fbpx
Waduh! Wall Street Terpukul, Dow Jones Dibuka Drop 496 Poin

Waduh! Wall Street Terpukul, Dow Jones Dibuka Drop 496 Poin


Jakarta, CNBC Indonesia Benar saja! Bursa saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2020), sebagaimana telah terindikasi pada pasar berjangka indeks Wall Street beberapa jam sebelum ini.

Kombinasi kabar buruk dari berbagai belahan dunia memicu aksi jual pelaku pasar di bulan September, atau September Selloff, kian memuncak. Wall Street terkoreksi untuk pekan ketiga berurut-turut sepanjang bulan ini, menjadi koreksi mingguan yang terpanjang sejak 2019.  

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka longsor 496,5 poin (-1,8%) pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 15 menit kemudian kian parah jadi 602,8 poin (-2,2%) ke 27.054,61. Nasdaq drop 144,9 poin (-1,3%) ke 10.648,37 dan S&P 500 turun 58,7 poin (-1,8%) ke 3.260,82.


Beberapa kabar buruk yang menciutkan nyali investor di antaranya adalah kabar bahwa Inggris mempertimbangkan rencana karantina wilayah (lockdown) menyusul kenaikan penyebaran virus corona (strain terbaru).

“Sepertinya alasan terbesar untuk koreksi di kebanyakan bursa saham global adalah keprihatinan bahwa pembatasan virus yang lebih ketat di Eropa akan berujung pada kenaikan kasus Covid karena kini kita memasuki musim yang lebih dingin,” tutur Matt Maley, Kepala Perencana Pasar Miller Tabak, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Saham bank di berbagai belahan dunia juga berguguran menyusul laporan bahwa beberapa bank raksasa global melakukan pengelolaan dana mencurigakan dalam dua dekade terakhir. Saham Deutsche Bank anjlok 8,3%, sedangkan JP Morgan drop lebih dari 2,8%.

Laporan yang disusun BuzzFeed dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) menyebutkan bahwa antara tahun 1999-2017 ada lebih dari US$2 triliun transaksi yang diduga sebagai aktivitas pencucian uang atau pengelolaan dana ilegal.

“Kami tidak mengomentari berita mengenai aktivitas mencurigakan,” tutur HSBC dalam pernyataan resminya. Sementara itu, Standard Chartered dalam pernyataannya menyebutkan bahwa dalam realitasnya akan selalu ada upaya mencuci uang dan menghindari sanksi, dan perlu “tanggung-jawab untuk memerangi kejahatan finansial dengan sangat serius.”

Di luar itu, pasar masih memperhatikan kenaikan kasus corona, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada Jumat mengingatkan bahwa virus corona “tidak akan pergi jauh,” menegaskan bahwa sepekan kemarin 50.000 menjadi korban jiwa.

Pelaku pasar juga memantau perkembangan di Washington di mana para politisi berupaya mencapai kesepakatan terkait paket stimulus. Nasib stimulus kian kabur setelah Trump ingin mengusulkan pengganti Hakim Mahkamah Agung Ruth Bader Ginsburg.

Pertarungan antara kedua kubu di posisi hakim agung tersebut diyakini bakal menempatkan stimulus menjadi prioritas kedua karena fokus politisi Washington akan tersedot di Hakim Agung tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Saham Teknologi Dilego, Wall Street Dibuka Anjlok 301 Poin

Saham Teknologi Dilego, Wall Street Dibuka Anjlok 301 Poin


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) terbanting pada pembukaan perdagangan Kamis (17/9/2020), menyusul aksi ambil untung pemodal terhadap saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka turun 301 poin (-1,1%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 25 menit kemudian agak surut menjadi 232 poin (-0,8%) ke 27.800,35. Nasdaq drop 153 poin (-1,4%) ke 10.897,48 dan S&P 500 turun 34,1 poin (-1%) ke 3.351,42.

Investor cenderung kecewa karena bank sentral AS tidak membawa kejutan baru dengan mempertahankan suku bunga acuan tetap di level mendekati nol persen sebagai bagian dari upaya Federal Reserve (The Fed) menggenjot inflasi.


Dalam kondisi normal, prospek suku bunga lebih rendah untuk jangka waktu yang lebih lama bakal mendorong pembelian saham. Namun pada Rabu hal tersebut tidak terjadi di mana indeks S&P 500 dan Nasdaq justru melemah.

“Meski tidak ada hal yang menakutkan dalam pengumuman The Fed, bursa saham bereaksi dalam gaya yang bearish, terutama untuk saham-saham teknologi,” tutur Ken Berman, pendiri Gorilla Trades seperti dikutip CNBC International.

Bos The Fed Chairman Jerome Powell cenderung mendorong pemerintah untuk menggenjot perekonomian dengan stimulus tambahan, alih-alih mengumumkan program baru untuk membantu menggenjot sektor riil.

Pialang saham memantau perkembangan negosiasi stimulus di Kongres, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dia bakal mendukung paket stimulus yang lebih luas. Namun, harian Politico melaporkan bahwa Partai Republik malas melakukan hal tersebut.

Saham-saham teknologi kompak tertekan di pembukaan rata-rata sebesar 1%, baik saham Amazon, Microsoft, Facebook, maupun Alphabet (induk usaha Google). Saham Tesla anjlok lebih dari 5% dan Apple melemah 2,2%.

Saham-saham yang terkait dengan vaksin cenderung tertekan di tengah perbedaan pendapat mengenai kapan vaksin bisa segera dibagikan ke publik. Trump pada Rabu mengatakan bahwa vaksin bisa dibagikan secepatnya pada Oktober.

Namun, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) kepada Senat mengatakan bahwa vaksin belum bisa didistribusikan 6-9 bulan ini.

Pelaku pasar mengacuhkan rilis data tunjangan pengangguran baru yang ternyata lebih baik dari ekspektasi, yakni sebanyak 860.000 klaim. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan angkanya bakal mencapai 875.000, turun tipis dari pekan sebelumnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Saham Teknologi Bergeliat, Wall Street Dibuka Menguat

Saham Teknologi Bergeliat, Wall Street Dibuka Menguat


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2020) didorong saham teknologi, berpeluang menutup pekan di jalur hijau.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 100 poin pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 10 menit kemudian menjadi 115,6 poin (+0,4%) ke 27.650,19. Nasdaq menguat 80,4 poin (+0,7%) ke 10.999,96 dan S&P 500 naik 17,2 poin (+0,5%) ke 3.356,36.

Kemarin, indeks Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 1% bersama dengan indeks S&P 500. Sementara itu, indeks Nasdaq melorot 2%. Padahal, ketiganya menguat pada sesi awal perdagangan.







“Penguatan di sesi awal yang nanggung cepat berakhir. Sebagaimana banyak disampaikan posisi terendah pekan lalu sangat rentan dipertahankan,” tutur Douglas Busch, pendiri ChartSmarter.com, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Saham Amazon, Apple, Netflix, dan Microsoft semuanya dibuka naik. Jika penguatan saham tersebut terjaga, maka Wall Street bakal terlepas dari peluang koreksi dua pekan beruntun. Sepanjang pekan berjalan, indeks S&P 500 turun lebih dari 2% dan Nasdaq drop 3,5%.

Pelaku pasar bakal memantau rilis indeks harga konsumen (IHK) yang akan dikeluarkan bersamaan dengan bunyi bel pembukaan pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Nasdaq Futures Melaju ke Jalur Hijau, Wall Street Bakal Cerah

Nasdaq Futures Melaju ke Jalur Hijau, Wall Street Bakal Cerah


Jakarta, CNBC Indonesia – Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (9/9/2020) melaju ke jalur hijau, berpeluang menghentikan koreksi 3 hari berurutan yang menimpa Wall Street pada perdagangan kemarin.

Kontrak futures indeks Nasdaq melonjak 1,9%, mengimplikasikan kenaikan indeks tersebut lebih dari 200 poin pada pembukaan nanti. Kontrak serupa indeks S&P 500 bertambah 0,9% sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average mengindikasikan penguatan sebesar 200 poin.

Indeks Nasdaq dalam 3 hari terakhir anjlok lebih dari 10% dari rekor tertingginya, atau memasuki teritori koreksi. Sementara itu, koreksi S&P 500 pada periode yang sama telah menjadi yang terburuk sejak Juni.







Saham Tesla yang mencatatkan koreksi sehari terburuk pada Selasa kemarin dengan anjlok 21%, berbalik menguat 6% di sesi pra-pembukaan. Saham Apple, yang anjlok lebih dari 6% pada sesi sebelumnya, naik 3% di sesi yang sama.

Valuasi pasar kedua saham tersebut bersama Microsoft, Amazon, Alphabet (induk usaha Google) dan Facebook sebanyak US$ 1 triliun dalam 3 hari tersebut. Namun di sesi pra-pembukaan Rabu, keenam saham tersebut berbalik menguat.

Penguatan di pasar tersebut terjadi setelah investor mengesampingkan kabar mundurnya pengembangan vaksin corona. Saham AstraZeneca anjlok setelah kandidat vaksinnya dihentikan sementara menyusul adanya efek samping terhadap partisipan yang diuji di Inggris.

Aksi jual di saham teknologi memburuk pada Selasa setelah investor memutar pemilihan sahamnya ke sektor lain yang bakal diuntungkan dari pemulihan ekonomi seperti maskapai, emiten pesiar, dan peritel.

“Saya lebih melihat ini bukan sebagai koreksi melainkan proses mencerna karena indeks Nasdaq naik lebih dari 60% dari posisi terendahnya pada Maret dalam kurang dari 6 bulan,” ujar Kristina Hooper, kepala perencana pasar Invesco, dalam laporan risetnya ke CNBC International.

Hari ini, pasar mencerna hasil survei pembukaan lapangan kerja dari Departemen Tenaga Kerja yang akan dirilis pukul 10:00 waktu setempat, yang bakal memberi informasi penting mengenai kondisi ketenagakerjaan di AS. Analis dalam polling Dow Jones memperkirakan angkanya bakal bertambah 6 juta pada Juli, naik dari posisi Juni sebesar 5,9 juta.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Saham Teknologi Terkapar, Wall Street DIbuka Terkoreksi

Saham Teknologi Terkapar, Wall Street DIbuka Terkoreksi


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) terkoreksi pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2020), mengacuhkan data tenaga kerja yang menunjukkan berkurangnya tingkat pengangguran baru.

Indeks Dow Jones Industrial Average tertekan 11 poin (-0,04%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 30 menit kemudian bertambah jadi 101 poin (+0,35%) ke 29.003,4. Nasdaq anjlok 1,9% ke 11.818,3 dan S&P 500 merosot 34 poin (-0,9%) ke 3.547,77.

Koreksi terjadi menyusul aksi jual saham-saham unggulan di sektor teknologi. Saham Apple anjlok lebih dari 2% diikuti saham Microsoft, Facebook, Amazon, Alphabet dan Netflix yang kompak tertekan lebih dari 1%.


Pelemahan tersebut terjadi setelah pada Rabu Dow Jones melompat 454 poin, atau 1,6% sehingga membawa indeks tersebut melampaui angka 29.000 yang merupakan pertama kali sejak Februari (sebelum pandemi). Indeks S&P 500 dan Nasdaq kemarin juga mencetak rekor.

“Kita tak ingin melihat kejatuhan pasar terjadi sekarang, dan tak perlu mencetak rekor tertinggi baru untuk tumbuh tiap hari demi menjaga tren penguatan tetap hidup,” tutur Frank Cappelleri, Direktur Eksekutif Instinet, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Departemen Tenaga Kerja merilis update jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pertama kali, alias terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sebanyak 881.000 pada pekan terakhir Agustus.

Ini lebih baik dari ekspektasi pasar. Ekonom dalam polling Dow Jones mengekspektasikan angka klaim baru bakal mencapai 950.000 pekan lalu, atau berkurang dibandingkan dengan posisi sepekan sebelumnya yang melebihi angka 1 juta orang.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Abaikan Data Buruk Penggajian, Wall Street Dibuka Menghijau

Abaikan Data Buruk Penggajian, Wall Street Dibuka Menghijau


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) melaju ke jalur hijau pada pembukaan perdagangan Rabu (2/9/2020), mengacuhkan data penggajian yang menunjukkan lemahnya penyerapan tenaga kerja baru.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 118 poin (+0,4%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 15 menit kemudian bertambah jadi 156 poin (+0,5%) ke 28.801,66. Nasdaq menguat 78,63 poin (+0,7%) ke 12.018,3 dan S&P 500 naik 17,94 poin (+0,5%) ke 3.544,59.

ADP mengumumkan bahwa slip gaji pekerja swasta di AS bertambah 428.000 pada Agustus, atau jauh di bawah ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones sebelumnya yang berujung pada estimasi sebesar 1,17 juta.


Kepada CNBC International, Kepala Investasi Bleakley Advisory Group Peter Boockvar mengatakan bahwa laju penyerapan tenaga kerja telah benar-benar melambat dalam dua bulan terakhir, di mana angkanya berkisar 320.000.

“Rilis ini membuat laporan data tenaga kerja BLS pada Jumat nanti menjadi menarik, bukan hanya karena angka penggajian swasta pada Juli tercatat 1,46 juta, tapi estimasi Agustus juga berujung angka 1,29 juta, jauh berbeda dan jauh di atas apa yang dikeluarkan ADP,” ujarnya.

Saham Apple diperdagangkan menguat 4%, diikuti saham Amazon, Alphabet (induk usaha Google), dan Facebook yang bertambah 1%. “Saya masih sangat konstruktif dalam 12 bulan ke depan… Kita berada di dalam pasar yang bullish,” tutur Mike Wilson, Kepala Perencana Investasi Saham Morgan Stanley kepada CNBC International.

Penguatan Wall Street terjadi di tengah kabar bahwa Roche, perusahaan farmasi asal Swiss, berencana merilis tes cepat antigen baru di Eropa akhir bulan ini. Perseroan akan memakai izin jalur darurat yang disediakan Badan Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA).

Kabar itu menutup sentimen negatif seputar pernyataan tim ahli National Institute of Health yang menyebutkan bahwa terapi plasma darah yang didorong Presiden AS Donald Trump dan Kepala FDA Stephen Hahn tak terbukti efektif melawan Covid-19.

Kabar positif juga datang dari industri otomotif, di mana Autodata mengumumkan bahwa pada Agustus Negara Adidaya tersebut mencatatkan penjualan otomotif sebanyak 15 juta. Meski angka itu secara tahunan turun 11%, tetapi menjadi level yang tertinggi sejak Februari.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street Dibuka Variatif di Tengah Reli Saham Teknologi

Wall Street Dibuka Variatif di Tengah Reli Saham Teknologi


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9/2020), menyusul aksi ambil untung pemodal di tengah penguatan saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka turun 84 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 15 menit kemudian surut jadi 26,27 poin (-0,09%) ke 28.403,78. Namun, Nasdaq menguat 77,42 poin (+0,66%) ke 11.852,88 dan S&P 500 naik 4,49 poin (+0,13%) ke 3.504,8.

Indeks S&P 500 menguat 7,2% sepanjang bulan berjalan, menuju kinerja terbaik sejak 1984. Sementara itu, indeks Dow Jones melesat lebih dari 8% bulan ini dan menuju bulan Agustus terbaiknya dalam 36 tahun terakhir.


Harga saham Apple dan Tesla menguat di pasar, masing-masing sebesar 2% dan 0,5%, menyusul pemecahan nilai nominal saham mereka (stock split) yang membuat saham mereka menjadi lebih murah.

Sementara itu, harga saham Zoom melesat nyaris 30% setelah melaporkan kinerja kuartalan yang fantastis pada kuartal kedua 2020. Penyedia aplikasi telekonferensi itu mencetak pendapatan US$ 663,5 juta, atau di atas ekspektasi analis yang mematok US$500 juta.

“Manakala kisah seputar pertumbuhan dan momentum menjadi pendorong utama keuntungan mereka, faktor nilai dan siklikal juga turun berperan serta di sini,” tutur Mark Hackett, Kepala Riset Investasi Nationwide, dalam laporan risetnya sebagaimana dikutip CNBC International.

Penguatan saham teknologi sepanjang Agustus mendorong indeks Nasdaq melonjak 9,6% atau menjadi kinerja bulanan terbaik sejak 2000. Indeks S&P 500 dan Dow Jones juga mencetak kinerja terbaik mereka sejak 30 tahun terakhir pada Agustus ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street Dibuka Hijau Sambut Data Belanja Konsumen AS

Wall Street Dibuka Hijau Sambut Data Belanja Konsumen AS


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (28/8/2020), menyambut data positif konsumen pasca keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan rendah lebih lama.

Data ekonomi yang baru dirilis menjanjikan perbaikan dengan belanja konsumen AS naik 1,9% pada Juli, atau melampaui proyeksi Reuters sebesar 1,5%. Pendapatan personal juga lebih baik dari ekspektasi, dengan menguat 0,4% manakala ekonom memproyeksikan koreksi 0,2%.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 77,8 poin (+0,3%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan 15 menit kemudian surut menjadi 69,64 poin (+0,24%) ke 28.561,91. Indeks Nasdaq menguat 47,21 poin (+0,41%) ke 11.672,55 dan S&P 500 naik 7,7 poin (+0,22%) ke 3.492,25.


Saham Walmart dan Microsoft memimpin penguatan Dow Jones, dengan meroket masing-masing lebih dari 1%. Sektor teknologi membukukan kinerja terbaik di indeks S&P 500, dengan menguat 0,6%.

Pengumuman bos bank sentral Amerika Serikat (AS) Jerome Powell yang melakukan pendekatan baru terhadap inflasi dan angka pengangguran memicu volatilitas di pasar kemarin. Indeks Nasdaq melemah 0,3% dipicu anjloknya harga saham Apple dan Amazon.

“Pengumuman pergerakan terhadap pendekatan angka pengangguran yang asimetris sangat penting dan perkembangan ini layak disambut,” tutur Greg Daco, Kepala Ekonom Oxford Economics, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

The Fed, lanjut dia, tak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan. Jika angka pengangguran turun, bank sentral tersebut akan berusaha memastikan bahwa manfaat dari kebijakan moneter yang lebih longgar bakal berjalan se-inklusif mungkin.”

Penguatan di awal perdagangan Jumat ini kian membuka peluang bagi Dow Jones untuk memasuki teritori positif sepanjang tahun berjalan. Terakhir posisi gain secara year to date (YTD) itu dibukukan pada Februari, sebelum pandemi Corona menyerbu.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Risiko Double Dip Dinilai Tinggi, Wall Street Dibuka Variatif

Risiko Double Dip Dinilai Tinggi, Wall Street Dibuka Variatif


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Rabu (26/8/2020), di tengah kombinasi kabar positif dan negatif yang berbarengan menghampiri pelaku pasar.

Pesanan barang tahan lama AS dilaporkan melonjak 11,2% pada Juli, atau melampaui estimasi Refinitiv sebesar 4,3%. Namun, Gubernur Federal Reserve Kansas Esther George kepada CNBC International mengatakan bahwa risiko resesi dua penurunan (double dip) kian meningkat.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 31 poin (+0,12%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan 13 menit kemudian berbalik minus 21,4 poin (-0,08%) ke 28.227. Indeks Nasdaq menguat 58,4 poin (+0,51%) ke 11.524,88 dan S&P 500 naik 4,43 poin (+0,13%) ke 3.448,05.


Perusahaan piranti lunak Salesforce melaporkan lonjakan laba bersih setelah penutupan pasar kemarin. Harga saham calon konstituen Dow Jones itu pun dibuka meroket lebih dari 17% karena pendapatan dan laba bersihnya kinerjanya melampaui ekspektasi pasar.

Salesforce akan menggantikan Exxon Mobil di indeks Dow Jones. Perubahan komposisi konstituen indeks tersebut terjadi setelah pemecahan nilai nominal saham Apple yang mengurangi, bobot sahamnya terhadap indeks Dow Jones.

Indeks S&P 500 kemarin naik 0,36%, ke level tertingginya yang ke-17 pada tahun 2020. Indeks Nasdaq juga menyentuh rekor tertinggi baru setelah menguat 0,76%. Emiten HP Enterprise melaporkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi.

“Pendorongnya adalah penurunan yang persisten kasus Covid-19, harapan terapi baru yang dijalankan, dan kemajuan terbaru negosiasi dagang dengan China,” tutur Jim Paulsen, Kepala Perencana Investasi Leuthold Group, kepada CNBC International.

China dan AS akan memulai negosiasi pada Selasa. Dalam pernyataan resmi, Kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan bahwa kedua belah pihak membuat “kemajuan dan berkomitmen mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan kesuksesan kesepakatan dagang fase 1.

Investor juga menanti pidato Kepala Federal Reserve Jerome Powell dalam ajang Jackson Hole, Wyoming. Dia akan memberikan arahan seputar kebijakan bank sentral untuk mendorong inflasi di level yang sehat, sementara pelaku pasar menanti tanda munculnya stimulus lanjutan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street Dibuka Fluktuatif, Berayun ke Zona Merah

Wall Street Dibuka Fluktuatif, Berayun ke Zona Merah


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif pada awal perdagangan Selasa (25/8/2020), di tengah kabar dimulainya kembali pembicaraan kesepakatan dagang fase pertama antara AS dan China dan pertanyaan seputar efektivitas terapi plasma darah.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 75 poin (+0,3%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), tetapi 5 menit kemudian berbalik melemah 24,23 poin (-0,09%) ke 28.284,23.

Sementara itu, indeks Nasdaq naik sangat tipis sebesar 0,04 poin ke 11.379,75 dan S&P 500 menguat 2,55 poin (+0,07%) ke 3.433,83. Saham Apple melesat lebih dari 3%, diikuti saham Amazon and Microsoft yang juga melaju ke jalur hijau.


Kemarin, saham Apple menjadi salah satu pemacu reli bursa AS dengan menyentuh rekor tertinggi baru, memimpin penguatan saham sektor teknologi. Saham maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar juga melonjak menyusul ekspektasi ekonomi segera pulih.

“Investor saham terus mengekspresikan optimisme yang berhati-hati terkait dengan arah ekonomi dan kemajuan seputar virus,” tutur Mark Hackett, Kepala Riset Investasi Nationwide, sebagaimana dikutip CNBC International.

Optimisme tersebut menyembul setelah jumlah kasus baru infeksi corona di AS anjlok. Data Johns Hopkins University menunjukkan bahwa jumlah kasus baru harian turun di bawah 37.000 dan terus menurun di bawah 50.000 sejak pertengahan Agustus.

Namun, efektivitas terapi plasma darah untuk penderita Covid-19 mulai dipertanyakan, sekalipun Badan Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration) telah merilis izin terapi yang disebut Presiden AS Donald sebagai “terobosan.”.

Aneta Markowska, Kepala Ekonom Jefferies, mengatakan data frekuensi tinggi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS meningkat jelang akhir Agustus. “Kami menemukan bukti awal membaiknya pasar tenaga kerja di AS di mana sekolah dibuka kembali awal Agustus,” ujar Markowska dalam laporan risetnya.

Investor akan mencermati rilis indeks keyakinan konsumen dan penjualan rumah, yang akan dirilis pada hari ini. Pada akhir pekan, pandangan bakal tertuju pada pidato Kepala Federal Reserve Jerome Powell dalam ajang Jackson Hole, Wyoming.

Dia akan memberikan arahan seputar kebijakan bank sentral untuk mendorong inflasi di level yang sehat, sementara pelaku pasar menanti tanda akan munculnya stimulus lanjutan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link