fbpx

DPK bank kecil tumbuh perlahan


ILUSTRASI. Pertumbuhan DPK selama pandemi terkonsentrasi kepada bank jumbo di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 4.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) selama pandemi terkonsentrasi kepada bank jumbo di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 4. Saat lima bank besar di tanah air mencatat pertumbuhan DPK lebih dari 14% (yoy), pertumbuhan DPK bank cilik yang tak sekencang bank jumbo, bahkan cenderung negatif. 

Sampai kuartal III-2020, tiga dari teratas di tanah air yang telah mempublikasikan laporannya yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masing-masing mencatat pertumbuhan DPK 14,9%, 14,3%, dan 21,4%.

Sementara dua bank lainnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank CIMB NIaga Tbk (BNGA) sampai Agustus bahkan telah meraih pertumbuhan DPK masing-masing 18,2%, dan 21,8%. 

Hal berbeda justru dicatat BUKU 2 seperti PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) yang sampai September DPK perseroan tercatat merosot tipis 1,42% (yoy), dari Rp 19,86 triliun pada kuartal III-2020 lalu menjadi Rp 19,58 triliun. 

Baca Juga: Walau kredit melambat, OJK sebut stabilitas sistem keuangan terjaga

Direktus Business Support Bank Woori Sadhana Priatmadja bilang catatan tersebut memang jadi salah satu strategi Bank Woori untuk mengurangi dana mahal, dan lebih fokus terhadap dana murah alias simpanan tabungan dan giro. “Likuiditas di pasar saat ini sangat baik, dan kini memang kami tengah berupaya mengganti komposisi dana mahal dengan dana murah,” kata dia kepada Kontan.co.id. 

Diperinci komposisi DPK Bank Woori memang menurun hanya dari simpanan deposito sebesar 10,5% (yoy). Sementara dana murahnya tumbuh positif 27,0% (yoy) dari Rp 4,82 triliun menjadi Rp 6,13 triliun pada akhir kuartal III-2020. “Deposito kami memang masih mendominasi DPK, namun perlahan dana murah juga tumbuh,” tambah dia. 

Sementara sejumlah bank cilik lain yang telah mencatat pertumbuhan DPK masih mengandalkan simpanan deposito. Maklum dibandingkan bank besar, bank cilik memang cenderung menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi. 

Baca Juga: Dari BCA hingga BNI, aset bank-bank jumbo masih naik dua digit di kuartal III

PT Bank Mayora misalnya telah mencatat pertumbuhan DPK sampai 33,0% (yoy) dari Rp 4,86 triliun pada kuartal III-2019 menjadi Rp 6,47 triliun. Simpanan deposito juga masih mendominasi DPK Bank Mayora dengan rasio 65%,0% terhadap DPk dan tumbuh 28,2% (yoy). 

“Semus jenis simpanan masih tumbuh positif, terutama dana murahnya. Sampai akhir tahun kami akan menjaga DPK lebih dari Rp 6 triliun,” ujar Direktur Utama Bank Mayor Irfanto Oeij.

Adapun PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) kini mengaku tengah menahan pertumbuhan DPK. Direktur Bank Oke Efdinal Alamsyah bilang selain untuk mengatur ulang komposisi, ekspansi perseroan bakal dilakukan dengan bekal dana hasil rights issue Rp 500 miliar yang baru diterima.

“Sampai akhir Oktober DPK kami baru tumbuh 4% (ytd) dimana sepenuhnya ditopang deposito. Kami memang menahan pertumbuhan DPK karena dana rights issue sudah masuk Rp 500 miliar,” kata dia. 

Baca Juga: Agar laba tak kian tergerus, bank makin rajin mengejar komisi

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Nasabah antisipasi perlambatan ekonomi, dana giro di perbankan naik tinggi


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus melejit selama masa pandemi Covid-19, terutama untuk dana giro. Hal ini utamanya menurut beberapa bankir disebabkan kebanyakan nasabah memilih untuk memarkir dananya di bank sebagai langkah antisipasi menghadapi perlambatan ekonomi. 

Data Bank Indonesia (BI) per September 2020 menunjukkan total DPK telah naik 12,1% secara year on year (yoy) hingga menembus Rp 6.383,8 triliun. Bahkan lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Bila dirinci, peningkatan itu didominasi oleh dana giro yang tumbuh 22,9% secara tahunan menjadi Rp 1.603,9 triliun. 

Berdasarkan golongan nasabahnya, kebanyakan dana giro itu berasal dari segmen korporasi yang tumbuh signifikan sebesar 27,3% yoy per September 2020 menjadi Rp 1.157,2 triliun. 

Beberapa bank yang dihubungi Kontan.co.id, Minggu (1/11) mengamini hal tersebut. Salah satunya PT Bank Mandiri Tbk yang mencatat kenaikan giro sebesar 30,78% secara yoy dari Rp 214,1 triliun di akhir September 2019 menjadi Rp 280,1 triliun pada akhir September 2020 lalu. 

Baca Juga: Dari BCA hingga BNI, aset bank-bank jumbo masih naik dua digit di kuartal III

Dalam presentasi perusahaan, peningkatan giro ini justru berbuah manis. Secara year to date (ytd) biaya dana atau cost of fund (CoF) giro Bank Mandiri terus mencatatkan penurunan dari 1,96% di Maret 2020 menjadi 1,95% di September 2020 dengan posisi terendah ada di Juni 2020 sebesar 1,94%. 

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rully Setiawan membenarkan bahwa salah satu pendorong kenaikan giro Bank Mandiri pada periode September 2020 adalah situasi ketidakpastian ekonomi yang saat ini masih terasa sebagai dampak dari pandemi virus corona. 

Dia memperkirakan tren peningkatan DPK di perbankan bakal terus berlanjut. “Dari situasi ini, kami memperkirakan masyarakat cenderung menyimpan dananya di bank yang memiliki tingkat kecukupan modal dan likuiditas yang baik,” kata Rully. 

Bank berlogo pita emas ini menambahkan, pada produk Mandiri Giro memang saat ini kontribusi terbesar disumbang oleh nasabah pelaku usaha, terutama dari segmen wholesale. 

Pihaknya tentu berharap tren ini bisa terus berjalan hingga akhir tahun 2020, mengingat masih berlangsungnya pandemi. Namun, Bank Mandiri tidak spesifik menyebutkan target pertumbuhan giro di tahun ini alis konservatif. 

Hal serupa juga terjadi di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Bank dengan kode emiten BBTN ini mencatat dana giro naik sebesar 22,72% secara tahunan dari Rp 51,12 triliun menjadi Rp 62,74 triliun. Berkat kenaikan giro itu, rasio dana murah (current account and saving account/CASA) Bank BTN pun mulai bergerak hingga mencapai 47,03%. 

Namun, posisi rasio tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya yang sempat mencapai 50,93%. Hal itu disebabkan masih dominannya dana mahal (deposito) di Bank BTN. 

Menurut Direktur Distribution and Retail Funding Bank BTN Jasmin, kenaikan giro memang menjadi salah satu strategi bisnis perusahaan dalam menopang CASA di kala pandemi. 

Sasaran utama perseroan adalah giro kelembagaan yang berasal dari nasabah kementerian, lembaga atau perusahaan swasta dan BUMN, yang diakui Jasmin selama ini pihaknya belum pernah masuk secara insentif. 

Dia juga meramal pertumbuhan giro akan lebih tinggi, sejalan dengan strategi perseroan yang tengah aktif menjajal kerjasama. “Tren ke depan sampai dengan akhri tahun masih cenderung naik,” katanya. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Dana giro perbankan naik tinggi, ini alasannya menurut para bankir


ILUSTRASI. Petugas Teller PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menghitung uang kertas di salah satu Kantor Cabang Bank BTN Jakarta. /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selama masa pandemi Covid-19, tren pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus melejit. Terutama untuk dana giro. Hal ini utamanya menurut beberapa bankir disebabkan kebanyakan nasabah memilih untuk memarkir dananya di bank sebagai langkah antisipasi menghadapi perlambatan ekonomi. 

Data Bank Indonesia (BI) per September 2020 menunjukkan total DPK telah naik 12,1% secara year on year (yoy) hingga menembus Rp 6.383,8 triliun. Bahkan lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Bila dirinci, peningkatan itu didominasi oleh dana giro yang tumbuh 22,9% secara tahunan menjadi Rp 1.603,9 triliun. 

Berdasarkan golongan nasabahnya, kebanyakan dana giro itu berasal dari segmen korporasi yang tumbuh signifikan sebesar 27,3% yoy per September 2020 menjadi Rp 1.157,2 triliun. 

Beberapa bank yang dihubungi Kontan.co.id, Minggu (1/11) mengamini hal tersebut. Salah satunya PT Bank Mandiri Tbk yang mencatat kenaikan giro sebesar 30,78% secara yoy dari Rp 214,1 triliun di akhir September 2019 menjadi Rp 280,1 triliun pada akhir September 2020 lalu. 

Baca Juga: Dari BCA hingga BNI, aset bank-bank jumbo masih naik dua digit di kuartal III

Dalam presentasi perusahaan, peningkatan giro ini justru berbuah manis. Secara year to date (ytd) biaya dana atau cost of fund (CoF) giro Bank Mandiri terus mencatatkan penurunan dari 1,96% di Maret 2020 menjadi 1,95% di September 2020 dengan posisi terendah ada di Juni 2020 sebesar 1,94%. 

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rully Setiawan membenarkan bahwa salah satu pendorong kenaikan giro Bank Mandiri pada periode September 2020 adalah situasi ketidakpastian ekonomi yang saat ini masih terasa sebagai dampak dari pandemi virus corona. 

Dia memperkirakan tren peningkatan DPK di perbankan bakal terus berlanjut. “Dari situasi ini, kami memperkirakan masyarakat cenderung menyimpan dananya di bank yang memiliki tingkat kecukupan modal dan likuiditas yang baik,” kata Rully. 

Bank berlogo pita emas ini menambahkan, pada produk Mandiri Giro memang saat ini kontribusi terbesar disumbang oleh nasabah pelaku usaha, terutama dari segmen wholesale. 

Pihaknya tentu berharap tren ini bisa terus berjalan hingga akhir tahun 2020, mengingat masih berlangsungnya pandemi. Namun, Bank Mandiri tidak spesifik menyebutkan target pertumbuhan giro di tahun ini alis konservatif. 

Hal serupa juga terjadi di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Bank dengan kode emiten BBTN ini mencatat dana giro naik sebesar 22,72% secara tahunan dari Rp 51,12 triliun menjadi Rp 62,74 triliun. Berkat kenaikan giro itu, rasio dana murah (current account and saving account/CASA) Bank BTN pun mulai bergerak hingga mencapai 47,03%. 

Namun, posisi rasio tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya yang sempat mencapai 50,93%. Hal itu disebabkan masih dominannya dana mahal (deposito) di Bank BTN. 

Menurut Direktur Distribution and Retail Funding Bank BTN Jasmin, kenaikan giro memang menjadi salah satu strategi bisnis perusahaan dalam menopang CASA di kala pandemi. 

Sasaran utama perseroan adalah giro kelembagaan yang berasal dari nasabah kementerian, lembaga atau perusahaan swasta dan BUMN, yang diakui Jasmin selama ini pihaknya belum pernah masuk secara insentif. 

Dia juga meramal pertumbuhan giro akan lebih tinggi, sejalan dengan strategi perseroan yang tengah aktif menjajal kerjasama. “Tren ke depan sampai dengan akhri tahun masih cenderung naik,” katanya. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Aset BCA tembus Rp 1.000 triliun, ditopang DPK yang tumbuh signifikan


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi bank ketiga di tanah air yang mencatat nilai aset lebih dari Rp 1.000 triliun. Sampai akhir September 2020, aset bank swasta terbesar di tanah air ini tercatat Rp 1.003,6 triliun tumbuh 12,3% (yoy).

Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja bilang, dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh signifikan jadi penopangnya. 

“Pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid mendukung pertumbuhan aset BCA mencapai Rp 1.000 triliun lebih. DPK kami juga ditopang oleh dana murah atau CASA yang tumbuh 16,1% (yoy),” ujar Jahja dalam paparan kinerja daring, Senin (26/10).

Baca Juga: BCA catat laba Rp 20 triliun di kuartal III-2020, turun 4,2% dari kuartal III-2019

Sampai September 2020, BCA berhasil menghimpun DPK senilai Rp 780,7 triliun dengan pertumbuhan 14,3% (yoy). Dana murahnya terhimpun Rp 596,6 triliun atau 76,4% dari total DPK dengan pertumbuhan 16,1% (yoy). Sedangkan simpanan deposito tumbuh 8,8% (yoy) menjadi Rp 184,1 triliun

Dalam kesempatan serupa Direktur BCA Santoso Liem juga bilang pertumbuhan dana murah perseroan didukung oleh meningkatnya transaksi oleh nasabah secara digital.

BCA memproses sekitar 33 juta transaksi per hari selama sembilan bulan pertama tahun 2020, meningkat dari 26 juta transaksi per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kami terus melihat perkembangan yang pesat pada jumlah transaksi melalui mobile dan internet banking,” ujar Santoso.

Baca Juga: Berpotensi jadi NPL, sekitar 11% debitur restrukturisasi Bank Mandiri berisiko tinggi

Pertumbuhan dana murah ditambahkan Santoso juga turut didukung oleh pembukaan rekening baru di BCA. Sampai September 2020, ia bilang setidaknya ada 6.700 pembukaan rekening baru tiap harinya. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya

DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi melalui ATM. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam masa pandemi Covid-19, permintaan kredit memang melandai. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2020 yang menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cuma 1,04%.

Tetapi di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan tumbuh lebih tinggi yakni sebesar 11,64% secara year on year (yoy). Lebih baik ketimbang periode Juli 2020 yang kala itu disebut OJK tumbuh 8,53% secara tahunan.

Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id mengamini, peningkatan DPK memang tinggi. Selain karena tren menabung yang tinggi di tengah pandemi, hal ini juga disebabkan minimnya permintaan kredit. Walhasil, secara suplai pendanaan alias likuiditas saat ini bisa dikatakan ada di level paling longgar.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri: Kredit perbankan hanya tumbuh 1,5% di 2020

PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya yang mencatatkan DPK Rp 203,98 triliun per Juli 2020, naik 18,51% dari periode sama setahun lalu yang sebesar Rp 172,12 triliun.

Direktur Konsumer CIMB Niaga Lani Darmawan menyebutkan, mayoritas penopang pertumbuhan tersebut tak terlepas dari kenaikan dana murah (CASA) yang juga sebesar 18%. Namun, pertumbuhan deposito cenderung melambat karena CIMB Niaga lebih fokus menjaring dana murah.

“Secara total, DPK kami tumbuh positif. Nasabah mungkin lebih nyaman ke tabungan daripada deposito karena lebih fleksibel dan banyak fasilitas lewat mobile banking,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (24/9) lalu.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pun menyerukan hal senada. Walau tidak sederas industri, menurut Direktur Bank BTN Jasmin, per Agustus 2020 DPK BTN sudah naik 6,5%. Pertumbuhan itu didominasi dana murah yakni giro sebesar 15,5% yoy.

Malah bila dirinci, dari Juni 2020 ke bulan Agustus 2020 ada peningkatan cukup tinggi sekitar 9% dari Rp 226,32 triliun menjadi Rp 246,53 triliun. “Tren DPK di bulan eptember 2020 diperkirakan juga tetap naik,” kata Jasmin kepada Kontan.co.id, Jumat (25/9).

Walau punya potensi besar, bank bersandi bursa BBTN ini tidak ngotot menargetkan DPK jumbo tahun ini. Menurut Jasmin, DPK hanya ditargetkan tumbuh sekitar 7%-8% saja sepanjang tahun 2020. Ini karena BTN ingin memperbesar porsi dana murah (rasio CASA).

Menurut Jasmin, wajar kalau DPK tumbuh jauh melampaui pertumbuhan kredit. Sebab, kebanyakan nasabah atau debitur pastinya tengah mengerem kredit di masa pandemi. Walhasil, bisa dibilang dana-dana tersebut sedang diparkir di instrumen DPK, setidaknya sampai ekonomi stabil.

“Kami tidak mematok tinggi. Permintaan kredit juga masih jauh dari normal. Semoga tahun depan ekonomi kita membaik,” terangnya.

Baca Juga: Ini progres restrukturisasi kredit korporasi bank besar

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link