fbpx
Bankir Mandiri kuasai direksi bank BUMN, ini strategi BMRI tak kekurangan talent

Bankir Mandiri kuasai direksi bank BUMN, ini strategi BMRI tak kekurangan talent


ILUSTRASI. The Bank Mandiri logo is seen on the top of an office tower in Jakarta, Indonesia September 8, 2017. REUTERS/Darren Whiteside

Reporter: Titis Nurdiana | Editor: Titis Nurdiana

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Sebaran bankir PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kini merata, bahkan menguasai bank-bank milik negara alias bank BUMN. Sebut saja, orang nomer satu di bank yang terkumpul di himpunan bank-bank milik negara alias Himbara. Semuanya dikuasai oleh bankir dari Bank Mandiri.

PT Bank Negara Indonesia Tbk(BBNI) yang baru saja menggelar RUPSLB, menempatkan Royke Tumilaar dari Direktur Utama Bank Mandiri ke orang nomer satu di BBNI.

Tak sendirian, Royke bahkan mengajak empat bankir Mandiri lainnya yakni Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Silvano Rumantir, Senior Executive Vice President Wholesale Risk Bank Mandiri David Pirzada, Senior Vice President SME Banking Muhammad Iqbal, dan Senior Vice President Strategy & Performance Management Bank Mandiri Novita Widya Anggraini ke Bank BNI (BBNI).

Lalu ada Dirut Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang juga dikuasai eks bankir Bank Mandiri Sunarso.  Ada Pahala Nugraha Mansury, Dirut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang juga dari Bank Mandiri. Jika banyak bankir senior Bank Mandiri pindah, lantas bagaimana kendali BMRI ke depan?

 Direktur Kepatuhan dan SDM PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Agus Dwi Handaya memastikan bahwa Bank Mandiri tak akan kekurangan talent bankir terbaiknya. “Sekarang memang banyak talent kami keluar (bekerja di BUMN lain), tapi dari awal kami sudah siapkan suksesornya sebagai pengganti. Jadi setiap posisi sudah disiapkan 3-5 orang untuk menjadi suksesor,” ujar Agus

Upaya ini dilakukan Bank Mandiri jauh-jauh hari, seiring transformasi bisnis yang dilakukan bank milik negara ini. Ada empat strategi kunci dalam meningkatkan  dan menjaga kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).

Model pengembangan SDM Bank Mandiri menyesuaikan perkembangan di era revolusi industri 4.0 “Bank Mandiri menerapkan empat strategi untuk mendidik  talenta-talenta yang ada agar menjadi figur yang mumpuni dan berkompetensi,” kata Agus dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (10/9)

Strategi pertama adalah dorongan natural agar SDM Bank Mandiri terbiasa menghadapi perubahan. Dorongan ini muncul sejak Bank Mandiri berdiri sebagai hasil merger dari empat bank, pada 2 Oktober 1998.

Pendirian Bank Mandiri sebagai universal banking membuat perseroan terus melakukan transformasi.  “Kondisi ini secara natural mendorong mindset Mandirian untuk terbuka dan terbiasa dengan perubahan, selalu berusaha mengadopsi best practices dibidangnya, bahkan berinovasi melahirkan future practices,” ujar Agus.

Kedua  disiplin. Kata Agus, Bank Mandiri secara disiplin melakukan dan menilai performa pekerja, yakni secara ketat menerapkan sistem manajemen performa (Performance Management System) karyawannya dengan berbasiskan penilaian  Key Performance Indicator (KPI). Hal ini mendorong pegawai Bank Mandiri untuk memiliki jiwa kompetisi tinggi.

Ketiga, budaya kerja dan kepemimpinan yang kuat jugamenjadi strategi Bank Mandiri  sehingga tidak kekurangan talenta-talenta terbaik. Hal inilah yang menyebabkan pekerja Bank Mandiri selalu berusaha keluar dari zona nyamannya, dan responsif menghadapi perubahan yang cepat terjadi.

“Di Mandiri sangat popular jargon:  tidak ada yang tidak bisa dilakukan Mandirian, hanya menghidupkan orang mati yang tidak bisa,” ujar Agung.

Jargon lain adalah Kapal sudah dibakar, pilihannya mati atau maju dan menang serta  eksekusi, eksekusi, eksekusi.

Terakhir, kuatnya penerapan praktik tata kelola korporasi atau Good Corporate Governance (GCG) di seluruh lini kerja Bank Mandiri. Penerapan GCG yang kuat di Bank Mandiri tak terlepas dari hasil introspeksi perseroan dari pengalaman mereka di masa-masa awal terbentuk. “Melalui proses refleksi, permasalahan-permasalahan tersebut kemudian membangkitkan dan membangun awareness organisasi Bank Mandiri dan Mandirian,” tuturnya.

Keempat hal itu yang menjadi dasar Bank Mandiri melakukan adaptasi dan pemenuhan kebutuhan di era revolusi industri 4.0.

Kata Agus, BMRI menyusun IT dan Digital Roadmap Capability untuk menjawab cepatnya perubahan kebutuhan industri. Sejumlah program akselerasi dilakukan demi menjaga dan meningkatkan kapabilitas pekerjanya di era kemajuan teknologi.

Antara lain memperbanyak penyaluran beasiswa bidang IT dan Digital bagi pekerjanya, hingga kerjasama dengan Apple Academy dan sejumlah perusahaan digital internasional. “Kami juga melakukan pengembangan talent dengan basis daily activity. Saat ini kami sedang mengembangkan super-apps dengan pendekatan agile team,” ujar dia.

Menurutnya,  model ini sangat baik karena disamping percepatan pengembangan apps lebih baik, juga bisa membekali talent kami. “Ini akan menjadi sarana talent kami untuk bisa learning by doing di bidang digital,” ujar Agus.

Dengan strategi tersebut, Bank Mandiri yakin tak akan kekurangan talenta-talenta terbaik di masa depan. Apalagi sudah sejak lama Bank Mandiri menerapkan sistem suksesi di setiap lini usaha perseroan.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Ini kata ekonom soal boyongan bankir Mandiri ke BNI

Ini kata ekonom soal boyongan bankir Mandiri ke BNI


ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank BNI Jakarta, (12/7). BNI ditunjuk sebagai salah satu bank presepsi pengelola dana repatriasi dari tax amnesty. Melalui kebijakan tax amnesty dana yang akan masuk ke Indonesia (repatriasi) dari luar negeri bisa mencapai Rp 1.000 t

Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID –JAKARTA. Perombakan susunan manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Rabu lalu (2/9) menyedot perhatian publik. Pasalnya, pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham BNI, merombak besar-besaran manajemen BNI. 

Tercatat, ada delapan posisi direksi BNI yang dirombak. Dari jumlah itu, ada lima direktur baru BNI yang berasal dari PT Bank Mandiri Tbk (Persero). Kelima direktur baru BNI yang berasal dari Bank Mandiri itu adalah Royke Tumilaar yang didapuk menjadi Direktur Utama BNI menggantikan Herry Sidharta. 

Lalu, ada Silvano Winston Rumantir, yang ditunjuk menjadi Direktur Corporate Banking BNI. Selain itu ada Muhamad Iqbal yang dipercaya menduduki posisi Direktur Bisnis UMKM BNI. Ada pula Novita Widya Anggraini yang mengemban amanah sebagai Direktur Keuangan BNI. Serta, David Pirzada sebagai Direktur Manajemen Risiko BNI. 

Muhammad Doddy Arifianto, Ekonom dari Universitas Bina Nusantara (Binus) menyatakan, masuknya lima bankir Bank Mandiri ke susunan direksi BNI harus dilihat secara objektif. 

Doddy membenarkan, biasanya pimpinan bank BUMN dilakukan secara rotasi antar sesama bankir pelat merah. Dalam penempatan direksi sebuah perusahaan BUMN, pemerintah sebagai pemegang saham pasti melakukan proses seleksi yang ketat.

Ada tim seleksi yang mempertimbangkan seseorang layak dipilih menjadi pimpinan di sebuah BUMN. Tentu, kata Doddy, kualifikasi yang dimiliki bankir dari bank BUMN selain Mandiri juga masuk dalam pool tim seleksi manajemen BNI. 

Hal itu, mulai dari kompetensi, skill, jaringan, wawasan, integritas, dan lain sebagainya menjadi kriteria utama yang diseleksi oleh tim tersebut. “Saya yakin, semua itu menjadi pertimbangan utama Menteri BUMN, yang notabene juga merupakan profesional businessman,” ujar Doddy kepada Kontan.co.id, Sabtu (5/9). 

Doddy menambahkan, keberadaan bankir-bankir Bank Mandiri di sejumlah perusahaan BUMN maupun swasta, sejatinya sudah ada sejak dahulu. Sejak tahun 2006, kata dia, sejumlah bankir Bank Mandiri sudah dipakai di berbagai entitas bisnis sebagai tenaga profesional. 

Bahkan, banyak bank-bank kecil juga dipimpin mantan bankir Bank Mandiri. Artinya, sejak dulu bankir Bank Mandiri memiliki skill, kapabilitas dan integritas yang mumpuni untuk menjadi pimpinan di sebuah lembaga, baik di entitas perbankan maupun non bank. 

Sejatinya, kata Doddy, integritas dan kapablitas tersebut juga dimiliki oleh bankir BUMN lainnya.”Ini kan kembali ke garis tangan person bankir itu sendiri. Kebetulan, memang lima bankir Bank Mandiri yang terpilih menjadi direksi BNI. Jadi kenapa mesti diributkan?” imbuh Mantan Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut. 

Selain itu, sambung Doddy, sejumlah mantan bankir Mandiri yang masuk ke sejumlah perusahaan pelat merah, juga tidak sepenuhnya mengawali karirnya di Bank Mandiri. Contohnya Pahala Mansyuri, Direktur Utama Bank BTN. Sebelumnya, Pahala juga pernah berkarir sebagai konsultan dan selanjutnya berkarir di Pertamina dan Garuda Indonesia.

Beberapa bankir Mandiri yang menjadi petinggi di lembaga pemerintahan, juga tidak murni berkarir di Bank Mandiri. Mereka hanya berlabuh di Bank Mandiri selama beberapa tahun. Sebelumnya justru mereka berkiprah di lembaga keuangan swasta. 

Doddy mencontohkan mantan bankir Bank Mandiri yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN, yakni Budi Gunadi Sadikin dan Kartika Wirjoatmodjo. “Jadi jangan ada sentimen ke lembaga tempat mantan bankir itu berkarir sebelumnya. Seharusnya, rotasi ini bisa memacu bankir lain, agar bisa menjadi besar seperti bankir Bank Mandiri” tegas Doddy.

BNI go global

Lalu, apakah dengan masuknya bankir Bank Mandiri ke manajemen BNI akan mewujudkan rencana pemerintah untuk membawa BNI go global? Menurut Doddy, ada beberapa faktor untuk mencapai ke tujuan itu.

Pertama, pencapaian bisnis perusahaan bukan hanya semata-mata berasal di pimpinan. Memang, seorang pemimpin yang akan men-drive tujuan organisasinya ke depan. Tapi, ada yang lebih penting lagi dari itu, yakni semua orang yang ada di organisasi tersebut mendukung atau tidak pencapaian yang dicanangkan oleh pimpinannya. 

Karena, kata dia, yang namanya manajemen hanya berisi sekitar 10-12 orang. Tapi, yang menjalankan bisnis seluruhnya adalah sumber daya manusia (SDM) atau karyawan yang ada di perusahaan tersebut. 

Kedua, bisa atau tidak strategi bisnis yang dijalankan itu inovatif atau mampu bersaing dengan yang lainnya. Sebab, perbankan merupakan salah satu industri yang kompetisinya sangat ketat. 

Ketiga, tepat atau tidaknya eksekusi kebijakan bisnis yang diambil manajemen untuk meraih laba perusahaan. Tentu, dalam hal ini faktor luck atau keberuntungan juga dalam menjalankan keputusan bisnis.

Nah, kalau dilihat dari sisi manajerial para bankir Mandiri yang masuk ke BNI, Doddy optimistis, bank pimpinan Royke Tumilaar itu bisa melangkah lebih jauh lagi dari posisi saat ini.

Alasannya, selain nama besar Bank Mandiri, rekam jejak Royke diyakini mampu membuat BNI mendapat kepercayaan dunia global. “Profil direktur utama baru di BNI adalah bankir yang telah berkarir di industri perbankan selama lebih dari 20 tahun. Kemampuannya tidak perlu diragukan lagi,” tandas Doddy.

Pendapat senada disampaikan Piter Abdullah, Direktur Riset Center on Reforma Economics. Dia menilai, pergantian manajemen di tubuh perusahaan BUMN memang hal yang lumrah. Sebagai pemegang saham, pemerintah memiliki kewenangan merombak susunan manajemen perusahaan BUMN. 

Hanya saja, Piter mengingatkan, menjadikan BNI untuk go global, bukanlah hal mudah. Banyak tantangan yang harus dilalui oleh perbankan nasional di luar negeri. Maklum, perbankan merupakan bisnis yang syarat regulasi. 

Jika masuk ke negara lain, bank kita harus mengikuti aturan main regulator di negara tujuan. Selain itu, secara sistem, perbankan di dalam negeri dinilai belum efisien secara operasional.

“Perbankan kita memang bisa mendapatkan keuntungan yang besar sekali di Indonesia karena didukung oleh sistem kebijakan yang unik,” kata Piter kepada Kontan.co.id, Jumat (4/9).

Kesulitan perbankan nasional bersaing di luar negeri, juga dikarenakan kebijakan suku bunga di Tanah Air  yang terlalu tinggi dibandingkan negara lain.

“Dengan suku bunga tinggi, bagaimana mau bersaing dengan bank lokal di luar negeri? Ini salah satu tantangan yang dihadapi oleh manajemen baru BNI untuk bisa mewujudkan go global,” tutup Piter.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Saya akan jalankan amanah dengan baik

Saya akan jalankan amanah dengan baik


ILUSTRASI. Royke Tumilaar. Royke Tumilaar akan menyebrang dari Bank Mandiri ke Bank BNI untuk menjadi direktur utama. /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/09/12/2019.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) terpilih Royke Tumilaar menyatakan kesiapannya untuk membawa BNI menjadi bank yang akan berkontribusi aktif membangun ekonomi Indonesia serta membawa bank BUMN tersebut mewakili industri perbankan Indonesia di tingkat global

“Pertama tama kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan dan mandat yang diberikan kepada saya untuk menahkodai BNI, apalagi Bank BNI memiliki sejarah panjang yang telah ikut mewarnai perkembangan Ekonomi Indonesia sejak 1946. Saya akan berusaha menjalankan amanah ini dengan baik,” kata Royke dalam Video Conference di Jakarta, Rabu (2/9).

Baca Juga: Kursi dirut bank anggota Himbara diduduki alumni Bank Mandiri, ada siapa saja?

Dia menyadari penunjukan tersebut akan membawa konsekuensi yang harus dijalani, antara lain target atau ekspektasi dari pemegang saham, dalam hal ini Kementerian BUMN.

“Target ini menjadi tantangan bagi saya untuk membawa dewan direksi baru dalam sebuah sinergi yang produktif dan strategis untuk bisa memenuhi target tersebut,” katanya.

Untuk itu, tambahnya, dirinya tidak akan melakukan perubahan banyak dari strategi yang lama dan akan menyesuaikan dengan ekspektasi stakeholder, termasuk karyawan. 

Seperti diketahui, BNI diharapkan bisa tumbuh menjadi Bank dengan scope internasional bisnis, termasuk jadi bank refferal dan koresponden utama bagi lembaga, investor maupun bank asing. 

Untuk  bisa menjadi bank seperti itu, dibutuhkan aksi korporasi untuk membesarkan Asset BNI, baik organik maupun anorganik, agar akselerasi menjadi bank global bisa cepat terlaksana.

Baca Juga: Royke Tumilaar jadi Dirut Bank BNI, begini susunan komisaris dan direksi perseroan

Untuk itu, kami mohon dukungan dari seluruh insan di BNI, seluruh stakeholder termasuk rekan-rekan untuk bisa mengawal kinerja kami agar dapat memenuhi harapan semua pihak, termasuk para pemegang saham,” katanya.

Terpilih dalam RUPS Luar Biasa BNI pada 2 September 2020, Royke Tumilaar merupakan bankir berpengalaman yang menghabiskan 11 tahun di Bank Dagang Negara dan 21 tahun di Bank Mandiri. Sebelumnya, bankir kelahiran tahun 1964 itu merupakan Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link