fbpx

Konkret! Ini Cara BRI Dukung Pemerintah Tingkatkan Ekspor RI



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank BRI sebagai salah satu bank devisa terbesar di Indonesia terus menunjukkan komitmen untuk mengembangkan potensi bisnis ekspor di Indonesia khususnya pada segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu bentuk keseriusan BRI dalam mendukung bisnis ekspor di Indonesia, adalah dengan mendukung pameran dagang tahunan Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition 2020 (TEI-VE 2020) yang digelar pada 11-16 November 2020 dan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo.

Digelar dengan konsep virtual exhibition, TEI-VE 2020 diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan RI dengan tujuan untuk mempromosikan produk-produk berkualitas buatan Indonesia melalui platform pameran virtual untuk pasar global, mengembangkan jaringan bisnis, investasi dan menghadirkan showcase produk-produk premium dan terbaik Indonesia yang pada ujungnya diharapkan mampu untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

“Tema yang diusung Bank BRI pada tahun ini adalah ‘The Key to Easy and Secure Export Import Transactions’, dimana pada virtual booth ditampilkan showcase produk digital Bank BRI yang berkaitan erat dengan transaksi eksport import, seperti BRITrade Online, Trade Finance Online, dan BRICaMS. Tampilan produk-produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan awareness terhadap keunggulan Bank BRI dalam layanan digital trade,” ujar SEVP Treasury & Global Services BRI Listiarini Dewajanti.


Sejalan dengan semangat tersebut, sampai dengan saat ini, BRI telah melayani transaksi Trade Finance untuk lebih dari 8.800 nasabah UMKM dan lebih dari 200 nasabah korporasi.

Dalam rangka memberikan edukasi produk perbankan dan bisnis ekspor-impor, booth Bank BRI di TEI-VE 2020 juga telah menggelar kegiatan Coaching Clinic secara virtual pada tanggal 11 hingga 15 November 2020 lalu. Materi terkait ekspor-impor yang dipresentasikan antara lain : Manajemen Kargo, Kepabeanan, Edukasi Produk Perbankan, dan Sharing Session dari UMKM eksportir.

Adapun materi terkait metode pembayaran yang digunakan pada transaksi ekspor-impor antara lain : Import Financing, Export Financing, dan Supply Chain Financing, Telegraphic Transfer, Documentary Collection, Letter of Credit, dan SBLC. Coaching Clinic BRI disambut antusias oleh para Visitor maupun Exhibitor TEI-VE 2020 dengan total 648 peserta yang berasal dari para pelaku eksportir UMKM maupun Korporasi, jumlah ini naik signifikan dibandingkan total keikutsertaan peserta pada event yang sama tahun lalu. Selama berlangsungnya gelaran, setidaknya 46 UMKM akan bergabung menjadi mitra binaan BRI dan menjajal layanan trade finance BRI.

Dalam event tersebut BRI juga secara khusus menyediakan Booth Indonesia Mall. Indonesia Mall merupakan wadah atau sarana ekspansi bagi UMKM di Indonesia dengan tujuan pengembangan bisnis lokal kreatif untuk go online. Dengan Indonesia Mall, pebisnis lokal hanya perlu mengupload produknya satu kali dan sudah bisa terkoneksi ke beberapa e-commerce baik skala lokal, regional, maupun global.

Guna mempermudah pembelian produk-produk unggulan dari Indonesia Mall, masyarakat dapat mengaksesnya melalui market placebesar di Indonesia seperti Tokopedia, blibli.com, shopee, ebay, Zalora, Lazada, bukalapak, bhinneka, dan lain lain.

“Dengan dukungan network yang luas dan tekhnologi terkini dengan platform trade finance yang memberikan kemudahan bagi eksportir, BRI siap untuk mendukung pertumbuhan transaksi ekspor Indonesia,” pungkas Listiarini.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Mimpi Erick Thohir! Simbiosis Mutualisme BRI, PNM & Pegadaian



Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten perbankan Pelat Merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah menjadi sorotan pelaku pasar. Bagaimana tidak sejak 5 November lalu harga saham BBRI sudah terbang 21,58% ke harga penutupan Jumat (13/11/20) kemarin di level Rp 4.000/unit

Ternyata terungkap, selain sentimen global yang sedang bagus-bagusnya yakni kabar vaksin corona dari Pfizer yang memiliki efektivitas di atas 90%, Rabu kemarin (11/11/2020) BBRI mengumumkan rencana aksi korporasi besar yang akan dilakukan.

Belum jelas memang aksi korporasi apa yang akan dilakukan oleh BBRI namun tentunya para investor sudah bisa mengendus aksi korporasi ini dari jauh-jauh hari.


Jejak aksi korporasi BBRI sudah ditinggalkan saat akhir Oktober dimana kala itu merupakan batas terakhir pengumpulan laporan keuangan Q3. BBRI mengumumkan akan mengaudit laporan keuangannya sehingga tenggat waktu pengumpulan laporan keuangan hasil audit diperpanjang.

Tanda tanya tentunya muncul di benak para pelaku pasar karena laporan keuangan kuartal ketiga tidak wajib untuk diaudit, apabila perseroan mengaudit laporan keuangan biasanya akan diadakan aksi korporasi besar-besaran.

Bahkan jejak aksi korporasi BBRI bisa ditelisik hingga awal tahun 2020. Kala itu, Menteri BUMN, Erick Thohir, selaku pemegang saham mayoritas di BRI sebagai perwakilan Pemerintah Indonesia pernah memberikan petunjuk mengenai arah pengembangan BRI ke depan.

Hal ini disampaikan Erick saat menjadi pembicara dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook pada Februari 2020. Erick mengatakan, Kementerian BUMN akan mensinergikan BRI dengan Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM).

“Kami sudah rapat dengan BRI, kami ingin memastikan Juni ini terjadi sinergi yang luar biasa dengan Pegadaian (PT Pegadaian) dan PMN(PT Permodalan Nasional Madani). Jadi jelas, tidak ada lagi overlapping kebijakan di situ, dan target market-nya jelas, ini kalau terjadi, BRI akan jadi bank luar biasa. Cepat-cepat beli sahamnya!” ujar Erick saat itu.

Belum jelas memang sinergi apa yang dimaksudkan Erick di antara ketiga BUMN tersebut, namun yang jelas dengan adanya ‘kerja sama’ di antara ketiga perusahaan tersebut akan menguntungkan ketiganya alias simbiosis mutualisme.

Dari sisi BBRI, keuntungan datang dari dukungan terhadap arah bisnis BBRI ke depan yakni go smaller yaitu memberikan kredit ke segmen ultra mikro. Dengan arah ini, maka BRI mengincar porsi pembiayaan UMKM bisa naik ke 85% dari posisi sebelumnya sekitar 80%.

Segmen ultra mikro yang masih unbankable atau tidak terjangkau layanan perbankan memang belum banyak digarap oleh BRI selama ini. Segmen ini terdiri dari bagian, termasuk productive poor yang diyakini memiliki pangsa pasar sangat besar, namun hanya sangat sedikit bank yang bermain di Indonesia.

Perlu diingat jumlah masyarakat yang memiliki rekening bank per 2019 hanyalah sebesar 49% dan tentunya angka ini akan terus turun apabila dibagi kembali menjadi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Segmen yang selama ini digarap oleh perusahaan pembiayaan non bank, seperti BUMN Pegadaian maupun Permodalan Nasional Madani (PNM) sehingga dengan bersinerginya ketiga perusahaan tersebut, gol BBRI untuk merambah pasar ultra mikro akan lebih mudah tercapai.

Dari sisi PNM dan Pegadaian keuntungan yang didapat tentu saja berupa pendanaan dan likuiditas dari Bank sekelas BBRI yang memiliki aset terbesar di Indonesia.

Sebelumnya pendanaan kedua perusahaan hanya bisa diamankan melalui penerbitan obligasi korporasi ataupun pinjaman kepada bank.

Catat saja menurut data Refinitiv saat ini Pegadaian memiliki total Outstanding Bonds senilai Rp 10,8 triliun hingga tahun 2025 dimana lebih dari setengahnya yakni Rp 5,8 triliun akan jatuh tempo tahun depan.

Apalagi ternyata jumlah ini terus meningkat dimana total nilai obligasi jatuh tempo sebelumnya selama 22 tahun terakhir ‘hanyalah’ Rp 13,42 trilun yang menunjukkan kebutuhan dana Pegadaian dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Hal yang serupa terjadi pula pada PNM dimana perseroan memiliki total Outstanding Bonds yang bahkan lebih besar yakni senilai Rp 12,37 triliun hingga tahun 2025 dimana Rp 4,1 triliun akan jatuh tempo tahun depan.

Jumlah kebutuhan PNM akan dana segar juga terus meningkat yang ditunjukkan dengan total nilai obligasi jatuh tempo sebelumnya selama 9 tahun terakhir ‘hanyalah’ Rp 6,9 triliun

Hal inilah yang tentunya menyebabkan biaya dana atau biasa lebih dikenal dengan sebutan cost of funds perusahaan membengkak dari tahun ke tahun. Tercatat biaya bunga PNM pada tahun 2019 sebesar Rp 1,59 triliun naik hampir dua kali lipat dari posisi tahun sebelumnya di angka Rp 0,99 triliun.

Dengan sinergi antara ketiga perusahaan Pelat Merah ini tentu saja nantinya Pegadaian dan PNM tidak perlu lagi mencari sumber dana segar dan kalaupun ingin menerbitkan obligasi, suku bunga obligasi nantinya bisa ditekan karena memiliki daya tawar lebih tinggi sehingga cost of funds dapat ditekan.

Jadi nantinya sinergi antara BBRI, Pegadaian, dan PNM diprediksikan benar-benar akan menguntungkan semua pihak. Bukan begitu Pak Erick ?

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link

Kode Erick Thohir, Aksi Korporasi BRI, & Raksasa Finansial



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank pelat merah dengan aset terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah menyiapkan sebuah aksi korporasi yang berkaitan dengan pengembangan bisnis UMKM, terutama di sektor ultra mikro.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan saat ini aksi korporasi tersebut tengah dipersiapkan dengan mengaudit laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada September 2020.

“Jadi audit laporan keuangan September ini hal biasa kita lakukan, tetapi memang betul dalam rangka corporate action. Nanti pada saatnya kami share, ini belum publik,” kata Haru dalam konferensi pers paparan kinerja Kuartal III-2020, Rabu (11/11/2020).


“Di tanya ke mana arahnya, kembali lagi seperti kata pak dirut [Sunarso] ini untuk pengembangan UMKM,” imbuhnya.

Seperti diketahui, BRI merupakan raksasa bisnis dalam UMKM. Porsi portofolio kredit UMKM mencapai 80,65% dari total kredit September 2020 yang mencapai Rp 935,35 triliun.

Dipimpin oleh direktur utamanya saat ini, Sunarso, rencana pengembangan BRI ke depan akan berfokus pada pembiayaan segmen ultra mikro. Dengan arah ini, maka BRI mengincar porsi pembiayaan UMKM bisa naik ke 85%.

Segmen unbankable memang belum banyak digarap oleh BRI selama ini. Segmen ini terdiri dari bagian, termasuk productive poor yang diyakini memiliki pangsa pasar sangat besar, namun hanya sangat sedikit bank yang bermain.

Di perusahaan BUMN lainnya, segmen ini telah digarap terlebih dahulu oleh perusahaan pembiayaan non bank, seperti BUMN PT Pegadaian (Persero) maupun PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari, mengatakan BRI harus menemukan sumber pertumbuhan yang baru. Untuk itu, BRI mulai masuk ke segmen ultra mikro dalam 2 bulan terakhir.

“Dalam 2 bulan kita sudah kasih ultra mikro Rp 5,5T dengan customer lebih dari 700 ribu nasabah,” jelasnya.

Rencana ini nyatanya sudah jauh-jauh hari disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir saat CNBC Indonesia Economic Outlook pada Februari 2020.

Erick yang menjadi pembicara dalam event tersebut mengatakan Kementerian BUMN akan mensinergikan BRI dengan Pegadaian dan PNM.

“Kami sudah rapat dengan BRI, kami ingin memastikan Juni ini terjadi sinergi yang luar biasa dengan Pegadaian dan PMN. Jadi jelas, tidak ada lagi overlapping kebijakan di situ, dan target market-nya jelas, ini kalau terjadi, BRI akan jadi bank luar biasa. Cepet-cepet beli sahamnya,” jelasnya.

Presiden Joko Widodo juga pernah menyampaikan hal yang sama. Dia menyebut bakal membentuk holding di sektor UMKM, sektor yang menjadi core business pembiayaan kredit BRI. Rencana ini disampaikan dalam Rakornas tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD) dan pengembangan Bank Wakaf Mikro (BWM) pada Desember 2019.

“Saya sudah melihat, [Di daerah] sudah terbentuk kelompok-kelompok usaha yang akan menjadi cluster. Saya sudah sampaikan ke Menko Perekonomian [Airlangga Hartarto] agar klaster ini dipayungi lagi oleh sebuah kayak di-holding-kan,” kata dia.

Menurut dia, ketika UMKM sudah disatukan dalam satu Holding BUMN, akan terbentuk sebuah korporasi usaha-usaha kecil dan usaha-usaha kecil bisa lebih mudah terjangkau oleh market place.

Bila kolaborasi BRI, PNM, dan Pegadaian maka ketiga bisa menjadi raksasa finansial, bukan hanya dari sisi aset, tetapi juga jaringan terluas, hingga produk terlengkap yang pernah ada di Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

BRI Micro & SME Index Bisa Jadi Acuan Pengembangan UMKM di RI



Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus meneguhkan komitmen untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Yang terbaru, perseroan membuat BRI Micro & SME Index (BMSI) yang telah resmi diluncurkan oleh Direktur Utama BRI Sunarso di Jakarta (12/11). Melalui BMSI, BRI hendak menghadirkan gambaran umum kondisi UMKM di Indonesia setiap kuartal.

BMSI adalah indeks pertama yang merekam kondisi UMKM secara rutin di Indonesia. Melalui indeks ini, bisa diketahui bagaimana kinerja pelaku UMKM pada kuartal tertentu, serta ekspektasi mereka dalam kurun 3 bulan ke depan.

Ekonom BRI Anton Hendranata mengatakan BMSI memegang peran penting untuk pengembangan dan penyaluran pembiayaan serta bantuan terhadap UMKM. Melalui indeks ini, bisa diketahui UMKM sektor apa saja yang tengah tumbuh positif, berpotensi terus berkembang, dan sedang mengalami kesulitan.


“Indeks ini sangat diharapkan bisa mengetahui kinerja usaha dari UMKM, dan bukan hanya mengukur kondisi sekarang, tapi juga melihat kondisi ke depannya apakah akan membaik atau memburuk. Ini sangat penting terutama buat BRI dan terutama kepentingan nasional, karena pengambil kebijakan akan dapat gambaran kondisi UMKM ke depannya, sehingga waktu mengambil kebijakan pedomannya karena indeks ini bisa jadi leading indicator mengukur aktivitas bisnis UMKM,” ujar Anton di Jakarta, Kamis (12/11).

Menurut penjelasan Anton, terdapat 8 indikator kondisi UMKM yang direkam dan ditunjukkan BMSI. Kedelapan indikator itu adalah volume produksi, total nilai jual, rata-rata penjualan, volume pesanan, volume pesanan barang input, volume persediaan barang jadi, rata-rata jumlah karyawan, dan realisasi investasi.

Indikator-indikator ini adalah dasar perhitungan BMSI, yang pada akhirnya bisa menunjukkan apakah kondisi UMKM dalam tren baik atau buruk. Skor yang digunakan dalam indeks ini adalah 0-200. Kondisi UMKM bisa dikatakan positif jika indeks menunjukkan angka di atas 100. Apabila skor kurang dari 100, maka kondisi UMKM sedang memburuk atau dalam tren negatif.

BMSI mengukur kinerja UMKM yang bergerak di 8 sektor yakni pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; pertambangan, penggalian, listrik, gas, air bersih; industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, serta jasa.

“Ke depan, BMSI akan dipublikasikan rutin setiap kuartal sebelum perhitungan GDP keluar. Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat melihat agregat indeks secara terbuka, yang didapat dari hasil survei 3.000 pelaku UMKM dari setiap sektor dan provinsi setiap kuartal. Publikasi yang dilakukan lebih cepat dibanding rilis data GDP membuat indeks ini dapat menjadi acuan pemerintah dan pelaku bisnis saat membuat kebijakan,” ujarnya.

Anton menambahkan, survei yang dilakukan untuk menyusun BMSI menggunakan metode sampling stratified systematic random sampling. Survei indeks ini memiliki tingkat margin of error kurang lebih 2 persen, dan sudah memenuhi kaidah statistik serta metodologi yang ideal.

“Pada intinya indeks ini merekam kondisi seluruh UMKM dari setiap provinsi, sektor usaha, dan pelaku usaha dari berbagai tingkatan plafon kredit. Secara statistik, penyusunan BMSI sudah sesuai kaidah dan metodologinya mirip seperti yang digunakan BPS dan BI, serta negara-negara lain,” katanya.

Berdasarkan publikasi BMSI pertama di kuartal III/2020, terlihat bahwa kondisi pelaku usaha mikro dan kecil saat ini sudah mulai bangkit. Indeks UMKM naik dari 65,5 menjadi 84,4 per September 2020. BSMI juga merekam ekspektasi pelaku UMKM yang meningkat hingga 109,3 untuk kuartal IV/2020. Peningkatan ini menandakan adanya optimisme pengusaha akan perbaikan kondisi ekonomi mulai akhir tahun ini.

“Indeks ini kami launching untuk digunakan sebagai alat ukur aktivitas bisnis UMKM, dan kami buat sebagai bentuk kepedulian BRI terhadap aktivitas UMKM Indonesia, serta menjadi leading indicator pertama di Indonesia yang mengukur aktivitas UMKM,” ujar Sunarso kemarin.

“Mayoritas UMKM di Indonesia ini kan financing dari BRI. Maka kalau kita gunakan data di BRI sebenarnya cukup representatif untuk menyimpulkan kondisi UMKM nasional. Kalau kemudian indeks menyatakan positif, maka bisa dikatakan mencerminkan bahwa UMKM yang jadi nasabah BRI kinerja keuangannya membaik,” tutup Sunarso.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

BRI Gencarkan Kolaborasi Edukasi Pengelolaan Keuangan



Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) bersinergi menggencarkan kegiatan edukasi pengelolaan keuangan dan investasi bagi Milennials. Kegiatan yang bertajuk “Semarak Literasi Keuangan Investasi dan Proteksi Aman di Era New Normal” diselenggarakan oleh Wealth Management Bank BRI pada 3 – 10 November 2020.

Rangkaian kegiatan tersebut berupa Webinar mengenai Literasi pengelolaan keuangan dan proteksi asuransi sejak dini. Bank BRI menggandeng Universitas Negeri dan Swasta ternama di 19 wilayah di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini untuk mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat serta mengedukasi Milennials dalam pengelolaan keuangan secara terencana yang tidak terbatas pada investasi melainkan juga mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan keuangan pribadi maupun bisnis.


Acara tersebut dibuka oleh Direktur Konsumer BRI Handayani dan mengundang berbagai narasumber profesional baik dari internal BRI, Influencer, serta Public Figure salah satunyadr. Reisa Broto Asmoro. Bank BRI juga menggandeng seluruh partner asuransi serta manager investasi yang profesional dan berpengalaman untuk bekerja sama dalam melakukan literasi keuangan tersebut kepada masyarakat luas.

EVP Wealth Management Division BRITina Meilina, mengungkapkan literasi keuangan masyarakat saat ini sangat minim, sehingga masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya mengelola keuangan. Padahal pengelolaan keuangan melalui Instrumen Investasi dan asuransi adalah hal yang tepat untuk pengelolaan keuangan di masa pandemi seperti ini, guna mengantisipasi ketidakpastian, ketahanan ekonomi dan memberikan proteksi atas risiko-risiko tak terduga.

Perencanaan keuangan harus di mulai sejak dini serta melakukan financial check-up secara berkala disesuaikan dengan bertambahnya jumlah tanggungan, ingin mengubah tujuan keuangan, adanya kebutuhan darurat, terjadinya perubahan pendapatan maupun lonjakan inflasi.

“Jadi harus mulai dipikirkan oleh para Milennials, mencari peluang untuk kita memiliki kesempatan pensiun di usia muda dan mencapai financial freedom. Saya yakin, dengan sedikit mengubah pola hidup, ini bisa dimulai. Investasi tidak usah ditunda-tunda, kalau kita mampu jajan pasti mampu berinvestasi,” papar Tina.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Pemimpin Wilayah BRI Malang Rahman Arif menambahkan berinvestasi dan berasuransi menjadi penting bagi Milennials karena masih minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengelola keuangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai statistik penduduk lanjut usia, pada 2019 sekitar 79% ekonomi penduduk lansia itu ditopang rumah tangga lain yang bekerja. Sementara itu, 5,82% dari dana pensiun dan 0,67% dari dana investasi.

“Data itu menunjukkan dana untuk persiapan hari tua masih belum menjadi prioritas. Nah, tentunya diperlukan pemahaman perencanaan keuangan sejak dini dengan berinvestasi dan memiliki asuransi sesuai kebutuhan dan profil risiko dapat menjadi salah satu solusi masa depan yang aman dan nyaman di segala kondisi” jelas Rahman Arif.

Puncak acara akan diselenggarakan pada tanggal 10 November 2020 dan akan dilakukan pula Awarding dengan beberapa kategori yang disiapkan, yakni: The Highest Fee Based Income, The Greatest Creative Event, The Best Video, dan kegiatan hiburan lainnya seperti music performance, games dan penyerahan berbagai hadiah menarik lainnya bagi nasabah, investor, maupun pemegang polis produk BRI.

Pandemi Covid – 19 tidak menjadi halangan bagi Bank BRI untuk menyinergikan kegiatan literasi keuangan. Dengan diadakannya literasi keuangan secara terus-menerus, Bank BRI berharap agar industri Wealth Management di Indonesia semakin berkembang dan sejalan dalam menjaga ketahanan finansial masyarakat dari ketidakpastian situasi dunia saat ini.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Strategi Transformasi BRI Menjadi Home to The Best Talent



Jakarta, CNBC Indonesia– Di tengah kondisi ekonomi yang menantang akibat adanya pandemi COVID-19, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus berupaya untuk mewujudkan visi perseroan di tahun 2020 menjadi “The Most Valuable Bank in South East Asia dan Home to The Best Talent“.

Direktur Human Capital BRI Herdy Harman mengungkapkan gerakan transformasi Human Capital BRI dibangun berdasarkan 3 pilar yaitu People, Culture, dan OrganizationHerdy menjelaskan dari sisi people BRI melakukan pengembangan talenta yang sistematis melalui berbagai program. “Saat ini kami juga sudah memulai mengoptimalkan data analytic yang menjadi dasar untuk setiap pengambilan keputusan strategy Human Capital,” imbuhnya.

Selain itu dari sisi people, BRI melakukan attractive talent recruitment melalui New Way of recruitment Process, yaitu program-program rekrutmen yang kreatif dan inovatif dengan menggunakan multisource dan multichannel untuk mendapatkan SDM yang unggul atau “Star of Life“.


Untuk multisource beberapa program early recruitment yang dilakukan diantaranya BRILiaN Intership Program, BRILiaN Scholarship Program, Creativity Contest (seperti Hackaton) dan BRILiaN Get Talent sebagai sarana potensial talent pool BRI. Untuk multichannel, terdapat BRILiaN Future Leader Program (BFLP), BRILiaN Next Leader Program (BNLP) dan BRILiaN Banking Officer Program (BBOP).

Untuk pilar kedua transformasi HC BRI yakni culture, Herdy menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan dengan internalisasi corporate value AKHLAK kepada seluruh insan BRILiaN, serta membangun budaya digital sejalan dengan fokus transformasi perusahaan.

“BRI terus melakukan rangkaian program yang dilakukan untuk mentransformasi budaya perusahaan seperti diantaranya peduli dengan sesama melalui gerakan BRILiaN Fight Covid, BRILiaN Sahabat UMKM, dan aktivitas Culture Activation Program di seluruh unit kerja BRI Group untuk mendukung capaian target kinerja” jelasnya.

Pilar terakhir transformasi HC BRI yakni organization yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi organisasi, Dari sisi organisasi, BRI telah menyusun beberapa program diantaranya kolaborasi, digitalisasi dan pengembangan HC Information System yang mutakhir serta peningkatan kompetensi dan pengetahuan melalui pendidikan, baik secara konvensional maupun digital.

“Talenta hebat tidak muncul tiba tiba, melainkan hanya dapat terbentuk bila dilakukan secara kesisteman mulai dari menemukannya, mengembangkannya dan meretain-nya dengan melibatkan seluruh stakeholders. Melalui program transformasi HC, BRI optimistis mampu mencetak talenta talenta terbaik di masa datang,” pungkas Herdy.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

BRI Jauh Lebih Siap Hadapi PSBB Ketat DKI Jakarta Jilid 2

BRI Jauh Lebih Siap Hadapi PSBB Ketat DKI Jakarta Jilid 2


Jakarta, CNBC Indonesia– PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyatakan jauh lebih siap menghadapi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat yang baru saja diterapkan kembali sejak Senin (14/09/2020). Perbankan jauh lebih siap menghadapi PSBB jilid dua ini karena aktivitas ekonomi masih berjalan, bukan berhenti sama sekali sepeti pada pertama kali.

“Setelah melewati PSBB yang pertama pada Maret April, PSBB ketat kedua ini sudah jauh lebih menyiapkan diri,” kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo, Selasa (15/09/2020).

Selain itu retriksi atau pembatasan yang sudah dilakukan untuk membatasi aktivitas dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Meskipun dia mengakui ada konsekuensi dari pembatasan tersebut pada aktivitas ekonomi.


“Secara internal masing-masing sudah menyiapkan diri, misalnya disinfektasi ruangan yang tempat layanan kantor cabang, WFH secara bergiliran, rapid test dan penanganan dengan penyediaan safe house. Sehingga kami pada PSBB tahap dua jauh lebih siap,” kata Haru.

Haru mengatakan setelah perusahaan tetap memprioritaskan kesehatan karyawan dan nasabahnya, baru setelahnya melakukan penyelamatan bisnis nasabahnya melalui berbagai program mulai dari yang paling kecil. Apalagi pandemi Covid-19 berbeda dengan krisis sebelumnya, kali ini berdampak pada semua level dan tingkat sosial, sehingga dampaknya pun dirasakan nasabah mikro.

Hingga Agustus 2020, BRI telah melakukan restrukturisasi terhadap 2,9 juta nasabah dengan nilai berkisar Rp 189 triliun. Haru mengatakan BRI akan terus meneruskan aktivitas ini untuk mengurangi beban dari UMKM sehingga bisa digunakan untuk pengembangan bisnisnya, sehingga tidak melakukan penutupan usaha atau pemutusan hubungan kerja.

Bahkan untuk nasabah yang gagal, BRI membuka potensi untuk melakukan restrukturisasi kembali jika persyaratannya memungkinkan. Haru mengatakan perusahaan pun telah menyiapkan cadangan untuk kemungkinan tersebut.

“Ini harga sebuah krisis, dan ini harus dilakukan kalau kita punya pikiran positif semuanya akan kembali normal,” ujar Haru.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link