5,5 persen. Sementara itu, proyeksi penerimaan negara turun Rp 32,7 triliun menjadi Rp 1.743,6 triliun dari sebelumnya Rp 1.776,4 triliun.

Sebelumnya, Yustinus Prastowo, staf khusus menteri keuangan, menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia berada pada titik balik akibat pandemi. Dia mengakui, pada awal pandemi, pemerintah kurang sigap.

Namun, berangkat dari persoalan itu, pemerintah lantas agresif untuk melakukan berbagai kebijakan. Termasuk juga meluncurkan berbagai insentif dan stimulus bagi hampir seluruh lapisan masyarakat.

Hasilnya, kata Yustinus, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III mengalami perbaikan. “Kuartal III ini mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dengan kuartal II. Tumbuh positif. Ini kabar baik,” tandasnya.





Source link