fbpx
Antisipasi Resesi, Anggaran Pemulihan Ekonomi Baru Terserap Seperempat

Antisipasi Resesi, Anggaran Pemulihan Ekonomi Baru Terserap Seperempat


JawaPos.com – Dorongan penggunaan anggaran besar-besaran di kuartal III 2020 sebagai antisipasi ancaman resesi tidak lantas membuat penyerapannya naik signifikan. Per bulan ini, baru seperempat dari total anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) Rp 690 triliun yang mampu terserap.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto setelah ratas evaluasi penanganan Covid-19 menyebutkan, serapan 25 persen itu adalah tren yang baik. ’’Dibandingkan semester I yang kemarin sebesar Rp 124,6 triliun itu per Agustus naik menjadi Rp 173,98 triliun,’’ katanya di kantor presiden kemarin (24/8).

Agar perekonomian Indonesia masuk di jalur positif, kata dia, penyerapan anggaran terus digencarkan. Baik program kementerian/lembaga maupun yang khusus PEN. Pihaknya sudah menyampaikan ke kementerian agar anggaran yang tidak terserap dialihkan pada program yang mendukung produktivitas.

Baca juga: Apa Yang Terjadi bila Resesi?

Salah satu yang akan terus didorong adalah bantuan langsung tunai. Misalnya, bantuan presiden (banpres) produktif untuk usaha mikro dan kecil (UMK) maupun bantuan subsidi upah bagi karyawan peserta BPJamsostek dengan gaji di bawah Rp 5 juta.

Di luar itu, ada harapan dari bursa saham. ’’Perusahaan-perusahaan di bursa itu 36 persen membukukan profitabilitas lebih baik dari tahun lalu,’’ ungkap Airlangga. Sejumlah sektor seperti keuangan, telekomunikasi, pertanian, dan perkebunan masih berada di jalur positif. Didukung harga komoditas yang semakin baik.

Untuk banpres produktif UMK, sebagaimana diberitakan sebelumnya, nilainya sama seperti bantuan subsidi upah. Total Rp 2,4 juta. Bedanya, banpres produktif diberikan satu kali. Kemarin pemberian banpres produktif itu diresmikan Presiden Joko Widodo di istana negara.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Resesi, Kuncinya Kendalikan Pandemi

Menurut presiden, banpres tersebut merupakan tambahan modal kerja bagi usaha mikro dan kecil. ’’Perlu saya sampaikan, ini adalah hibah, bukan pinjaman, bukan kredit,’’ ujarnya kepada sejumlah pelaku UMK yang hadir di istana maupun yang mengikuti secara virtual. Dia berharap banpres benar-benar digunakan untuk menambah modal demi membesarkan usaha yang dijalankan.

Kemarin hibah tersebut langsung diberikan kepada 1 juta pelaku UMK. ’’Kita harapkan nanti di akhir Agustus dibagi kepada 4,5 juta usaha mikro kecil,’’ lanjut presiden. Selebihnya, disalurkan sampai akhir September dengan total 12 juta penerima manfaat. Dananya langsung ditransfer ke rekening masing-masing pelaku usaha.

Dalam kesempatan tersebut, presiden memotivasi para pelaku usaha. Dia meyakinkan bahwa kondisi sepinya dagangan saat ini hanya sementara. Setelah vaksin ditemukan dan kondisi kembali normal, sektor usaha bisa kembali normal.

Di sisi lain, per Juli, penerimaan pajak tidak lagi tumbuh ke atas, tetapi mendatar. ’’Ini menunjukkan daya beli masyarakat sudah mentok lagi,’’ tutur mantan gubernur DKI Jakarta itu. Kendalanya berbagai macam. Misalnya, restoran yang hanya bisa buka 50 persen. Begitu pula kunjungan ke tempat wisata maupun okupansi hotel belum bisa tinggi.

Baca juga: Ancaman Resesi Indonesia, Pertaruhan 1,5 Bulan Terakhir Kuartal III

Karena itu, presiden meminta Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berupaya lebih keras memasukkan investasi ke Indonesia. ’’Jangan sampai investasi tumbuhnya minus di atas 5 persen,’’ tambahnya. Bila memang di kuartal III belum bisa positif, setidaknya jangan sampai di atas -5 persen. Itu akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di samping konsumsi masyarakat yang sedang diupayakan lewat berbagai bantuan.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 





Source link

Menkeu Perkirakan Kontraksi Ekonomi Kuartal-III Paling Dalam 2 Persen

Menkeu Perkirakan Kontraksi Ekonomi Kuartal-III Paling Dalam 2 Persen


JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan, ekonomi pada kuartal-III 2020 terkontraksi paling dalam 2 persen, atau paling bagus stagnan alias nol persen. Sebab, hingga saat ini masih belum adanya tanda-tanda pembalikan pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih positif.

“Kuartal-III outlook-nya antara 0 persen hingga negatif 2 persen,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi APBN KiTa, Jakarta, Selasa (25/8).

Dengan demikian, kata dia, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan diperkirakan berada di level -1,1 persen hingga 0,2 persen. Menurutnya, kunci pendongkrak agar ekonomi kembali ke zona positif adalah peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

“Meski pemerintah sudah all out dari sisi belanjanya akan sangat sulit masuk zona netral atau nol pada tahun ini (kalau konsumsi dan investasi turun dalam),” jelasnya.

Maka dari itu, Sri Mulyani berpesan agar para menteri terkait dapat melihat peluang untuk mendatangkan investasi masuk. Hal itu seiring dengan permintaan Presiden RI Joko Wododo (Jokowi) agar pada kuartal-III hingga akhir tahun ekonomi tidak terkontraksi terlalu dalam, atau minimal mendekati nol persen.

“Bapak Presiden kan minta beberapa menteri untuk fokus melihat pada indikator investasi karena kuartal-II kemarin kontraksinya cukup dalam. Kita harap pada kuartal-III dan IV mulai pulih, paling tidak mendekati nol persen,” tegasnya.

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Supaya Terhindar dari Resesi, Sri Mulyani Keluarkan Tiga Juru Selamat

Supaya Terhindar dari Resesi, Sri Mulyani Keluarkan Tiga Juru Selamat



Suara.com – Kuartal ke III Tahun 2020 menjadi kunci untuk terhindar dari resesi, maka diperlukan strategi percepatan penyerapan untuk pertumbuhan. Pemerintah menggunakan seluruh instrumen untuk memulihkan ekonomi. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mengaku telah memiliki tiga juru selamat agar ekonomi Indonesia pada kuartal III tak masuk jurang resesi.

Tiga juru selamat itu yakni, melakukan strategi percepatan pemerintah yaitu akselerasi eksekusi program PEN, memperkuat konsumsi pemerintah dan memperkuat konsumsi masyarakat mengoptimalkan peran belanja pemerintah menjadi penting untuk menstimulasi roda ekonomi.

“Strategi percepatan penyerapan untuk kuartal ketiga ini menjadi sangat kunci agar kita bisa mengurangi kontraksi ekonomi atau bahkan diharapkan bisa menghindari dari technical ressesion yaitu dua kuartal negatif berturut-turut,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2020).

“Meskipun kalau dilihat di kuartal kedua, kontraksi di bidang konsumsi dan investasi cukup menantang untuk memulihkan memang dibutuhkan kerja all out oleh semua pihak,” tambahnya.

Untuk program PEN yang telah ada (existing) dan telah memiliki alokasi DIPA akan dipercepat penyerapan dan ketepatan sasaran terus diperbaiki pada penyaluran tahap berikutnya. 

Untuk program baru yang data dan mekanisme penyalurannya tersedia akan dilakukan percepatan proses penyelesaian regulasi dan revisi DIPA pada program PEN baru agar dapat dieksekusi. 

Sementara untuk program usulan baru yang tidak didukung data valid dan membutuhkan perubahan regulasi yang rumit akan dialihkan untuk penguatan program existing yang implementatif.
 
“Untuk akselerasi dari program existing terus dilakukan percepatan dan tentu karena banyak program mencapai sampai Desember memang ada yang pencairannya per bulan seperti bansos,” paparnya.

Aktivitas ekonomi dalam tren perbaikan namun masih terbatas dan diliputi ketidakpastian yang tinggi sehingga belanja pemerintah harus diakselerasi sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi.

Percepatan belanja pemerintah ini akan mendorong konsumsi dan investasi yang pada kemudian menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi kuartal 3 (Q3) kembali positif.





Source link