fbpx
Efek Corona, 60 Persen Usaha Tutup Permanen

Efek Corona, 60 Persen Usaha Tutup Permanen


Jakarta, CNN Indonesia —

Sebanyak 60 persen bisnis di Amerika Serikat (AS) terpaksa tutup dan terancam tidak bisa buka kembali karena pandemi virus corona. Salah satu yang paling terdampak adalah bisnis restoran.

Data terbaru situs direktori Yelp mengungkap sebagian restoran yang memberikan status ‘tutup sementara’ telah berubah menjadi ‘tutup permanen’.

Dikutip dari CNNBusiness, sebanyak 163,7 ribu bisnis di Yelp telah tutup sejak 1 Maret. Jumlah tersebut meningkat 23 persen pada 10 Juli.







Berdasarkan data 31 Agustus, dari jumlah yang tutup sementara, sebanyak 98 ribu usaha menyatakan akan tutup selamanya. Dari semua bisnis yang tutup, sebanyak 32,1 ribu adalah restoran dan 19,6 ribu atau 61 persen di antaranya telah tutup permanen.

Yelp mengungkap beberapa restoran memang bernasib lebih mujur seperti pizza, food truck, toko roti dan kedai kopi. Restoran tersebut dinilai lebih mujur jika dibandingkan restoran Meksiko, restoran brunch, sandwich atau dessert bar.

National Restaurant Association mengatakan bahwa 100 ribu restoran telah tutup baik secara permanen atau jangka panjang pada pekan ini.

Penutupan restoran tersebut berdampak pada kehilangan US$240 miliar dalam penjualan tahun ini. Sejumlah faktor memang menyulitkan restoran beroperasi di tengah pandemi.

Asosiasi menilai konsumen menghabiskan lebih sedikit untuk makan di luar. Beberapa orang mungkin merasa tidak aman makan di restoran saat ini.

Menurut sebuah studi baru-baru ini dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, orang dewasa yang dites positif covid-19 kira-kira dua kali lebih memungkinkan memiliki riwayat makan di restoran dalam 14 hari sebelum jatuh sakit daripada mereka yang dites negatif.

Sementara itu, pemilik restoran harus berinvestasi pada barang-barang baru seperti alat pelindung diri untuk staf, tempat duduk di luar ruangan, pemisah plexiglass untuk ruang dalam ruangan, dan teknologi baru untuk pembayaran tanpa kontak.

Dan lebih sedikit pelanggan yang diizinkan masuk ke restoran itu sendiri. Wilayah yang memungkinkan ruang makan dalam ruangan telah menempatkan batasan pada kapasitas tempat duduk sehingga pelanggan dan staf dapat mematuhi aturan jarak sosial.

Selain tempat makan, ritel juga kesulitan. Sekitar 30.400 pusat perbelanjaan dan ritel di Yelp telah tutup sejak 1 Maret.

Sebanyak 58 persen atau sekitar 17,5 ribu di antaranya tutup permanen. Los Angeles, New York, Chicago, dan Miami menjadi kota dengan bisnis yang tutup secara permanen terbesar.

[Gambas:Video CNN]

(age/agt)





Source link

Pendapatan Global TikTok Anjlok 14 Persen

Pendapatan Global TikTok Anjlok 14 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Berdasarkan data statistik terbaru dari Sensor Tower, pendapatan global TikTok pada Agustus 2020 telah anjlok 14 persen dibanding Juli. Diduga, anjloknya pendapatan ini terjadi karena pelarangan penggunaan aplikasi TikTok oleh Donald Trump di Amerika Serikat. 

Meski begitu, menurut laporan tersebut, dikutip dari laman Gizchina, Sabtu 5 September 2020, TikTok masih menjadi aplikasi non-game tertinggi di dunia.

Pada Agustus, total pendapatan TikTok di Apple Store dan Google Store sebesar US$ 88,1 juta. Jumlah ini turun 14 persen dibanding bulan sebelumnya yang menyentuh angka US$102 juta. Sementara itu, angka untuk aplikasi dari April hingga Juni tahun ini yaitu US$78 juta, US$95,7 juta dan US$90,7 juta.

Sekitar 85 persen pendapatan TikTok pada bulan Agustus berasal dari Cina. Adapun pasar Amerika Serikat hanya menyumbang 7,8 persen dari total.





Source link

Bikin Panas AS, Uni Eropa Mau Pungut Pajak Lebih Apple Cs

Bikin Panas AS, Uni Eropa Mau Pungut Pajak Lebih Apple Cs


Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan teknologi sedang mendapat sorotan banyak negara. Pasalnya banyak yang menikmati keuntungan besar dari perubahan perilaku konsumen saat terjadi pandemi virus corona (covid-19), dimana banyak orang melakukan karantina di rumah. 

Paolo Gentiloni, Komisioner Uni Eropa untuk ekonomi dan perpajakan, mengatakan perusahaan-perusahaan ini harus membayar pajak lebih banyak, sebab mereka yang paling banyak mendapat untung saat ini.

Komentar Gentiloni muncul di tengah keretakan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (US) dan Uni Eropa (UE) atas pajak perusahaan seperti perusahaan Apple, Alphabet, dan Amazon.


“Ini adalah masalah besar,” kata Gentiloni kepada CNBC International di European House Ambrosetti Forum, mengakui kesulitan dalam mengatasi perbedaan dengan Amerika Serikat.

Namun, mantan perdana menteri Italia itu menambahkan bahwa tidak mungkin lagi “menerima gagasan bahwa para perusahaan teknologi raksasa itu tidak membayar pajak dalam jumlah yang adil di Eropa.”

Pada 2018, Komisi Eropa, badan eksekutif UE, mengusulkan pungutan digital sebesar 3%, dengan alasan bahwa sistem pajak perlu diperbarui untuk era digital. Namun, Gedung Putih AS mengatakan pajak digital tidak adil karena berdampak secara tidak proporsional terhadap perusahaan-perusahaan Amerika.

Saat itu, Komisi Eropa mengatakan perusahaan digital rata-rata membayar tarif pajak efektif sebesar 9,5%, dibandingkan dengan 23,2% untuk bisnis tradisional.

Namun, setelah pandemi corona, perusahaan teknologi mendapat keuntungan dengan banyaknya konsumen yang mengandalkan produk mereka untuk teleworking, berbelanja, dan tetap terhubung dengan orang lain.

“Raksasa platform digital adalah pemenang sebenarnya dari krisis ini, dari sudut pandang ekonomi,” tambah Gentiloni. “Kita semua mengalami ini dalam hidup kita sendiri.”

Sementara itu, pemerintah sangat membutuhkan dana tambahan, dan mengenakan pajak baru adalah salah satu cara utama untuk mencapainya. Dalam konteks ini, UE ingin mengusulkan pajak digital baru pada 2021 jika negosiasi di tingkat OECD dapat dilakukan pada akhir tahun.

“Jika kami tidak mendapatkan hasil yang layak di tingkat global, Komisi Eropa akan keluar tahun depan dengan proposal kami sendiri,” kata Gentiloni.

Sebelumnya, AS sempat menarik diri dari pembicaraan negosiasi pada Juni lalu, meningkatkan keraguan tentang kemajuan soal pajak yang mungkin dicapai tahun ini.

Gentiloni mengatakan telah terjadi kemajuan di tingkat teknis, namun pemilihan presiden AS mendatang cukup mempengaruhi proses tersebut.

“Kami berada dalam tahun pemilihan di AS dan saya pikir ini juga memiliki pengaruh,” katanya, seraya menambahkan bahwa UE tetap perlu “mendesak perlunya solusi global” dari AS.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)




Source link