fbpx
Setelah 3 Pekan Melemah, Harga Sawit Makin Legit

Setelah 3 Pekan Melemah, Harga Sawit Makin Legit



Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berbalik menguat sepanjang pekan ini. Penguatannya cukup signifikan, yakni sekitar 7%.

Pada pekan ini, harga CPO di bursa Malaysia naik 7,5% secara point-to-point, sehingga harganya menguat di MYR 2.911/ton.


Setelah mengalami tren pelemahan 3 pekan berturut-turut, CPO sepertinya mulai kembali diinvestasikan oleh investor. Pada pekan lalu, CPO melemah 4,04% secara point-to-point.

Penyebab harga CPO melemah selama 3 pekan berturut-turut adalah fenomena La Nina yang terjadi dan diprediksi masih akan terjadi di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa bulan kedepan, sehingga menjadi ancaman  suplai CPO, meski telah memasuki periode puncak produksi musiman September-November.

La Nina adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik di bawah suhu rata rata sekitarnya. Penyebabnya karena suhu permukaan laut pada bagian barat dan timur Pasifik lebih tinggi daripada biasanya.

Kejadian tersebut menyebabkan tekanan udara pada ekuator Pasifik barat menurun. Hal ini mendorong pembentukan awan berlebihan dan menyebabkan curah hujan tinggi pada daerah yang terdampak, terutama negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, kurangnya tenaga kerja di sektor perkebunan kelapa sawit membuat Malaysia harus menghadapi hambatan dalam pemanenan, apalagi Malaysia merupakan produsen CPO terbesar kedua setelah Indonesia.

“Produksi Malaysia mengalami pelemahan, tetapi produksi Indonesia tetap kuat,” kata Paramalingam Supramaniam, direktur pialang Pelindung Bestari Sdn Bhd yang berbasis di Selangor kepada Reuters.

Bagaimanapun juga fenomena La Nina ini akan tetap dipandang sebagai pemicu terjadinya reli harga komoditas minyak nabati di sisa tahun ini serta awal tahun depan.

Dalam jangka pendek sentimen positif penggerak pasar adalah adanya fenomena pembelian minyak sawit dalam jumlah besar untuk meningkatkan stok di India menjelang perayaan Diwali November nanti.

Kebijakan stocking China dengan pembelian minyak sawit dalam volume besar juga turut menjadi sentimen pendongkrak harga.

“Jika konsumen terus membeli ditambah dana kelolaan juga ikut membeli (kontrak) terjadi secara bersamaan, kemungkinan harga minyak sawit untuk sementara waktu bisa mencapai 3.200 ringgit” ujar Thomas Mielke, Direktur Oil World kepada Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)




Source link