fbpx

Melalui program Jaminah, LPEI kembali jalin Kerja sama dengan empat bank


Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank James D. Rompas menandatangani perjanjian kerjasama PT Bank QNB Indonesia Tbk, PT Bank Resona Perdania, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, dan MUFJ, dalam Program Penjaminan Kredit Pemerintah di Jakarta (20/11/2020).

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. PT Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bergerak cepat mengajak perbankan untuk terlibat dalam program penjaminan kredit modal kerja bagi pelaku usaha korporasi guna mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).  

LPEI kembali menandatangani perjanjian kerja sama dengan empat bank yakni PT Bank QNB Indonesia Tbk, PT Bank Resona Perdania, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, dan MUFJ, dalam Program Penjaminan Kredit Pemerintah (Jaminah). 

Kerja sama ini ditandatangani oleh Direktur Eksekutif, D. James Rompas, Direktur Pelaksana I, Dikdik Yustandi dan Direktur Pelaksana III, Agus Windiarto dari LPEI.

Agus Windiarto selaku Corporate Secretary LPEI menyampaikan, kerjasama LPEI dengan empat bank tersebut menjadi bukti bahwa program PEN pemerintah di segmen korporasi, dimana LPEI bertindak sebagai penjamin kredit, direspon positif.  dalam skema penjaminan ini Pemerintah akan maenanggung Imbal Jasa Penjaminan (IJP) untuk meringankan beban Pelaku usaha.

Baca Juga: Kemenkeu optimistis realisasi penyaluran PMN tahun 2020 akan sesuai target

Dengan skema penjaminan kredit, pelaku usaha yang terdampak Covid-19, diharapkan dapat memperoleh tambahan modal kerja dari perbankan sehingga dapat kembali memulai aktivitas normal.  

“Kerjasama LPEI dengan empat bank pada hari ini merupakan sinergi antara LPEI dan perbankan nasional untuk memberikan tambahan modal kerja kepada segmen korporasi padat karya dalam rangka membantu memulihkan ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Jumat (20/11).

Melalui skema penjaminan Pemerintah ini, kinerja sektor perbankan juga akan terjaga. Di sisi lain, sektor ekonomi riil, dalam hal ini para pengusaha dan eksportir, terutama yang memiliki karyawan dalam jumlah banyak, akan tetap beroperasi karena tetap mendapat dukungan pendanaan dari perbankan.

“Eksportir tidak hanya lebih berdaya, namun juga mengurangi potensi peningkatan angka pengangguran. Kami berharap lebih banyak lagi perbankan yang menggunakan program penjaminan ini dan bekerja sama dengan LPEI,” tambah Agus.

Baca Juga: Kemenkeu optimis penyaluran PMN ke BUMN Rp 45,051 di triliun tahun ini bisa tercapai

Pelaku usaha yang menjadi sasaran program ini adalah korporasi yang terdampak Covid-19 yang berorientasi ekspor yaitu menghasilkan/menghemat devisa dan meningkatkan kapasitas produksi nasional atau perusahaan padat karya sesuai PMK 16/2020 (minimal 300 karyawan) yang termasuk dalam kategori Non BUMN dan Non UMKM. 

Salah satu kriteria korporasi penerima program ini adalah nasabah eksisting Bank Pemberi Kredit yang memerlukan tambahan Modal Kerja dengan nilai sebesar Rp 10 miliar – Rp 1 triliun.

Untuk diketahui, sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, penjaminan kredit yang diberikan LPEI kepada bank memiliki pembobotan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) sebesar 0%.

Ketentuan lainnya, aset yang dijamin berkualitas lancar dan dikecualikan dari perhitungan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Dengan begitu, bank yang menyalurkan kredit ekspor, jika dijamin oleh LPEI mempunyai keleluasaan untuk ekspansi dan sekaligus meminimalkan risiko kredit.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Pendapatan bunga turun, bank getol mengais biaya-biaya dari nasabah


ILUSTRASI. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/02/11/2017

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan kian getol mengais pendapatan non bunga di tengah seretnya pendapatan berbasis bunga saat ini. Di tengah digitalisasi layanan perbankan, nasabah harus menanggung berbagai biaya. 

PT Bank BTPN Tbk misalnya,  melalui produk tabungan digitalnya bertajuk Jenius telah mengumumkan bahwa seluruh fitur dalam aplikasi Jenius bakal dikenakan biaya berlangganan (Feesible) sebesar Rp 10.000 per bulan mulai Januari 2021.

Irwan Sutjipto Tisnabudi, Head of Digital Banking BTPN menerangkan, seesible merupakan biaya berlangganan untuk memanfaatkan seluruh layanan dalam ekosistem finansial yang terhubung dengan akun Jenius. Feesible akan berlaku bagi seluruh pengguna Jenius tanpa terkecuali.

Ia menambahkan, biaya berlangganan ini diberlakukan agar Jenius dan penggunanya dapat bersama-sama mewujudkan impian. “Dengan adanya Feesible, pengguna dapat menikmati kemudahan pengelolaan finansial dan saat yang sama akan membantu Jenius mewujudkan mimpi yang lebih besar untuk membangun bisnis digital yang berkelanjutan melalui inovasi dan peluncuran fitur-fitur baru,” katanya pada KONTAN, Kamis (19/11).

Namun, nasabah Jenius masih tetap dibebaskan dari biaya transaksi saat mengirimkan uang ke bank lain dan melakukan tarik tunai di ATM mana pun jika saldo rata-rata bulanannya di atas Rp 1 juta.

BTPN belum mematok target fee based income tahun dengan adanya biaya berlangganan tersebut. Irwan bilang, masih terlalu dini untuk menentapkan target. Fokus perseroan saat ini adalah memberikan layanan yang prima bagi nasabah.

Baca Juga: Ekonom: Beda dengan krisis 1998, likuiditas perbankan saat ini sangat kuat

Penarikan fee based income juga dilakukan bank lewat dari sisi kartu kredit maupun kartu debit. Untuk kartu kredit, ada bank yang mengenakan biaya untuk laporan tagihan lewat SMS di samping biaya iuran tahunan. 

Namun, Bank CIMB Niaga menegaskan tidak mengenakan biaya kepada nasabah atas laporan tagihan yang dikirimkan ke nasabahnya. Bank ini hanya mengenakan biaya tahunan, biaya over limit dan biaya bunga jika mencicil. ” Biaya tahunan kartu kredt tergantung jenisnya. Tetapi ada juga jenis kartu yang bebas biaya tahunan,” kata Lani Darmawan, Direktur Konsumer CIMB Niaga. 

Produk tabungan di bank ini juga tidak semuanya dikenakan biaya admin. Lani mengatakan, penarikan biaya dilakukan tergantung feature dan jenis tabungannya. Perseroan bisa mengratiskan biaya rata-rata transaksi sampai 20 kali per bulan. 

Sementara Bank Mandiri mengenakaan biaya dan bunga kartu kredit secara bervariasi tergantung jenis kartunya. “Adapun besar biaya notifikasi via SMS adalah sesuai dengan standar biaya pengiriman SMS di masing-masing provider,” kata Rudi Aturridha, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Neobank, ancaman baru bagi bank konvensional di era digital


ILUSTRASI. Ilustrasi keuangan digital. KONTAn/Muradi/2017/04/18

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kemunculan perusahaan teknologi finansial, uang elektronik hingga marketplace (e-commerce) secara pesat mengubah kebiasaan bertransaksi masyarakat. Perubahan itu kini dipercepat di era pandemi Covid-19, yang membuat masyarakat dari semua kalangan harus terbiasa menggunakan layanan digital.

Hal ini membuat peran perbankan tradisional pun semakin berkurang. Akan tetapi, menurut Ekonom Senior Indef Aviliani walaupun perkembangan fintech dan keuangan digital semakin pesat, fungsi perbankan tetap tidak akan bisa digantikan.

Dalam industri keuangan, perbankan memang sangat dominan, hal ini disebabkan besarnya ekosistem yang dimiliki bank, mulai dari jumlah nasabah, merchant, kantor cabang, infrastruktur pembayaran dan lain-lain. Ditambah, tingkat kepercayaan masyarakat dalam menitipkan dana di perbankan masih sangat tinggi. 

Baca Juga: ASPI: Mulai membaik, nilai transaksi QRIS capai Rp 800 miliar di September

Nah, masa depan perbankan nantinya adalah mengarah ke pembentukan Neobank, yaitu bank dengan model bisnis yang beroperasi sepenuhnya secara digital. Aviliani menjelaskan ada tiga karakteristik Neobank, pertama bank tersebut harus beroperasi penuh secara digital tanpa perlu kantor cabang.

Kedua memanfaatkan aplikasi dan teknologi. Kemudian ketiga memiliki penetrasi pasar yang tinggi dalam hal ini ekosistem bisnis secara digital. “Percuma menjadi Neobank, tapi tidak punya ekosistem,” terangnya, Selasa (17/11). 

Beberapa negara bahkan sudah memiliki perusahaan bank jenis baru alias Neobank. Contohnya di Singapura ada Aspire Bank dan Youtrip, di Korea Selatan ada Kakao Bank, di China ada WeBank dan MY Bank. Di kawasan Eropa seperti Inggris sudah lebih dulu dengan Atom dan Monzo kemudian di Amerika Serikat ada neo bank bernama Juno dan Axos. 

Bagaimana di Indonesia? menurut Aviliani ada sekitar 35 sampai 40 bank besar di dalam negeri yang punya ekosistem baik, dan itu merupakan syarat terpenting dalam pengembangan atau transformasi menjadi Neobank. Tapi, tentu saja Neobank juga bisa didirikan oleh perusahaan non bank, yang saat ini diakui Aviliani perkembangannya sangat pesat. Hal itu praktis menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi bank tradisional untuk segera injak gas dalam melakukan pengembangan di bidang teknologi dan digital. 

Baca Juga: CT Corp masuk Bank Bengkulu via private placement

Nah, pemicu utama perubahan pola bisnis bank ke arah digital ini menurut Aviliani berkaitan dengan tren yang terjadi ketika krisis. Misalnya saja pada saat pandemi, pendapatan perbankan tentu menurun drastis lantaran kemampuan ekspansi kredit terganggu.

Dalam situasi seperti ini, bank akan sangat mengandalkan pendapatan dari fee based income (FBI). Nah, bank dengan model bisnis digital akan lebih tahan banting. Selain efisien, bank digital akan lebih leluasa mengeruk cuan lewat transaksi nasabah. Tentunya dengan kolaborasi bersama perusahaan tekfin dan e-commerce

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Segmen UMKM dan konsumer jadi andalan kredit tahun depan


ILUSTRASI. kredit modal kerja UMKM

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bankir optimistis tahun depan kondisi ekonomi dan industri perbankan dapat membaik. Dengan catatan pandemi virus corona (Covid-19) ditanggulangi, dan vaksin bisa didistribusikan akhir tahun ini atau awal tahun depan. 

Adapula segmen UMKM dan konsumer ditaksir sejumlah bankir bakal jadi andalan pertumbuhan kredit 2021. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso bilang dua segmen ini mulai memncatat pertumbuhan pada kuartal akhir tahun ini. 

“Kredit modal kerja terutama dari UMKMdan kredit konsumsi mulai menunjukkan pertumbuhan positif dan menjadi penyumbang terbesar kredir pada September 2020, ungkapnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR pekan lalu. 

Baca Juga: DPK industri naik tinggi, bank kecil masih gigit jari?

Data OJK menunjukkan, hingga September 2020, secara bulanan (mtm) kredit UMKM tumbuh paling tinggi sebesar 0,78%. Sedangkan segmen konsumsi tubuh kedua tertinggi sebesar 0,55%. 

Sampai akhir tahun, Wimboh menaksir dua segmen ini akan jadi penopang pertumbuhan kredit total sebesar 2%-3%. Sementara tahun depan meski masih harus menghadapi fase pemulihan, kredit diproyeksikan bisa tumbuh lebih tinggi sebesar 5%-6%.

Segmen UMKM terutama mikro juga akan jadi andalan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) untuk tahun depan dan melampaui capaian target tahun ini.

“Dengan proyeksi PDB (5%) tahun depan kami yakin kredit akan tumbuh lebih baik,” ujar Direktur Keuangan BRI Keuangan BRI Haru Koesmahargyo kepada Kontan.co.id, Senin (16/11).

Haru mengaku kini bank terbesar di tanah air ini juga tengah memfinalisasi sejumlah target kinerja, misalnya pertumbuhan kredit dicanangkan 7-8%. Lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan sampai akhir tahun ini sebesar 5%.

Sedangkan dari segmen konsumer ada PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang akan mengandalkan segmen kredit perumahan untuk menopang pertumbuhan tahun depan. 

“Kami menargetkan pertumbuhan 7-8% jika realisasi PDB bisa mencapai sampai 5% tahun depan. Dengan catatan juga vaksi bisa tersedia awal 2021,” kata Direktur Utama BTN Pahala Mansury.. 

Tak cuma bank-bank gede, sejumlah bank cilik di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 2 pun menaruh keyakinan serupa. PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) misalnya  menargetkan bisa meraih pertumbuhan double digit tahun depan.

Baca Juga: Restrukturisasi pinjaman terdampak Covid-19 di P2P lending capai Rp 537,9 miliar  

Direktur Bank Oke Efdinal Alamsyah memandang kuartal akhir tahun ini memang jadi sinyal baik terhadap ekonomi nasional. Sehingga akan berimbas positif bagi industri perbankan. 

“Tahun depan aset kami taksir bisa tumbuh sampai 18%, walaupun secara nominal memang sangat kecil dibandingkan bank-bank besar,” ungkapnya.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Gesekan kartu kredit belum kencang, perbankan cermati potensi NPL


ILUSTRASI. Kartu kredit

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren transaksi kartu kredit masih mencatat perlambatan di tengah pandemi Covid-19. Merujuk data Bank Indonesia (BI) realisasi kartu kredit sejak Januari hingga September 2020 tercatat sebesar Rp 180,6 triliun. 

Walau terlihat besar, posisi itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi di akhir 2019 yang menyentuh Rp 342,68 triliun. 

Bukan hanya transaksi yang melambat, pandemi juga membuat risiko non performing loan (NPL) pada bisnis kartu kredit meningkat. Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id pun mengamini hal tersebut. 

Baca Juga: Ingin taruh dana di deposito? Perhatikan dulu hal-hal berikut ini

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, per September 2020 lalu mencatatkan NPL kartu kredit sebesar 3,55%. Walau tinggi, Direktur BCA Santoso Liem mengisyaratkan bahwa sejatinya tren tersebut terus menurun sejak bulan Juli 2020 sejalan dengan meningkat kembali penggunaan kartu kredit oleh konsumen. 

Tren penurunan NPL tersebut tambah Santoso juga disebabkan meningkatnya kemampuan bank dalam memberikan solusi bagi pemegang kartu kredit yang memiliki potensi bermasalah dalam pembayaran kartu kredit akibat pandemi. “Misalnya dengan program konversi tagihan menjadi cicilan dengan bunga ringan bagi yang membutuhkan,” ujar Santoso, Minggu (15/11) malam. 

Sebagai informasi saja, bisnis kartu kredit BCA memang tercatat mengalami perlambatan sebesar 18,5% secara year on year (yoy) dari Rp 13,41 triliun menjadi Rp 10,92 triliun. Meski begitu, secara kuartalan terjadi peningkatan sebesar 2,7% (qoq). Hal ini menjadi penanda bagi perseroan bahwa tren transaksi belanja di masyarakat mengarah ke level pemulihan. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Begini langkah perbankan untuk mencegah kasus fraud


ILUSTRASI. Nasabah menggunakan ATM di salah satu galeri ATM di Alam Sutra Tangerang, Rabu (14/10). ./Pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/14/101/2020.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kasus pembobolan rekening PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) oleh pegawainya sendiri membuat pengawasan internal perbankan jadi perbincangan. Sejumlah bank bahkan bakal memperketat mitigasi risiko terkait internal fraud.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) akan meluncurkan ketentuan anti bribery and corruption secara internal. Direktur Kepatuhan Bank Danamon Rita Mirasari bilang ketentuan tersebut bakal melengkapi sejumlah langkah mitigasi yang dilakukan perseroan.

“Desember nanti kami akan ada tanda tangan anti bribery and corruption, selain aspek KYC (know your customer), kami juga menerapkan aspek KYE (know your employee),” ujarnya dalam paparan daring, Kamis (12/11).

Baca Juga: Meski ada pandemi, likuiditas perbankan disebut masih longgar

Ia menambahkan, proses KYE juga telah dilakukan secara ketat oleh perseroan saat merekrut pegawai. Bank Danamon misalnya turut melacak rekam jejak calon pegawainya, apakah pernah terkait masalah di perusahaan sebelumnya.

Pun saat telah bekerja di perseroan, seluruh pegawai tak ada yang memiliki akses tanpa batas terhadap data nasabah. Seluruh aktivitas saat pegawai mengakses data nasabah juga akan terekam oleh sistem perseroan guna mudah melacak saat terjadi fraud.

Bahkan, Rita bilang, rekening pegawai Bank Danamon juga dipantau perseroan untuk memantau transaksi. Dengan bantuan teknologi, relasi secara langsung dari pegawai Bank Danamon kini juga mulai dikurangi

Meski demikian untuk mencegah terjadinya fraud, Rita juga mengungkapkan agar nasabah juga dapat mengetahui hak dan kewajibannya. “Edukasi terhadap nasabah juga merupakan kunci, transaksi perbankan merupakan hubungan dengan institusi bukan antar individu pegawai bank dan nasabah,” jelas Rita.

Baca Juga: Penyaluran kredit masih seret, gara-gara korporasi masih enggan tarik kredit baru

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiatmadja juga menambahkan bahwa nasabah juga memiliki peran penting dalam mencegah kejadian fraud perbankan.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Permintaan KTA perbankan mulai bergairah


ILUSTRASI. Kredit Tanpa Agunan (KTA)

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah membatasi pemasaran produk kredit tanpa agunan (KTA) saat puncak pandemi virus corona (Covid-19) beberapa waktu lalu, kini sejumlah perbankan mulai berani bergerak. Selain karena pandemi Covid-19 yang mereda, ternyata permintaan terhadap KTA juga mulai tumbuh perlahan, lantaran bank juga masih sangat selektif menyalurkan produk ini.

“Permintaan sudah mulai ada, terutama dari nasabah existing, namun memang belum sebanyak sebelum pandemi, sehingga pertumbuhan keseluruhan masih negatif,” kata DIrektur Bisnis Konsumer PT Bank CIMB NIaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan kepada Rabu (11/11).

Segmen KTA juga sejatinya menjadi pemberat pertumbuhan kredit yang tercatat masih tumbuh 4,1% (yoy) menjadi Rp 54,82 triliun sampai akhir September 2020. Diperinci, KPR, dan KKB jadi penopang pertumbahan masing-masing7,9% (yoy), dan 7,0% (yoy). Sedangkan KTA negatif 10,2% (yoy), dan kartu kredit 4,4% (yoy).

Adapun sampai September 2020, portofolio KTA Bank CIMB Niaga tercatat senilai Rp 3,88 triliun. 

Baca Juga: CIMB Niaga (BNGA) bukukan laba Rp 1,9 triliun pada kuartal III 2020

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sejak April 2020 menghentikan pemasaran produk KTA kini juga mulai kembali dibuka secara terbatas. Hanya kepada nasabah yang merupakan pegawai dengan fasilitas penggajian (payroll) via BCA. 

Sampai September 2020 portofolio BCA di segmen ini mencapai Rp 2,84 trilin. Meski secara tahunan masih negatif 3,3% (yoy), namun dibandingkan kuartal sebelumnya sudah mulai terlihat pertumbuhan 3,0% (qtq).

“Kami mencermati, di tengah tantangan pandemi yang dinamis, permintaan kredit juga masih dalam tahap pemulihan,” ujar Direktur BCA Santoso Liem kepada Kontan.co.id. 

Sementara di bank pelat merah pertumbuhan KTA justru relatif masih baik. Maklum mereka biasa memasarkan produk ini kepada pegawai-pegawai perusahaan pelat merah pula. 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya sampai kuartal III-2020 portofolio KTA mencapai Rp 29,05 triliun dengan pertumbuhan 12,8% (yoy). Segmen ini menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer perseroan yang tumbuh 4,5% (yoy) menjadi Rp 87,41 triliun. 

“Produk payroll loan kami BNI Fleksi menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer (tanpa kartu kredit) yang tumbuh 8% (yoy). Ini telah melampaui target pertumbuhan kami sebesar 4%,” kata Direktur Konsumer BNI Corina Leyla kepada KONTAN. 

Ia menambahkan pemasaran BNI Fleksi memang difokuskan kepada para ASN, dan pegawai BUMN yang memiliki tingkat pensiun maupun pergantian pegawai yang rendah. Pun sasarannya kepada para pegawai level menengah atas.

Baca Juga: Kredit seret, bank pilih taruh dana di obligasi

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani pun setali tiga uang. Sampai akhir September KTA perseroan masih tumbuh 1,5% (yoy) menjadi Rp 101,0 triliun. Sekaligus menjadi penyumbang terbesar kredit konsumer perseroan Rp 142,5 triliun yang tumbuh 3,4% (yoy).

Selain secara konvensional, personal loan BRI via platform digital juga mencatat pertumbuhan yang baik sampai kuartal III-2020. Platform Ceria misalnya kini telah digunakan 10.414 nasabah dan memiliki portofolio Rp 20,1 miliar dengan sales volume Rp 52 miliar.

Sementara kerja sama BRI dengan Traveloka melaluia Traveloka Paylater kini telah digunakan 35.174 pengguna dengan portofolio Rp 211,3 miliar dan sales volume R 366,5 miliar. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Transaksi cash management Bank Mandiri tumbuh 24% yoy hingga September 2020


ILUSTRASI. pelayanan Bank Mandiri

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk terus melakukan inovasi untuk mendorong pertumbuhan bisnis pengelolaan kas atau cash management system. Perbankan pelat merah ini terus melengkapi fitur-fitur baru dalam layanan pada bisnis tersebut. 

SVP Transaction Banking Wholesale Bank Mandiri Tri Nugroho mengatakan, perseroan telah melakukan perubahan platform cash management pada tahun ini  guna memudahkan nasabah melakukan transaksi dan didukung dengan fitur transaksi yang lengkap yang bisa diakses 24 jam. 

“Fitur baru yang ada pada cash management Bank Mandiri tahun ini adalah corporate card management dan merchant payment management,” kata Tri pada Kontan.co.id, Selasa (10/11).

Baca Juga: Kuartal III 2020, Mandiri Syariah catat laba lebih dari Rp 1 triliun

Sejalan dengan inovasi yang dilakukan tersebut, volume transaksi bisnis cash management Bank Mandiri mengalami kenaikan 24% per September 2020 dibandingkan tahun lalu di periode yang sama tahun lalu (yoy) . Begitu pula dengan pendapatan komisi atau fee based income (FBI) dari bisnis ini tumbuh 11% yoy. 

Tri bilang, kenaikan frekuensi transaksi ini didorong oleh peningkatan transaksi e-commerce dan wallet yang tumbuh selama masa pandemi virus corona (Covid-19).

Seiring dengan kebutuhan nasabah akan transaksi yang lebih efisien melalui e-channel dan kondisi pandemi yang membuat nasabah memilih work from home (WFH), terdapat kenaikan akuisisi nasabah pengguna cash management Bank Mandiri hampir 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu. 

Total nasabah pengguna layanan ini  mencapai 482.000 nasabah. Ada pertambahan 33.000 nasabah sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Ada dana PEN, namun kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di Bank Mandiri. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link