fbpx

BI minta perbankan turunkan bunga kredit, begini kata bankir


ILUSTRASI. ATM sejumlah perbankan

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG)  bulan November 2020. 

Dengan tren suku bunga yang rendah ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengharapkan agar perbankan segera menurunkan suku bunga kreditnya. 

“Kami tidak segan-segannya mengharapkan agar perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Sehingga ini bisa mendorong pemulihan ekonomi. Dan kami ingin sampaikan bahwa perbaikan ekonomi berlanjut,” ujar Perry, Kamis (19/11). 

Menurut bank sentral, penyebab utama masih belum menyusutnya bunga kredit diakibatkan oleh persepsi risiko kredit oleh perbankan. Wajar, perbankan memang menilai selama pandemi potensi risiko kredit gagal bayar bakal meninggi. 

Apalagi di masa seperti sekarang, perbankan memang disibukkan dengan penerapan program restrukturisasi kredit. Tentu hal ini membuat bank tidak bisa seketika menginjak gas untuk ekspansi kredit. Sebab, ada banyak pencadangan yang perlu disisihkan bank untuk menghindari risiko melonjaknya kredit bermasalah. 

Baca Juga: BI: Arus modal asing mulai masuk, nilai tukar rupiah menguat 1,74%

Menanggapi hal itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja secara singkat mengatakan, sebenarnya keputusan bank sentral ini sudah diramal. “Sudah diperkirakan,” kata dia. 

Ini artinya, perbankan dalam beberapa periode ke depan bakal merespon kebijakan tersebut. Namun, Jahja tidak menyebut seperti apa tren bunga kredit ke depan. 

Agak berbeda, Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) Daniel Budirahayu memandang, keputusan BI untuk memangkas bunga acuan sebenarnya di luar ekspektasi pasar, termasuk industri perbankan. 

Meski begitu, ada banyak sinyal positif yang bisa diraih dengan adanya penurunan bunga acuan. Antara lain sinyal positif bagi industri untuk mendorong investasi termasuk meningkatkan konsumsi belanja (consumer spending). 

Akan tetapi, Daniel memandang hal itu tidak serta-merta akan membuat suku bunga kredit bank segera turun. Sebab, dalam praktiknya tiap bank memiliki kebijakan tersendiri terkait bunga kredit. 

Pun, penurunan bunga kredit juga sangat bergantung pada tingkat biaya dana atau cost of fund (CoF) setiap bank. “Karena walaupun bunga acuan BI turun, tidak bisa semerta-merta bank langsung turunkan suku bunga apalagi untuk BUKU I dan II,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (19/11) malam. 

Daniel bilang, bank kecil seperti Bank Ina perdana tentu memiliki durasi transmisi penurunan bunga kredit lebih lama dibandingkan bank besar. Lantaran, bank besar terutama di BUKU IV pastinya punya CoF yang rendah, praktis menjadi lebih leluasa dalam mengatur tingkat suku bunga. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Gesekan kartu kredit belum kencang, perbankan cermati potensi NPL


ILUSTRASI. Kartu kredit

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren transaksi kartu kredit masih mencatat perlambatan di tengah pandemi Covid-19. Merujuk data Bank Indonesia (BI) realisasi kartu kredit sejak Januari hingga September 2020 tercatat sebesar Rp 180,6 triliun. 

Walau terlihat besar, posisi itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi di akhir 2019 yang menyentuh Rp 342,68 triliun. 

Bukan hanya transaksi yang melambat, pandemi juga membuat risiko non performing loan (NPL) pada bisnis kartu kredit meningkat. Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id pun mengamini hal tersebut. 

Baca Juga: Ingin taruh dana di deposito? Perhatikan dulu hal-hal berikut ini

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, per September 2020 lalu mencatatkan NPL kartu kredit sebesar 3,55%. Walau tinggi, Direktur BCA Santoso Liem mengisyaratkan bahwa sejatinya tren tersebut terus menurun sejak bulan Juli 2020 sejalan dengan meningkat kembali penggunaan kartu kredit oleh konsumen. 

Tren penurunan NPL tersebut tambah Santoso juga disebabkan meningkatnya kemampuan bank dalam memberikan solusi bagi pemegang kartu kredit yang memiliki potensi bermasalah dalam pembayaran kartu kredit akibat pandemi. “Misalnya dengan program konversi tagihan menjadi cicilan dengan bunga ringan bagi yang membutuhkan,” ujar Santoso, Minggu (15/11) malam. 

Sebagai informasi saja, bisnis kartu kredit BCA memang tercatat mengalami perlambatan sebesar 18,5% secara year on year (yoy) dari Rp 13,41 triliun menjadi Rp 10,92 triliun. Meski begitu, secara kuartalan terjadi peningkatan sebesar 2,7% (qoq). Hal ini menjadi penanda bagi perseroan bahwa tren transaksi belanja di masyarakat mengarah ke level pemulihan. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Permintaan KTA perbankan mulai bergairah


ILUSTRASI. Kredit Tanpa Agunan (KTA)

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah membatasi pemasaran produk kredit tanpa agunan (KTA) saat puncak pandemi virus corona (Covid-19) beberapa waktu lalu, kini sejumlah perbankan mulai berani bergerak. Selain karena pandemi Covid-19 yang mereda, ternyata permintaan terhadap KTA juga mulai tumbuh perlahan, lantaran bank juga masih sangat selektif menyalurkan produk ini.

“Permintaan sudah mulai ada, terutama dari nasabah existing, namun memang belum sebanyak sebelum pandemi, sehingga pertumbuhan keseluruhan masih negatif,” kata DIrektur Bisnis Konsumer PT Bank CIMB NIaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan kepada Rabu (11/11).

Segmen KTA juga sejatinya menjadi pemberat pertumbuhan kredit yang tercatat masih tumbuh 4,1% (yoy) menjadi Rp 54,82 triliun sampai akhir September 2020. Diperinci, KPR, dan KKB jadi penopang pertumbahan masing-masing7,9% (yoy), dan 7,0% (yoy). Sedangkan KTA negatif 10,2% (yoy), dan kartu kredit 4,4% (yoy).

Adapun sampai September 2020, portofolio KTA Bank CIMB Niaga tercatat senilai Rp 3,88 triliun. 

Baca Juga: CIMB Niaga (BNGA) bukukan laba Rp 1,9 triliun pada kuartal III 2020

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sejak April 2020 menghentikan pemasaran produk KTA kini juga mulai kembali dibuka secara terbatas. Hanya kepada nasabah yang merupakan pegawai dengan fasilitas penggajian (payroll) via BCA. 

Sampai September 2020 portofolio BCA di segmen ini mencapai Rp 2,84 trilin. Meski secara tahunan masih negatif 3,3% (yoy), namun dibandingkan kuartal sebelumnya sudah mulai terlihat pertumbuhan 3,0% (qtq).

“Kami mencermati, di tengah tantangan pandemi yang dinamis, permintaan kredit juga masih dalam tahap pemulihan,” ujar Direktur BCA Santoso Liem kepada Kontan.co.id. 

Sementara di bank pelat merah pertumbuhan KTA justru relatif masih baik. Maklum mereka biasa memasarkan produk ini kepada pegawai-pegawai perusahaan pelat merah pula. 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya sampai kuartal III-2020 portofolio KTA mencapai Rp 29,05 triliun dengan pertumbuhan 12,8% (yoy). Segmen ini menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer perseroan yang tumbuh 4,5% (yoy) menjadi Rp 87,41 triliun. 

“Produk payroll loan kami BNI Fleksi menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer (tanpa kartu kredit) yang tumbuh 8% (yoy). Ini telah melampaui target pertumbuhan kami sebesar 4%,” kata Direktur Konsumer BNI Corina Leyla kepada KONTAN. 

Ia menambahkan pemasaran BNI Fleksi memang difokuskan kepada para ASN, dan pegawai BUMN yang memiliki tingkat pensiun maupun pergantian pegawai yang rendah. Pun sasarannya kepada para pegawai level menengah atas.

Baca Juga: Kredit seret, bank pilih taruh dana di obligasi

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani pun setali tiga uang. Sampai akhir September KTA perseroan masih tumbuh 1,5% (yoy) menjadi Rp 101,0 triliun. Sekaligus menjadi penyumbang terbesar kredit konsumer perseroan Rp 142,5 triliun yang tumbuh 3,4% (yoy).

Selain secara konvensional, personal loan BRI via platform digital juga mencatat pertumbuhan yang baik sampai kuartal III-2020. Platform Ceria misalnya kini telah digunakan 10.414 nasabah dan memiliki portofolio Rp 20,1 miliar dengan sales volume Rp 52 miliar.

Sementara kerja sama BRI dengan Traveloka melaluia Traveloka Paylater kini telah digunakan 35.174 pengguna dengan portofolio Rp 211,3 miliar dan sales volume R 366,5 miliar. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Gusur BRI, BCA rebut mahkota Juara peraih laba bersih di kuartal III-2020


ILUSTRASI. Nasabah menggunakan anjungan tunai mandiri (ATM) yang berada di kantor cabang BCA, Tangerang Selatan, Jumat (17/4). KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Akhirnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengumumkan laporan keuangan kuartal III 2020  pada “tanggal kembar”, Rabu (11/11). Hasilnya suram. 

Laba bersih konsolidasi bank pelat merah ini sekitar Rp 14,11 triliun. Terjun hingga 43,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu alias year on year (yoy). Di kuartal III-2019, BRI mencatat laba Rp 24,78 triliun. 

Dengan begitu, empat bank besar kategori BUKU IV sudah mengumumkan laporan keuangan. Dan hasilnya laba bersih mereka turun semua. Namun, Bank Central Asia (BCA) mencatatkan penurunan laba bersih paling mini.

Bank yang dikendalikan Djarum Group itu mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 20 triliun sampai akhir September 2020.  Hanya turun 4,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 20,9 triliun.

Dengan pencapaian ini, BCA merebut mahkota juara bank besar dari sisi pencapaian laba bersih, menggusur BRI yang melorot ke urutan kedua.  Pencapaian BRI ini hampir dipepet Bank Mandiri. 

Laba bersih bank berlogo pita kuning biru itu pada sembilan bulan pertama 2020 terjun 30,73% yoy menjadi Rp 14,02 triliun. Periode sama setahun sebelumnya masih tercatat laba sebesar Rp 20,25 triliun. 

Sementara bank BUMN lain, BNI Tpada kuartal III 2020 mencatatkan laba bersih Rp 4,32 triliun. Melorot 63,9% yoy dibandingkan  Rp 11,97 triliun di akhir September 2019.. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Singapura akan berhenti terbitkan uang S$ 1.000, begini tanggapan BCA


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Singapura akan berhenti menerbitkan uang kertas pecahan 1.000 dolar Singapura per 1 Januari 2021. Langkah itu diambil oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) guna mengurangi risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme.

PT Bank Central Asia Tbk menyatakan kebijakan ini tidak akan terlalu memberikan dampak signifikan pada bisnis money changer yang dijalani oleh BCA. Direktur BCA Santoso menyatakan denominasi uang kertas S$ 1.000 sudah tidak diberikan ijin impor untuk kebutuhan diluar Singapura.

“Hal itu sejak tahun 2018 oleh Otoritas Moneter Singapura (MAS), sehingga denominasi uang kertas tersebut yang saat ini beredar dan di transaksikan di Indonesia merupakan uang yang beredar sebelum ketentuan tersebut diberlakukan,” ujar Santoso kepada Kontan.co.id pada Kamis (5/11).

Lanjtu Ia, kebijakan penghentian peredaran uang denominasi S$ 1.000 tersebut tidak berdampak terlalu signifikan terhadap perseroan. Walaupun permintaan untuk denominasi tersebut masih ada.

“Namun karena ketersediaannya sudah terbatas membuat frekuensi dan volumenya relatif tidak besar,” pungkas Santoso. Namun untuk saat ini hingga Desember 2020, uang kertas S$ 1.000 masih tersedia setiap bulan secara terbatas.

Baca Juga: Singapura akan berhenti terbitkan uang S$ 1.000, apa efeknya ke bisnis money changer?

“Ini adalah tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme yang lebih tinggi terkait dengan uang kertas denominasi besar,” ujar MAS dikutip dari CAN.

MAS mencatat, uang kertas denominasi besar memungkinkan individu untuk membawa nilai uang yang besar secara anonim. “Langkah ini sejalan dengan norma-norma internasional dan yurisdiksi utama yang telah berhenti mengeluarkan uang kertas denominasi besar sehubungan dengan masalah pencucian uang dan pendanaan terorisme,” kata MAS.

Meski berhenti memproduksi, MAS menegaskan uang kertas senilai S$ 1.000 yang telah beredar tetap menjadi alat pembayaran yang sah. Uang pecahan tersebut dapat terus digunakan sebagai alat pembayaran.

Mengutip Businesstimes.com, bank tetap dapat mengedarkan uang kertas S$ 1.000 yang disimpannya. MAS menambahkan, untuk memenuhi permintaan, akan disediakan uang pecahan lain dalam jumlah yang cukup. Terutama uang kertas S$ 1.000, uang denominasi tertinggi setelah S$ 1.000. Masyarakat Singapura juga didorong menggunakan pembayaran elektronik, seperti PayNow dan FAST.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Aset BCA tembus Rp 1.000 triliun, ditopang DPK yang tumbuh signifikan


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi bank ketiga di tanah air yang mencatat nilai aset lebih dari Rp 1.000 triliun. Sampai akhir September 2020, aset bank swasta terbesar di tanah air ini tercatat Rp 1.003,6 triliun tumbuh 12,3% (yoy).

Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja bilang, dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh signifikan jadi penopangnya. 

“Pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid mendukung pertumbuhan aset BCA mencapai Rp 1.000 triliun lebih. DPK kami juga ditopang oleh dana murah atau CASA yang tumbuh 16,1% (yoy),” ujar Jahja dalam paparan kinerja daring, Senin (26/10).

Baca Juga: BCA catat laba Rp 20 triliun di kuartal III-2020, turun 4,2% dari kuartal III-2019

Sampai September 2020, BCA berhasil menghimpun DPK senilai Rp 780,7 triliun dengan pertumbuhan 14,3% (yoy). Dana murahnya terhimpun Rp 596,6 triliun atau 76,4% dari total DPK dengan pertumbuhan 16,1% (yoy). Sedangkan simpanan deposito tumbuh 8,8% (yoy) menjadi Rp 184,1 triliun

Dalam kesempatan serupa Direktur BCA Santoso Liem juga bilang pertumbuhan dana murah perseroan didukung oleh meningkatnya transaksi oleh nasabah secara digital.

BCA memproses sekitar 33 juta transaksi per hari selama sembilan bulan pertama tahun 2020, meningkat dari 26 juta transaksi per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kami terus melihat perkembangan yang pesat pada jumlah transaksi melalui mobile dan internet banking,” ujar Santoso.

Baca Juga: Berpotensi jadi NPL, sekitar 11% debitur restrukturisasi Bank Mandiri berisiko tinggi

Pertumbuhan dana murah ditambahkan Santoso juga turut didukung oleh pembukaan rekening baru di BCA. Sampai September 2020, ia bilang setidaknya ada 6.700 pembukaan rekening baru tiap harinya. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

BCA sudah merestrukturisasi kredit senilai Rp 107,9 triliun yang terimbas pandemi


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sampai 20 September 2020, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah merestrukturisasi kredit terimbas pandemi senilai Rp 79,3 triliun atau setara dari 14% portofolionya. 

“BCA berfokus untuk membantu nasabah dalam merestrukturisasi kreditnya sejak awal pandemi. Kami sangat bersyukur atas program relaksasi dari regulator yang membantu perbankan dan nasabah dalam melewati masa yang sulit untuk mencapai pemulihan,” kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja dalam paparan kinerja daring, Senin (26/10).

Adapun sampai pertengahan Oktober 2020, bank swasta terbesar di tanah air telah menerima permohonan restrukturisasi total Rp 107,9 triliun dari lebih 90.000 debiturnya. 

Baca Juga: Selama Pandemi, Kebijakan Restrukturisasi Kredit Tetap Dibutuhkan

Diperinci, nilai restrukturisasi paling banyak berasal dari segmen produktif sebesar Rp 82,6 triliun dari 6.167 debitur. Sedangkan kredit konsumtif senilai Rp 25,3 triliun yang berasal dari 84.595 debitur. 

Adapun sampai akhir tahun Jahja menaksir nilai restrukturisasi kredit terimbas pandemi bakal berkisar sampai 20% dari portofolio kredit perseroan.  “Ini lebih baik dibandingkan proyeksi awal kami sebesar 30% dari portofolio kredit. Sampai Oktober 2020 saja realisasinya masih 19% dari portofolio,” lanjut Jahja. 

Sementara sampai September 2020, penyaluran kredit perseroan juga belum mumpuni, pertumbuhannya masih negatif 0,6% (yoy) menjadi Rp 581,9 triliun. 

Baca Juga: Maybank Indonesia telah lakukan restrukturisasi kredit sebesar Rp 15,8 triliun

Diperinci, cuma segmen korporasi yang masih mencatat pertumbuhan sampai 8,6% (yoy) menjadi 252,0 triliun. Segmen lain tercatat belum tumbuh, komersial dan UMKM negatif 4,9% (yoy), konsumer negatif 3,1% (yoy).

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Simak tiga fitur digital Bank BCA yang penting selama PSBB

Simak tiga fitur digital Bank BCA yang penting selama PSBB


ILUSTRASI. Penggunaan aplikasi perbankan digital.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah situasi pandemi COVID-19 saat ini, kecanggihan teknologi menjadi sangat dimanfaatkan oleh masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkomitmen melakukan transformasi digital dalam memberikan layanan perbankan. BCA terus menawarkan beragam kemudahan bagi nasabah dalam bertransaksi finansial, khususnya dalam menyongsong era new normal saat ini.

Bank BCA akan menghadirkan tiga fitur digital yang memudahkan nasabah di Tanah Air untuk bertransaksi finansial dengan mudah, aman, nyaman, dan cepat, urai Santoso, Direktur BCA.

Tiga fitur ini antara lain fitur QR di BCA mobile yang bisa digunakan nasabah untuk bayar transaksi belanja di merchant dengan pembayaran QRIS.

Baca Juga: PSBB Jakarta jilid 2 bakal menekan penyaluran KPR meski marak pameran virtual

QRIS merupakan jaringan pembayaran yang menggunakan QR Code dari BCA mobile dan berbagai aplikasi pembayaran dimana BCA turut mendukung pemerintah dengan penerapan cashless payment via QRIS.

Selain itu, QR di BCA mobile memudahkan nasabah untuk membayar belanja tanpa sentuhan di berbagai merchant yang bekerja sama dengan BCA.

Fitur kedua adalah Tarik Tunai Tanpa Kartu (Cardless) di BCA mobile yang memungkinkan pengguna untuk menarik uang tunai tanpa kartu ATM. Biasanya dompet tertinggal dan situasi mendesak harus transaksi dengan uang tunai, nasabah cukup mengakses fitur Cardless di BCA mobile dan dapat dengan mudah menarik uang tanpa kartu di ATM BCA.

Fitur ini mendukung nasabah di era new normal yang mengharuskan untuk meminimalisir kontak fisik pada benda atau yang lainnya, tambah Santoso.

Baca Juga: Tak perlu khawatir, perbankan pastikan layanan nasabah aman meski ada PSBB di DKI

Fitur ketiga dan yang terbaru dari BCA adalah Debit Online, fitur yang mempermudah nasabah dalam melakukan pembayaran transaksi online. Uniknya, fitur Debit Online BCA ini memberikan keleluasaan nasabah dalam mengatur transaksi online melalui BCA mobile.

Fitur terbaru ini memberikan dua keuntungan sekaligus bagi nasabah yakni kemudahan kontrol transaksi dan tanpa batas.
Nasabah dapat mengaktifkan atau menonaktifkan transaksi, nasabah dapat mengatur limit dan blokir di BCA mobile.

Selain itu, fitur ini memungkinkan nasabah untuk menggunakannya sebagai metode pembayaran online baik di dalam maupun luar negeri. Fitur ini juga dapat digunakan berbelanja di seluruh platform e-commerce, toko online, dan layanan online yang menerima pembayaran dengan kartu Mastercard.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link