fbpx

BPS Catat Impor Indonesia Per Oktober Capai USD 10,78 Miliar


JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia Oktober 2020 mencapai USD 10,78 miliar atau turun USD 785,1 juta (6,79 persen) dibandingkan September 2020. Bahkan, nilai impor Indonesia Oktober 2020 turun 26,93 persen dibandingkan bulan yang sama pada 2019.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Setianto menjabarkan, impor nonmigas Oktober 2020 mencapai USD 9,70 miliar atau turun 6,65 persen dibandingkan September 2020. Sedangkan jika dibandingkan Oktober tahun lalu turun 25,36 persen.

Sementara Impor migas Oktober 2020 senilai USD 1,08 miliar atau turun 8,03 persen dibandingkan September 2020. Sehingga turun 38,54 persen jika dibandingkan Oktober 2019.

“Penurunan impor migas dipicu oleh berkurangnya impor minyak mentah senilai USD 41,3 juta (15,34 persen) dan hasil minyak senilai USD 56,2 juta (7,87 persen). Sementara nilai impor gas naik senilai USD 3,3 juta (1,76 persen),” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (16/11).

Nilai impor kumulatif Januari–Oktober 2020 tercatat USD 114.465,0 juta atau turun USD 26.963,5 juta (19,07 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas senilai USD 5.927,8 juta (33,65 persen) dan nonmigas senilai USD 21.035,7 juta (16,99 persen).

“Penurunan impor migas disebabkan oleh berkurangnya impor minyak mentah senilai USD 1.397,1 juta (32,16 persen) dan hasil minyak senilai USD 4.532,9 juta (40,49 persen). Namun demikian, nilai impor gas naik USD 2,2 juta (0,11 persen),” sambungnya.

Ia menjelaskan, penurunan impor nonmigas terbesar Oktober 2020 dibandingkan September 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 200,9 juta (11,90 persen). Sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan bijih, terak, dan abu logam senilai USD 36,5 juta (74,28 persen).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2020 adalah Tiongkok senilai USD 31,02 miliar (30,18 persen), Jepang USD 8,81 miliar (8,57 persen), dan Singapura USD 6,74 miliar (6,56 persen). Impor nonmigas dari ASEAN senilai USD 19,25 miliar (18,73 persen) dan Uni Eropa senilai USD 8,17 miliar (7,95 persen).

Sedangkan nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari–Oktober 2020 turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (11,39 persen), bahan baku/penolong (19,75 persen), dan barang modal (20,29 persen).

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Kinerja Maskapai Terdampak Sepinya Kunjungan Wisman


JawaPos.com – Tertekannya kinerja maskapai tak lepas dari kunjungan turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) yang berkurang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kunjungan wisman ke Indonesia hanya mencapai 153.498 per September lalu. Jumlah itu turun 5,94 persen jika dibandingkan Agustus yang mencapai 163.185 pengunjung. Jika dibandingkan periode sama tahun lalu, penurunannya mencapai 88,95 persen.

“Penurunan jumlah kunjungan ini bisa diterima. Sebab, pandemi Covid-19 masih berlangsung dan banyak negara yang masih melarang warga untuk bepergian,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Dari kebangsaannya, pada September 2020, wisman terbanyak berasal dari Timor Leste. Jumlah kunjungannya mencapai 76.760 atau 50,01 persen. Wisman kedua terbanyak berasal dari Malaysia. Disusul Tiongkok, Belanda, dan Amerika Serikat (AS).

“Wisman yang datang umumnya melakukan bisnis. Baik kedinasan, kerja, maupun misi tertentu,” imbuhnya.

Tak hanya berdampak pada bisnis maskapai, bisnis perhotelan pun terkena imbasnya. Suhariyanto mengatakan bahwa tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada September 2020 masih sepi.

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (agf/dee/c13/hep)





Source link

Mengukur Kemampuan RI Keluar dari Jurang Resesi Ekonomi



Jakarta, CNN Indonesia —

Indonesia akhirnya resmi memasuki jurang resesi ekonomi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan kuartal III 2020 minus 3,49 persen. Itu melengkapi kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen

Kondisi tersebut sekaligus mematahkan ekspektasi pemerintah pada Juli hingga awal September 2020 yang masih memperkirakan Indonesia bisa menghindari resesi dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar minus 1,1 persen hingga 0,2 persen.

Meski mengalami resesi, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan perekonomian ekonomi Indonesia kuartal III 2020 sejatinya mulai memasuki fase penyembuhan dari infeksi virus corona. Meski secara tahunan masih negatif jika dibandingkan kuartal sebelumnya.







“Ini bisa menjadi modal yang bagus untuk pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020,” ujar Suhariyanto.

Pendapat tersebut menurutnya tak berlebihan lantaran pola perbaikan ekonomi tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara lain yang lebih dulu terperosok ke dalam resesi seperti Singapura, Korea Selatan, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat.

Kendati demikian, Suhariyanto tak memungkiri kalau jalan menuju pemulihan tak semudah memadamkan nyala lilin: sekali tiup mati. Apalagi, kasus harian covid-19 di dalam negeri masih mengalami peningkatan.

“Kami bisa lihat berbagai pergerakan indikator di banyak negara mengalami perbaikan, tapi perbaikan itu masih menghadapi kendala karena masih tingginya kasus covid-19,” ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat perbaikan ekonomi Indonesia akan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara lain.

Sebab, menurutnya, percepatan realisasi program PEN serta serapan kementerian dan lembaga yang telah digenjot pemerintah terbukti tidak ampuh. Target untuk memperbaiki konsumsi pemerintah dari minus 6,9 persen pada kuartal II menjadi 9,8 persen hingga 17 persen pada kuartal III, misalnya, juga meleset dan hanya mampu mencapai angka 9,76 persen.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang jadi lokomotif ekonomi dalam negeri dengan porsi 57 persen terhadap PDB hanya membaik sedikit dari minus 5,6 persen ke minus 4,4 persen. Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah terutama dengan berkali-kali melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Ekspor-impor, dan investasi enggak usah ditanya. Sudah pasti akan turun karena perdagangan internasional turun tajam dan outlook penanam modal juga turun. Jadi harapannya cuma konsumsi sama belanja pemerintah saja sebenarnya,” ucap Rendy.

Dengan berbagai kondisi tersebut, menurutnya, hampir mustahil Indonesia keluar dari resesi di tahun ini. Ia memperkirakan perekonomian baru bisa beranjak dari resesi dan berada di zona positif pada kuartal II 2021.

Hal ini terutama karena masyarakat 20 persen berpengeluaran tinggi, yang porsi belanjanya berkontribusi 45,36 persen terhadap konsumsi rumah tangga, masih lebih memilih menabung dan berinvestasi.

“Walaupun ada diskon tiket pesawat, liburan panjang, mereka belum confident untuk bepergian. Karena potensi penularan virus bukan cuma di tempat wisata tapi juga perjalanan. Wajar kalau jumlah tabungan di bank juga masih akan meningkat, paling tidak sampai kuartal pertama tahun depan,” jelas Rendy.

Di sisi lain, siklus belanja pemerintah cenderung melambat pada awal tahun. Sementara anggaran bantuan sosial dalam program PEN yang dapat menstimulasi konsumsi masyarakat berkurang cukup drastis.

Padahal isu daya beli menurutnya belum akan terselesaikan hingga tahun depan lantaran jumlah penduduk miskin akan bertambah akibat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Berdasarkan laporan terbaru BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 menembus 7,07 persen atau naik 1,84 persen dibandingkan dengan Agustus 2019.

Menurut Rendy, ini merupakan capaian TPT terburuk di era kepemimpinan Joko Widodo. Sebab, biasanya rerata TPT di Indonesia adalah sekitar 5 persen.

Angka pengangguran Agustus 2020 pun tembus 9,77 juta dan menjadi rekor terburuk dalam 5 tahun terakhir berdasarkan keterangan BPS.

Di sisi lain, angkatan kerja membeludak ke level 138,22 juta orang dan serapan pekerja di sektor informal naik ke level 60,47 persen dengan peningkatan terbanyak pada status pekerja keluarga atau tidak dibayar.

“Bagi saya agak membingungkan melihat datanya turun, karena pemerintah mengatakan tahun depan bertambah, dan diperluas, tapi alokasinya ternyata turun. Potensi penduduk miskin akan bertambah tapi malah diturunkan,” tandasnya.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menuturkan bahwa daya ungkit perekonomian masih melemah dan makin jauh dari apa yang diharapkan pemerintah.

Meski demikian menurutnya Indonesia masih berpeluang mencetak pertumbuhan positif dan keluar dari palung resesi pada kuartal IV mendatang. Hal ini tak terlepas dari beberapa indikator yang terlihat mulai membaik seperti Indeks manufaktur (Purchasing Managers Index/PMI) Oktober yang meningkat menjadi 47,8 atau naik dari September di level 47,2.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober juga mengalami kenaikan harga atau inflasi 0,07 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2020. Inflasi ini lebih tinggi dari September 2020 yang justru mengalami deflasi sebesar minus 0,05 persen.

Di samping itu, kinerja investasi sepanjang Januari hingga September tahun ini juga lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Kalau pemerintah bisa munculkan confident, entah itu adanya vaksin atau paling enggak kurva (kasus covid-19) turun, konsumsi kuartal terakhir ini bisa meningkat. Ditambah lagi belanja pemerintah paling banyak di kuartal IV,” tuturnya.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta optimistis pemulihan ekonomi akan berada di trek yang tepat dan Indonesia bisa kembali berpotensi masuk zona positif di akhir tahun. Apalagi, sektor-sektor tertentu kini telah mulai bergerak.

“Itu dapat tercermin dari indeks keyakinan konsumen dan indeks manufaktur yang kian membaik.” tuturnya.

Menurutnya, ekonomi Indonesia jua telah mengalami banyak perbaikan dan kemajuan dibandingkan dengan kuartal II 2020 atau ketika awal pandemi terjadi di Indonesia.

Belanja pemerintah pada kuartal III yang tumbuh 9,76 persen telah memberi kontribusi senilai 9,69 persen terhadap output perekonomian. Sektor konsumsi rumah tangga pun ikut bergairah dari minus 5,5 persen menjadi minus 4,04 persen.

Pemerintah sendiri, lanjut Arif, telah membelanjakan APBN senilai Rp1.840,9 triliun atau 67,2 persen dari total belanja negara, angka ini naik 15,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 lalu.

Khusus untuk program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, belanja yang sudah tersalurkan hingga 23 September lalu mencapai Rp268,3 triliun atau 38,6 persen dari total pagu anggaran.

“Arahan Presiden Jokowi yang terus-menerus terhadap para menteri untuk mengefektifkan anggaran terbukti mampu memulihkan perekonomian,” tegasnya.

(hrf/agt)





Source link

Peringatan BPS, Covid Masih BIsa Ganjal Pemulihan Ekonomi



Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan perekonomian sejumlah negara di dunia mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal III 2020, dibandingkan kuartal II 2020. Namun, peningkatan kasus pandemi covid-19 menjadi hambatan pada perbaikan ekonomi tersebut.

“Kami bisa lihat berbagai pergerakan indikator di banyak negara mengalami perbaikan, tapi perbaikan itu masih menghadapi kendala karena masih tingginya kasus covid-19,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020, Kamis (5/11).

Ia mencontohkan sejumlah negara di Eropa bahkan sudah kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown) karena terjadi lonjakan kasus positif covid-19. Itu meliputi, Inggris, Prancis, dan Austria.







“Jadi, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kuartal mendatang,” ucapnya.

Sementara itu, negara mitra dagang Indonesia juga masih mengalami kontraksi pada kuartal III 2020. Namun, tidak sedalam pada kuartal II 2020.

Misalnya, AS mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar minus 2,9 persen dari sebelumnya minus 9 persen di kuartal II 2020.

Lalu, pertumbuhan ekonomi Singapura minus 7 persen dari sebelumnya minus 13,3 persen. Kemudian, Korea Selatan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi minus 1,3 persen dari sebelumnya minus 2,7 persen dan Hong Kong minus 3,4 persen dari sebelumnya minus 9 persen.

Hanya China dan Vietnam yang bebas dari resesi ekonomi. Ekonomi China mampu tumbuh positif pada kuartal III 2020 sebesar 4,9 persen.

Sementara ekonomi Vietnam tumbuh 2,6 persen pada Juli-September.

[Gambas:Video CNN]

“Pangsa pasar Indonesia ke China sebesar 19,6 persen paling besar, China pada kuartal III ekonominya sudah tumbuh 4,9 persen karena recovery-nya cepat sekali,” ucapnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen pada kuartal III 2020. Dengan demikian, Indonesia resmi memasuki jurang resesi ekonomi setelah sebelumnya kontraksi 5,32 persen.

Namun, secara kuartal (quartal to quartal/qtq), ekonomi Indonesia berhasil tumbuh positif 5,05 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dari kuartal II 2020 lalu, yang tercatat kontraksi minus 4,19 persen (qtq).

(ulf/agt)






Source link

Indonesia Resesi, BPS: Industri Alat Angkut Minus Terdalam 29,98 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sumber kontraksi terdalam dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 yang minus 3,49 persen disumbang oleh industri pengolahan dengan minus 0,89 persen. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan dari 17 lapangan usaha masih ada 10 yang terkontraksi, di mana sektor alat angkut mengalami kontraksi terdalam sebesar 29,98 persen. 

Adapun, industri farmasi, kimia, dan obat tradisional terpantau paling positif dengan kenaikan 14,96 persen.

“Tumbuhnya industri ini karena adanya peningkatan produksi obat-obatan, vitamin dari permintaan Covid-19, juga ada peningkatan di beberapa produk kimia karena produksi hand sanitizer yang naik,” katanya dalam jumpa virtual, Kamis 5 November 2020.

Secara keseluruhan pada kuartal III/2020 industri pengolahan terkontraksi 4,31 persen secara tahunan atau ada perbaikan dari kuartal II/2020 yang minus 6,19 persen.

Industri makanan dan minuman masih tercatat penurunan tetapi hanya separuh dari kuartal yang lalu yakni minus 11,86 persen.





Source link

Tren Deflasi Terhenti, tapi Daya Beli Masyarakat Masih Lemah


JawaPos.com – Secara nasional, tren deflasi berakhir. Sebelumnya, indeks harga konsumen (IHK) mencatat deflasi sejak Juli hingga September. Senin (2/11) Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan IHK Oktober yang mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen.

“Harga berbagai komoditas pada Oktober tahun ini secara umum menunjukkan adanya kenaikan berdasar hasil pemantauan BTS di 90 kota. Pada Oktober 2020 ini terjadi inflasi sebesar 0,07 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin.

Dia menggarisbawahi bahwa meski tren deflasi berturut-turut berakhir pada Oktober, daya beli belum pulih. Sebab, inflasi inti masih rendah. Inflasi inti Oktober mencapai 0,04 persen dengan sumbangan ke inflasi 0,03 persen.

Inflasi inti Oktober lebih rendah daripada bulan sebelumnya. Yakni, 0,13 persen. “Secara umum, inflasi inti ini menunjukkan bahwa daya beli memang belum pulih” imbuh Suhariyanto.

Dia melanjutkan, ada penurunan daya beli sekitar 40 persen kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah. Inflasi inti biasanya digunakan sebagai indikator daya beli. “Tapi, behavior masyarakat agak berbeda. Sebanyak 40 persen ke bawah karena terdampak Covid-19, banyak yang dirumahkan dan mengalami penurunan upah,” jelasnya.

Dia menduga kelompok masyarakat menengah ke atas hingga kini masih menahan konsumsi. Namun, hal itu nanti terjawab saat rilis PDB Indonesia kuartal III/2020 pada 5 November.

Secara umum, inflasi Oktober disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,29 persen dengan andil 0,07 persen. Di dalam kelompok itu, dua komoditas, yaitu bawang merah dan cabai merah, jadi penyumbang terbesar akibat dampak cuaca buruk.

Terpisah, Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana memproyeksikan penurunan inflasi inti terus berlanjut pada bulan-bulan ke depan. Penurunan itu dipengaruhi lambatnya distribusi vaksin yang akan berdampak pada kepercayaan konsumen dan masih akan menekan daya beli masyarakat.

“Kami melihat inflasi inti mungkin terus turun karena lambatnya distribusi vaksin, yang dapat menghambat kepercayaan konsumen dan meningkatkan ketidakpastian,” jelasnya.

Sementara itu, Jawa Timur (Jatim) masih mencatatkan deflasi pada Oktober sebesar 0,02 persen. Penyebabnya adalah penurunan harga.

Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan mengatakan, penurunan harga ditunjukkan turunnya sebagian indeks kelompok pengeluaran. Yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,17 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen; dan transportasi 0,21 persen.

Sementara itu, kelompok yang mengalami inflasi adalah pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 persen; kesehatan 0,50 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 0,52 persen; pendidikan 0,04 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,45 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga tidak mengalami perubahan.

“Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain, angkutan udara, mangga, emas perhiasan, apel, semangka, tarif listrik, alpukat, daging sapi, daging ayam ras, dan wortel,” sebutnya.

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK)

Januari: 0,39 persen

Februari: 0,28 persen

Maret: 0,10 persen

April: 0,08 persen

Mei: 0,07 persen

Juni: 0,18 persen

Juli: minus 0,10 persen

Agustus: minus 0,05 persen

September: minus 0,05 persen

Oktober: 0,07 persen

Sumber: BPS

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (dee/res/c7/hep)





Source link

BPS Perkirakan Produksi Beras Jawa Barat Tahun ini 5,3 Juta Ton


TEMPO.COBANDUNG –  Kepala Badan Pusat Statistik BPS Jawa Barat Dyah Anugrah Kuswardani mengatakan, perkiraan produksi padi Jawa Barat sepanjang tahun ini menembus 5,3 juta ton. 

“Angka produksi beras itu adalah angka potensi, dan di sini kita menggunakan hasil survei konversi gabah ke beras tahun 2018, sehingga total produksi beras untuk  kurun waktu Januari sampai Desember 2020 ini diperkirakan mencapai 5,3 juta ton,” kata dia, dalam konferensi pers hasil survei BPS Jawa Barat, di Bandung, Senin, 2 November 2020.

Dyah mengatakan, taksiran produksi beras Jawa Barat tahun 2020 ini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Sementara untuk Januari-Desember 2019 lalu produksi beras di Jawa Barat mencapai 5,22 juta ton. Jika produksi ini tercapai, akan terjadi peningkatan 77,51 ribu ton, atau meningkat sebesar 1,49 persen.

Menurut dia, taksiran produksi beras tersebut akan tercapai jika produksi beras pada November dan Desember 2020 ini benar-benar sesuai dengan perhitungan BPS. Realisasi produksi beras hingga Oktober ini, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Jumlah kumulatif dari Januari-September 2020 diperkirakan produksi beras mencapai 4,13 juta ton. Dibandingkan Januari-September 2019 yang sebesar 4,33 juta ton, mengalami penurunan sebesar 199,73 ribu ton, atau turun 4,61 persen,” kata Dyah.





Source link

September, BPS Catat Kunjungan Wisman ke Indonesia Turun 88,95 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada bulan September 2020 mencapai 153,5 ribu kunjungan.

Angka tersebut turun drastis sebesar 88,95 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan September 2019. Apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Agustus 2020, kunjungan turis asing di September 2020 tercatat turun 5,94 persen.

“Karena pandemi Covid-19 masih berlangsung, banyak negara melarang warga negaranya berpergian untuk menjaga kesehatan bersama,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Senin, 2 November 2020.

Suhariyanto mengatakan pada umumnya turis asing pada September 2020 itu pun datang untuk keperluan bisnis, mulai dari kedinasan, bekerja, dan misi lainnya. Ia melihat masih minim wisman yang datang untuk berlibur.

Apabila dilihat berdasarkan pintu kedatangannya, jumlah kunjungan wisman tersebut terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 9,97 ribu kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 48,46 ribu kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 95,07 ribu kunjungan.





Source link

Penurunan Inflasi Inti Diperkirakan Berlanjut, Daya Beli Masih Tertekan


TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana memproyeksikan penurunan inflasi inti masih berpotensi terus berlanjut pada bulan-bulan ke depan. Penurunan ini menurutnya akan dipengaruhi oleh lambatnya distribusi vaksin yang akan berdampak pada kepercayaan konsumen dan masih akan menekan daya beli masyarakat.

“Kami melihat inflasi inti mungkin terus turun karena lambatnya distribusi vaksin, yang dapat menghambat kepercayaan konsumen dan meningkatkan ketidakpastian,” katanya, Senin, 2 November 2020.

Badan Pusat Statistik melaporkan tingkat inflasi inti pada Oktober 2020 hanya mencapai 0,04 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Tingkat inflasi pada periode laporan tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan dengan periode September 2020 sebesar 0,13 persen.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi inti pada Oktober 2020 tercatat sebesar 1,74 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Oktober 2019 sebesar 3,20 persen.

Dalam konferensi pers pada Senin, Kepala BPS Suhariyanto menyampaikan penurunan inflasi inti pada Oktober 2020 menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih belum pulih.





Source link

Daya Beli Turun, Tren Deflasi Diprediksi Berlanjut Hingga Akhir Tahun

Daya Beli Turun, Tren Deflasi Diprediksi Berlanjut Hingga Akhir Tahun


TEMPO.CO, Jakarta – Deflasi terjadi dalam dua bulan berturut-turut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen pada Agustus 2020 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan. Bulan sebelumnya deflasi mencapai 0,10 persen. Tren ini diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan deflasi kali ini disebabkan oleh penurunan harga pada beberapa indeks kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan paling besar yaitu -0,86 persen. Sektor transportasi berada di urutan kedua dengan penurunan -0,14 persen.

Suhariyanto menyatakan penurunan harga tersebut menunjukkan daya beli masyarakat yang belum pulih setelah pandemi merebak. “Perkembangan inflasi berbagai negara memang menunjukkan perlambatan, bahkan mengarah deflasi karena pandemi Covid-19 menghantam dari sisi demand maupun supply,” katanya, Selasa 1 September 2020.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan kondisi tersebut dipicu daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang turun. Sejumlah stimulus dari pemerintah termasuk relaksasi pembatasan sosial belum terasa pengaruhnya. Sementara itu kelas atas yang memiliki daya beli cenderung menahan belanja. Selain ada kekhawatiran terhadap pandemi, transaksi dan mobilitas mereka masih terbatas karena restriksi kegiatan untuk mencegah penyebaran virus.

Faisal memperkirakan deflasi masih akan berlangsung hingga awal kuartal IV. Hari Raya Natal dan Tahun Baru diharapkan dapat mendongkrak belanja meski tak akan terlalu besar. Dia memperkirakan inflasi secara tahunan tak mampu melampaui 1,5 persen. “Kumulatif inflasi sampai Agustus saja masih di bawah satu persen,” kata dia. BPS mencatat inflasi Januari-Agustus sebesar 0,93 persen.





Source link