fbpx
DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya

DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi melalui ATM. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam masa pandemi Covid-19, permintaan kredit memang melandai. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2020 yang menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cuma 1,04%.

Tetapi di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan tumbuh lebih tinggi yakni sebesar 11,64% secara year on year (yoy). Lebih baik ketimbang periode Juli 2020 yang kala itu disebut OJK tumbuh 8,53% secara tahunan.

Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id mengamini, peningkatan DPK memang tinggi. Selain karena tren menabung yang tinggi di tengah pandemi, hal ini juga disebabkan minimnya permintaan kredit. Walhasil, secara suplai pendanaan alias likuiditas saat ini bisa dikatakan ada di level paling longgar.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri: Kredit perbankan hanya tumbuh 1,5% di 2020

PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya yang mencatatkan DPK Rp 203,98 triliun per Juli 2020, naik 18,51% dari periode sama setahun lalu yang sebesar Rp 172,12 triliun.

Direktur Konsumer CIMB Niaga Lani Darmawan menyebutkan, mayoritas penopang pertumbuhan tersebut tak terlepas dari kenaikan dana murah (CASA) yang juga sebesar 18%. Namun, pertumbuhan deposito cenderung melambat karena CIMB Niaga lebih fokus menjaring dana murah.

“Secara total, DPK kami tumbuh positif. Nasabah mungkin lebih nyaman ke tabungan daripada deposito karena lebih fleksibel dan banyak fasilitas lewat mobile banking,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (24/9) lalu.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pun menyerukan hal senada. Walau tidak sederas industri, menurut Direktur Bank BTN Jasmin, per Agustus 2020 DPK BTN sudah naik 6,5%. Pertumbuhan itu didominasi dana murah yakni giro sebesar 15,5% yoy.

Malah bila dirinci, dari Juni 2020 ke bulan Agustus 2020 ada peningkatan cukup tinggi sekitar 9% dari Rp 226,32 triliun menjadi Rp 246,53 triliun. “Tren DPK di bulan eptember 2020 diperkirakan juga tetap naik,” kata Jasmin kepada Kontan.co.id, Jumat (25/9).

Walau punya potensi besar, bank bersandi bursa BBTN ini tidak ngotot menargetkan DPK jumbo tahun ini. Menurut Jasmin, DPK hanya ditargetkan tumbuh sekitar 7%-8% saja sepanjang tahun 2020. Ini karena BTN ingin memperbesar porsi dana murah (rasio CASA).

Menurut Jasmin, wajar kalau DPK tumbuh jauh melampaui pertumbuhan kredit. Sebab, kebanyakan nasabah atau debitur pastinya tengah mengerem kredit di masa pandemi. Walhasil, bisa dibilang dana-dana tersebut sedang diparkir di instrumen DPK, setidaknya sampai ekonomi stabil.

“Kami tidak mematok tinggi. Permintaan kredit juga masih jauh dari normal. Semoga tahun depan ekonomi kita membaik,” terangnya.

Baca Juga: Ini progres restrukturisasi kredit korporasi bank besar

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Dituding tidak transparan, begini pembelaan Dirut Bank Bukopin (BBKP)

Dituding tidak transparan, begini pembelaan Dirut Bank Bukopin (BBKP)


ILUSTRASI. Rivan Achmad Purwantono, Dirut Bank Bukopin.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) Rivan A. Purwantono membantah tudingan bahwa pihaknya tak melakukan transparansi terkait aksi penambahan modal via private placement yang bakal dieksekusi KB Kookmin Bank.

“Tidak ada aksi korporasi Bank Bukopin yak tak transparan, pelaksanaan PUT V, maupun private pelacement diberitahukan kepada seluruh pemegang saham, sekaligus mesti mendapatkan persetujuan OJK maupun bursa,” katanya kepada KONTAN, Senin (31/8).

Meski demikian, Rivan mengaku sejumlah aksi tersebut memang terjadi cukup cepat sebab memang ada keterdesakan untuk menyelamatkan perseroan.

Baca Juga: Polemik pengendali Bukopin memanas, pemegang saham minoritas akan lapor polisi

“Yang perlu dicatat aksi korporasi ini dalam rangka penyelamatan bank, bukan proses korporasi demi menjaga nasabah bank, sekaligus stabilitas perekonomian nasional,” sambungnya.

Sebelumnya KONTAN melaporkan, pemegang saham minoritas Bank Bukopin berencana melaporkan direksi lantaran dinilai tak transparan terkait aksi private placement.

Pelaporan bakal dilakukan oleh sejumlah induk koperasi seperti Induk Koperasi Usaha Daerah (Inkud), Induk Koperasi Veteran RI (Inkoveri), Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), dan Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (Kopelindo) yang kurang lebih memegang 7% saham Bank Bukopin.

Baca Juga: Bank kecil-menengah mulai pesimistis dapat mempertahankan kinerja

“Rencananya baru akan melaporkan pada Rabu (2/9) besok, ini hasil dari rapat koordinasi induk-induk koperasi pemegang saham Bukopin Jumat (28/8) lalu.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link