fbpx

Berkat Kookmin, segmen pasar Bank Bukopin makin variatif


ILUSTRASI. Keberadaan Kookmin sebagai bank terbesar di Korea Selatan akan mampu memperkuat kepercayaan terhadap Bukopin. KONTAN/Muradi/2017/04/26

Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID –JAKARTA-Masuknya KB Kookmin Bank terus meningkatkan kepercayaan terhadap PT Bank Bukopin Tbk (BBKP). Sejalan dengan penguatan modal dan transformasi bisnis yang dilakukan oleh Kookmin Bank sebagai pemegang saham pengendali (PSP), Bukopin semakin kompetitif dalam melayani nasabah dan memperkuat industri UMKM nasional

Direktur Utama Bank Bukopin Rivan A. Purwantoro mengungkapkan, bergabungnya Bank Bukopin sebagai bagian dari KB Financial Group, induk grup usaha KB Kookmin Bank, mulai berdampak positif. Ditengah tekanan bisnis akibat pandemi, kepercayaan nasabah perlahan terus meningkat.

“Kami bersyukur dalam situasi yang sangat dinamis dan menantang ini Kookmin hadir dengan dukungan yang besar. Kami berharap recovery ekonomi yang kini terus dilakukan pemerintah dan pelaku usaha juga semakin menguatkan bisnis Bukopin di masa mendatang,” ungkap Rivan, Jumat (13/11).

Kekuatan jaringan dan reputasi Kookmin yang besar di Korea Selatan juga mendorong diversifikasi sumber dana Bukopin saat ini. Rivan mengatakan, kedepannya Bukopin akan mengoptimalkan segmen pasar baik ritel, korporasi, BUMN dan Korean Link.

Hal ini juga menjadi salah satu komitmen Kookmin untuk untuk mensinergikan pelaku usaha dan nasabah Korea Selatan khususnya di Indonesia untuk mendukung penguatan bisnis Bukopin.

Sejak masuk ke Bukopin, KB Kookmin juga terus menambah aliran dananya ke bank yang identik dengan sektor UMKM ini senilai US$780 juta atau setara Rp 11,08 triliun (kurs Rp 14.200 per dolar AS) yang terbagi menjadi setoran modal dan sisanya dana simpanan.

Rivan menegaskan, masuknya KB Kookmin membuka peluang besar bagi Bukopin untuk memperluas jangkauan nasabah. “Kami yakin transformasi yang tengah dilakukan Kookmin dan Bukopin di berbagai aspek seperti product development dan digitalisasi perbankan, membuat transisi semakin cepat dan mendorong pertumbuhan kinerja yang positif dan dapat bersaing dalam industri perbankan nasional hingga global,” ujar Rivan.

Memperkuat kepercayaan nasabah

Pengamat Pasar Modal dari PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menilai, keberadaan Kookmin sebagai bank terbesar di Korea Selatan akan mampu memperkuat kepercayaan terhadap Bukopin. Apalagi investor Korea Selatan ini juga didukung oleh ribuan pelaku usaha dan masyarakat Korea Selatan yang banyak berinvestasi di Indonesia.

“Kekuatan Kookmin adalah mereka punya spesialisasi di sektor UMKM yang juga menjadi bisnis inti dari Bukopin. Ini akan semakin menguatkan kepercayaan nasabah terhadap bank. Dan itu yang dibutuhkan Bukopin saat ini,” kata Hans.

Hans berharap kehadiran Kookmin akan mendorong proses tranformasi Bukopin menuju bank yang mengoptimalkan fungsi teknologi dalam pelayanan terhadap nasabah. Digitalisasi dan penguatan modal Bukopin menjadi dua aspek penting yang harus menjadi komitmen prioritas dari Kookmin.

Sebelumnya Vice President Hyundai Motor Asia-Pacific Headquarter, Lee Kang Hyun  memprediksi, masuknya Kookmin ke Bukopin memberikan optimisme bagi pelaku usaha Korea Selatan di Indonesia. 

“Semua (pelaku saja asal Korea) berpotensi menjadi nasabah Bukopin ke depan. Apalagi kekuatan Bukopin juga akan didukung sistem keuangan digital yang menjadi urat nadi perbankan di Korea Selatan,” kata Lee.

Saat ini terdapat sekitar 2.000 perusahaan besar, kecil, dan menengah asal Korea Selatan seperti Samsung, Hyundai Motor, LG dan lain-lain. Dari jumlah tersebut, sekitar 190 perusahaan merupakan nasabah Kookmin di Korea Selatan.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Bank Harda akan diakuisisi Chairul Tanjung, bagaimana rencana bisnisnya ke depan?


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) membenarkan rencana Chairul Tanjung (CT) melalui PT Mega Corpora untuk mengakuisisi sebagian besar saham perseroan. Meski begitu, Direktur Operasional Bank Harda Yohanes Simon mengaku sampai saat ini rencana aksi korporasi tersebut masih terus berproses. 

Menurut Simon, pihaknya belum dapat merinci rencana bisnis Bank Harda hingga proses akuisisi tersebut rampung. Termasuk mengenai kemungkinan bakal digabungnya Bank Harda dengan bank milik CT Corp yaitu PT Bank Mega Tbk. 

Menurutnya, hal yang saat ini tengah menjadi prioritas perseroan adalah untuk menambah modal Bank Harda agar segera naik ke kelompok BUKU II dengan modal inti Rp 1 triliun sampai Rp 5 triliun ke depan. 

“Betul (akuisisi) salah satu strategi kita dalam menambah permodalan untuk ke BUKU selanjutnya,” kata Yohanes kepada Kontan.co.id, Selasa (3/11) malam. 

Baca Juga: Salah satu pemegang saham Bank Harda jual porsi kepemilikannya

Sementara mengenai harga penjualan saham dan target akuisisi pihaknya belum bisa bicara banyak. Yang jelas, dalam waktu dekat ini Bank Harda tentunya bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menyetujui proses penambahan modal lewat aksi korporasi tersebut. Sekaligus sebagai syarat memperoleh izin dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rencana penambahan modal itu tentunya berkaitan dengan pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh regulator lewat Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03.2020 tentang konsolidasi bank. 

Dalam aturan itu, seluruh bank di tanah air memang harus punya modal inti minimum sebesar Rp 3 triliun pada tahun 2022. Modal inti tersebut bisa dipenuhi secara bertahap. Nah untuk tahun 2020 OJK mewajibkan seluruh bank harus punya modal inti sebesar Rp 1 triliun pada akhir 31 Desember 2020.

Bank Harda menjadi salah satu bank yang harus memenuhi aturan tersebut secara cepat. Sebab, per September 2020 bank berkode emiten BBHI ini baru punya modal inti sebesar Rp 290,88 miliar. 

Sebagai informasi saja, melalui keterbukaan Informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Bank Harda mengumumkan bahwa pemegang saham mayoritas yakni PT Hakimputra Perkasa akan menjual 3,08 miliar saham atau sekitar 73,71% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan kepada PT Mega Corpora.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Pasca diakuisisi CT, bagaimana rencana bisnis Bank Harda?


ILUSTRASI. Gedung kantor; logo; Bank Harda Internasional tbk bbhi

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) membenarkan bahwa Chairul Tanjung (CT) melalui PT Mega Corpora bakal segera mengakuisisi sebagian besar saham perseroan. Meski begitu, Direktur Operasional Bank Harda Yohanes Simon mengaku sampai saat ini rencana aksi korporasi tersebut masih terus berproses. 

Menurut Simon, pihaknya belum dapat merinci rencana bisnis Bank Harda hingga proses akuisisi tersebut rampung. Termasuk mengenai kemungkinan bakal digabungnya Bank Harda dengan bank milik CT Corp yaitu PT Bank Mega Tbk. 

Menurutnya, hal yang saat ini tengah menjadi prioritas perseroan adalah untuk menambah modal Bank Harda agar segera naik ke kelompok BUKU II dengan modal inti Rp 1 triliun sampai Rp 5 triliun ke depan. 

“Betul (akuisisi) salah satu strategi kita dalam menambah permodalan untuk ke BUKU selanjutnya,” kata Yohanes kepada Kontan.co.id, Selasa (3/11) malam. 

Baca Juga: Salah satu pemegang saham Bank Harda jual porsi kepemilikannya

Sementara mengenai harga penjualan saham dan target akuisisi pihaknya belum bisa bicara banyak. Yang jelas, dalam waktu dekat ini Bank Harda tentunya bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menyetujui proses penambahan modal lewat aksi korporasi tersebut. Sekaligus sebagai syarat memperoleh izin dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rencana penambahan modal itu tentunya berkaitan dengan pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh regulator lewat Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03.2020 tentang konsolidasi bank. 

Dalam aturan itu, seluruh bank di tanah air memang harus punya modal inti minimum sebesar Rp 3 triliun pada tahun 2022. Modal inti tersebut bisa dipenuhi secara bertahap. Nah untuk tahun 2020 OJK mewajibkan seluruh bank harus punya modal inti sebesar Rp 1 triliun pada akhir 31 Desember 2020.

Bank Harda menjadi salah satu bank yang harus memenuhi aturan tersebut secara cepat. Sebab, per September 2020 bank berkode emiten BBHI ini baru punya modal inti sebesar Rp 290,88 miliar. 

Sebagai informasi saja, melalui keterbukaan Informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Bank Harda mengumumkan bahwa pemegang saham mayoritas yakni PT Hakimputra Perkasa akan menjual 3,08 miliar saham atau sekitar 73,71% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan kepada PT Mega Corpora.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Segera diakuisisi, analis menilai harga saham Bank Harda terlalu tinggi


ILUSTRASI. Gedung kantor; logo; Bank Harda Internasional tbk bbhi

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengusaha Tanah Air Chairul Tanjung (CT) lewat perusahaan miliknya PT Mega Corpora mengakuisisi PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI). Pemegang saham Bank Harda yaitu PT Hakimputra Perkasa menjual 3,06 miliar saham atau 73,71% saham yang ditempatkan dan disetor penuh ke Mega Corpora.

Jika mengacu harga penutupan perdagangan BBHI Senin (2/11) seharga Rp 165 per saham, nilai akuisisi sekitar Rp 509 miliar. Tapi, bisa jadi harga akuisisi di bawah itu, jika penentuan harga saham terdiskon, dengan berbagai pertimbangan negosiasi kedua belah pihak. 

Sebab, per Selasa (3/11) harga saham Bank Harda telah terbang menyentuh level auto reject atas (ARA) pasca keluarnya kabar tersebut hingga naik ke level Rp 222 per saham. Menurut beberapa analis yang dihubungi Kontan.co.id, harga saham BBHI memang sudah terlampau tinggi. 

Nafan Aji, Analis Binaartha Sekuritas menilai saat ini saham BBHI sudah sangat overbought atau sudah naik signifikan dan mencapai titik jenuh karena aktifitas pembelian yang cukup besar. Tentunya, dalam kondisi ini biasanya investor akan melakukan aksi profit taking terhadap saham tersebut. 

Baca Juga: Penuhi aturan modal minimal dalam POJK 12, dua bank ini segera lakukan konsolidasi

“Sekarang BBHI sudah sangat overbought, maka dari itu secara teknikal sudah tergolong tinggi harga sahamnya,” jelas Nafan kepada Kontan.co.id, Selasa (3/11). 

Dia juga menambahkan, bila melihat dari sisi price earning ratio (PER) saham BBHI sudah ada di level 37,08. Angka itu sudah sangat tinggi mengingat PER industri saat ini ada pada level 14,8. 

Kenaikan itu sangat dimungkinkan karena ada sentimen positif pasca rencana akuisisi oleh CT. “Jika hari ini telah menguat secara signifikan, bagi para traders tentu disarankan untuk profit taking,” terangnya. 

Kemudian, Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma memandang saat ini nilai buku per saham Bank Harda atau Book Value Per Share (BVPS) ada pada kisaran Rp 83. Dia menyebut, bila proses akuisisi memakai harga saham perusahaan tentu sudah sangat mahal. 

“Jadi kalau pakai harga kemarin pun sebenarnya sudah tidak murah. Apalagi harga hari ini,” kta Suria. 

Maka dari itu, bisa saja kalau CT bakal membeli Bank Harda dengan harga yang lebih murah alias diskon. Sebab menurut Suria, bila harganya terlalu mahal maka bisa saja pembeli dalam hal ini CT menjadi tidak berminat. 

Hanya saja, perihal harga pembelian dalam proses akuisisi tentunya sangat bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. “Semua kembali lagi ke value yang dianggap fair dan seberapa urgent dana baru ini dibutuhkan,” pungkasnya. 

Apalagi bukan hanya modal inti Rp 1 triliun di tahun ini yang harus jadi perhatian bank. Melainkan minimal modal sebesar Rp 3 triliun pada tahun 2022, artinya nilai harga beli dalam kesepakatan akan mengacu pada prospek pemenuhan ketentuan tersebut. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link