fbpx

Dorong Kredit, BI Berpotensi Kembali Turunkan BI7DRR ke 3,5%



Jakarta, CNBC Indonesia- Pasca pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 25bps dalam RDG November 2020, JP Morgan memproyeksi Bank Indonesia akan kembali menurunkan BI7DRR dalam waktu dekat atau di kuartal awal 2021.

Senada dengan proyeksi ini, Ekonom Senior INDEF, Aviliani juga memperkirakan BI masih akan menurunkan suku bunga acuannya dengan mempertimbangkan kodnisi eksternal dan internal, dimana inflasi masih sangat rendah, kredit yang juga rendah, nilai tukar yang terus menguat ditopang Pilpres AS. Seperti apa ekonom melihat arah kebijakan moneter? Selengkapnya simak dialog Muhammad Gibran dengan Ekonom Senior INDEF, Aviliani dalam Profit,CNBCIndonesia (Jum’at, 20/11/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini




Source link

BI Ajak Perbankan Seret Turun Bunga Kredit



Jakarta, CNN Indonesia —

Bank Indonesia (BI) mengajak seluruh perbankan untuk segera menurunkan tingkat suku bunga kredit mereka. Tujuannya, untuk mengangkat laju pertumbuhan kredit yang terkontraksi minus 0,47 persen pada Oktober 2020.

“Kami dengan tidak segan-segannya mengharapkan perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit. Mari kita turunkan suku bunga kredit,” terang Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers virtual Rapat Dewan Gubernur periode November 2020, Kamis (19/11).

Bank sentral nasional mencatat pertumbuhan kredit bank terus menurun dari bulan ke bulan pada tahun ini di tengah pandemi virus corona atau covid-19. Laju kredit yang sudah mencapai 0,12 persen pada September, kembali turun menjadi minus 0,47 persen pada bulan lalu.







Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) masih menikmati pertumbuhan dua angka alias double digit. Dana nasabah di bank berada di kisaran 12,12 persen dari sebelumnya 12,88 persen pada periode yang sama.

Masalahnya pertumbuhan kredit bank yang ciut akan memberi dampak pada perekonomian nasional. Hal ini membuat roda pemulihan ekonomi tersendat.

“Maka sudah saatnya tentu saja ini penyaluran kredit harus terus didorong, sudah saatnya kita membangun optimisme, untuk meningkatkan ekonomi,” katanya.

Di sisi lain, Perry menilai alasan paling kuat yang membuat pertumbuhan kredit melempem adalah pertimbangan bank terhadap risiko kredit macet bila tetap memaksakan penyaluran kredit.

“Tentu saja jawaban adalah faktor persepsi risiko,” imbuhnya.

Pasalnya, ketika bank tetap memaksakan penyaluran kredit, maka bukan tidak mungkin kredit itu malah jadi bermasalah. Ketika bermasalah, bank perlu menyiapkan dana pencadangan risiko kredit yang tak sedikit.

Perry turut melihat bank tidak berani ‘jor-joran’ mengalirkan kredit karena aktivitas ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih di tengah pandemi. Begitu juga aktivitas dunia usaha.

Sementara faktor lain dilihat Perry seharusnya tidak memberi dampak negatif pada pertumbuhan kredit, misalnya biaya administrasi. Menurutnya, biaya ini seharusnya rendah karena bank terbantu dengan digitalisasi.

Lalu, alasan lain berupa biaya dana (cost of fund) seharusnya tidak jadi masalah karena bank sentral nasional telah menurunkan tingkat suku bunga acuannya. Teranyar, BI memangkas tingkat bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020.

“Bahkan, kalau dihitung sejak Juli tahun lalu berarti penurunannya 225 basis poin,” tuturnya.

Dengan bunga acuan yang lebih rendah, maka ini akan turut menurunkan tingkat deposito bank yang merupakan patokan bunga atas tabungan berjangka nasabah di bank.

Tingkat deposito yang rendah menandakan bank bisa memperkecil pengeluaran beban untuk membayar dana yang tersedia dari nasabah.

[Gambas:Video CNN]

Kendati begitu, Perry tetap mengajak agar bank segera menurunkan tingkat bunga kredit agar mampu menarik minat kredit dari masyarakat dan dunia usaha.

“Sudah saatnya, tentu saja ini penyaluran kredit harus terus didorong, sudah saatnya kita membangun optimisme, untuk meningkatkan ekonomi,” tandasnya.

(uli/bir)






Source link

BI Pangkas BI7DRR 25bps Menjadi 3,75%



Jakarta, CNBC Indonesia- Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur bulan November 2020 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25bps menjadi 3,75%, suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25bps menjadi 3,00%, dan suku bunga Lending Facility turun 25bps menjadi 4,50%.

Selengkapnya saksikan Breaking News,CNBCIndonesia (Kamis, 19/11/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini




Source link

Pak Perry Mohon Petunjuk, Rupiah Gatal Jebol Rp 14.000/US$


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke Rp 14.050/US$ pada perdagangan Rabu kemarin, setelah membukukan penguatan tajam 0,86% dalam 2 hari sebelumnya.

Pada Selasa lalu, rupiah sempat menyentuh level “angker” alias level psikologis Rp 14.000/US$, pada pekan lalu bahkan sempat ditembus, tetapi sayang masih belum mampu mengakhiri perdagangan di bawahnya.

Penguatan tajam tersebut, dan rupiah yang berada di level terkuat 5 bulan terkahir memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat rupiah melemah kemarin. Apalagi hari ini, Kamis (19/11/2020), Bank Indonesia akan mengumumkan hasil Rapat Kebijakan Moneter (RDG).


Gubernur BI, Perry Warjiyo ,dan sejawat menggelar RDG pada 18-19 November 2020. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate masih bertahan di 4%.

Dari 13 ekonom/analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, delapan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan tidak akan berubah. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kejutan dari BI dengan memangkas suku bunga.

Selain itu pelaku pasar tentunya akan melihat petunjuk-petunjuk dari Gubernur Perry, mengenai kondisi perekonomian, stabilitas finansial, nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan moneter ke depannya. 

BI hingga saat ini masih “merestui” rupiah untuk terus menguat, baik Gubernur Perry dan pejabat BI lainnya berulang kali mengatakan rupiah masih undervalue.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR kini bergerak jauh di bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), sehingga memberikan momentum penguatan.

Sementara itu, indikator stochastic pada grafik harian berada di wilayah jenuh jual (oversold).


idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ada risiko rupiah akan terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking), dengan resisten berada di kisaran Rp 14.080/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah lebih jauh ke Rp 14.115/US$, sebelum menuju Rp 14.150/US$.

Sementara itu support terdekat berada di kisaran level “angker”14.000/US$, penembusan di bawah level tersebut akan membawa rupiah ke Rp 13.975/US$.

Rupiah berpeluang menuju 13.810/US$ di pekan ini jika mampu menembus dan mengakhiri perdagangan hari ini di bawah level “angker” tersebut. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Gubernur BI Prediksi Ekonomi Tumbuh 6 Persen pada 2025



Jakarta, CNN Indonesia —

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen pada 2025 mendatang. Ia meyakini ekonomi Indonesia sudah mulai pulih usai mengalami kontraksi yang menghantarkan pada resesi ekonomi akibat pandemi covid-19.

“Insyaallah pertumbuhan ekonomi akan positif pada kuartal IV 2020 dan akan meningkat menjadi 5 persen pada 2021, dan terus naik ke sekitar 6 persen pada kurun waktu 5 tahun mendatang,” ujarnya dalam acara West Java Investment Summit 2020, Senin (16/11).

Diketahui, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi 3,49 persen pada kuartal III 2020. Dengan demikian, Indonesia resmi memasuki jurang resesi ekonomi setelah sebelumnya mencatat minus 5,32 persen di kuartal II 2020.







Namun, Perry meyakini pada periode Oktober-Desember ekonomi akan pulih menjadi positif. Pemulihan ekonomi akan ditopang oleh perbaikan konsumsi, kinerja ekspor, dan realisasi investasi.

“Selain itu, stabilitas makro ekonomi, sistem keuangan terjaga, nilai tukar rupiah stabil, dan bahkan cenderung menguat. Lalu, inflasi rendah, defisit transaksi berjalan menurun, dan sistem perbankan keseluruhan juga sehat,” tuturnya.

Dari sisi bank sentral, ia menuturkan BI juga memberikan stimulus bagi ekonomi agar lepas dari resesi. Meliputi, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar kondusif bagi pemulihan ekonomi dan menurunkan suku bunga acuan sebesar 1 persen sejak awal tahun menjadi 4 persen pada Oktober 2020.

“Kami juga melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing dalam jumlah besar, lebih dari Rp670 triliun atau 4 persen dari PDB,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia baru memasuki fase pemulihan pada kuartal II 2021. Meski demikian, fase pembalikan ekonomi dari kontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020 lalu dimulai pada kuartal III lalu.

“Tahun depan kami berharap akan berjalan (pemulihan ekonomi) terutama pada kuartal kedua dan ketiga, dan ini akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan minimal 5 persen,” ucapnya dalam “Forum Diskusi Sektor Finansial” yang digelar CNBC Indonesia.

Tahun ini, Kementerian Keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran minus 0,6 persen hingga minus 1,7 persen. Namun demikian, lanjutnya, berbagai institusi lain memprediksi laju ekonomi Indonesia berada di rentang minus 1 hingga 1,5 persen.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/bir)






Source link

Bos BI Pede Pertumbuhan Ekonomi Nasional Kembali Positif Akhir Tahun


JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) optimis, angka pertumbuhan nasional Indonesia akan kembali ke jalur positif pada kuartal IV atau akhir tahun ini. Jika hal itu dapat tercapai, maka Indonesia berhasil keluar dari jurang resesi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pertumbuhan ekonomi terus mengalami perbaikan setelah dua kuartal mengalami minus. Perbaikan pun terlihat dengan capaian kuartal III tahun ini yang menunjukan adanya sedikit pertumbuhan meskipun masih di teritori negatif.

“Pertumbuhan ekonomi akan positif pada kuartal IV 2020 dan meningkat jadi 5 persen pada 2021. Kemudian terus naik ke 6 persen pada kurun waktu 5 tahun mendatang,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (16/11).

Perry mengungkapkan, pemulihan ekonomi Indonesia ini ditandai oleh mulai membaiknya konsumsi masyarakat, ekspor dan investasi. Selain itu stabilitas sistem keuangan juga terjaga, bahkan menurut Perry nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan menguat.

Selain itu, lanjutnya, Perry juga mengungkapkan angka inflasi juga tetap rendah dan defisit transaksi berjalan menurun hingga perbankan tetap sehat. Sebab, pihaknya bersama pemerintah serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi untuk menjaga ekonomi bergerak positif.

Perry menambahkan, berbagai program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dilakukan pemerintah juga turun membantu ekonomi bergerak positif. Pihakmya sendiri juga terus berkomitmen dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah kondusif bagi pemulihan ekonomi.

“Suku bunga acuan diturunkan 1 persen jadi 4 persen dan kami juga melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing dalam jumlah besar, lebih dari Rp 670 triliun atau 4 persen dari PDB,” tutupnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri





Source link

BI Diprediksi Mempertahankan Suku Bunga Acuan Pekan Depan


TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di 4 persen. Adapun BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur BI pada pekan depan, 19 November 2020,.

“Kami perkirakan BI akan mempertahankan suku bunga tidak berubah di angka 4 persen,” kata Hans dalam keterangan tertulis, Minggu, 15 November 2020.

Baca Juga: 5 Bank Tebar Program Promo Diskon KPR, Ini Daftarnya

Pada akhir pekan ini, rupiah sedikit melemah setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ke depan BI masih ada ruang penurunan suku bunga acuan pada Rapat Kerja Komisi XI DPR RI.

Menurut Perry, penurunan suku bunga ini tentu dengan memantau perkembangan ekonomi global dan domestik.

Adapun saat ini BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali atau sebesar 100 basis poin menjadi 4 persen. Keputusan ini sejalan dengan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, serta untuk mempertimbangkan rendahnya tekanan inflasi dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah.

Hans juga mengatakan saat ini pelaku pasar berhati-hati karena lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara. Dari penghitungan Reuters menunjukkan kasus virus Covid 19 telah naik lebih dari 100 persen di 13 negara bagian Amerika dalam dua pekan terakhir.





Source link

Investor Asing Borong SBN dan Saham Rp7,18 T Pekan Ini



Jakarta, CNN Indonesia —

Bank Indonesia (BI) mencatat investor asing melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) atau surat utang dan saham mencapai Rp7,18 triliun di pasar keuangan nasional pada pekan ini selama 9-12 November 2020. Hal ini membuat Indonesia menerima aliran modal asing masuk (capital inflow).

“Nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp7,18 triliun,” ungkap Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi, Jumat (13/11).

Onny merinci pembelian investor asing di SBN mencapai Rp4,71 triliun. Sementara pembelian di saham mencapai Rp2,47 triliun.







Sementara kumulatif posisi aliran modal asing di Indonesia tercatat keluar alias capital outflow sebesar Rp145,75 triliun pada 1 Januari sampai 12 November 2020. Jumlahnya turun dari beberapa waktu yang sempat mencapai kisaran Rp165 triliun.

Aliran modal asing yang masuk ke Tanah Air pada pekan ini membuat tingkat premi risiko Credit Default Swaps (CDS) Indonesia lima tahun turun ke kisaran 72,68 basis poin (bps) dari sebelumnya 81,63 bps.

Sedangkan tingkat imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun naik menjadi 6,31 persen. Hal ini sejalan dengan kenaikan yield surat utang AS, US Treasury 10 tahun ke kisaran 0,882 persen.

[Gambas:Video CNN]

Capital inflow pekan ini turut menguatkan nilai tukar rupiah dari dolar AS. Kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp14.076 sampai Rp14.222 per dolar AS pada pekan ini.

Sementara di pasar spot, mata uang Garuda berada di kisaran Rp14.170 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

(uli/agt)






Source link

Inflasi November 2020 0,21 Persen



Jakarta, CNN Indonesia —

Hasil survei pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) Bank Indonesia (BI) pekan pertama bulan ini mencatat potensi kenaikan harga alias inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan pada November 2020. Inflasi muncul karena kenaikan harga pangan.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan penyumbang potensi inflasi belum berubah dari pekan lalu, yakni kenaikan harga daging ayam sebesar 0,08 persen. Selain itu juga dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan pangan lain.

“(Inflasi) cabai merah sebesar 0,03 persen, telur ayam ras dan bawang merah masing-masing sebesar 0,02 persen, serta cabai rawit, minyak goreng, tomat dan bawang putih masing-masing sebesar 0,01 persen,” ungkap Onny dalam keterangan resmi, Jumat (13/11).







Sementara penurunan harga terjadi di tarif angkutan udara sebesar 0,01 persen. Begitu juga dengan harga emas yang terus melorot sekitar 0,01 persen.

Dari perkembangan inflasi bulanan, bank sentral nasional memperkirakan inflasi November 2020 secara tahun kalender sebesar 1,17 persen. Sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 1,53 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2020 sebesar 0,07 persen. Inflasi terjadi karena kenaikan harga cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng.

Inflasi terjadi setelah deflasi tiga bulan berturut-turut, yakni pada Juli, Agustus, dan September. Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini inflasi Indonesia akan berada di bawah 2 persen pada tahun ini atau berada di bawah target inflasi sebesar 3 persen plus minus 1 persen.

[Gambas:Video CNN]

(uli/sfr)






Source link

November 2020, Bank Indonesia Perkirakan Inflasi 0,21 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Berdasarkan survei Pemantauan Harga Bank Indonesia pada minggu kedua November 2020, perkembangan harga pada bulan November secara keseluruhan diperkirakan inflasi sebesar 0,21 persen(mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2020 secara tahun kalender sebesar 1,17 persen(ytd), dan secara tahunan sebesar 1,53 persen(yoy).

“Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko Widjanarko dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 November 2020.

Penyumbang utama inflasi yaitu daging ayam ras sebesar 0,08 persen (mtm), cabai merah sebesar 0,03 persen(mtm), telur ayam ras dan bawang merah masing-masing sebesar 0,02 persen(mtm), serta cabai rawit, minyak goreng, tomat dan bawang putih masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas tarif angkutan udara dan emas perhiasan masing-masing sebesar -0,01 persen (mtm).

Dia mengatakan Bank Indonesia terus mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran Covid-19, khususnya nilai tukar dan inflasi.

Menurutnya, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

“Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” ujarnya.

Baca: Bank Indonesia: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas pada Triwulan III

HENDARTYO HANGGI





Source link