fbpx

BRI Corporate University Raih Akreditasi Global


JawaPos.com – Bank BRI (BBRI), lewat BRI Corporate University yang merupakan pusat pelatihan karyawan perseroan mendapat apresiasi lembaga akreditasi internasional. Pengakuan global diperoleh melalui akreditasi internasional Corporate Learning Improvement Process (CLIP) dari European Foundation for Management Development (EFMD) tahun 2020 ini yang disampaikan secara virtual pada Senin (17/11).

CLIP merupakan akreditasi yang mengasses kualitas sebuah corporate university berdasarkan 8 area yaitu : Strategic Positioning, Marketing, External suppliers, The Corporate Learning Team, Programmes, Services & Activities, Innovation & Development, Physical Resources & Administration dan Global Outreach.

“Kami bersyukur BRI Corporate University mendapat pengakuan secara global. Akreditasi ini semakin memperkuat lembaga pendidikan korporat milik BRI. Sebelumnya pada tahun 2018, BRI Corporate University juga meraih penghargaan sebagai Corporate University terbaik se-Indonesia pada tahun 2018 dari Majalah SWA,” ungkap Direktur Human Capital BRI Herdy Harman.

Adapun rangkaian proses akreditasi CLIP sendiri terdiri dari beberapa rangkaian, yakni Enquiry, Formal Application, Eligibility Visit, Eligibility Decision, Self Assessment, Peer Review Visit dan Accreditation. Dalam perjalananya, proses akreditasi CLIP yang memiliki standar ketat ditengah masa pandemi covid-19 merupakan tantangan tersendiri. BRI merupakan lembaga keuangan pertama di dunia yang menjalani seluruh proses akreditasi CLIP tersebut secara online.

Tim peer reviewer yang melakukan asssessment standar CLIP terhadap BRI Corporate University merupakan praktisi Corporate University terkemuka, diantaranya Direktur CLIP Martin Moehrle, Direktur Bank Indonesia Institute Arlyana Abubakar, Head Organizational Excellence Holcim Frank Waltmann, dan Chief Learning Officer Nordea Bank Steven Smith.

Herdy Harman mengungkapkan keberhasilan ini setidaknya membuktikan kesungguhan BRI mencapai visi dan aspirasinya untuk menjadi The Most Valuable Bank in South East Asia dan Home to the Best Talent. Selain itu, katanya, hal ini merupakan bentuk komitmen BRI terhadap pengembangan human capital bagi Internal BRI dengan menggunakan metode dan praktek manajemen human capital bertaraf internasional serta menjadi bukti atas kemampuan BRI untuk tetap menjalankan pengembangan human capital secara efektif di masa pandemi covid-19 dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Dengan memiliki sebuah Corporate University yang telah terakreditasi CLIP, BRI dapat memastikan bahwa seluruh pekerjanya memperoleh proses pengembangan kompetensi dengan standar dan metode kelas dunia sehingga dapat menjadi bintang – bintang kehidupan Indonesia yang memiliki daya saing global dan mampu menjawab tantangan masa depan perusahaan dan tantangan bangsa kedepan.” tutupnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin





Source link

Di Tengah Akselerasi Kualitas Penyaluran KUR BRI Tetap Terjaga


JawaPos.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus mengakselerasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara prudent dan sesuai ketentuan yang berlaku. Penyaluran KUR dengan cepat dan tepat dilakukan perseroan demi mendorong pemulihan ekonomi nasional, khususnya para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sepanjang Januari 2020 hingga Oktober 2020, nilai KUR yang sudah disalurkan BRI mencapai Rp105,34 triliun atau setara 75,1 persen dari kuota yang diberikan pemerintah. KUR BRI disalurkan kepada lebih dari 4 juta debitur mikro, kecil, TKI, dan super mikro.

“Penyaluran KUR BRI dilakukan secara prudent dan sesuai ketentuan yang berlaku. Melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra, KUR BRI sudah tersalurkan hingga 75 persen lebih dari total kuota per Oktober. Kami akan terus menyalurkan KUR dengan tepat dan cepat untuk mendukung recovery para pelaku UMKM yang tengah berjuang untuk bangkit,” ujar Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto.

Secara lebih rinci, pada periode yang sama total KUR Mikro yang sudah disalurkan BRI mencapai Rp89,54 triliun untuk 3,4 juta debitur. Kemudian, ada Rp10,57 triliun KUR Kecil yang sudah disalurkan BRI terhadap 44 ribu debitur. Selain itu, BRI juga sudah menyalurkan KUR TKI senilai Rp38 miliar dan terakhir, ada KUR Super Mikro senilai Rp 5,20 triliun yang sudah diberikan kepada 590.106 debitur.

Akselerasi penyaluran KUR secara prudent dilakukan perseroan sebagai upaya untuk tumbuh secara sehat, serta mengurangi potensi timbulnya kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Alhasil, dengan strategi selective growth tersebut hingga kini KUR yang disalurkan BRI selalu terjaga kualitasnya.

“Hingga Oktober, NPL KUR BRI tercatat hanya 0,06 persen. Kualitas pembiayaan yang terjaga membuktikan ketepatan BRI dalam menyalurkan KUR selama ini, dan besarnya kemampuan pengusaha UMKM untuk bertahan serta mengembangkan usahanya dari pembiayaan yang sudah diberikan,” ujarnya.

Faktor lain yang membuat penyaluran KUR BRI dapat tumbuh secara sehat yakni adanya aplikasi BRISPOT. BRISPOT merupakan aplikasi khusus para tenaga pemasar mikro BRI atau Mantri BRI untuk memproses pinjaman mikro. Aplikasi ini berguna untuk menyederhanakan, mengotomasi dan mendigitalisasi proses pengajuan hingga pencairan pinjaman di BRI.

“Dengan menggunakan BRISPOT, pinjaman diproses secara cepat dan dengan otomasi credit scoring dari nasabah membuat penyaluran pinjaman tersebut semakin prudent,” urai Aestika.

Komitmen BRI dalam menyalurkan pembiayaan bagi UMKM, serta dengan diimbangi dengan terjaganya kualitas kredit yang diberikan, turut berkontribusi terhadap keberhasilan perusahaan meraih 14 penghargaan pada ajang ESG Awards 2020. Belasan penghargaan tersebut diraih BRI karena berhasil menerapkan prinsip-prinsip environmental, social, dan governance secara baik selama ini.

Ke-14 penghargaan yang diraih BRI dalam ESF Awards 2020 adalah Keterbukaan ESG Emiten Sektor Perbankan Terbaik, Keterbukaan Environmental Emiten Sektor Perbankan Terbaik, Keterbukaan Social Emiten Sektor Perbankan Terbaik, Keterbukaan Governance Emiten Sektor Perbankan Terbaik, Keterbukaan ESG Bank Kategori Buku IV Terbaik, Keterbukaan Environmental Bank Kategori Buku IV Terbaik,

Selain ESF Awards 2020 yang diterima BRI adalah Keterbukaan Social Bank Kategori Buku IV Terbaik, Keterbukaan Governance Bank Kategori Buku IV Terbaik, Keterbukaan Governance BUMN Terbaik, Keterbukaan ESG Bank BUMN Terbaik, Keterbukaan Environmental Bank BUMN Terbaik, Keterbukaan Social Bank BUMN Terbaik, serta Keterbukaan Governance Bank BUMN Terbaik dan Emiten LQ45-ESG.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi BRI untuk terus menjalankan peran sebagai bank yang menggerakkan perekonomian nasional dan mendorong pertumbuhan UMKM. Kami akan terus berinovasi dalam memberi pelayanan, melalui salah satunya pengubahan bentuk persetujuan kredit secara bertahap hingga nantinya setiap debitur di desa-desa bisa dilayani dan ditawari pembiayaan secara daring,” tutup Aestika.

Editor : Mohamad Nur Asikin





Source link

Konkret! Ini Cara BRI Dukung Pemerintah Tingkatkan Ekspor RI



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank BRI sebagai salah satu bank devisa terbesar di Indonesia terus menunjukkan komitmen untuk mengembangkan potensi bisnis ekspor di Indonesia khususnya pada segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu bentuk keseriusan BRI dalam mendukung bisnis ekspor di Indonesia, adalah dengan mendukung pameran dagang tahunan Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition 2020 (TEI-VE 2020) yang digelar pada 11-16 November 2020 dan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo.

Digelar dengan konsep virtual exhibition, TEI-VE 2020 diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan RI dengan tujuan untuk mempromosikan produk-produk berkualitas buatan Indonesia melalui platform pameran virtual untuk pasar global, mengembangkan jaringan bisnis, investasi dan menghadirkan showcase produk-produk premium dan terbaik Indonesia yang pada ujungnya diharapkan mampu untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

“Tema yang diusung Bank BRI pada tahun ini adalah ‘The Key to Easy and Secure Export Import Transactions’, dimana pada virtual booth ditampilkan showcase produk digital Bank BRI yang berkaitan erat dengan transaksi eksport import, seperti BRITrade Online, Trade Finance Online, dan BRICaMS. Tampilan produk-produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan awareness terhadap keunggulan Bank BRI dalam layanan digital trade,” ujar SEVP Treasury & Global Services BRI Listiarini Dewajanti.


Sejalan dengan semangat tersebut, sampai dengan saat ini, BRI telah melayani transaksi Trade Finance untuk lebih dari 8.800 nasabah UMKM dan lebih dari 200 nasabah korporasi.

Dalam rangka memberikan edukasi produk perbankan dan bisnis ekspor-impor, booth Bank BRI di TEI-VE 2020 juga telah menggelar kegiatan Coaching Clinic secara virtual pada tanggal 11 hingga 15 November 2020 lalu. Materi terkait ekspor-impor yang dipresentasikan antara lain : Manajemen Kargo, Kepabeanan, Edukasi Produk Perbankan, dan Sharing Session dari UMKM eksportir.

Adapun materi terkait metode pembayaran yang digunakan pada transaksi ekspor-impor antara lain : Import Financing, Export Financing, dan Supply Chain Financing, Telegraphic Transfer, Documentary Collection, Letter of Credit, dan SBLC. Coaching Clinic BRI disambut antusias oleh para Visitor maupun Exhibitor TEI-VE 2020 dengan total 648 peserta yang berasal dari para pelaku eksportir UMKM maupun Korporasi, jumlah ini naik signifikan dibandingkan total keikutsertaan peserta pada event yang sama tahun lalu. Selama berlangsungnya gelaran, setidaknya 46 UMKM akan bergabung menjadi mitra binaan BRI dan menjajal layanan trade finance BRI.

Dalam event tersebut BRI juga secara khusus menyediakan Booth Indonesia Mall. Indonesia Mall merupakan wadah atau sarana ekspansi bagi UMKM di Indonesia dengan tujuan pengembangan bisnis lokal kreatif untuk go online. Dengan Indonesia Mall, pebisnis lokal hanya perlu mengupload produknya satu kali dan sudah bisa terkoneksi ke beberapa e-commerce baik skala lokal, regional, maupun global.

Guna mempermudah pembelian produk-produk unggulan dari Indonesia Mall, masyarakat dapat mengaksesnya melalui market placebesar di Indonesia seperti Tokopedia, blibli.com, shopee, ebay, Zalora, Lazada, bukalapak, bhinneka, dan lain lain.

“Dengan dukungan network yang luas dan tekhnologi terkini dengan platform trade finance yang memberikan kemudahan bagi eksportir, BRI siap untuk mendukung pertumbuhan transaksi ekspor Indonesia,” pungkas Listiarini.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Direktur Kepatuhan BRI Wisto Prihadi diberhentikan


ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank Rakyat Indonesia (BRI). KONTAN/Cheppy A. Muchlis

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberhentikan sementara Direktur Kepatuhannya Wisto Prihadi. Konon, ini akibat gagalnya Wisto lolos uji kelaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adapun dalam keterangannya kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (13/11) Corporate Secretary BRI Aestika Oryza alasan pemberhentian Wisto dilakukan dengan sejumlah ketentua OJK soal jabatan direksi emiten, dan uji kelaikannya:

POJK 33/2014 tentang Direksi dan Komisaris Emiten; POJK 27/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan bagi PIhak Utama Lembaga Jasa Keuangan; dan SEOJK 39/2016 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan Bagi Calon Pemegang Saham Pengendali, Alon Anggota Direksi, dan Calon Anggota Komisaris Bank. Juga Anggaran Dasar BRI

Baca Juga: Tengah hari, rupiah berotot ke level Rp 14.126 per dolar AS

“Memperhatikan peraturan dan ketentuan tersebut, diberitahukan pemberhentian sementara Wisto Prihadi dari jabatannya sebagai Direktur Kepatuhan,” tulis Aestika.

ia menambahkan pemberhentian telah dilakukan sesuai mekanisme dan prosedur yang berlaku dan berlaku efektif sejak 11 November 2020. Adapun perseroan menyatakan Direksi telah menunjuk Direktur Pengganti Direktur Kepatuhan.

Sementara sampai berita terbit BRI, dan OJK belum menjawab pertanyaan terkait dari Kontan.co.id.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Mimpi Erick Thohir! Simbiosis Mutualisme BRI, PNM & Pegadaian



Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten perbankan Pelat Merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah menjadi sorotan pelaku pasar. Bagaimana tidak sejak 5 November lalu harga saham BBRI sudah terbang 21,58% ke harga penutupan Jumat (13/11/20) kemarin di level Rp 4.000/unit

Ternyata terungkap, selain sentimen global yang sedang bagus-bagusnya yakni kabar vaksin corona dari Pfizer yang memiliki efektivitas di atas 90%, Rabu kemarin (11/11/2020) BBRI mengumumkan rencana aksi korporasi besar yang akan dilakukan.

Belum jelas memang aksi korporasi apa yang akan dilakukan oleh BBRI namun tentunya para investor sudah bisa mengendus aksi korporasi ini dari jauh-jauh hari.


Jejak aksi korporasi BBRI sudah ditinggalkan saat akhir Oktober dimana kala itu merupakan batas terakhir pengumpulan laporan keuangan Q3. BBRI mengumumkan akan mengaudit laporan keuangannya sehingga tenggat waktu pengumpulan laporan keuangan hasil audit diperpanjang.

Tanda tanya tentunya muncul di benak para pelaku pasar karena laporan keuangan kuartal ketiga tidak wajib untuk diaudit, apabila perseroan mengaudit laporan keuangan biasanya akan diadakan aksi korporasi besar-besaran.

Bahkan jejak aksi korporasi BBRI bisa ditelisik hingga awal tahun 2020. Kala itu, Menteri BUMN, Erick Thohir, selaku pemegang saham mayoritas di BRI sebagai perwakilan Pemerintah Indonesia pernah memberikan petunjuk mengenai arah pengembangan BRI ke depan.

Hal ini disampaikan Erick saat menjadi pembicara dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook pada Februari 2020. Erick mengatakan, Kementerian BUMN akan mensinergikan BRI dengan Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM).

“Kami sudah rapat dengan BRI, kami ingin memastikan Juni ini terjadi sinergi yang luar biasa dengan Pegadaian (PT Pegadaian) dan PMN(PT Permodalan Nasional Madani). Jadi jelas, tidak ada lagi overlapping kebijakan di situ, dan target market-nya jelas, ini kalau terjadi, BRI akan jadi bank luar biasa. Cepat-cepat beli sahamnya!” ujar Erick saat itu.

Belum jelas memang sinergi apa yang dimaksudkan Erick di antara ketiga BUMN tersebut, namun yang jelas dengan adanya ‘kerja sama’ di antara ketiga perusahaan tersebut akan menguntungkan ketiganya alias simbiosis mutualisme.

Dari sisi BBRI, keuntungan datang dari dukungan terhadap arah bisnis BBRI ke depan yakni go smaller yaitu memberikan kredit ke segmen ultra mikro. Dengan arah ini, maka BRI mengincar porsi pembiayaan UMKM bisa naik ke 85% dari posisi sebelumnya sekitar 80%.

Segmen ultra mikro yang masih unbankable atau tidak terjangkau layanan perbankan memang belum banyak digarap oleh BRI selama ini. Segmen ini terdiri dari bagian, termasuk productive poor yang diyakini memiliki pangsa pasar sangat besar, namun hanya sangat sedikit bank yang bermain di Indonesia.

Perlu diingat jumlah masyarakat yang memiliki rekening bank per 2019 hanyalah sebesar 49% dan tentunya angka ini akan terus turun apabila dibagi kembali menjadi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Segmen yang selama ini digarap oleh perusahaan pembiayaan non bank, seperti BUMN Pegadaian maupun Permodalan Nasional Madani (PNM) sehingga dengan bersinerginya ketiga perusahaan tersebut, gol BBRI untuk merambah pasar ultra mikro akan lebih mudah tercapai.

Dari sisi PNM dan Pegadaian keuntungan yang didapat tentu saja berupa pendanaan dan likuiditas dari Bank sekelas BBRI yang memiliki aset terbesar di Indonesia.

Sebelumnya pendanaan kedua perusahaan hanya bisa diamankan melalui penerbitan obligasi korporasi ataupun pinjaman kepada bank.

Catat saja menurut data Refinitiv saat ini Pegadaian memiliki total Outstanding Bonds senilai Rp 10,8 triliun hingga tahun 2025 dimana lebih dari setengahnya yakni Rp 5,8 triliun akan jatuh tempo tahun depan.

Apalagi ternyata jumlah ini terus meningkat dimana total nilai obligasi jatuh tempo sebelumnya selama 22 tahun terakhir ‘hanyalah’ Rp 13,42 trilun yang menunjukkan kebutuhan dana Pegadaian dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Hal yang serupa terjadi pula pada PNM dimana perseroan memiliki total Outstanding Bonds yang bahkan lebih besar yakni senilai Rp 12,37 triliun hingga tahun 2025 dimana Rp 4,1 triliun akan jatuh tempo tahun depan.

Jumlah kebutuhan PNM akan dana segar juga terus meningkat yang ditunjukkan dengan total nilai obligasi jatuh tempo sebelumnya selama 9 tahun terakhir ‘hanyalah’ Rp 6,9 triliun

Hal inilah yang tentunya menyebabkan biaya dana atau biasa lebih dikenal dengan sebutan cost of funds perusahaan membengkak dari tahun ke tahun. Tercatat biaya bunga PNM pada tahun 2019 sebesar Rp 1,59 triliun naik hampir dua kali lipat dari posisi tahun sebelumnya di angka Rp 0,99 triliun.

Dengan sinergi antara ketiga perusahaan Pelat Merah ini tentu saja nantinya Pegadaian dan PNM tidak perlu lagi mencari sumber dana segar dan kalaupun ingin menerbitkan obligasi, suku bunga obligasi nantinya bisa ditekan karena memiliki daya tawar lebih tinggi sehingga cost of funds dapat ditekan.

Jadi nantinya sinergi antara BBRI, Pegadaian, dan PNM diprediksikan benar-benar akan menguntungkan semua pihak. Bukan begitu Pak Erick ?

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link

Kode Erick Thohir, Aksi Korporasi BRI, & Raksasa Finansial



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank pelat merah dengan aset terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah menyiapkan sebuah aksi korporasi yang berkaitan dengan pengembangan bisnis UMKM, terutama di sektor ultra mikro.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan saat ini aksi korporasi tersebut tengah dipersiapkan dengan mengaudit laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada September 2020.

“Jadi audit laporan keuangan September ini hal biasa kita lakukan, tetapi memang betul dalam rangka corporate action. Nanti pada saatnya kami share, ini belum publik,” kata Haru dalam konferensi pers paparan kinerja Kuartal III-2020, Rabu (11/11/2020).


“Di tanya ke mana arahnya, kembali lagi seperti kata pak dirut [Sunarso] ini untuk pengembangan UMKM,” imbuhnya.

Seperti diketahui, BRI merupakan raksasa bisnis dalam UMKM. Porsi portofolio kredit UMKM mencapai 80,65% dari total kredit September 2020 yang mencapai Rp 935,35 triliun.

Dipimpin oleh direktur utamanya saat ini, Sunarso, rencana pengembangan BRI ke depan akan berfokus pada pembiayaan segmen ultra mikro. Dengan arah ini, maka BRI mengincar porsi pembiayaan UMKM bisa naik ke 85%.

Segmen unbankable memang belum banyak digarap oleh BRI selama ini. Segmen ini terdiri dari bagian, termasuk productive poor yang diyakini memiliki pangsa pasar sangat besar, namun hanya sangat sedikit bank yang bermain.

Di perusahaan BUMN lainnya, segmen ini telah digarap terlebih dahulu oleh perusahaan pembiayaan non bank, seperti BUMN PT Pegadaian (Persero) maupun PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari, mengatakan BRI harus menemukan sumber pertumbuhan yang baru. Untuk itu, BRI mulai masuk ke segmen ultra mikro dalam 2 bulan terakhir.

“Dalam 2 bulan kita sudah kasih ultra mikro Rp 5,5T dengan customer lebih dari 700 ribu nasabah,” jelasnya.

Rencana ini nyatanya sudah jauh-jauh hari disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir saat CNBC Indonesia Economic Outlook pada Februari 2020.

Erick yang menjadi pembicara dalam event tersebut mengatakan Kementerian BUMN akan mensinergikan BRI dengan Pegadaian dan PNM.

“Kami sudah rapat dengan BRI, kami ingin memastikan Juni ini terjadi sinergi yang luar biasa dengan Pegadaian dan PMN. Jadi jelas, tidak ada lagi overlapping kebijakan di situ, dan target market-nya jelas, ini kalau terjadi, BRI akan jadi bank luar biasa. Cepet-cepet beli sahamnya,” jelasnya.

Presiden Joko Widodo juga pernah menyampaikan hal yang sama. Dia menyebut bakal membentuk holding di sektor UMKM, sektor yang menjadi core business pembiayaan kredit BRI. Rencana ini disampaikan dalam Rakornas tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD) dan pengembangan Bank Wakaf Mikro (BWM) pada Desember 2019.

“Saya sudah melihat, [Di daerah] sudah terbentuk kelompok-kelompok usaha yang akan menjadi cluster. Saya sudah sampaikan ke Menko Perekonomian [Airlangga Hartarto] agar klaster ini dipayungi lagi oleh sebuah kayak di-holding-kan,” kata dia.

Menurut dia, ketika UMKM sudah disatukan dalam satu Holding BUMN, akan terbentuk sebuah korporasi usaha-usaha kecil dan usaha-usaha kecil bisa lebih mudah terjangkau oleh market place.

Bila kolaborasi BRI, PNM, dan Pegadaian maka ketiga bisa menjadi raksasa finansial, bukan hanya dari sisi aset, tetapi juga jaringan terluas, hingga produk terlengkap yang pernah ada di Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Konsolidasi BRI, Pegadaian, dan PNM terus dimatangkan


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konsolidasi antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) terus dimatangkan. Rencananya, melalui konsolidasi itu akan dibentuk holding pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kabarnya, terdapat dua skema yang diajukan pemegang saham untuk meleburkan dua perusahaan pelat merah itu di bawah naungan BRI. Skema pertama, BRI mengakuisisi perusahaan tersebut. Skema kedua membentuk holding

Terkait rencana itu, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Produk Pegadaian Harianto Widodo, mengakui bahwa Pegadaian mendapatkan arahan terkait akuisisi. Namun rencana tersebut masih dalam proses kajian.

“Mungkin bisa diperjelas ke BRI. Kalau kami melihatnya ini masih dalam proses kajian,” kata Harianto, Jumat (13/11).

Baca Juga: Harga emas siang ini di Pegadaian, Jumat 13 November 2020

Seiring pematangan kajian pembentukan holding, Harianto menegaskan, Pegadaian akan tetap fokus untuk mengoptimalkan layanan sesuai rencana kerja yang ada.

Pada paparan kinerja Rabu (11/11) kemarin, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo bilang proses laporan keuangan telat dipublikasikan lantaran perseroan tengah menyiapkan aksi korporasi. Sayangnya ia enggan memberi penjelasan lebih lanjut.

“Audit ini dalam rangka untuk corporate action. Nanti pada saatnya kami share ke publik,” ungkapnya.

Sebenarnya rencana pembentukan holding ini telah mengemuka sejak awal tahun. Saat itu, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa akan melakukan sinergi antara BRI, Pegadaian, dan PNM.

Ini dilakukan lantaran ketiga perusahaan pelat merah tersebut punya amanat serupa dari Kementerian BUMN untuk menyalurkan pembiayaan ke segmen UMKM terutama mikro.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

BRI Perkenalkan BRIBrain “Otak” Dibalik Kecanggihan Teknologi BRI


JawaPos.com – Bank BRI (BBRI) ikut berpartisipasi dalam perhelatan teknologi : Inovasi Indonesia Artificial Intelligence Summit 2020 (IIAIS 2020) yang diselenggarakan dari tanggal 10 hingga 13 November 2020 di Jakarta. Pameran produk inovasi berbasis kecerdasan buatan ini dilaksanakan menggunakan konsep pameran virtual, webinar series, dan poster session. Acara yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan Indonesia dalam teknologi kecerdasan buatan.

Acara yang dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo, dengan didampingi oleh Menteri Riset dan Teknologi Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza bertujuan sebagai ajang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi artificial dan menemukan inovasi-inovasi baru dalam bidang tersebut.

Pada kesempatan ini, BRI berkesempatan menunjukkan hasil inovasi dalam kecerdasan buatan. Dengan berbasis Big Data dan Artificial Intelligence (AI), BRI memperkenalkan BRIBrain, sebuat kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh BRI untuk menyimpan, memproses, dan mengkonsolidasikan segala informasi dari berbagai sumber. “BRIBrain menjadi “otak” bagi BRI dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat dan presisi untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan yang ditawarkan oleh aplikasi – aplikasi BRI, “ ungkap Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi Bank BRI Indra Utoyo.

Indra juga mengunngkapkan, bahwa kehadiran BRI dalam acara ini sebagai bentuk dukungan Bank BRI bagi perkembangan inovasi dalam bidang kecerdasan artificial yang saat ini sangat dibutuhkan dalam memudahkan berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, sejumlah pakar dan tokoh nasional seperti Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan, Data & Artificial Intelligence Specialist, Microsoft Indonesia Fiki Setiyono, dan pakar Artificial Intelligence Facebook, Yann LeCun, yang juga merupakan pionir dalam pengembangan teori Neural Network, khususnya dalam Deep Learning AI juga ikut memberikan pemaparan kepada para partisipan. Peserta virtual expo IIAIS tahun ini, terdiri dari sejumlah lembaga pemerintah, seperti KPK, Kemdikbud, Kemenperin, BPS, Kemenkominfo, Kementerian PAN-RB, dan BPPT. Selain itu, sejumlah perguruan tinggi negeri, start-up, dan berbagai asosiasi lainnya juga ikut berpartisipasi.

Kecerdasan BRIBrain sendiri merupakan sistem kecerdasan buatan yang memiliki 4 keunggulan, yakni pertama, sistem penilaian BRILink (BRILink Score). Dengan BRIBrain, penilaian kelayakan calon Agen BRILink dilakukan secara praktis dan realtime. Kedua, BRIBrain membuat proses penilaian kredit (Credit Scoring) menjadi lebih akurat. Pendekatan machine learning membuat kelayakan kredit calon debitur menjadi lebih cepat, minim resiko, sehingga persetujuan, dan pencairan pinjaman pun dapat dilakukan secara instan, dan risiko kredit macet bisa diminimalisir.

Ketiga, BRIBrain membantu BRI memetakan profil nasabah secara tepat sehingga pendekatan komunikasi dengan nasabah menjadi cepat dan akurat (Customer Profiling Score). KeempatBRIBrain membuat BRI lebih cepat menemukan potensi tindakan kejahatan perbankan, seperti penipuan atau fraud yang dapat menimpa nasabah atau perseroan (Fraud Score). BRIBrain dapat menemukan anomali dan tindak kejahatan pada transaksi dengan cepat.

Kehadiran BRIBrain akan memudahkan pengambilan keputusan bisnis dengan tingkat risiko terukur dan memberikan input informasi yang lebih luas lagi dalam proses pengelolaan bisnis yang prudent, secure, dan dapat diandalkan. Pada ujungnya, dapat meningkatkan kepecayaan nasabah dan stakeholder kepada BRI,“ tambah Indra Utoyo.

Editor : Mohamad Nur Asikin





Source link

BRI Micro & SME Index Bisa Jadi Acuan Pengembangan UMKM di RI



Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus meneguhkan komitmen untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Yang terbaru, perseroan membuat BRI Micro & SME Index (BMSI) yang telah resmi diluncurkan oleh Direktur Utama BRI Sunarso di Jakarta (12/11). Melalui BMSI, BRI hendak menghadirkan gambaran umum kondisi UMKM di Indonesia setiap kuartal.

BMSI adalah indeks pertama yang merekam kondisi UMKM secara rutin di Indonesia. Melalui indeks ini, bisa diketahui bagaimana kinerja pelaku UMKM pada kuartal tertentu, serta ekspektasi mereka dalam kurun 3 bulan ke depan.

Ekonom BRI Anton Hendranata mengatakan BMSI memegang peran penting untuk pengembangan dan penyaluran pembiayaan serta bantuan terhadap UMKM. Melalui indeks ini, bisa diketahui UMKM sektor apa saja yang tengah tumbuh positif, berpotensi terus berkembang, dan sedang mengalami kesulitan.


“Indeks ini sangat diharapkan bisa mengetahui kinerja usaha dari UMKM, dan bukan hanya mengukur kondisi sekarang, tapi juga melihat kondisi ke depannya apakah akan membaik atau memburuk. Ini sangat penting terutama buat BRI dan terutama kepentingan nasional, karena pengambil kebijakan akan dapat gambaran kondisi UMKM ke depannya, sehingga waktu mengambil kebijakan pedomannya karena indeks ini bisa jadi leading indicator mengukur aktivitas bisnis UMKM,” ujar Anton di Jakarta, Kamis (12/11).

Menurut penjelasan Anton, terdapat 8 indikator kondisi UMKM yang direkam dan ditunjukkan BMSI. Kedelapan indikator itu adalah volume produksi, total nilai jual, rata-rata penjualan, volume pesanan, volume pesanan barang input, volume persediaan barang jadi, rata-rata jumlah karyawan, dan realisasi investasi.

Indikator-indikator ini adalah dasar perhitungan BMSI, yang pada akhirnya bisa menunjukkan apakah kondisi UMKM dalam tren baik atau buruk. Skor yang digunakan dalam indeks ini adalah 0-200. Kondisi UMKM bisa dikatakan positif jika indeks menunjukkan angka di atas 100. Apabila skor kurang dari 100, maka kondisi UMKM sedang memburuk atau dalam tren negatif.

BMSI mengukur kinerja UMKM yang bergerak di 8 sektor yakni pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; pertambangan, penggalian, listrik, gas, air bersih; industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, serta jasa.

“Ke depan, BMSI akan dipublikasikan rutin setiap kuartal sebelum perhitungan GDP keluar. Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat melihat agregat indeks secara terbuka, yang didapat dari hasil survei 3.000 pelaku UMKM dari setiap sektor dan provinsi setiap kuartal. Publikasi yang dilakukan lebih cepat dibanding rilis data GDP membuat indeks ini dapat menjadi acuan pemerintah dan pelaku bisnis saat membuat kebijakan,” ujarnya.

Anton menambahkan, survei yang dilakukan untuk menyusun BMSI menggunakan metode sampling stratified systematic random sampling. Survei indeks ini memiliki tingkat margin of error kurang lebih 2 persen, dan sudah memenuhi kaidah statistik serta metodologi yang ideal.

“Pada intinya indeks ini merekam kondisi seluruh UMKM dari setiap provinsi, sektor usaha, dan pelaku usaha dari berbagai tingkatan plafon kredit. Secara statistik, penyusunan BMSI sudah sesuai kaidah dan metodologinya mirip seperti yang digunakan BPS dan BI, serta negara-negara lain,” katanya.

Berdasarkan publikasi BMSI pertama di kuartal III/2020, terlihat bahwa kondisi pelaku usaha mikro dan kecil saat ini sudah mulai bangkit. Indeks UMKM naik dari 65,5 menjadi 84,4 per September 2020. BSMI juga merekam ekspektasi pelaku UMKM yang meningkat hingga 109,3 untuk kuartal IV/2020. Peningkatan ini menandakan adanya optimisme pengusaha akan perbaikan kondisi ekonomi mulai akhir tahun ini.

“Indeks ini kami launching untuk digunakan sebagai alat ukur aktivitas bisnis UMKM, dan kami buat sebagai bentuk kepedulian BRI terhadap aktivitas UMKM Indonesia, serta menjadi leading indicator pertama di Indonesia yang mengukur aktivitas UMKM,” ujar Sunarso kemarin.

“Mayoritas UMKM di Indonesia ini kan financing dari BRI. Maka kalau kita gunakan data di BRI sebenarnya cukup representatif untuk menyimpulkan kondisi UMKM nasional. Kalau kemudian indeks menyatakan positif, maka bisa dikatakan mencerminkan bahwa UMKM yang jadi nasabah BRI kinerja keuangannya membaik,” tutup Sunarso.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Permintaan KTA perbankan mulai bergairah


ILUSTRASI. Kredit Tanpa Agunan (KTA)

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah membatasi pemasaran produk kredit tanpa agunan (KTA) saat puncak pandemi virus corona (Covid-19) beberapa waktu lalu, kini sejumlah perbankan mulai berani bergerak. Selain karena pandemi Covid-19 yang mereda, ternyata permintaan terhadap KTA juga mulai tumbuh perlahan, lantaran bank juga masih sangat selektif menyalurkan produk ini.

“Permintaan sudah mulai ada, terutama dari nasabah existing, namun memang belum sebanyak sebelum pandemi, sehingga pertumbuhan keseluruhan masih negatif,” kata DIrektur Bisnis Konsumer PT Bank CIMB NIaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan kepada Rabu (11/11).

Segmen KTA juga sejatinya menjadi pemberat pertumbuhan kredit yang tercatat masih tumbuh 4,1% (yoy) menjadi Rp 54,82 triliun sampai akhir September 2020. Diperinci, KPR, dan KKB jadi penopang pertumbahan masing-masing7,9% (yoy), dan 7,0% (yoy). Sedangkan KTA negatif 10,2% (yoy), dan kartu kredit 4,4% (yoy).

Adapun sampai September 2020, portofolio KTA Bank CIMB Niaga tercatat senilai Rp 3,88 triliun. 

Baca Juga: CIMB Niaga (BNGA) bukukan laba Rp 1,9 triliun pada kuartal III 2020

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sejak April 2020 menghentikan pemasaran produk KTA kini juga mulai kembali dibuka secara terbatas. Hanya kepada nasabah yang merupakan pegawai dengan fasilitas penggajian (payroll) via BCA. 

Sampai September 2020 portofolio BCA di segmen ini mencapai Rp 2,84 trilin. Meski secara tahunan masih negatif 3,3% (yoy), namun dibandingkan kuartal sebelumnya sudah mulai terlihat pertumbuhan 3,0% (qtq).

“Kami mencermati, di tengah tantangan pandemi yang dinamis, permintaan kredit juga masih dalam tahap pemulihan,” ujar Direktur BCA Santoso Liem kepada Kontan.co.id. 

Sementara di bank pelat merah pertumbuhan KTA justru relatif masih baik. Maklum mereka biasa memasarkan produk ini kepada pegawai-pegawai perusahaan pelat merah pula. 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya sampai kuartal III-2020 portofolio KTA mencapai Rp 29,05 triliun dengan pertumbuhan 12,8% (yoy). Segmen ini menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer perseroan yang tumbuh 4,5% (yoy) menjadi Rp 87,41 triliun. 

“Produk payroll loan kami BNI Fleksi menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer (tanpa kartu kredit) yang tumbuh 8% (yoy). Ini telah melampaui target pertumbuhan kami sebesar 4%,” kata Direktur Konsumer BNI Corina Leyla kepada KONTAN. 

Ia menambahkan pemasaran BNI Fleksi memang difokuskan kepada para ASN, dan pegawai BUMN yang memiliki tingkat pensiun maupun pergantian pegawai yang rendah. Pun sasarannya kepada para pegawai level menengah atas.

Baca Juga: Kredit seret, bank pilih taruh dana di obligasi

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani pun setali tiga uang. Sampai akhir September KTA perseroan masih tumbuh 1,5% (yoy) menjadi Rp 101,0 triliun. Sekaligus menjadi penyumbang terbesar kredit konsumer perseroan Rp 142,5 triliun yang tumbuh 3,4% (yoy).

Selain secara konvensional, personal loan BRI via platform digital juga mencatat pertumbuhan yang baik sampai kuartal III-2020. Platform Ceria misalnya kini telah digunakan 10.414 nasabah dan memiliki portofolio Rp 20,1 miliar dengan sales volume Rp 52 miliar.

Sementara kerja sama BRI dengan Traveloka melaluia Traveloka Paylater kini telah digunakan 35.174 pengguna dengan portofolio Rp 211,3 miliar dan sales volume R 366,5 miliar. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link