fbpx

AAUI minta perusahaan waspadai lonjakan klaim asuransi kredit


ILUSTRASI. Asuransi Simas Insurtech

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) meminta perusahaan asuransi mewaspadai lonjakan klaim asuransi kredit di masa pandemi virus corona (Covid-19). Apalagi, relaksasi pembayaran kredit yang diberikan pemerintah, akan memperpanjang masa pertanggungan asuransi.

“AAUI saat ini menghimbau perusahaan asuransi penerbit asuransi kredit untuk mulai mewaspadai portofolio asuransi ini. Mengingat, potensi klaim ada hubungannya dengan kondisi pandemi Covid-19 meski ada relaksasi kredit,” kata Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Rabu (18/11). 

Hal ini seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat dan sektor usaha sehingga kemampuan membayar kredit turun. Akibatnya, risiko kredit yang ditanggung perusahaan asuransi juga semakin besar. 

“Kondisi ini telah menjadi perhatian asosiasi sejak lini bisnis asuransi kredit menunjukkan sinyal perlambatan pada kuartal I 2020. Pada awal tahun ini mulai terdapat kenaikan klaim asuransi kredit sehingga perusahaan menjadi lebih berhati – hati, tapi tren diperparah kondisi pandemi,” tambahnya. 

Baca Juga: Premi bancassurance turun, OJK minta asuransi optimalkan pemasaran digital

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengingatkan atas lonjakan klaim asuransi kredit. Hingga September 2020 saja, klaim asuransi kredit meningkat hingga 50,9% secara year on year (yoy).

Asuransi Simas Insurtech juga mencatatkan kenaikan klaim asuransi kredit. Meski demikian, perusahaan masih bisa mengelola kenaikan klaim tersebut karena jumlah premi masih mencukupi. 

“Jadi, kami belum perlu pencadangan khusus. Karena pencadangan kita lakukan jika sudah mencapai klaim rasio tertentu,” kata Direktur Simas Insurtech Teguh Aria Djana. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Konglomerasi dan BUMN kuasai pasar asuransi umum

Konglomerasi dan BUMN kuasai pasar asuransi umum


ILUSTRASI. Deretan gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta, Minggu (25/10/2020). KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri asuransi umum dikuasai oleh perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerasi maupun BUMN. Berdasarkan data yang Kontan.co.id terima, 10 besar asuransi umum didominasi oleh perusahaan lokal yang memiliki konglomerasi dan BUMN beraset besar.

Adapun urutan 10 besar perusahaan asuransi dengan premi terbesar mulai dari Sinar Mas, Astra Buana, Jasa Indonesia, Tugu Pratama Indonesia Tbk, Kredit Indonesia, Central Asia, Bangun Askrida, Adira Dinamika, Multi Artha Guna Tbk, dan Wahana Artha.

Asuransi Sinar Mas merupakan bagian dari konglomerasi Sinar Mas Group. Adapun Asuransi Astra Buana merupakan anak perusahaan dari PT Astra International. Adapun Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) merupakan BUMN. Selain itu, 58,5% saham Tugu Pratama Insurance dimiliki oleh PT Pertamina (Persero).

Baca Juga: Jumlah agen asuransi menanjak di masa pandemi

Pangsa pasar dari 10 besar perusahaan asuransi itu mencapai 53,8% atau Rp 20,2 triliun dari total premi industri. Pada sektor ritel, mayoritas dikontribusikan oleh asuransi wajib dari multifinance maupun bank untuk kredit pemilikan rumah maupun kredit pemilikan motor.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengamini hal ini. Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe bilang memang 10 besar kontributor premi asuransi umum secara nasional adalah perusahaan asuransi konglomerasi dan BUMN. Hal

“Ini bukan berarti ada perusahaan asuransi lainnya tidak dapat menggarap pasar tersebut. Namun strategi pemasaran yang dilakukan bisa menjangkau market yang dimaksud,” ujar Dody kepada Kontan.co.id pada Senin (26/10).

Lanjut Dody, setidaknya ada tiga kekuatan yang dapat menjadi modal untuk menggarap pasar, yaitu modal, kompetensi SDM dan networking. BUMN dan perusahaan konglomerasi memiliki modal yang bagus, sehingga kapasitas menahan risiko juga besar.

Baca Juga: Bidik pebisnis dan UMKM, Allianz Life rilis asuransi mikro syariah Sekoci Amana

“Disamping itu mereka juga memiliki networking, baik dengan grup maupun kerjasama bisnis. Juga kompetensi SDM yang dapat menjadi competitive advantage saat membuat inovasi produk yang dapat bersaing di pasar. Disamping itu, juga seleksi risiko yang baik sebagai bagian dari proses manajemen risiko,” tambah Dody.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link