fbpx
Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.670 per Dolar AS

Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.670 per Dolar AS


Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.670 per dolar AS pada Kamis (27/8). Posisi tersebut menguat 0,05 persen dibandingkan perdagangan Rabu (26/8) sore di level Rp14.677 per dolar AS.

Pagi ini, mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak fluktuatif terhadap dolar AS. Tercatat, yen Jepang melemah 0,04 persen, dolar Singapura melemah 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,18 persen, yuan China melemah 0,05 persen, ringgit Malaysia melemah 0,02 persen, dan baht Thailand melemah 0,02 persen.

Sedangkan, dolar Taiwan menguat 0,25 persen, won Korea Selatan menguat 0,06 persen, dan rupee India menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.


Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju mayoritas melemah di hadapan dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan dengan poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, dolar Australia melemah 0,03 persen, dan dolar Kanada turun 0,08 persen. Sedangkan, franc Swiss terpantau stagnan.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah pagi ini ditopang sentimen eksternal dimana pelaku pasar menanti pidato Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell nanti malam waktu Indonesia. Khususnya terkait sikap The Fed terhadap rencana stimulus tambahan senilai US$1 triliun yang hingga saat ini belum disetujui oleh kongres.

“Fokus pasar tentang masalah apakah The Fed akan menemukan cara tambahan tingkatkan ekonomi jika kongres gagal berikan persetujuan pada paket bantuan tersebut,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

[Gambas:Video CNN]

Dari dalam negeri, ia menuturkan pelaku pasar menunggu kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait keberlanjutan masa transisi yang diumumkan sore nanti. Menurutnya, ada tanda-tanda jika masa transisi ini berubah menjadi masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) alias new normal dengan syarat.

“Dari kemarin Wagub DKI sudah instruksikan hiburan bioskop dibuka, ini sudah ada tanda-tanda masa transisi kemungkinan besar berubah jadi new normal,” imbuhnya.

Ia memprediksi rupiah melaju di rentang Rp14.650 hingga Rp14.800 per dolar AS hari ini, dengan kecedenrungan menguat.

(ulf/agt)





Source link

Badai Laura Angkat Harga Minyak ke Level Tertinggi 5 Bula

Badai Laura Angkat Harga Minyak ke Level Tertinggi 5 Bula


Jakarta, CNN Indonesia —

Harga minyak mentah menguat ke level tertinggi dalam lima bulan pada akhir perdagangan Selasa (25/8) waktu AS. Pemicunya adalah produsen-produsen AS menutup sebagian besar produksi lepas pantai di Teluk Meksiko menjelang Badai Laura.

Mengutip Antara, Rabu (26/8), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober menguat 73 sen atau 1,6 persen, menjadi US$45,86 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 73 sen atau 1,7 persen ke level US$43,35 per barel.

Harga itu merupakan penutupan tertinggi untuk kedua acuan minyak sejak 5 Maret. Sehari setelahnya Arab Saudi dan Rusia gagal menyetujui rencana pemangkasan produksi minyak mentah. Lalu, sekitar seminggu setelahnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan covid-19 sebagai pandemi.


Produsen-produsen AS memangkas produksi minyak mentah menjelang Badai Laura yang mendekati tingkat Badai Katrina pada 2005 lalu. Mereka juga menghentikan sebagian besar penyulingan minyak di sepanjang pantai Texas dan Louisiana.

“Kekuatan hari ini sekali lagi hampir seluruhnya disebabkan oleh kekhawatiran badai,” kata Presiden Ritterbusch and Associates di Galena Jim Ritterbusch.

Badai Laura diperkirakan akan menguat menjadi topan besar dengan kecepatan angin 115 mil per jam, atau setara 185 kilometer per jam. Pusat Badai Nasional AS memprediksi Badai Laura menghantam pantai dekat perbatasan Texas dan Louisiana pada Kamis pagi (27/8).

Pada Selasa (25/8), produsen-produsen AS telah mengevakuasi 310 fasilitas lepas pantai dan menutup 1,56 juta barel per hari (bph) produksi minyak mentah. Jumlah itu setara 84 persen dari produksi lepas pantai Teluk Meksiko.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/agt)





Source link