fbpx

Dorong bisnis di tengah pandemi, CIMB Niaga fokuskan pengembangan digital


ILUSTRASI. Nasabah sedang melakukan transfer uang menggunakan OCTO Mobile (layanan mobile banking dari CIMB Niaga) di sela kegiatan olahraga. KONTAN/Carolus Agus Waluyo/27/08/2020.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah kondisi perekonomian yang masih menantang, PT Bank CIMB Niaga Tbk mempertahankan posisi sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset, dengan total aset mencapai Rp 281,7 triliun per 30 September 2020. 

Adapun laba bersih konsolidasi (unaudited) pada periode ini mencapai Rp 1,9 triliun dan menghasilkan earnings per share sebesar Rp 74,79.

“Kami berkomitmen terus mendukung karyawan, nasabah, dan masyarakat untuk menghadapi kondisi ini secara bersama-sama. Prioritas kami saat ini adalah meminimalisir dampak yang kurang baik bagi nasabah, dan senantiasa membantu pemulihan bisnis secara keseluruhan melalui program bantuan dan dukungan likuiditas tambahan,” kata Lee Kai Kwong di Jakarta, Rabu (18/11).

Baca Juga: Bank BTPN gelar RUPSLB, ini hasilnya

Lee Kai Kwong menjelaskan, likuiditas, kualitas aset, dan manajemen biaya tetap menjadi fokus utama CIMB Niaga. Penyaluran kredit dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian secara ketat untuk memastikan tingkat modal dan biaya pencadangan yang baik dalam mengantisipasi tantangan perekonomian ke depan.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2020, perseroan telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 211,9 triliun dengan rasio CASA sebesar 60,31%. Adapun Giro dan Tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 35,6% year on year (yoy) dan 16,6% yoy. Hal ini sejalan dengan komitmen Bank untuk mengembangkan layanan digital dan meningkatkan customer experience.

Adapun jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp 180,9 triliun, utamanya dikontribusikan oleh bisnis consumer banking yang tumbuh 4,1% yoy. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) CIMB Niaga tumbuh 7,9% yoy, sementara Kredit Pemilikan Mobil (KPM) meningkat sebesar 7% yoy.

“Untuk meningkatkan customer experience, kami terus memperkuat platform digital banking OCTO Mobile, dengan mengusung tagline baru ‘Banyak Bisanya, Bisa Semaunya’,” kata dia.

Baca Juga: Ada lagi nasabah yang melaporkan kehilangan uangnya, begini respons Maybank

“Dirancang layaknya Super App, OCTO Mobile menjadi one stop mobile financial solution yang dapat memenuhi kebutuhan finansial nasabah kini dan nanti pada setiap fase kehidupan. OCTO Mobile juga disiapkan sebagai aplikasi yang bisa melayani dan disesuaikan dengan preferensi nasabah,” ujar Lee Kai Kwong.

Pada segmen perbankan Syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga (CIMB Niaga Syariah) berhasil mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia, dengan total pembiayaan mencapai Rp 32,6 triliun (4,7% yoy) dan DPK sebesar Rp 35,1 triliun (32% yoy) per 30 September 2020.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Gesekan kartu kredit belum kencang, perbankan cermati potensi NPL


ILUSTRASI. Kartu kredit

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren transaksi kartu kredit masih mencatat perlambatan di tengah pandemi Covid-19. Merujuk data Bank Indonesia (BI) realisasi kartu kredit sejak Januari hingga September 2020 tercatat sebesar Rp 180,6 triliun. 

Walau terlihat besar, posisi itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi di akhir 2019 yang menyentuh Rp 342,68 triliun. 

Bukan hanya transaksi yang melambat, pandemi juga membuat risiko non performing loan (NPL) pada bisnis kartu kredit meningkat. Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id pun mengamini hal tersebut. 

Baca Juga: Ingin taruh dana di deposito? Perhatikan dulu hal-hal berikut ini

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, per September 2020 lalu mencatatkan NPL kartu kredit sebesar 3,55%. Walau tinggi, Direktur BCA Santoso Liem mengisyaratkan bahwa sejatinya tren tersebut terus menurun sejak bulan Juli 2020 sejalan dengan meningkat kembali penggunaan kartu kredit oleh konsumen. 

Tren penurunan NPL tersebut tambah Santoso juga disebabkan meningkatnya kemampuan bank dalam memberikan solusi bagi pemegang kartu kredit yang memiliki potensi bermasalah dalam pembayaran kartu kredit akibat pandemi. “Misalnya dengan program konversi tagihan menjadi cicilan dengan bunga ringan bagi yang membutuhkan,” ujar Santoso, Minggu (15/11) malam. 

Sebagai informasi saja, bisnis kartu kredit BCA memang tercatat mengalami perlambatan sebesar 18,5% secara year on year (yoy) dari Rp 13,41 triliun menjadi Rp 10,92 triliun. Meski begitu, secara kuartalan terjadi peningkatan sebesar 2,7% (qoq). Hal ini menjadi penanda bagi perseroan bahwa tren transaksi belanja di masyarakat mengarah ke level pemulihan. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Permintaan KTA perbankan mulai bergairah


ILUSTRASI. Kredit Tanpa Agunan (KTA)

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah membatasi pemasaran produk kredit tanpa agunan (KTA) saat puncak pandemi virus corona (Covid-19) beberapa waktu lalu, kini sejumlah perbankan mulai berani bergerak. Selain karena pandemi Covid-19 yang mereda, ternyata permintaan terhadap KTA juga mulai tumbuh perlahan, lantaran bank juga masih sangat selektif menyalurkan produk ini.

“Permintaan sudah mulai ada, terutama dari nasabah existing, namun memang belum sebanyak sebelum pandemi, sehingga pertumbuhan keseluruhan masih negatif,” kata DIrektur Bisnis Konsumer PT Bank CIMB NIaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan kepada Rabu (11/11).

Segmen KTA juga sejatinya menjadi pemberat pertumbuhan kredit yang tercatat masih tumbuh 4,1% (yoy) menjadi Rp 54,82 triliun sampai akhir September 2020. Diperinci, KPR, dan KKB jadi penopang pertumbahan masing-masing7,9% (yoy), dan 7,0% (yoy). Sedangkan KTA negatif 10,2% (yoy), dan kartu kredit 4,4% (yoy).

Adapun sampai September 2020, portofolio KTA Bank CIMB Niaga tercatat senilai Rp 3,88 triliun. 

Baca Juga: CIMB Niaga (BNGA) bukukan laba Rp 1,9 triliun pada kuartal III 2020

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sejak April 2020 menghentikan pemasaran produk KTA kini juga mulai kembali dibuka secara terbatas. Hanya kepada nasabah yang merupakan pegawai dengan fasilitas penggajian (payroll) via BCA. 

Sampai September 2020 portofolio BCA di segmen ini mencapai Rp 2,84 trilin. Meski secara tahunan masih negatif 3,3% (yoy), namun dibandingkan kuartal sebelumnya sudah mulai terlihat pertumbuhan 3,0% (qtq).

“Kami mencermati, di tengah tantangan pandemi yang dinamis, permintaan kredit juga masih dalam tahap pemulihan,” ujar Direktur BCA Santoso Liem kepada Kontan.co.id. 

Sementara di bank pelat merah pertumbuhan KTA justru relatif masih baik. Maklum mereka biasa memasarkan produk ini kepada pegawai-pegawai perusahaan pelat merah pula. 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya sampai kuartal III-2020 portofolio KTA mencapai Rp 29,05 triliun dengan pertumbuhan 12,8% (yoy). Segmen ini menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer perseroan yang tumbuh 4,5% (yoy) menjadi Rp 87,41 triliun. 

“Produk payroll loan kami BNI Fleksi menjadi penopang pertumbuhan kredit konsumer (tanpa kartu kredit) yang tumbuh 8% (yoy). Ini telah melampaui target pertumbuhan kami sebesar 4%,” kata Direktur Konsumer BNI Corina Leyla kepada KONTAN. 

Ia menambahkan pemasaran BNI Fleksi memang difokuskan kepada para ASN, dan pegawai BUMN yang memiliki tingkat pensiun maupun pergantian pegawai yang rendah. Pun sasarannya kepada para pegawai level menengah atas.

Baca Juga: Kredit seret, bank pilih taruh dana di obligasi

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani pun setali tiga uang. Sampai akhir September KTA perseroan masih tumbuh 1,5% (yoy) menjadi Rp 101,0 triliun. Sekaligus menjadi penyumbang terbesar kredit konsumer perseroan Rp 142,5 triliun yang tumbuh 3,4% (yoy).

Selain secara konvensional, personal loan BRI via platform digital juga mencatat pertumbuhan yang baik sampai kuartal III-2020. Platform Ceria misalnya kini telah digunakan 10.414 nasabah dan memiliki portofolio Rp 20,1 miliar dengan sales volume Rp 52 miliar.

Sementara kerja sama BRI dengan Traveloka melaluia Traveloka Paylater kini telah digunakan 35.174 pengguna dengan portofolio Rp 211,3 miliar dan sales volume R 366,5 miliar. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link