fbpx

Aprindo Cemas Aksi Sweeping dan Boikot Produk Prancis


JawaPos.com – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) khawatir, aksi sweeping dan boikot terhadap produk-produk Prancis di toko-toko ritel akan menekan lagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini sudah terpukul akibat pandemi. Sebab, penjualan dari toko-toko ritel, terutama dari barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari turun karena sepi pembeli. Aksi tersebut memunculkan dampak psikologis masyarakat menjadi gelisah dan khawatir untuk berbelanja di toko-toko ritel.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, aksi-aksi seperti sweeping dan boikot terhadap produk-produk Prancis, pasti akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Karena yang berdampak itu bukan hanya kepada produk-produk Prancisnya saja, tapi juga produk lainnya karena masyarakat takut untuk berbelanja,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (5/11).

Selain itu, lanjutnya, dampak ekonomi secara nasional juga terimbas karena setiap barang yang dijual terdapat kontribusi pajak untuk negara. “Kalau pembeli berkurang, PPN-nya kan berkurang. Padahal itu digunakan untuk berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat , subsidi pemulihan ekonomi nasional, dan sebagainya. Jadi kalau terjadi dampak ke ritel, kan pajaknya juga kurang,” jelasnya.

Menurutnya, konsumsi rumah tangga selalu menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada PDB Semester I 2020 yang sebesar 1,26 persen, kata Roy Nicholas Mandey, konsumsi rumah tangga dari peritel berhasil menyumbangkan sekitar 57 persen.

“Konsumsi rumah tangga itu masih selalu yang tertinggi karena memang negara Indonesia masih negara konsumtif, belum menjadi negara pengekspor. Dari beberapa penentu besaran PDB, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor, yang dikurangi dengan impor, semuanya itu yang mendominasi adalah konsumsi rumah tangga. Makanya untuk pemulihan ekonomi nasional saat pandemi ini, pemerintah mendorong dengan bantuan-bantuan tunai supaya konsumsi masyarakat tetap terjaga, sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi kita,” ucapnya.

Selain itu, menurut Roy, aksi sweeping dan boikot ini juga akan berdampak terhadap hampir 5.000 pekerja di semua perusahaan ritel anggota Aprindo, yang terdiri dari kasir, SPG, karyawan toko, gudang, dan kantor.

“Jadi kalau ada gerai yang tutup karena mengalami kerugian oleh ulah aksi itu, akan banyak karyawan yang dipecat. Pengangguran akan bertambah banyak,” tuturnya.

Sehingga, pihaknya tidak pernah mengeluarkan rekomendasi kepada para anggotanya untuk boikot atau menarik barang-barang produk Prancis. “Kita memang mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron seperti yang disampaikan pemerintah, tapi Aprindo tidak pernah mau menyerukan ke anggota seperti apa yang dikatakan ormas atau LSM untuk melakukan boikot,” ucapnya.

Meskipun demikian, Roy menambahkan, jika kondisinya karena daerah atau lingkungannya, demi menjaga kerukunan, Aprindo menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing anggota atau peritel untuk mengambil keputusan masing-masing untuk mereka menyimpan dan bukan menarik, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Tapi dari asosiasi jelas dalam statement kita mendukung pernyataan pemerintah yang mengecam. Jadi janganlah hendaknya aksi itu sampai menghalang-halangi masyarakat untuk belanja kebutuhan pokok mereka. Kepentingan masyarakat harus dilihat juga, jangan kepentingan kelompok saja yang diutamakan,” katanya.

Dia juga berharap sebaiknya persoalan politik di negara-negara luar itu jangan dikait-kaitkan dengan persoalan bisnis yang ada di Indonesia. Sebab, produk-produk Prancis yang ada di Indonesia itu investasinya sudah di Indonesia, pabriknya juga di Indonesia dan karyawannya sudah orang-orang Indonesia. “Produknya itu kan sudah menjadi produk lokal, tapi kok diributkan seolah-olah itu dari Prancis. Jadi kenapa harus diboikot,” ujarnya.

Dirinya juga menyayangkan adanya isu-isu yang tidak benar atau ajakan-ajakan sweeping dan boikot yang dihembuskan melalui sosmed, sehingga menjadi pemicu untuk yang lain juga ikutan melakukan aksi serupa. “Kalau sudah sweeping kan arogansinya sangat kental sekali, sehingga akan cenderung ke anarkis. Nah, itu kan sudah tidak memenuhi hukum yang berlaku di Indonesia,” tutupnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Aprindo: Retail FMCG Punya Prospek Positif pada 2021


TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Fernando Repi yakin penjualan retail barang konsumsi bakal tetap positif pada 2021 karena didorong momentum pemulihan ekonomi dan keberadaan vaksin.

“Optimisme di tengah rencana distribusi vaksin membuat prospek retail positif, tak terkecuali untuk FMCG (fast moving consumer goods) yang tidak terlalu terkontraksi tahun ini,” kata Fernando saat dihubungi Bisnis, Rabu, 4 November 2020.

Hal ini didukung pula oleh kian beragamnya kanal penjualan yang ditawarkan peretail, baik lewat gerai maupun secara daring. Dia mengatakan pandemi telah mengakselerasi perkembangan omnichannel yang awalnya diramal baru dilakukan 3 tahun lagi.

Meski demikian, Fernando tak memungkiri jika beragamnya kanal penjualan ini memberi tantangan tersendiri. Terlebih untuk mengimbangi kebiasaan konsumen yang cenderung membeli barang konsumsi dalam jumlah banyak dalam sekali belanja.

Untuk menyiasati biaya pengiriman, Fernando menilai hambatan tersebut akan amat tergantung pada strategi masing-masing peritel.

“Semua akan tergantung strategi masing-masing. Kami peritel sebenarnya lebih ke penyedia tempat. Oleh karena itu kolaborasi dengan vendor, pemasok, dan marketplace bisa menjadi solusi,” ujarnya.#





Source link

Libur Panjang, Pengusaha Ritel Yakin Penjualan Naik 20 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Cuti bersama Maulid Nabi Muhammad yang jatuh pada 28-30 Oktober 2020 berdampak pada kenaikan penjualan pada usaha ritel. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan libur panjang selama lima hari ini menggerakkan masyarakat yang tidak sedang menahan menahan belanja untuk datang ke ritel atau mall.  

“Mereka mendapatkan leisure untuk keluar dari cabin fever (isolasi akibat pandemi). Untuk liburan ini, kami optimistis peningkatan yang terjadi itu mencapai 20 persen dibandingkan saat pembatasan sosial ketat September lalu,” ujar Roy kepada Tempo, Kamis 30 Oktober 2020.

Menurut Roy, kenaikan penjualan atau pun kunjungan ke ritel sebetulnya sudah terasa sejak Pemerintah DKI Jakarta melonggarkan pembatasan sosial pada 12 hingga 25 Oktober 2020. Kebijakan tersebut, ujar Roy, turut meningkatkan penjualan hingga 15 persen. Dengan begitu, kapasitas kunjungan menjadi 35 persen, dari yang sebelumnya hanya 20 persen.

“Dalam libur panjang ini, promosi berupa diskon diberikan kepada masyarakat. Apalagi ini sudah masuk triwulan IV. Bahkan, kami sudah menyiapkan program hingga akhir tahun,” ujar Roy. Ia menambahkan Aprindo juga bakal menggelar pesta diskon pada 11 November mendatang untuk mendorong penjualan.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan kenaikan trafik kunjungan penyewa atau tenant sudah terlihat sejak 28 Oktober lalu. Apalagi, kata dia, pemerintah tidak lagi membatasi pengunjung untuk makan di tempat (dine-in). Ia memprediksikan kenaikan jumlah pengunjung akan terus naik hingga akhir pekan nanti.





Source link