fbpx

Beliau Figur Bersih, Punya Track Record



Jakarta, CNBC Indonesia – Sudah hampir setahun Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok alias BTP menjabat sebagai komisaris utama di PT Pertamina (Persero). Akan tetapi, sosok Ahok masih saja memicu perdebatan di kalangan publik.

Baru-baru ini, Ahok yang telah memaparkan bobrok Pertamina mendapatkan cemooh publik. Bahkan ada pula sejumlah kalangan yang meminta dia untuk diganti.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan pengangkatan Ahok sebagai salah satu sosok penting di Pertamina didasarkan atas track record pekerjaan. Ahok pun dinilai sebagai bersih.

Dia menyamakan penunjukannya ini dengan nama lainnya seperti Amien Sunaryadi yang merupakan mantan wakil ketua KPK sebagai komut PLN dan Chandra Hamzah yang juga merupakan mantan wakil ketua KPK sebagai komut BTN.


“Saya rasa sama saya sudah jawab. Figur seperti Pak Ahok, Pak Amien, Pak Chandra Hamzah itu figur-figur yang bersih, figur yang punya track record menghasilkan pekerjaan yang baik, nah karena itu kita angkat. Tentu masing-masing komisaris mempunyai karakter yang berbeda-beda,” kata Erick dalam video dari akun Youtube Karni Ilyas Club, dikutip Minggu (1/11/2020).

Meski saat ini banyak terjadi penolakan di publik terkait dengan posisi Ahok, Erick menegaskan yang penting orang tersebut menjalankan posisinya ini dengan amanah.

Bahkan dia mencontohkan perbedaan pendapatan ini dengan kerja sama Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang saat ini bahkan bisa bekerja sama meski sebelumnya menjadi pesaing dalam pemilihan presiden.

“Sama juga indahnya Indonesia kita nikmati, ya ketika bagaimana bapak Presiden kita mengajak Pak Prabowo (Menteri Pertahanan Prabowo Subianto) bergabung (ke dalam pemerintahan). Saya rasa justru ini yang bisa menjadi contoh. Kita berbeda pendapat, tapi jangan juga menghancurkan bangsa ini,” ujar Erick.

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)




Source link

Jokowi Target Proyek TPPI Segera Rampung, Satgas Investasi Disorot

Jokowi Target Proyek TPPI Segera Rampung, Satgas Investasi Disorot


JawaPos.com – Proyek Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, diangap bisa menjadi salah satu pendongkrak bangkitnya perekonomian Bangsa Indonesia. Termasuk bisa membuat kemandirian energi bangsa ini terwujud.

Namun, proyek itu dikabarkan terhambat karena langkah Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang kabarnya telag membentuk satgas investasi untuk proyek TPPI.

“Jika benar soal apa yang dilakukan Ahok itu,  justru akan membuat gaduh, dan Pertamina tidak bisa maju dan berkembang, bahkan bisa jadi Pertamina tidak bisa bersaing,” kata Pengamat Pembangunan dan Politik Adib Miftahul dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/10).

Padahal sesuai intruksi Presiden Jokowi, Menteri BUMN, Dirut Pertamina dan Komisaris Pertamina untuk segera menyelesaikan proyek ini dalam kurun waktu 3 tahun.

“Apalagi proyek ini termasuk dalam PSN dan sudah diintruksikan oleh presiden langsung ke Pertamina untuk segera dilaksankan dan segera onstream dalam waktu 3 tahun,” ujar Adib.

Di tengah isu yang terus melanda Pertamina terkait kinerja, harusnya Ahok bisa melakukan langkah yang positif sesuai arahan presiden bukan kemudian justru membuat langkah menjegal kemauan presiden.

“Kita tahu dalam kunjungan Presiden Jokowi ke Tuban akhir tahun lalu, beliau meminta agar proyek ini segera berjalan dalam kurun waktu tiga tahun. Lantas apa masalahnya, hingga proyek ini sampai dibatalkan?,” tanya Adib.

Menurut Adib, Jika TPPI ini sudah beroperasi, tentu dampaknya sangat besar untuk menekan impor migas. Dan ini bisa memperbaiki defisit neraca perdagangan. “Kata Pak Jokowi apabila telah berproduksi secara penuh, TPPI berpotensi menghemat devisa hingga 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 56 triliun,” tandasnya.





Source link

Ahok Bongkar Bobroknya Sistem Manajemen, Begini Respons Pertamina

Ahok Bongkar Bobroknya Sistem Manajemen, Begini Respons Pertamina


JawaPos.com – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuka bobroknya Pertamina di akun Youtube POIN beberapa waktu lalu. VP Corporate Communication Fajriyah Usman merespons dan menghargai pandangan Ahok sebagai Komisaris Utama yang memiliki peran dalam melakukan pengawasan.

“Kami menghargai pernyataan Pak BTP sebagai Komut yang memang bertugas untuk pengawasan dan memberikan arahan,” ujarnya kepada JawaPos.com, Rabu (16/9).

Menurutnya, hal tersebut juga sejalan dengan restrukturisasi Pertamina yang sedang dijalankan Direksi agar perusahaan menjadi lebih cepat, lebih adaptif dan kompetitif. Pihaknya juga bekerjasama dengan PPATK dan juga institusi penegak hukum, serta pendampingan dengan KPK terkait dengan sistem manajemen anti penyuapan.

“Upaya Direksi Pertamina untuk menjalankan Perusahaan sesuai prosedur, menjadi lebih transparan dan profesional telah konsisten nyata dilakukan, melalui penerapkan ISO 37001:2016 mengenai Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) oleh Pertamina dan Groupnya, kerjasama dengan PPATK dan juga institusi penegak hukum, serta pendampingan dengan KPK,” jelasnya.

Fajriyah menegaskan, hal yang bersifat aksi korporasi dilakukan manajemen dalam rangka pertumbuhan perusahaan dan juga memastikan ketahanan energi nasional, tentu saja pastinya akan mempertimbangkan internal resources dan dilakukan secara prudent dan profesional.

“Koordinasi dan komunikasi dengan komisaris dan juga stakeholder terkait terus kami jalankan, agar semua terinfokan dengan baik apa yang sedang dijalankan oleh Pertamina,” ucapnya.

Sebagai informasi, untuk program One Village One Outlet, saat ini dari 66 ribu kelurahan di seluruh Indonesia, sudah 82 persennya tersedia outlet LPG Pertamina. Sedangkan pertashop juga sudah ada 576 outlet Pertashop yang sudah terbangun dengan target 4.558 outlet.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Pertamina Rugi Rp 11 T, Erick Thohir Pastikan Direksi dan Komisaris Tak Diganti

Pertamina Rugi Rp 11 T, Erick Thohir Pastikan Direksi dan Komisaris Tak Diganti


TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan tidak ada rencana pergantian direksi maupun komisaris PT Pertamina (Persero) meski perseroan mencatatkan kerugian sekitar Rp 11 triliun pada semester I-2020. Malah, dia menilai kinerja Pertamina dinilai lebih membaik dari pada perusahaan migas lainnya dalam pandemi Covid-19.

“Pertamina kan ruginya kelihatan, kalau kita perbandingkan dengan Exxon dengan Eni (Eni S.p.A, perusahaan migas multinasional Italia), jauh lah. Justru, perusahaan yang lain itu jauh lebih rugi dari Pertamina,” kata Erick Thohir, usai melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2020.

Ia lalu menyebutkan selama ini berprinsip agar jajaran direksi perusahaan tidak perlu dirombak selama kinerjanya baik. “Saya prinsipnya angkat direksi jangan diganti-ganti. Kan, saya di awal sudah bilang selama KPI-nya (Key Performance Indicators) tercapai, terus dibilang Pak Erick pilih kasih main pecat-pecat saja, nggak loh.”

Erick mengatakan, pergantian direksi maupun komisaris hanya dilakukan bila KPI dari sejumlah perusahaan plat merah berada di bawah standar yang ditentukan. Terkait hal ini, dia bilang, kinerja Pertamina cukup baik. Di mana, dalam kondisi Covid-19 perseroan tetap dapat menjaga ketersediaan minyak di dalam negeri.

Lebih jauh, Erick menjelaskan, Pertamina pun terus melakukan efisiensi di berbagai sektor. Dia mencontohkan, Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang ditargetkan konsolidasi dalam waktu singkat mampu dilakukan oleh Pertamina. Kendati demikian, menurut Erick, apa yang dilakukan  perseroan saat ini belum disebut sempurna. 

Karena itu, pihaknya akan tetap memberikan waktu kepada Pertamina untuk lebih memaksimalkan kinerja keuangannya. “Pertamina juga masih on progres dalam pembangunan baik kilang minyak dan macam macam. Karena kondisi Covid-19 ini juga baru, semua terdampak,” kata dia. 

Sebelumnya, manajemen Pertamina mencatat kinerja keuangan mereka sepanjang semester I 2020 mengalami kerugian sebesar Rp 11,13 triliun. VP Komunikasi Perusahaan Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, sepanjang semester I pada tahun 2020 Pertamina menghadapi menghadapi triple shock.





Source link