fbpx

Tokopedia Hingga Buka Lapak Dikenakan Pajak 10 Persen Mulai 1 Desember


JawaPos.com – Direktur Jenderal Pajak telah menunjuk sepuluh perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai atas barang dan jasa digital yang dijual.

Perusahaan tersebut diantaranya, Cleverbridge AG Corporation, Hewlett-Packard Enterprise USA, Softlayer Dutch Holdings B.V. (IBM), PT Bukalapak.com, PT Ecart Webportal Indonesia (Lazada), PT Fashion Eservices Indonesia (Zalora), PT Tokopedia, PT Global Digital Niaga (Blibli.com), Valve Corporation (Steam), dan beIN Sports Asia Pte Limited.

Dengan penunjukan ini maka sejak 1 Desember 2020, para pelaku usaha tersebut akan mulai memungut PPN atas produk dan layanan digital yang mereka jual kepada konsumen di Indonesia. Adapun jumlah PPN yang harus dibayar pelanggan adalah 10 persen dari harga sebelum pajak, dan harus dicantumkan pada kuitansi atau invoice yang diterbitkan penjual sebagai bukti pungut PPN.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan, DJP terus mengidentifikasi dan aktif menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan lain yang menjual produk digital luar negeri ke Indonesia untuk melakukan sosialisasi dan mengetahui kesiapan mereka.

Sehingga diharapkan dalam waktu dekat jumlah pelaku usaha yang ditunjuk sebagai Pemungut PPN produk digital akan terus bertambah. “Jumlah total yang ditunjuk sebagai Pemungut PPN hingga hari ini berjumlah 46 badan usaha,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/11).

Khusus untuk marketplace yang merupakan Wajib Pajak dalam negeri yang ditunjuk sebagai pemungut, maka pemungutan PPN hanya dilakukan atas penjualan barang dan jasa digital oleh penjual luar negeri yang menjual melalui marketplace tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri





Source link

Hari Belanja Online 11.11, Ini 3 Barang Terlaris di Bukalapak


TEMPO.CO, Jakarta – Vice President of Marketing Bukalapak Erick Wicaksono mencatat tiga kategori produk  yang paling banyak diburu oleh pelanggan pada hari belanja online 11.11.  Ia mengatakan ketiga produk itu adalah barang-barang hobi dan koleksi, perlengkapan rumah tangga, serta telepon seluler.

“Apabila dibandingkan dengan promo November tahun 2019, minat para pelanggan tidak banyak mengalami perubahan,” katanya saat dihubungi pada Rabu, 11 November 2020.

Bukalapak menggelar kampanye bertajuk Bukalapak 11.11 yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 18 November 2020. Dalam pogram hari belanja ini, Bukalapak menyediakan diskon 90 persen untuk produk tertentu, flash deal atau diskon cepat, promo sembako, serta gratis ongkos kirim.

Khusus pada periode 11-12 November, Bukalapak membagikan cashback atau pengembalian hingga Rp 2,5 juta untuk konsumen. Gross merchandise value atau GMV Bukalapak diklaim meningkat 100 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Erick mengatakan pandemi Covid-19 telah mendorong kenaikan tren belanja online yang cukup signifikan. “Karena itu, Bukalapak berkomitmen untuk mengembangkan inovasi di berbagai fitur dan program untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ucapnya.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi memiliki pandangan berbeda. Ia mengatakan perusahaan penyedia platform belanja daring justru perlu mewaspadai turunnya transaksi karena daya beli masyarakat sedang anjlok.

“Konsumsi dipastikan melemah setelah pengumuman resmi resesi. Kalau disampaikan bahwa kebangkitan ekonomi berlangsung, itu kan hanya menenangkan kita bahwa sebenarnya resesi memang baru dimulai,” ujar Heru.

Sementara itu, ekonom dari Institute for Development of Economics (Indef), Bhima Yudistira, berpandangan hari belanja 11.11 hanya akan mendorong konsumsi belanja di level masyarakat kelas menengah dan atas. Seperti menyitir data Wearsocial, pertumbuhan e-commerce memang meningkat 31 persen selama pandemi.

Namun peningkatan konsumsi ditengarai tak terjadi di masyarakat lapis menengah ke bawah. Masalahnya, masyarakat di kelompok ini masih mengkonsentrasikan belanjanya untuk kebutuhan pokok yang dibeli dari pasar tradisional, supermarket, atau minimarket.

Kondisi tersebut tercermin dari data kontribusi e-commerce terhadap total belanja retail yang hanya menambah peningkatan sebesar 5 persen. “Kelas menengah ke bawah daya belinya masih rendah sehingga kemampuan membeli barang secara online tak setinggi tahun lalu,” katanya.

Baca: Di Tengah Pandemi Covid-19, Bukalapak Catat Rekor Kenaikan Transaksi





Source link