fbpx
Saham Teknologi Terkoreksi, Wall Street Dibuka Variatif

Saham Teknologi Terkoreksi, Wall Street Dibuka Variatif


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Selasa (22/9/2020) di tengah koreksi saham-saham teknologi dan risiko karantina wilayah (lockdown) di Eropa.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 120 poin pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 10 menit kemudian bertambah menjadi 169,8 poin (+0,6%) ke 27.457,99. Nasdaq turun 30,9 poin (-0,3%) ke 10.932,7 dan S&P 500 naik 6 poin (+0,2%) ke 3.321,58.

Indeks S&P 500, Dow Jones dan Nasdaq terkoreksi untuk pekan ketiga berurut-turut, menjadi koreksi mingguan yang terpanjang sejak 2019.  Saham teknologi menjadi pemicunya seperti Facebook, Amazon, Apple, Netflix, Alphabet (induk Google) dan Microsoft.


Saham Nike melesat 10% setelah perseroan mengatakan bahwa penjualan digital meroket lebih dari 80% pada kuartal kemarin. Capaian kinerja bak laba bersih dan pendapatan perseroan melampaui ekspektasi.

Saham maskapai penerbangan dan kapal pesiar juga menguat masing-masing sebesar 0,9% dan 1,2% setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan tak akan menerapkan karantina wilayah (lockdown) putaran kedua. Terutama, setelah muncul aturan yang mencegah penghentian ekonomi (shutdown) AS.

“Inggris baru saja mematikan ekonominya sekali lagi. Mereka baru saja mengumumkan akan melakukan itu, dan kita tak akan mengambil kebijakan serupa,” tutur Trump. Saham United Airlines dan Delta Airlines sama-sama naik lebih dari 2%.

Pelaku pasar juga memantau kabar Johnson & Johnson yang memulai pengembangan vaksin anti-corona fase ketiga. Di pembukaan, sahamnya menguat 1,5%. Korban jiwa akibat virus corona telah mencapai 200.000 orang lebih.

Sebaliknya, saham teknologi seperti Amazon, Apple, Netflix dan Alphabet (induk usaha Google) melemah. Saham Tesla bahkan drop lebih dari 4% setelah Elon Musk memaparkan prediksi 2020 dan desain baru baterai mobil listrik yang jauh lebih murah.

Sentimen negatif juga muncul dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang memberlakukan pembatasan sosial ekstra menyusul lonjakan angka infeksi Covid-19. Ia memerintahkan kelab malam dan restoran tutup pukul 10:00 malam dan memperluas kewajiban penggunaan masker.

“Jalur menuju situasi yang lebih normal sepertinya akan berbatu-batu di tengah ketakpastian seputar virus corona, situasi politik AS, dan tensi AS-China. Oleh karena itu, kami memperkirakan volatilitas bakal terus terjadi sepanjang tahun ini,” tutur Mark Haefele, Kepala Investasi UBS Global Wealth Management, sebagaimana dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *