fbpx

Galuh Creatives Sebar Keceriaan Lewat Tong Bekas



Jakarta, CNN Indonesia —

Dalam perjalanan dari rumah, setiap hari Galuh Rachmawati melewati setumpuk tong-tong bekas yang dijual. Inisiatif pertama Galuh tidak untuk berbisnis, melainkan hanya dipakai sebagai pendukung sarana belajar di sekitar rumah mereka.

“Saya pikir, kenapa kok ini enggak dipakai? Coba lah, kita pakai buat kursi-kursi anak-anak belajar di rumah. Waktu itu masih yang kecil-kecil awal produk kita,” tutur Galuh.

Pada 2016, Galuh dan sang suami Bambang Irawan memutuskan terjun dalam industri dengan nama Galuh Creatives Gallery. Mereka membuat drum dan tong bekas menjadi furnitur layak pakai, memperindah dengan cat warna-warni dan tulisan-tulisan.







Semakin lama, lebih banyak orang tertarik terhadap kreasi Galuh dan Bambang. Pada 2018, Galuh Creatives Gallery mampu meraih omzet Rp20 sampai Rp50 juta per bulan. Seiring permintaan pembeli, variasi produk juga diperbanyak. Tak jarang, pembeli berkonsultasi dahulu dengan Galuh dan Irawan.

“Dia (pembeli) minta, gimana yang bagus. Saya punya rumah warna seperti ini, background seperti ini, gambarnya mengikuti. Ada yang dia (pembeli) punya ide, bisa enggak dibikinin seperti ini? Ya kita usahakan apa yang dia mau,”

“Ada lagi yang dia ngasih video gitu, tolong dibikinin seperti ini. Jadi custom saja, sesuai apa yang mereka mau,” ungkap Irawan sambil tersenyum.

Dalam proses produksi, Irawan terlebih dahulu membuat sketsa berdasarkan permintaan konsumen. Ia menegaskan, pihaknya menerapkan protokol kesehatan di setiap tahapan, seperti memakai masker, serta penyediaan tempat cuci tangan.

Drum yang akan diolah ulang lantas dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, lalu dicat ulang, dan diberi sentuhan mendetail. Dalam satu hari, Irawan dibantu tiga orang karyawan bisa membuat 30 kursi dan meja yang sewarna, dan 10 unit jika memakai warna-warna berbeda.

Ketika pandemi Covid-19 mewabah, Galuh Creatives memproduksi wastafel dari drum bekas minyak. Produk ini merupakan inovasi sekaligus respons atas kondisi pandemi yang menuntut seseorang lebih peduli terhadap kesehatan pribadi. Di saat bersamaan, jumlah permintaan furnitur memang menurun drastis.

“Sebelumnya yang banyak kita produksi adalah kursi kafe dan sofa, cuma karena pandemi, kafe pada tutup. Alhamdulillah, ada pekerjaan lain yaitu bikin wastafel,” tutur Irawan lagi.

Tak hanya berinovasi, Galuh Creatives pun mengambil keputusan tepat dengan bergabung dalam program #BeliKreatifLokal yang digagas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Galuh menuturkan, di awal mereka hanya berjualan di dua platform marketplace. Setelah terlibat dalam program #BeliKreatifLokal, Galuh Creatives tak ragu mendaftarkan diri di lima marketplace sekaligus untuk memperluas pasar.

Penjualan disebut Galuh tidak langsung meningkat, namun perlahan menunjukkan perubahan positif. Ia mengklaim hal terpenting yang didapat dari mengikuti program #BeliKreatifLokal adalah tentang wawasan dan kedisiplinan mengeksekusi rencana.

“Seperti punya guru privat,” cetus Galuh.

Keunikan produk UMKM dan upaya daur ulang Galuh Creatives kini menyebar ke banyak tempat di Indonesia, mulai dari rumah, kafe, area perkantoran, sampai kantor polisi di Pondok Aren. Di tengah pandemi dengan didukung oleh Kemenparekraf, Galuh Creatives bersikukuh mewujudkan mimpi yang lebih besar, yaitu melakukan ekspor.

[Gambas:Youtube]

(rea)






Source link