fbpx

Menagih janji bankir menurunkan suku bunga kredit


ILUSTRASI. Workers leave Bank Indonesia headquarters in Jakarta, Indonesia, September 2, 2020. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) rajin memberi stimulus lewat pemangkasan suku bunga di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Terakhir bunga acuan diturunkan 25 basis point (bps) pada 19 November 2020 ke level 3,75%. Sehingga BI rate sudah dipotong 1,25% sepanjang tahun ini. 

Namun, perbankan masih tetap pelit turunkan suku bunga kreditnya. Lihat saja dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata bunga kredit di semua segmen per Agustus masih turun tipis.  Bunga kredit konsumsi hanya turun 0,04% secara year on year (YoY) ke level 11%, segmen Kredit Modal Kerja (KMK) turun 0,09% ke level  9,4%  dan investasi turun 0,1% ke 9,16%.

Data yang dihimpun Ceicdata juga menunjukkan bahwa bunga kredit perbankan di Indonesia masih tinggi.  Per September 2020 akhir, rata-rata bank prime lending rate di Indonesia sebesar 9,37%, tertinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Sementara Suku  Bunga Dasar Kredit (SBDK)  di Malaysia per Agustus hanya tercatat  3,64%, Singapura 3,64% per Oktober  dan Thailand 5,41% akhir September 2020. 

Padahal tren biaya dana (cost of fund/CoF) sudah cenderung melandai karena likuiditas di tengah longgar di tengah perlambatan kredit dan ditambah dengan penurunan bunga acuan. CoF BNI misalnya turun jadi 2,9% per September 2020 dari 3,2% pada periode yang sama tahun lalu. Bank Mandiri juga mencatat penurunan CoF 15 bps menjadi 2,72%. Begitupula dengan BCA, berhasil turunkan CoF ke level 1,4%-1,5% sehingga laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) perseroan pada kuartal III masih tumbuh 13,5%.

Baca Juga: Suku bunga turun 125 bps tahun ini, perhatikan rekomendasi saham perbankan berikut

Sementara Bank Mandiri mengaku sudah menurunkan SBDK di semua segmen sejak awal tahun sekitar 10bps-600 bps. Per Oktober 2020, SBDK segmen korporasi sebesar 9,85%, segmen ritel sebesar 9,80%, segmen mikro 11,50%, segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 10,00% dan segmen konsumtif non KPR sebesar 11,60%. 

“Segmen konsumtif telah diturunkan untuk ketiga kalinya seiring penurunan biaya dana. Sampai dengan September 2020, CoF Bank Mandiri terus menunjukkan tren penurunan mencapai 2,72% per September,” kata Rudi AS Aturridha, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri pada KONTAN, Minggu (22/11).  Bank Mandiri berjanji akan terus mengkaji untuk melihat peluang penurunan SBDK lebih lanjut dengan tetap memperhatikan suku bunga pesaing dan tingkat efisiensi bank. 

BCA juga mengaku sudah turunkan bunga kredit di kisaran 115 -150 bps.  “Sepanjang 2020, BCA telah melakukan penyesuaian bunga kredit kepada nasabah sejalan dengan pergerakan bunga acuan. Kami juga akan terus mencermati perkembangannya guna menentukan suku bunga yang kompetitif,” ungkap EVP Corproate and Secretariat BCA Hera F Haryn. 

Baca Juga: Menimbang prospek saham perbankan usai pemangkasan suku bunga acuan

Di segmen segmen konsumer yakni KPR, bank lebih fokus memberikan bunga promo untuk penyaluran kredit baru saja. Sedangkan bunga floating atau mengambang sebagian besar bank tidak banyak berubah. Hanya Bank Mandiri yang tercatat menurunkan bunga floating KPR yakni dari 12,5% akhir 2019 jadi 11% saat ini. 

BCA baru menurunkan bunga floating KPR 0,5% dari akhir 2019 ke level 11%. Executive Vice President of Consumer Loan Division BCA Felicia M. Simon mengatakan, pihaknya belum berencana menurunkan lagi bunga floating tahun ini. Adapun bunga floating KPR CIMB Niaga saat ini ada di kisaran 11%-12% dan BRI sekitar 13%-14%.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

BI minta perbankan turunkan bunga kredit, begini kata bankir


ILUSTRASI. ATM sejumlah perbankan

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG)  bulan November 2020. 

Dengan tren suku bunga yang rendah ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengharapkan agar perbankan segera menurunkan suku bunga kreditnya. 

“Kami tidak segan-segannya mengharapkan agar perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Sehingga ini bisa mendorong pemulihan ekonomi. Dan kami ingin sampaikan bahwa perbaikan ekonomi berlanjut,” ujar Perry, Kamis (19/11). 

Menurut bank sentral, penyebab utama masih belum menyusutnya bunga kredit diakibatkan oleh persepsi risiko kredit oleh perbankan. Wajar, perbankan memang menilai selama pandemi potensi risiko kredit gagal bayar bakal meninggi. 

Apalagi di masa seperti sekarang, perbankan memang disibukkan dengan penerapan program restrukturisasi kredit. Tentu hal ini membuat bank tidak bisa seketika menginjak gas untuk ekspansi kredit. Sebab, ada banyak pencadangan yang perlu disisihkan bank untuk menghindari risiko melonjaknya kredit bermasalah. 

Baca Juga: BI: Arus modal asing mulai masuk, nilai tukar rupiah menguat 1,74%

Menanggapi hal itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja secara singkat mengatakan, sebenarnya keputusan bank sentral ini sudah diramal. “Sudah diperkirakan,” kata dia. 

Ini artinya, perbankan dalam beberapa periode ke depan bakal merespon kebijakan tersebut. Namun, Jahja tidak menyebut seperti apa tren bunga kredit ke depan. 

Agak berbeda, Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) Daniel Budirahayu memandang, keputusan BI untuk memangkas bunga acuan sebenarnya di luar ekspektasi pasar, termasuk industri perbankan. 

Meski begitu, ada banyak sinyal positif yang bisa diraih dengan adanya penurunan bunga acuan. Antara lain sinyal positif bagi industri untuk mendorong investasi termasuk meningkatkan konsumsi belanja (consumer spending). 

Akan tetapi, Daniel memandang hal itu tidak serta-merta akan membuat suku bunga kredit bank segera turun. Sebab, dalam praktiknya tiap bank memiliki kebijakan tersendiri terkait bunga kredit. 

Pun, penurunan bunga kredit juga sangat bergantung pada tingkat biaya dana atau cost of fund (CoF) setiap bank. “Karena walaupun bunga acuan BI turun, tidak bisa semerta-merta bank langsung turunkan suku bunga apalagi untuk BUKU I dan II,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (19/11) malam. 

Daniel bilang, bank kecil seperti Bank Ina perdana tentu memiliki durasi transmisi penurunan bunga kredit lebih lama dibandingkan bank besar. Lantaran, bank besar terutama di BUKU IV pastinya punya CoF yang rendah, praktis menjadi lebih leluasa dalam mengatur tingkat suku bunga. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Bunga kredit di Indonesia paling tinggi dibanding negara tetangga, ini penyebabnya


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Walau bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah berangsur turun, ditambah tren biaya dana (cost of fund/CoF) yang melandai, tingkat bunga kredit perbankan di Indonesia masih terbilang tinggi. 

Merujuk pada data yang dihimpun Ceicdata misalnya, per September 2020 akhir, rata-rata bank prime lending rate di Indonesia sebesar 9,37%. 

Angka itu sebenarnya turun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yaitu 9,38%. Menandakan kalau laju bunga kredit saat ini memang terus melandai. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia bisa jadi punya tingkat bunga kredit yang paling tinggi. 

Ambil contoh, prime lending rate Malaysia per Agustus 2020 lalu sebesar 3,64%. Lalu ada Singapura yang per Oktober 2020 sebesar 3,64% kemudian Thailand 5,41% akhir September 2020 lalu. 

Menurut beberapa ekonom yang dihubungi Kontan.co.id, ada banyak faktor yang membuat tingkat bunga kredit di Tanah Air terbilang tinggi. 

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, salah satu pengaruhnya adalah masih tingginya beban operasional dan pendapatan operasional (BOPO) di Indonesia yang secara relatif masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. 

Baca Juga: Biaya operasional (BOPO) kembali menanjak, begini strategi perbankan

“Tingginya BOPO di Indonesia diartikan sebagai masih belum efisiennya perbankan di Indonesia, sehingga bank masih harus menetapkan suku bunga tinggi untuk mengompensasi tingginya biaya operasional,” kata Josua, Senin (9/11). 

Di sisi lain, kata Josua, masih tingginya suku bunga BI tidak dapat terhindarkan seiring dengan masih dibutuhkannya dana aliran asing ke Indonesia untuk membantu stabilitas nilai tukar rupiah. 

Sebagai informasi saja, saat ini suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (7DRR) ada pada posisi stabil 4% sejak pertengahan Juli 2020. 

Tapi kabar baiknya, tren BOPO perbankan saat ini terus melandai, dan membantu mendukung penurunan suku bunga kredit. Ini artinya, tren penurunan suku bunga kredit menurut Josua bakalan terus berlanjut. 

“Dibutuhkan peningkatan efisiensi perbankan sebagai salah satu motor pendorong penurunan suku bunga lebih rendah lagi,” terangnya.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Permintaan seret, kredit konsumer hanya tumbuh 0,75% per September 2020


ILUSTRASI. Laju pertumbuhan kredit konsumer perbankan mulai melambat.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laju pertumbuhan kredit konsumer perbankan mulai melambat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per September 2020 realisasi kredit konsumsi baru tumbuh sebesar 0,75% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.538,2 triliun. Bila dirinci secara year to date (ytd) posisi tersebut turun sekitar 1,35%. 

Meski begitu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh menjelaskan pada akhir September 2020 sebenarnya pertumbuhan kredit mulai beranjak secara bulanan atau month on month (mom). Kredit konsumer tercatat sudah naik 0,55% secara bulanan. Walau tipis, pertumbuhan itu menandakan tren perbaikan kredit mulai terlihat. 

Di sisi lain, Wimboh juga memaparkan bahwa per September 2020 secara total kredit memang lambat, dengan pertumbuhan hanya sebesar 0,12% yoy. Meski begitu secara bulanan sudah naik 0,16% mom.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengamini ada potensi kenaikan kredit di kuartal IV 2020. “Dengan didukung berbagai kebijakan dari Bank Indonesia (BI), OJK dan pemerintah diharapkan bisa menumbuhkan permintaan kredit dan kita harapkan pertumbuhan bulanan ini terus berlanjut,” kata Heru dalam video conference, Senin (2/11). 

Baca Juga: Walau kredit melambat, OJK sebut stabilitas sistem keuangan terjaga

Sementara itu, beberapa bank yang dihubungi Kontan.co.id mengamini kalau jumlah permintaan kredit konsumsi belum terlalu deras akibat masih terdampaknya daya beli masyarakat. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya yang mencatatkan kredit konsumer turun 9,4% secara year on year (yoy) menjadi Rp 141,66 triliun per September 2020.

Kalau diperinci, perlambatan itu terjadi di seluruh jenis kredit konsumer. Terbesar antara lain kredit kendaraan bermotor (KKB) yang menurun 19,3% yoy dari Rp 47,82 triliun di September 2019 menjadi Rp 38,57 triliun. Disusul oleh tren transaksi kartu kredit yang melambat, juga membuat realisasi bisnis kartu kredit BCA turun 18,5% yoy menjadi Rp 10,92 triliun. 

Hanya kredit pemilikan rumah (KPR) BCA saja yang mencatat penurunan single digit sebesar 3,1% per akhir kuartal III 2020 lalu. Direktur BCA Santoso Liem menilai hal tersebut masih dalam batas wajar, mengingat di tengah pandemi Covid-19 permintaan kredit di sektor perbankan memang masih dalam proses pemulihan. “Sejalan dengan berlanjutnya pandemi yang membatasi mobilitas dan mempengaruhi iklim bisnis,” kata Santoso, Senin (2/11). 

Baca Juga: OJK: Restrukturisasi kredit sudah tembus Rp 914,65 triliun per 5 Oktober 2020

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link