fbpx

Sentimen Campur-Aduk, Wall Street Dibuka Variatif



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Selasa (27/10/2020), mengikuti kabar korporasi dan kinerja per kuartal III-2020 sembari dibayangi risiko kenaikan kasus corona dan tertundanya stimulus.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 32,7 poin (-0,1%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 25 menit kemudian surut menjadi 32,7 poin (-0,1%) ke 27.652,65 dan S&P 500 naik 1,8 poin (+0,05%) ke 3.402,75. Nasdaq menguat 53,9 poin (+0,5%) ke 11.412,81.

Saham teknologi berbalik menguat pada Selasa setelah AMD mengatakan akan membeli saham Xilinx senilai US$ 35 miliar untuk mendorong bisnis pusat data. Saham Xilinx memimpin reli dengan meroket 16,9% di pembukaan. Saham AMD menguat 2%.


Pelaku pasar memantau emiten kelas kakap yang merilis kinerja kuartal III-2020 seperti Caterpillar, Eli Lilly, Merck & Co., Pfizer, BP, Harley-Davidson, dan Raytheon Technologies. Microsoft juga akan merilis kinerja, bersamaan dengan Advanced Micro Devices (AMD).

Saham Caterpilar tersungkur lebih dari 2% setelah laba bersihnya anjlok secara tahunan. Pada Senin, indeks S&P 500 anjlok 1,9% dan Nasdaq melemah 1,6%. Dow Jones anjlok 650 poin atau yang terburuk sejak September dan ditutup di bawah 28.000 untuk pertama kali sejak 6 Oktober.

Koreksi terjadi bersamaan dengan naiknya infeksi Covid-19 di AS pada Jumat dan Minggu yang mencapai lebih dari 83.000 kasus per hari, melampaui posisi puncaknya pada pertengahan Juli sebanyak 77.300 kasus. Dalam sepekan terakhir, rata-rata kasus baru mencapai 68.767.

“Aksi jual ini, apapun alasannya, tertransmisikan dengan baik. Sudah menjadi konsensus pasar bahwa kita akan menghadapi koreksi sebelum pilpres. Beberapa perencana investasi berpikir demikian. Indikator teknikal juga mengarah ke sana,” tutur Quincy Krosby, Kepala Perencana Pasar Prudential Financial, kepada CNBC International.

Wall Street juga memonitor negosiasi paket stimulus. Juru bicara Ketua DPR Nancy Pelosi dalam cuitannya di Twitter mengatakan bahwa pimpinan Partai Demokrat masih “optimistis” akan ada kesepakatan stimulus sebelum pilpres.

Namun, juru bicara partai oposisi dalam pernyataan resmi mengatakan pihaknya masih menunggu Gedung Putih menerima syarat terkait tes masal Covid-19, mengklaim bahwa kemajuan kesepakatan akan bergantung pada pimpinan Partai Republik di Senat.

Sepanjang bulan, indeks Dow Jones terhitung melemah tipis, sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat masing-masing sebesar 1,1% dan 1,7%. Hari ini investor memantau rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Conference Board per Oktober yang menurut analis dalam polling FactSet bakal naik ke 102,3, setelah pada September tercatat di 101,8.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street ‘Kebakaran’! Dow Rekor Buruk, Jeblos 650 Poin



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street turun tajam di penutupan perdagangan Senin (26/10/2020).

Dow Jones kehilangan 650 poin atau turun 2,3% ke level 27.685,38. Sementara S&P kehilangan 500 poin atau turun 1,9% ke 3.400,97 dan Nasdaq turun 1,6% ke 11.358,94.

Penurunan ini menjadi yang terburuk bagi Dow Jones sejak 3 September. Ini juga penutupan pertama di bawah 28.000 sejak 6 Oktober.

Ini didorong memudarnya harapan untuk stimulus ekonomi, memuncaknya kekhawatiran atas virus corona dan kegelisahan akan pemilihan umum (pemilu) presiden 3 November.

Stimulus AS berjalan lambat meski Ketua DPR dari Partai Demokrat AS, Nancy Pelosi, melihat masih akan ada harapan untuk disetujui. Sejumlah analis melihat hal ini akan sulit terlaksana bahkan hingga selesai pemilu ataupun jika Biden menang.

Biden harus ‘tegang’ dengan Senat yang dikuasai Republik. Ini membuat stimulus makin tak jelas arahnya.

Belum lagi rekor kasus corona yang kembali terjadi di AS. Universitas Johns Hopkins menunjukkan kasus virus Corona harian di AS telah meningkat rata-rata 68.767 selama tujuh hari terakhir.

Pada hari Minggu saja, lebih dari 60.000 kasus dilaporkan. Negara itu mengalami lebih dari 83.000 infeksi baru pada hari Jumat dan Sabtu setelah kasus di negara bagian Sun Belt, melampaui rekor sebelumnya sekitar 77.300 kasus pada Juli.

“Bagi saya, ini adalah Fase 2 pandemi,” kata Kepala Strategi Makro Aegon Asset Management Frank Rybinski dikutip dari CNBC Internatonal.

“Sampai kita berhasil memberantas virus, ini akan menjadi seperti awan abu-abu di pasar,” ujarnya lagi seraya menambahkan perusahaannya telah ‘mengurangi risiko’ dari portofolionya dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara dalam sebuah catatan, ahli strategi BTIG di AS, Julian Emanuel meramal pasar akan kembali turun lebih rendah dalam waktu dekat. Menurutnya banyak sentimen buruk ke pasar.

“Akan turun lebih rendah dalam waktu dekat … kekecewaan stimulus … kebangkitan virus, dan meningkatnya ketidakpastian jelang pemilu,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Kepala Strategi Pasar LPL Financial, Ryan Detrick. Menurutnya banyak kekhawatiran di luar.

“Sebagian besar data ekonomi baru-baru ini kuat, tetapi ketika Anda melihat bagian Eropa kembali ke penutupan bergulir, itu mengingatkan kita bahwa pertarungan ini masih jauh dari selesai,” katanya.

Saham industri pelayaran dan penerbangan memimpin penurunan. Saham Royal Caribbean turun 9,7%, Norwegian Cruise Line turun 8,5%, United Airlines turun 7% dan American Airlines mundur 6,4%.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)




Source link

Harapan Stimulus Makin Kuat, Wall Street Ditutup Hijau

Harapan Stimulus Makin Kuat, Wall Street Ditutup Hijau



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini berhasil ditutup menguat, ditengah optimisme investor atas paket stimulus yang akan disepekati parlemen untuk mengatasi masalah ekonomi akibat pandemi virus corona (covid-19). 

Indeks S&P 500 naik 11,9 poin atau 0,34% menjadi 3.465,39. Lalu indeks Nasdaq Composite bertambah 42,28 poin atau 0,37%, menjadi 11.548,28. Sayangnya, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 28,09 atau 0,1%, menjadi 28.335,57.

Ketidakpastian atas timeline dari undang-undang stimulus sempat membebani pasar saham Wall Street dalam beberapa hari terakhir. Dalam sepekan terakhir, ketiga indeks tersebut mencatat penurunan selama seminggu.


Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan masih mungkin untuk mendapatkan bantuan COVID-19 lagi sebelum pemilu 3 November. Namun semuanya itu tergantung kepada Presiden Donald Trump untuk bertindak, termasuk berbicara dengan Senat Partai Republik yang menolak.

Trump dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin membantah bahwa Pelosi harus berkompromi untuk mendapatkan paket bantuan, dengan mengatakan perbedaan signifikan tetap ada antara pemerintahan Republik dan Demokrat.

Pasar masih percaya kesepakatan stimulus ditetapkan: Satu-satunya pertanyaan adalah ukuran dan waktu, kata analis.

“Ini telah menjadi penggerak pasar selama beberapa minggu- hari ini lebih banyak buktinya,” kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest, di Charlotte, North Carolina seperti dikutip CNBC Indonesia dari Reuters.

“Pasar percaya kami mendapatkan stimulus. Tapi dia ingin tahu kapan itu akan berlalu karena butuh waktu untuk uang mengalir keluar, “tambahnya.

Sementara itu dari laporan kinerja perusahaan di Wall Street dilaporkan, terjadi penurunan tajam hingga 10% margin pendapatan pembuat chip Intel Corp. Kinerja Intel tertekan karena konsumen membeli laptop yang lebih murah dampak dari pandemi dan pemerintah menekan pengeluaran pusat data.

Sejauh ini, sudah 84% dari 135 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja keuangan kuartal III-2020. Hasilnya sejauh ini melampaui perkiraan laba kuartalan, menurut data Refinitiv.

Fokus minggu depan adalah hasil dari perusahaan Teknologi Besar Apple Inc, Facebook Inc, Amazon.com Inc dan Google-parent Alphabet.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)




Source link

Dow Futures Naik 200 Poin Sambut Peluang Kesepakatan Stimulus

Dow Futures Naik 200 Poin Sambut Peluang Kesepakatan Stimulus



Jakarta, CNBC Indonesia – Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (19/10/2020) tercatat naik, menyusul ekspektasi kesepakatan stimulus bakal diteken dan vaksin COvid-19 ditemukan akhir tahun ini.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average menguat 200 poin mengindikasikan bahwa indeks acuan bursa itu bakal naik 100 poin di pembukaan nanti. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq juga bergerak ke teritori positif.

Ketua DPR Nancy Pelosi pada Minggu mengatakan bahwa meski ada perbedaan antara Kongres dan Gedung Putih, dia optimistis stimulus fiskal bisa dicapai jelang pemilihan presiden (pilpres) 3 November. Pihaknya dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin sepakat bertemu lagi Senin ini.


Pasar juga menyambut positif rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) China yang tumbuh 4,9% secara tahunan, sebagaimana diumumkan Biro Statistik Nasional hari ini, atau sedikit di bawah ekspektasi pasar dalam polling Wind Information yang memperkirakan angka 5,2%.

″PDB kuartal III agak di bawah ekspektasi, tetapi angka September (penjualan ritel dan produksi industri) kompak melampaui perkiraan, dan memperkuat sentimen pasar,” tulis Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, sebagaimana dikutip CNBC International.

Namun, pasar juga memantau kekhawatiran seputar meluasnya kembali penyebaran virus corona, setelah angka infeksi di seluruh dunia telah mencapai 40 juta. CNBC International bahkan menyebutkan bahwa angka kenaikan di 38 negara bagian AS mencapai 5% pada Jumat.

Dalam sepekan, angka infeksi baru Covid-19 meningkat 16% di AS menjadi 55.000 sedangkan di Eropa naik 44%. Gelombang kedua penyebaran virus corona di Eropa masih menjadi kunci perhatian pasar.

Perdana Menteri Italia mengumumkan kebijakan lebih ketat untuk mencegah penyebaran virus gelombang kedua termasuk membatasi pembukaan restoran dan membatasi pengumpulan massa. Langkah ini diambil setelah ada lebih dari 11.000 kasus baru pada Minggu.

Sebelumnya, Inggris dan Prancis telah merilis kebijakan baru yang lebih ketat untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 di tengah tren kenaikan kasus infeksi baru di Benua Biru.

Secara fundamental, pelaku pasar bakal memantau saham IBM yang dijadwalkan mengumumkan kinerja kuartal III-2020. Demikian juga pidato bos Federal Reserve Chairman Jerome Powell yang akan berpidato mengenai kebijakan moneter dan kondisi perekonomian.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street Dibuka Menghijau, Saham Apple Memimpin Reli

Wall Street Dibuka Menghijau, Saham Apple Memimpin Reli



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melesat pada perdagangan Senin (10/10/2020), menyambut musim rilis keuangan emiten AS di tengah penantian akan negosiasi stimulus kedua.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 112,95 (+0,4%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 5 menit kemudian menjadi 99,2 poin (+0,35%) ke 28.686,07 dan S&P 500 naik 28,3 poin (+0,8%) ke 3.505,45. Nasdaq melonjak 177,35 poin (+1,5%) ke 11.757,3.

Penguatan itu terjadi setelah Wall Street melewati pekan yang kuat. Pekan lalu, Dow Jones melesat 3,3% menjadi reli mingguan terbesar sejak Agustus, sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing tumbuh 3,8% dan 4,6%, atau terbaik sejak Juli.


“Pekan lalu pasar saham memperhitungkan kejelasan hasil pemilihan presiden [pilpres], dan sejalan dengan itu, ada kecenderungan tambahan stimulus fiskal–setidaknya sedang disiapkan. Ini tercermin dari kuatnya saham berkapitalisasi kecil hingga mengalahkan imbal hasil obligasi pemerintah AS [US Treasury],” tutur Julian Emanuel, Kepala Perencana Saham dan Derivatif BTIG dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Peluang munculnya stimulus kedua sebelum pilpres kian melemah setelah Ketua DPR Nancy Pelosi, yang berasal dari Partai Demokrat, dan Anggota Senat dari Partai Republik menolak tawaran stimulus senilai US$ 1,8 triliun dari Gedung Putih.

Dalam suratnya, Pelosi menekankan bahwa angka proposal itu tak cukup untuk mengatasi persoalan kesehatan. Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows melalui surat resmi ke Kongres menyerukan pemungutan suara terpisah untuk meloloskan Program Perlindungan Gaji.

Kebuntuan tersebut terjadi setelah pekan yang penuh gejolak di Washington di mana Presiden AS Donald Trump di satu sisi menyerukan penghentian negosiasi, dengan mengatakan bahwa kader Partai Republik di Kongres semestinya fokus mengusung Amy Coney Barrett sebagai Ketua Mahkamah Agung AS. Namun, dia balik arah dengan mengatakan kembali bernegosiasi.

Beberapa emiten besar perbankan dan maskapai dijadwalkan melaporkan hasil kinerja mereka, termasuk di antaranya JPMorgan Chase dan Delta Air Lines. Pelaku pasar percaya kinerja emiten AS masih akan lebih baik dari perkiraan pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street Dibuka Menguat, Lanjutkan Reli Hari Ketiga

Wall Street Dibuka Menguat, Lanjutkan Reli Hari Ketiga



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (9/9/2020), dibakar optimisme bahwa kesepakatan stimulus kian dekat dicapai.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 150 poin (+0,5%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 15 menit kemudian menjadi 126,8 poin (+0,45%) ke 28.552,27 dan S&P 500 naik 20,4 poin (+0,6%) ke 3.467,21. Nasdaq melonjak 88,9 poin (+0,8%) ke 11.509,9.

Drew Hammill, Wakil Kepala Staf Nancy Pelosi, mengirim cuitan di akun Twitter-nya, menyebutkan bahwa Ketua DPR dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin telah berbicara selama 40 menit, dengan berfokus menentukan apakah ada prospek kesepakatan soal stimulus.


“Menkeu dengan jelas menyatakan kepentingan Presiden untuk mencapai kesepakatan,” ujarnya. Cuitan itu diunggah setelah Pelosi menyatakan bahwa dia tak akan mendukung stimulus bagi maskapai AS jika tak dibarengi stimulus untuk sektor lain.

Kabar itu mengafirmasi arah positif pembicaraan, sebagaimana yang dikatakan Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis pagi. Dia mengatakan bahwa pihaknya dan Partai Demokrat telah memulai kembali “pembicaraan yang sangat produktif.”

“Pembicaraan stimulus kini mendikte pergerakan pasar dalam basis harian,” tutur Keith Buchanan, Manajer Portofolio GLOBALT sebagaimana dikutip CNBC International. Dia menilai retorika sekarang mengindikasikan kemajuan negosiasi, yang jadi kunci pemulihan ekonomi.

Federal Reserve (The Fed) dan pemerintah AS telah mengucurkan triliunan dolar untuk membantu ekonomi terus berputar selama masa pandemi. Pada awal tahun, The Fed meluncurkan program pembelian obligasi di pasar primer dan sekunder.

Di sisi lain, Trump meluncurkan paket senilai US$ 2,2 triliun yang memasukkan tunjangan pengangguran dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) ke warga AS. Namun, bank sentral AS menyerukan adanya stimulus kedua untuk membantu pemulihan ekonomi.

Carl Icahn, miliarder pemilik Icahn Enterprises, pada Kamis mengatakan kebijakan baru tersebut “sangat efektif” untuk membantu ekonomi dan bursa saham. “Banyak saham yang anda kira harganya sudah kemahalan tapi masih naik… menurut saya ini berkah stimulus,” tuturnya.

Investor juga menggali kabar perawatan corona. GenMark Diagnostics mengumumkan bahwa Balai Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration) telah memberikan izin darurat bagi perseroan untuk melakukan tes screening untuk flu, corona, dan jenis virus lainnya.

Saham Gilead menguat setelah studi menunjukkan perawatan anti-viral dengan remdesivir menunjukkan bahwa obat tersebut mempercepat masa pemulihan hingga 5 hari jika dibandingkan dengan pasien biasa.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Wall Street DIbuka Menguat Sambut Prospek Negosiasi Stimulus

Wall Street DIbuka Menguat Sambut Prospek Negosiasi Stimulus



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menghijau pada perdagangan Kamis (8/9/2020), menyusul pertaruhan investor bahwa negosiasi stimulus di Kongres bakal tercapai.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 90 poin (+0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 15 menit kemudian menjadi 111,9 poin (+0,4%) ke 28.415,4 dan S&P 500 naik 19,2 poin (+0,6%) ke 3.438,62. Nasdaq melonjak 58,9 poin (+0,5%) ke 11.423,46.

Kenaikan itu mengindikasikan bahwa Wall Street akan melanjutkan penguatan hari Rabu ketika Presiden AS Donald Trump bercuit soal dukungan maskapai dan stimulus lainnya, dengan ekspektasi bahwa paket stimulus yang lebih kecil bisa diloloskan.


Saham United Airlines, American Airlines dan Delta Airlines dibuka kompak menguat lebih dari 1%. Di sisi laiin, saham Amazon naik 1% dan Facebook tumbuh 0,7%. Presiden AS Donald Trump pada Kamis pagi mengatakan bahwa pihaknya dan Partai Demokrat telah memulai “pembicaraan yang sangat produktif.”

Kemarin, Dow Jones melompat 530,7 poin, atau 1,9%, menjadi reli terbaik sejak 14 Juli. Indeks S&P 500 menguat 1,7%, sedangkan Nasdaq melesat 1,9%. Reli tersebut cukup untuk menutup pelemahan yang terjadi pada Selasa. Sepanjang Oktober, ketiga indeks itu tercatat masih hijau.

“Meski ada ketakpastian saat ini mengenai negosiasi stimulus fiskal, siapapun yang memenangi pemilihan presiden [pilpres], kita bakal mendapatkan stimulus tambahan,” tutur Nancy Davis, Manajer Portofolio Quadratic Capital, sebagaimana dikutip CNBC International.

Di tengah negosiasi stimulus yang maju-mundur, data mingguan klaim pengangguran menunjukkan angka 840.000 atau lebih buruk dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan pengajuan klaim oleh mereka yang baru menganggur bakal mencapai 825.000. Pekan sebelumnya, klaim pengangguran mencapai 837.000.

Namun demikian, risiko Covid-19 masih membayang. Demikian juga risiko lambatnya pemulihan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Tunggu Pidato Powell, Wall Street Dibuka Variatif

Tunggu Pidato Powell, Wall Street Dibuka Variatif



Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Selasa (6/9/2020), di tengah penantian investor atas sinyal kesepakatan stimulus dan pidato bos bank sentral Negara Adidaya tersebut.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 83 poin (0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 5 menit surut menjadi 50,7 poin (+0,2%) ke 28.199,34 dan S&P 500 naik 1,1 poin (+0,03%) ke 3.409,73. Namun, Nasdaq melemah 9,85 poin (-0,1%) ke 11.322,64.

Pelaku pasar menunggu pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang bakal memberikan pernyataan di depan forum Asosiasi Nasional Ekonom Bisnis (National Association of Business Economists) mengenai pentingnya stimulus baru untuk mencegah macetnya perekonomian.


Wall Street pada Senin menguat setelah investor mendapatkan kembali optimisme di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatan Presiden AS Donald Trump yang terkonfirmasi positif virus Covid-19 dan kian menguatnya sinyal persetujuan Senat atas paket stimulus.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin pada Senin berbicara selama satu jam untuk mencapai kesepakatan stimulus. Keduanya dijadwalkan bernegosiasi lagi pada hari ini, mengutip cuitan juru bicara Pelosi, yakni Drew Hammill.

Indeks Nasdaq kemarin menguat 2,3%, sedangkan indeks S&P 500 dan Dow Jones melompat masing-masing sebesar 1,8% dan 1,7%. Kondisi itu membawa Nasdaq dan S&P 500 menuju kinerja harian terbaik sejak 9 September, dan kinerja terbaik bagi Dow Jones sejak 14 Juli.

Chris Ailman, Kepala Investasi CalSTRS, mengatakan bahwa kenaikan kemarin turut dibantu oleh reli saham-saham menengah dan kecil, mengindikasikan bahwa reli pasar relatif lebih merata sehingga tidak terlalu bergantung pada lima saham utama saja.

“Namun bagus juga melihat bahwa saham berkapitalisasi pasar kecil juga menunjukkan kinerja baik saat ini. Ini lebih sehat bagi pasar,” ujarnya kepada CNBC International. “Kita perlu stimulus. Intinya ini adalah krisis kesehatan, dan krisis ini masih jauh dari tamat.”

Trump telah meninggalkan rumah sakit dan kembali ke Gedung Putih pada Senin, di mana dia masih akan terus menjalani perawatan. Trump berencana untuk langsung berkampanye untuk memaksimalkan masa kampanye yang kurang dari sebulan lagi.

Tim dokter Trump pada Senin mengatakan bahwa kondisi orang nomor satu tersebut “terus membaik” dalam 24 jam terakhir meski Dr. Sean Conley mengingatkan bahwa dia kemungkinan belum sepenuhnya “keluar dari kondisi berbahaya.”

Investor bakal memantau pemulihan pasar tenaga kerja pada Selasa menyusul rilis data Departemen Tenaga Kerja mengenai survei Pembukaan Lapangan Kerja dan Ketenagakerjaan setengah jam setelah pembukaan pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Data Klaim Pengangguran Lebih Buruk, Bursa AS Dibuka Melemah

Data Klaim Pengangguran Lebih Buruk, Bursa AS Dibuka Melemah


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) terperosok ke jalur merah pada pembukaan perdagangan Kamis (24/9/2020), menyusul ketidakpastian stimulus dan berlanjutnya aksi jual saham-saham teknologi yang telah membumbung tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka turun 69,5 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 15 menit kemudian menjadi 164,4 poin (-0,6%) ke 26.598,75. Nasdaq drop 70,9 poin (-0,7%) ke 10.562,11 dan S&P 500 turun 19,8 poin (-0,6%) ke 3.217,14.

Saham Facebook turun 0,4%, Amazon melemah 0,3%, dan Apple surut 0,5%. Nyali pelaku pasar di Wall Street cenderung mengkeret setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya tak akan dengan mudah melepas kekuasaan jika nanti kalah di pemilihan umum.


“Tidak ada satu alasan spesifik untuk menjelaskan aksi jual tersebut, dan dalam banyak hal koreksi itu adalah kelanjutan aksi yang sudah berlangsung sejak awal bulan,” tutur Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge sebagaimana dikutip CNBC International.

Sejauh ini, indeks S&P 500 sepanjang September telah melemah 7,5%, sedangkan Dow Jones anjlok 5,8% dan Nasdaq ambruk 9,7% setelah investor menggeser posisi investasi dari saham teknologi ke saham siklikal yang diuntungkan oleh pemulihan ekonomi.

Data klaim tunjangan pengangguran justru memberikan sentimen negatif tambahan, dengan membukukan angka 870.000 klaim baru, atau lebih buruk dari estimasi Dow Jones yang hanya memperkirakan 850.000.

Demikian juga pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin di depan Komite Perbankan, Senat. Pidato itu bakal berlangsung di tengah penantian pasar atas nasib stimulus tambahan untuk mengatasi dampak pandemi terhadap ekonomi AS.

Powell pada Rabu telah menekankan pentingnya stimulus jika ingin pemulihan ekonomi berlanjut. Ketakpastian stimulus mendorong Goldman Sachs memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV-2020 menjadi 3%, atau separuh dari proyeksi sebelumnya 6%.

“Tatkala investor menuding volatilitas yang terjadi sebagai akibat volatilitas musiman dan ketakpastian politik, kita telah memasuki periode di mana kantong uang tunai lebih dipilih yang memicu dolar AS menguat dan menekan aset berisiko tinggi [ saham],” ujar Andrew Smith, Kepala Perencana Investasi Delos Capital Advisors, dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link

Saham Teknologi Terkoreksi, Wall Street Dibuka Variatif

Saham Teknologi Terkoreksi, Wall Street Dibuka Variatif


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Selasa (22/9/2020) di tengah koreksi saham-saham teknologi dan risiko karantina wilayah (lockdown) di Eropa.

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 120 poin pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 10 menit kemudian bertambah menjadi 169,8 poin (+0,6%) ke 27.457,99. Nasdaq turun 30,9 poin (-0,3%) ke 10.932,7 dan S&P 500 naik 6 poin (+0,2%) ke 3.321,58.

Indeks S&P 500, Dow Jones dan Nasdaq terkoreksi untuk pekan ketiga berurut-turut, menjadi koreksi mingguan yang terpanjang sejak 2019.  Saham teknologi menjadi pemicunya seperti Facebook, Amazon, Apple, Netflix, Alphabet (induk Google) dan Microsoft.


Saham Nike melesat 10% setelah perseroan mengatakan bahwa penjualan digital meroket lebih dari 80% pada kuartal kemarin. Capaian kinerja bak laba bersih dan pendapatan perseroan melampaui ekspektasi.

Saham maskapai penerbangan dan kapal pesiar juga menguat masing-masing sebesar 0,9% dan 1,2% setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan tak akan menerapkan karantina wilayah (lockdown) putaran kedua. Terutama, setelah muncul aturan yang mencegah penghentian ekonomi (shutdown) AS.

“Inggris baru saja mematikan ekonominya sekali lagi. Mereka baru saja mengumumkan akan melakukan itu, dan kita tak akan mengambil kebijakan serupa,” tutur Trump. Saham United Airlines dan Delta Airlines sama-sama naik lebih dari 2%.

Pelaku pasar juga memantau kabar Johnson & Johnson yang memulai pengembangan vaksin anti-corona fase ketiga. Di pembukaan, sahamnya menguat 1,5%. Korban jiwa akibat virus corona telah mencapai 200.000 orang lebih.

Sebaliknya, saham teknologi seperti Amazon, Apple, Netflix dan Alphabet (induk usaha Google) melemah. Saham Tesla bahkan drop lebih dari 4% setelah Elon Musk memaparkan prediksi 2020 dan desain baru baterai mobil listrik yang jauh lebih murah.

Sentimen negatif juga muncul dari Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang memberlakukan pembatasan sosial ekstra menyusul lonjakan angka infeksi Covid-19. Ia memerintahkan kelab malam dan restoran tutup pukul 10:00 malam dan memperluas kewajiban penggunaan masker.

“Jalur menuju situasi yang lebih normal sepertinya akan berbatu-batu di tengah ketakpastian seputar virus corona, situasi politik AS, dan tensi AS-China. Oleh karena itu, kami memperkirakan volatilitas bakal terus terjadi sepanjang tahun ini,” tutur Mark Haefele, Kepala Investasi UBS Global Wealth Management, sebagaimana dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)




Source link