fbpx

2020, Tahun Kebangkitan Investor Domestik Ritel RI



Jakarta, CNBC Indonesia- Bursa Efek Indonesia mencatatkan pertumbuhan investor baru di bursa yang signifikan, dimana ada penambahan lebih dari 1 juta Single Investor Identification (SID) saham, reksa dana dan obligasi sehingga total investor sudah mencapai 3,5 juta.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Hasan Fawzi juga menyebutkan adanya peningkatan aktivitas transaksi terutama dari kelompok domestik ritel, dimana tercatat setidaknya ada 253 ribu investor yang aktif bertransaksi setiap bulannya dan untuk hariannya mencapai 78 ribu/hari atau meningkat 43% (yoy).

Seperti apa catatan BEI terhadap pertumbuhan investasi di pasar modal? Selengkapnya simak dialog Aline Wiratmaja dengan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Hasan Fawzi dalam Power Lunch,CNBCIndonesia (Jum’at, 20/11/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini




Source link

Wow! Outstanding Obligasi Diramal Tembus Rp 4.432 T di 2021


Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) memprediksi outstanding (nilai yang masih tercatat dan diperdagangkan) obligasi baik konvensional maupun syariah, termasuk milik negara (surat berharga negara/SBN) maupun surat utang korporasi bisa menembus Rp 4.432 triliun pada 2021.

Estimasi jumlah tersebut terdiri dari Rp 3.890 triliun untuk SBN dan Rp 542 triliun untuk obligasi korporasi.

Adapun pada 2024, nilai outstanding bisa ditaksir tembus Rp 7.317 triliun, terdiri dari Rp 6.536 triliun untuk SBN dan Rp 780 triliun untuk korporasi.


Mengacu data BEI yang dikompilasi dari DJPPR Kementerian Keuangan dan KSEI, outstanding obligasi per September 2020 sudah menembus Rp 3.881 triliun, terdiri dari SBN Rp 3.461 triliun dan korporasi Rp 419 triliun.


Proyeksi Outstanding Bond, BEIFoto: Proyeksi Outstanding Bond, BEI
Proyeksi Outstanding Bond, BEI

Nilai tersebut naik dari akhir tahun lalu Rp 3.178 triliun, terdiri dari Rp 2.753 triliun untuk SBN dan Rp 425 triliun untuk korporasi.

“Kami lihat outstanding EBUS [efek bersifat utang dan sukuk] nilainya sudah tercatat Rp 3.881 triliun di September, ada kenaikan sejak 2012 dan cukup stabil,” kata Laksono Widodo, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, dalam webinar softlauching Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), Senin (9/11/2020).


Proyeksi Outstanding Bond, BEIFoto: Proyeksi Outstanding Bond, BEI
Proyeksi Outstanding Bond, BEI

Adapun nilai transaksi EBUS per September sudah menembus Rp 40 triliun, terdiri dari Rp 38,59 triliun untuk SBN dan Rp 1,43 triliun untuk obligasi korporasi.

Sementara target BEI yang disusun sebelum adanya pandemi Covid-19, nilai transaksi EBUS diramal mencapai Rp 33,1 terdiri dari Rp 31,32 triliun untuk SBN, dan Rp 1,77 triliun, sehingga per September sebetulnya nilai transaksi harian sudah melebihi target.

Tahun lalu transaksi EBUS hanya Rp 29,23 triliun, terdiri dari Rp 27,66 triliun untuk SBN, dan Rp 1,57 triliun untuk korporasi,” kata Laksono.

“Kita bicara obligasi, angkanya trading biasanya berlipat-lipat dibanding ekuiti [saham],” jelas Managing Director-Capital Markets di PT Mandiri Sekuritas periode 2011-2018 ini.

Transaksi SPPA

Dalam kesempatan itu, BEI juga menargetkan transaksi EBUS di pasar sekunder melalui Electronic Trading Platform (ETP) yang baru yakni Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif atau SPPA pada tahun depan bisa mencapai Rp 1-1,2 triliun.

Besaran target transaksi harian di tahun 2021 tersebut sekitar 3% dari total transaksi harian EBUS yang ditaksir mencapai Rp 36 triliun.

Mengacu data BEI, target transaksi EBUS tahun ini dibidik Rp 33,10 triliun, terdiri dari Rp 31,32 triliun untuk transaksi harian SBN (surat berharga negara, termasuk syariah) dan Rp 1,77 triliun untuk transaksi harian obligasi korporasi (termasuk sukuk korporasi).

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan SPPA ini adalah pengembangan dari ETP tahap pertama yang sebetulnya masih sangat sederhana dan memiliki fasilitas yang terbatas.

Untuk pengembangan ini, BEI menggandeng penyedia solusi perdagangan surat utang global, Axe Trading yang berbasis di Eropa, untuk mengembangkan SPPA.

ETP tahap pertama sebetulnya sudah berjalan pada 2016 tetapi kurang mendapat perhatian pelaku pasar.

“Sejak 2016, sampai saat ini belum ada transaksi di ETP tahap pertama,” kata Hasan, dalam webinar softlauching SPPA ini.

Adapun bersamaan dengan softlaunching SPPA pada hari pertama di Senin ini, sudah ada 22 transaksi dengan nilai mencapai Rp 300 miliar dengan melibatkan setidaknya 20 partisipan.

Beberapa yang melakukan transaksi EBUS pada hari ini di antaranya Bank Mandiri, Bank BCA, ANZ, JP Morgan, DBS, Bank Permata, Maybank, Bank Panin, hingga perusahaan sekuritas anggota bursa (AB) yakni Korea Investment & Sekuritas Indonesia.

“Tahun depan target Rp 1 triliun sampai Rp 1,2 triliun, secara rata-rata harian, itu kurang lebih 3 persen dari total transaksi harian EBUS yang kami prediksi, semoga bisa lebih, kami konservatif dulu [targetnya],” kata Laksono.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)




Source link

Trump Bakal Kalah! Saham-saham Kelas Kakap Ini Diborong Asing



Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 3,04% di level 5.260,33 pada perdagangan Kamis sore ini (5/11/2020) di tengah sentimen pengumuman RI masuk resesi dan pemilihan presiden Amerika Serikat (Pilpres AS).

Untuk pertama kalinya pekan ini, asing akhirnya mencatatkan net buy atau beli bersih sebesar Rp 929,31 miliar di pasar reguler, sementara di pasar nego dan tunai terjadi jual bersih (net sell) Rp 241,50 miliar.

Data BEI menunjukkan, nilai transaksi mencapai Rp 9,64 triliun dengan 320 saham menguat, 140 saham melorot, dan sisanya 150 saham stagnan.


Berdasarkan data BEI, ada sejumlah saham yang mencatatkan penguatan dan jumlah net buy asing cukup besar, sebagian besar berasal dari emiten-emiten perbankan dengan kapitalisasi besar.

Top Foreign Buy 5 November 2020

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), net buy Rp 492,8 miliar, saham naik 5,67% di Rp 30.750

2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Rp 257,4 miliar, saham naik 6,08% Rp 3.490

3. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Rp 46,9 miliar, saham naik 1,28% Rp 7.900

4. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Rp 45,6 miliar, saham naik 4,30% Rp 1.940

5. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Rp 27,3 miliar, saham melesat 9,04% Rp 9.950

Adapun kapitalisasi pasar BBCA dan BBRI yang mencatatkan net buy terbesar hari ini yakni masing-masing Rp 751,14 triliun dan Rp 430,48 triliun. BCA masih menjadi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

Bank Central Asia sudah melaporkan perolehan laba pada kuartal III-2020 atau 9 bulan tahun ini yang turun 4,2% menjadi Rp 20,04 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu BCA membukukan laba bersih Rp 20,9 triliun.

Sementara itu, kapitalisasi pasar UNVR mencapai Rp 301,39 triliun, lalu MDKA Rp 42,48 triliun, dan SMGR Rp 59,02 triliun.

Penguatan IHSG sudah tampak pada penutupan sesi I ketika indeks acuan utama pasar saham RI ini juga menguat tajam 1,85% ke 5.199,691. Sebelumnya, IHSG bahkan menyentuh level 5.217,19 atau melesat 2,19%.

Hasil sementara pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan keunggulan calon Partai Demokrat, Joseph ‘Joe’ Biden dari lawannya petahana Partai Republik, Donald Trump, memberikan tenaga bagi IHSG untuk menguat.

Berdasarkan data dari NBC News, hingga siang ini, Biden memperoleh 253 electoral vote, artinya masih butuh 17 electoral vote lagi untuk memenangi pilpres. Sementara itu Trump sampai saat ini memenangi 214 electoral vote. Untuk memenangi pilpres diperlukan 270 electoral vote.

Tim Riset CNBC Indonesia menilai, kemenangan Joe Biden akan berdampak positif bagi negara-negara emerging market, sebab perang dagang AS-dengan China kemungkinan akan berakhir.

Selain itu Biden juga berencana menaikkan pajak korporasi serta stimulus fiskal yang lebih besar, sehingga ada potensi capital inflow ke negara emerging market seperti Indonesia.

Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 3,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Ini menjadi kontraksi kedua setelah kuartal sebelumnya output ekonomi tumbuh negatif 5,32% YoY. Republik Indonesia (RI) sah masuk jurang resesi untuk kali pertama sejak 1999.

Realisasi ini lebih dalam dibandingkan estimasi pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekonomi tumbuh -3,13% YoY sementara konsensus Reuters berada di -3% YoY.

“Perekonomian di berbagai negara pada triwulan III lebih baik dibandingkan dengan triwulan II. Namun masih ada kendala karena tingginya kasus Covid-19. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam triwulan-triwulan mendatang. Perekonomian beberapa negara mitra dagang Indonesia pada triwulan III masih terkontraksi, tetapi tidak sedalam triwulan II,” papar Suhariyanto, Kepala BPS.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), BPS melaporkan PDB Indonesia mampu tumbuh positif 5,05% pada kuartal III-2020. Namun pertumbuhan ekonomi secara kumulatif Januari-September 2020 (cummulative-to-cummulative/CtC) adalah -2,03%.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)




Source link

Ini Deretan Saham Paling Cuan & Paling Rugi dalam Sepekan

Ini Deretan Saham Paling Cuan & Paling Rugi dalam Sepekan


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini ditutup terkoreksi 2,24% di level 4.945,79. Kenaikan IHSG pada akhir pekan tidak mampu menyelamatkan IHSG dari koreksi selama 4 hari beruntun pada pekan ini.

Simak infografis berikut ini untuk pergerakan top gainers dan top loser selama sepekan :




Source link

Pandemi Menghantam, Emiten Tetap Antre IPO Saham

Pandemi Menghantam, Emiten Tetap Antre IPO Saham


Jakarta, CNBC Indonesia- Sejak pandemi melanda tentu membuat perusahaan-perusahaan membutuhkan pendanaan baru untuk melonggarkan likuiditas perusahaan. Salah satu caranya dengan cara IPO atau Initial Public Offering atau menghimpun dana baru. Calon-calon emiten juga tidak segan-segan melakukan IPO di tengah kondisi pandemi.

Simak informasi selengkapnya di program Closing Bell CNBC Indonesia (Senin, 07/09/2020) berikut ini

 




Source link

Disuspensi 2 Tahun, Besok Saham AISA Diperdagangkan Lagi

Disuspensi 2 Tahun, Besok Saham AISA Diperdagangkan Lagi


Jakarta, CNBC Indonesia – Para investor pasar modal Indonesia sedang ramai membicarakan soal surat keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) soal pencabutan suspensi atau perdagangan sementara saham PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA). Benarkah?

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa mulai 31 Agustus 2020, BEI memutuskan untuk mencabut suspensi sementara perdagangan efek di seluruh pasar sesi I perdagangan efek.

Lantas benarkah informasi ini? CNBC Indonesia mencoba mengkonfirmasi ini kepada Sekretaris Perusahaan Tig Pilar Michael Hadilaya dan ia membenarkan surat tersebut. “Benar,” ujarnya singkat kepada CNBC Indonesia melalui layanan perpesanan WhatsApp, Minggu (30/8/2020).


Informasi saja, BEI melakukan suspensi terhadap saham AISA sejak Juli 2018. Suspensi ini terkait dengan gagal bayar bunga obligasi dan sukuk ijarah PTS Food yang diterbitkan 2003.

Agar suspensi saham ini dibuka kembali, Tiga Pilar memenuhi dua permintaan BEI. Yakni, melakukan publik ekspose insidentil terkait kondisi keuangan dan operasional perusahaan serta menyampaikan laporan harga wajar saham perusahaan yang dilakukan oleh tim independen yang terdaftar di OJK.

Menurut penilaian kantor jasa penilaian publik Suwendho Rinaldy & rekan, nilai pasar wajar saham AISA pada 31 Desember 2019 adalah Rp 558,68 miliar atau setara dengan Rp 173,58 per lembar saham.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)




Source link