fbpx
Surplus Neraca Dagang Angkat Rupiah ke Rp14.845

Surplus Neraca Dagang Angkat Rupiah ke Rp14.845


Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.845 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (15/9) sore. Posisi tersebut menguat 0,24 persen dibandingkan perdagangan Senin (14/9) sore di level Rp14.880 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.870 per dolar AS atau menguat tipis dari Rp14.974 per dolar AS hari sebelumnya.

Sore ini ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,24 persen, dolar Taiwan menguat 0,15 persen, won Korea Selatan menguat 0,41 persen, peso Peso Filipina menguat 0,21 persen, yuan China menguat 0,44 persen, ringgit Malaysia menguat 0,35 persen, dan bath Thailand menguat 0,28 persen.

Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,05 persen dan rupee India melemah 0,22 persen.

Di sisi lain, mata uang di negara maju terpantau bergerak variatif di hadapan dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,32 persen dan dolar Australia melemah 0,36 persen. Sementara dolar Kanada menguat 0,10 persen dan franc Swiss menguat 0,29 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan ditutup menguat 35 poin di level Rp14.845 per dolar AS pada sore ini. Sementara dalam perdagangan Rabu esok, mata uang rupiah kemungkinan masih berfluktuatif meski berpeluang ditutup menguat 20-40 point di level Rp14.820-14.900 per dolar AS.

Menurut Ibrahim penguatan rupiah tak lepas dari meningkatnya minat investor terhadap aset-aset beresiko hari ini. Hal ini didorong kabar baik dari pengembangan vaksin Covid-19 seperti AstraZaneca hasil kerjasama dengan Universitas Oxford yang kembali dilanjutkan.

Di sisi lain pasar juga masih memantau perkembangan BREXIT, dimana pemerintah Inggris telah memenangkan pemungutan suara awal di Parlemen atas tagihan kontroversialnya yang melanggar kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.

Pertimbangan lainnya adalah pertemuan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserves pada Rabu (16/9) dan di Jepang dan Inggris pada Kamis (17/9) mendatang.

“Secara khusus, pertemuan The Federal Reserve minggu ini akan menjadi yang pertama sejak Gubernur The Fed Jerome Powell mengumumkan pergeseran ke arah toleransi yang lebih besar terhadap inflasi serta berjanji untuk mempertahankan suku bunga rendah dalam waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim lewat keterangan tertulisnya.

Sementara dari dalam negeri penguatan rupiah didorong oleh rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada Juli kembali mencatatkan surplus yakni sebesar US$ 2,33 miliar.

[Gambas:Video CNN]

“Ini adalah keempat kalinya secara berturut-turut neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus. Surplus pada Juli sebelumnya menjadi yang tertinggi dibandingkan dua bulan sebelumnya,” imbuh Ibrahim.

Kemudian penguatan juga terjadi lantaran pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta tak bersifat penuh seperti fase pertama.

“Padahal semula pasar begitu khawatir dengan implementasi PSBB di ibu kota sehingga pelaku pasar kembali lega dan bekerja seperti biasanya serta kekhawatiran gerak roda ekonomi akan seret kembali sirna,” tandasnya.

(hrf/sfr)





Source link

Penguatan Aset Berisiko Angkat Rupiah ke Rp14.767 per Dolar

Penguatan Aset Berisiko Angkat Rupiah ke Rp14.767 per Dolar


Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.767 per dolar AS pada Kamis (10/9) pagi. Posisi tersebut menguat 0,21 persen dibandingkan perdagangan Rabu (9/9) sore di level Rp14.799 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,30 persen, dolar Taiwan menguat 0,24 persen, ringgit Malaysia menguat 0,13 persen, yen Jepang menguat 0,01 persen, rupee India menguat 0,0,7 persen, dan baht Thailand menguat 0,11 persen

Sebaliknya, Peso Filipina melemah 0,13 persen, yuan China melemah 0,05 persen, dan dolar Singapura yang melemah 0,04 persen.







Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,11 persen persen, dolar Australia menguat 0,19 persen dan franc Swiss menguat 0,10 persen. Hanya dolar Kanada yang terpantau melemah 0,11 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan dolar AS memang sedang tertekan optimisme pasar terhadap outlook ekonomi Eropa yang akan disampaikan oleh Bank Sentral Eropa malam ini.

“Nilai tukar regional termasuk rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS dengan kondisi dolar AS tersebut,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/9).

Selain itu aset berisiko seperti indeks saham juga terlihat positif pagi ini. Indeks saham AS berbalik menguat semalam, setelah mengalami kejatuhan yang dalam sehari sebelumnya yang memberikan sentimen positif ke indeks saham Asia pagi ini.

[Gambas:Video CNN]

Namun demikian pasar juga masih mewaspadai isu hubungan AS dan Tiongkok yang memanas dan penghentian sementara pengujian vaksin AstraZeneca tahap 3. Kedua isu ini bisa menekan pergerakan aset berisiko kembali.

Sementara dari dalam negri isu pemberlakuan PSBB belum berpengaruh pada pergerakan rupiah tapi bisa berpeluang memunculkan sentimen penekan mata uang garuda. “Penguatan rupiah hari ini berpotensi di kisaran Rp14.700-14.850 per dolar AS,” tandasnya.

(hrf/agt)





Source link

Rupiah ‘Dihajar’ Mata Uang Dunia, tapi Ada Kabar Baik Nih..

Rupiah ‘Dihajar’ Mata Uang Dunia, tapi Ada Kabar Baik Nih..


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah babak belur melawan mata uang dunia sepanjang pekan ini, mayoritas mata uang utama Asia hingga Eropa menguat. Namun, di buruknya kinerja rupiah tersebut, terselip kabar baik yang bisa membuat rupiah kembali berjaya.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang menguat paling besar melawan rupiah pada pekan ini, disusul yuan China. Sementara itu sang “raja” mata uang dunia, dolar AS, menguat 0,86%.

Rupiah cuma mampu menguat melawan franc Swiss, dolar Australia, dan baht Thailand. Berikut pergerakan mata uang dunia melawan rupiah melawan mata uang dunia di pekan ini.



Rupiah juga dalam tekanan di pekan ini akibat rencana Revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI). Dalam revisi ini akan ada banyak beberapa pasal yang dihapus dan juga ditambahkan.

Salah satu yang disoroti dalam revisi tersebut adalah adanya dewan moneter yang diketuai Menteri Keuangan, yang nantinya akan ikut dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), bahkan juga memiliki hak suara dalam menentukan kebijakan BI. Hal tersebut dikhawatirkan akan menghilangkan independensi BI.

Melansir CNBC International, Kepala Ekonom Asean di Nomura, Euben Paracuelles, mengatakan revisi untuk menetapkan dewan moneter yang diketuai oleh menteri keuangan adalah “tidak biasa” dan tidak sejalan dengan praktek terbaik tentang bagaimana kebijakan moneter seharusnya ditetapkan.

“Investor mungkin melihat tersebut sebagai masalah besar, yang dapat memicu capital outflow, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah,” katanya dalam program “Squawk Box Asia” di CNBC International Rabu (2/9/2020) lalu.

Selain itu kemungkinan program “burden sharing” pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berlanjut hingga tahun 2022 juga memukul rupiah.

“Burden sharing” merupakan program dimana BI akan membeli obligasi pemerintah tanpa bunga alias zero coupon. Program tersebut sudah dilakukan mulai awal Juli lalu.

Ada kecemasan di pasar “burden sharing” akan memicu kenaikan inflasi di Indonesia akibat semakin banyaknya jumlah uang yang beredar.

Ketika inflasi meningkat, maka daya tarik investasi di Indonesia menjadi menurun, sebab real return yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Hal ini dapat memukul nilai tukar rupiah.

Data dari dalam negeri juga kurang menguntungkan bagi rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Agustus 2020.

Pada Selasa (1/9/2020), BPS menyebut inflasi bulan lalu adalah -0,05% secara bulanan (month-to-month/MtM) alias deflasi.

Secara statistik, deflasi sudah dua kali berturut-turut terjadi. BPS juga mencatat terjadi deflasi pada Juli 2020 sebesar 0,10%. Deflasi merupakan kondisi harga-harga turun.

Sementara dibandingkan periode yang sama pada 2019 (year-on-year/YoY), terjadi inflasi 1,32%. Inflasi tahun kalender tercatat 0,93%. 

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus ini secara umum menunjukkan adanya penurunan,” kata Suhariyanto, Kepala BPS, dalam jumpa pers hari ini.

Deflasi tersebut terjadi akibat rendahnya daya beli masyarakat yang dihantam pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19). Belanja konsumen merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, dengan kontribusi 58% hingga 60%, ketika daya beli rendah maka risiko kontraksi ekonomi tentunya semakin besar, dan terancam mengalami resesi di kuartal III-2020.

Ekonom CORE Piter Abdullah menjelaskan, deflasi atau inflasi yang terlalu rendah tidak menguntungkan secara ekonomi, karena tidak memberikan insentif kepada dunia usaha untuk berproduksi.

“Antara inflasi yang sangat rendah dan deflasi sama saja tidak menguntungkan secara ekonomi. Yang dibutuhkan adalah inflasi yang rendah dan stabil, di tengah permintaan atau konsumsi yang bertumbuh,” jelas Piter.



Source link

Ada Risiko Taper Tantrum Jilid II, Saatnya Koleksi Dolar AS?

Ada Risiko Taper Tantrum Jilid II, Saatnya Koleksi Dolar AS?


Jakarta, CNBC Indonesia – Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) membuat perekonomian global merosot tajam, banyak negara masuk ke jurang resesi, termasuk Amerika Serikat (AS) sang negara Adikuasa.

Produk domestik bruto (PDB) AS di kuartal II-2020 lalu terkontraksi alias minus 31,7% berdasarkan data pembacaan kedua, setelah minus 5% di kuartal sebelumnya. Artinya, Amerika Serikat mengalami resesi untuk pertama kalinya sejak 2008 lalu.

Guna membangkitkan lagi perekonomian, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%, dan mengaktifkan kembali program pembelian aset (obligasi dan surat berharga lainnya) atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE). The Fed menerapkan kebijakan ultra longgar, dan sama persis dengan yang dilakukan pada tahun 2008.


Saat itu, Amerika Serikat mengalami resesi, yang memicu krisis finansial global. Guna membangkitkan perekonomian, The Fed memangkas suku bunga hingga 0,25%, menggelontorkan QE dalam tiga tahap.

QE 1 dilakukan mulai November 2008, kemudian QE 2 mulai November 2010, dan QE 3 pada September 2012. Nilainya pun berbeda-beda, saat QE 1 The Fed membeli efek beragun senilai US$ 600 miliar, kemudian QE 2 juga sama senilai US$ 600 miliar tetapi kali ini yang dibeli adalah obligasi pemerintah (Treasury) AS.

QE 3 berbeda, The fed mengumumkan pembelian kedua aset tersebut senilai US$ 40 miliar per bulan, kemudian dinaikkan menjadi US$ 85 miliar per bulan.
Akibatnya Balance Sheet The Fed yang menunjukkan nilai aset (surat berharga) yang dibeli melalui kebijakan quantitative easing semakin membengkak. Semakin banyak jumlah aset yang dibeli, maka balance sheet The Fed akan semakin besar.

Balance Sheet The Fed mengalami lonjakan signifikan sejak September 2008, dan terus menanjak setelahnya.

Kebijakan suku bunga rendah dan QE membuat perekonomian Negeri Paman Sam banjir likuiditas, akibatnya indeks dolar AS tertahan di bawah level 90. Artinya dolar AS sedang melempem.

Pada Juni 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke akhirnya mengeluarkan wacana untuk mengurangi (tapering) QE.

Saat wacana tersebut muncul dolar AS menjadi begitu perkasa, hingga ada istilah “taper tantrum“. Maklum saja, sejak diterapkan suku bunga rendah serta QE, nilai tukar dolar AS melempem. Sehingga saat muncul wacana pengurangan QE hingga akhirnya dihentikan dolar AS langsung mengamuk “taper tantrum” mata uang lainnya dibuat rontok oleh the greenback.

The Fed akhirnya mulai mengurangi QE sebesar US$ 10 miliar per bulan dimulai pada Desember 2013, hingga akhirnya dihentikan pada Oktober 2014. Akibatnya, sepanjang 2014, indeks dolar melesat lebih dari 12%.


Tidak sampai di situ, setelah QE berakhir muncul wacana normalisasi alias kenaikan suku bunga The Fed, yang membuat dolar AS terus berjaya hingga akhir 2015 saat suku bunga acuan akhirnya dinaikkan 25 basis poin menjadi 0,5%. Setelahnya, The Fed mempertahankan suku bunga tersebut selama 1 tahun, penguatan indeks dolar pun mereda.

Rupiah menjadi salah satu korban keganasan “taper tantrum” kala itu. Sejak Bernanke mengumumkan “tapering” Juni 2013 nilai tukar rupiah terus merosot hingga puncak pelemahan pada September 2015.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.




Source link

Investor ‘Buang’ Dolar AS, Rupiah Akhiri Pelemahan 3 Hari

Investor ‘Buang’ Dolar AS, Rupiah Akhiri Pelemahan 3 Hari


Jakartam CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah akhirnya menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (4/9/2020) setelah melemah dalam 3 hari beruntun. Dolar AS sedang loyo sebab investor yang “jaga jarak” menjelang rilis data tenaga kerja Negeri Paman Sam.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat cukup tajam, 0,41% ke Rp 14.700/US$. Tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah, melemah 0,24% ke Rp 14.795/US$, yang menjadi level terlemah intraday.

Setelahnya rupiah bolak-balik menguat dan melemah hingga akhirnya mengakhiri perdagangan di zona hijau, menguat 0,14% ke Rp 14.740/US$ di pasar spot.


Lesunya dolar AS terlihat dari mayoritas mata uang utama Asia yang menguat hari ini. Sayangnya rupiah terlempar dari posisi 3 besar, sebab masih terbebani isu dari dalam negeri.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15:10 WIB.


Dalam kurun waktu 3 hari terakhir, total pelemahan rupiah sebesar 1,37%, sehingga ada koreksi teknikal pagi ini yang membuatnya langsung melesat. Apalagi, indeks dolar AS sudah mengendur kemarin setelah menguat cukup tajam 2 hari beruntun dan menjauhi level terendah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Kemarin, indeks dolar AS melemah 0,12%, sementara hari ini nyaris stagnan dan tidak banyak bergerak jelang rilis data tenaga kerja AS malam ini.

Data tenaga kerja merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi, sehingga akan memberikan dampak signifikan ke pasar keuangan. Para investor cenderung “jaga jarak” dengan dolar AS sebagai antisipasi jika rilis data tenaga kerja yang buruk.

Selain itu, para analis memang mengatakan penguatan dolar AS hanya sementara, ke depannya akan kembali melemah.

“Anda bisa melihat bangkitnya dolar AS sebagai sedikit perubahan tren, setelah turun dalam waktu yang lama. Tetapi itu hanya berlangsung dalam jangka pendek,” kata Jason Wong, ahli strategi pasar senior di BNZ, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (3/9/2020).

“Itu (kenaikan dolar setelah turun tajam) hanya jeda, para investor masih cukup bearish,” ujar Wong yang melihat bank sentral AS akan menahan suku bunga rendah dalam waktu yang lama, sehingga dolar akan tertekan lagi.

Tetapi, rupiah juga dalam tekanan di pekan ini akibat rencana Revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI). Dalam revisi ini akan ada banyak beberapa pasal yang dihapus dan juga ditambahkan.

Salah satu yang disoroti dalam revisi tersebut adalah adanya dewan moneter yang diketuai Menteri Keuangan, yang nantinya akan ikut dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), bahkan juga memiliki hak suara dalam menentukan kebijakan BI. Hal tersebut dikhawatirkan akan menghilangkan independensi BI.

Melansir CNBC International, Kepala Ekonom Asean di Nomura, Euben Paracuelles, mengatakan revisi untuk menetapkan dewan moneter yang diketuai oleh menteri keuangan adalah “tidak biasa” dan tidak sejalan dengan praktek terbaik tentang bagaimana kebijakan moneter seharusnya ditetapkan.

“Investor mungkin melihat tersebut sebagai masalah besar, yang dapat memicu capital outflow, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah,” katanya dalam program “Squawk Box Asia” di CNBC International Rabu (2/9/2020) lalu.

Selain itu kemungkinan program “burden sharing” pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berlanjut hingga tahun 2022 juga memukul rupiah.
“Burden sharing” merupakan program dimana BI akan membeli obligasi pemerintah tanpa bunga alias zero coupon. Program tersebut sudah dilakukan mulai awal Juli lalu.

Ada kecemasan di pasar “burden sharing” akan memicu kenaikan inflasi di Indonesia akibat semakin banyaknya jumlah uang yang beredar.
Ketika inflasi meningkat, maka daya tarik investasi di Indonesia menjadi menurun, sebab real return yang dihasilkan menjadi lebih rendah.

Isu dari dalam negeri tersebut membuat rupiah belum mampu menguat signifikan pada hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Dolar AS Jeblok, Bakal Lengser dari Raja Mata Uang Dunia?

Dolar AS Jeblok, Bakal Lengser dari Raja Mata Uang Dunia?


Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Amerika Serikat (AS) Sedang dalam tren merosot memasuki semester II-2020, padahal di paruh pertama tahun ini masih membukukan kinerja positif.

Melansir data Refinitiv, sepanjang semester I-2020, indeks dolar AS mencatat penguatan 0,94%, tetapi memasuki semester II-2020 perlahan mulai menurun hingga akhirnya nyungsep. Sejak awal Juli hingga 1 September kemarin, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini merosot lebih dari 5% ke 92,338 yang merupakan level terendah sejak April 2018.

Pemicu utama lesunya dolar AS yakni pemulihan ekonomi yang diprediksi akan berjalan lebih lambat ketimbang negara-negara lainnya, khususnya negara di Eropa.



Selain itu kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunga acuannya menjadi 0,25, serta menerapkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE), membuat perekonomian AS menjadi banjir likuiditas, akibatnya dolar AS melemah.

Kebijakan terbaru The Fed memperburuk kinerja the greenback. Bos The Fed, Jerome Powell, pada Kamis (27/8/2020) malam mengubah pendekatannya terhadap target inflasi. Sebelumnya The Fed menetapkan target inflasi sebesar 2%, ketika sudah mendekatinya maka bank sentral paling powerful di dunia ini akan menormalisasi suku bunganya, alias mulai menaikkan suku bunga.

Kini The Fed menerapkan “target inflasi rata-rata” yang artinya The Fed akan membiarkan inflasi naik lebih tinggi di atas 2% “secara moderat” dalam “beberapa waktu”, selama rata-ratanya masih 2%.

Dengan “target inflasi rata-rata” Powell mengatakan suku bunga rendah bisa ditahan lebih lama lagi, guna membantu perekonomian yang mengalami resesi akibat pandemi Covid-19.

Suku bunga rendah yang ditahan dalam waktu yang lama tentunya berdampak negatif bagi dolar AS.



Source link

Perkasa di Awal Pekan, Rupiah Sentuh Rp 14.500/US$ Lagi

Perkasa di Awal Pekan, Rupiah Sentuh Rp 14.500/US$ Lagi


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (31/8/2020) setelah membukukan penguatan lebih dari 1% sepanjang pekan lalu.

Dolar AS yang sedang loyo merespon kebijakan terbaru dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membuat rupiah mampu perkasa lagi.

Melansir data Refinitiv, rupiah langsung melesat 0,79% ke Rp 14.500/US$ begitu perdagangan hari ini dibuka. Terakhir kali rupiah menyentuh level tersebut pada 6 Agustus lalu. 


Sayangnya, rupiah mengendur, pada pukul 12:00 WIB berada di level Rp 14.550/US$ menguat 0,44% di pasar spot.

Bos The Fed, Jerome Powell, pada Kamis (27/8/2020) malam mengubah pendekatannya terhadap target inflasi. Sebelumnya The Fed menetapkan target inflasi sebesar 2%, ketika sudah mendekatinya maka bank sentral paling powerful di dunia ini akan menormalisasi suku bunganya, alias mulai menaikkan suku bunga.

Kini The Fed menerapkan “target inflasi rata-rata” yang artinya The Fed akan membiarkan inflasi naik lebih tinggi di atas 2% “secara moderat” dalam “beberapa waktu”, selama rata-ratanya masih 2%.

Dengan “target inflasi rata-rata” Powell mengatakan suku bunga rendah bisa ditahan lebih lama lagi, guna membantu perekonomian yang mengalami resesi akibat pandemi Covid-19.

Suku bunga rendah yang ditahan dalam waktu yang lama tentunya berdampak negatif bagi dolar AS.

Selain itu, pelaku pasar melihat Negeri Paman Sam akan tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lainnya, khususnya Eropa, dalam pemulihan ekonomi yang nyungsep akibat Covid-19. Dengan demikian, ada kemungkinan Eropa akan melakukan normalisasi kebijakan moneter lebih cepat dari AS.

“Ketika bank sentral lain mulai melakukan pengetatan, The Fed mungkin akan tertinggal. Perbedaan suku bunga tidak berpihak kepada dolar AS. Jadi dalam jangka menengah-panjang, ini akan menjadi sentimen negatif bagi greenback,” kata Edward Moya, Senior Market Analyst OANDA, seperti dikutip dari Reuters.

Sementara itu, Dalam laporan kebijakan Moneter Kuartal II-2020, Bank Indonesia (BI) menjelaskan potensi penguatan nilai tukar Rupiah tersebut didukung oleh inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah dan daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi serta premi risiko Indonesia yang turun.

Penurunan premi risiko yang tercermin dari (credit default swap/CDS) menandakan pelaku pasar meyakini bahwa risiko gagal bayar alias default semakin kecil. Artinya, investor semakin optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia. Rupiah pun perkasa kembali.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

AS-China Pake Ribut-ribut Segala Sih! Rupiah Jadi Lemah Kan..

AS-China Pake Ribut-ribut Segala Sih! Rupiah Jadi Lemah Kan..


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga merah di perdagangan pasar spot.

Pada Kamis (27/8/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 14.714. Rupiah melemah 0,53% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Di ‘arena’pasar spot, rupiah pun lemas. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.680 di mana rupiah melemah tipis 0,07%. Padahal rupiah menguat dengan cukup meyakinkan kala pembukaan pasar.


Sementara mata uang Asia lainnya juga cenderung melemah di hadapan dolar AS. Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning di perdagangan pasar spot pada pukul 10:05 WIB:



Source link

Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.670 per Dolar AS

Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.670 per Dolar AS


Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.670 per dolar AS pada Kamis (27/8). Posisi tersebut menguat 0,05 persen dibandingkan perdagangan Rabu (26/8) sore di level Rp14.677 per dolar AS.

Pagi ini, mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak fluktuatif terhadap dolar AS. Tercatat, yen Jepang melemah 0,04 persen, dolar Singapura melemah 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,18 persen, yuan China melemah 0,05 persen, ringgit Malaysia melemah 0,02 persen, dan baht Thailand melemah 0,02 persen.

Sedangkan, dolar Taiwan menguat 0,25 persen, won Korea Selatan menguat 0,06 persen, dan rupee India menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.


Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju mayoritas melemah di hadapan dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan dengan poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, dolar Australia melemah 0,03 persen, dan dolar Kanada turun 0,08 persen. Sedangkan, franc Swiss terpantau stagnan.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah pagi ini ditopang sentimen eksternal dimana pelaku pasar menanti pidato Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell nanti malam waktu Indonesia. Khususnya terkait sikap The Fed terhadap rencana stimulus tambahan senilai US$1 triliun yang hingga saat ini belum disetujui oleh kongres.

“Fokus pasar tentang masalah apakah The Fed akan menemukan cara tambahan tingkatkan ekonomi jika kongres gagal berikan persetujuan pada paket bantuan tersebut,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

[Gambas:Video CNN]

Dari dalam negeri, ia menuturkan pelaku pasar menunggu kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait keberlanjutan masa transisi yang diumumkan sore nanti. Menurutnya, ada tanda-tanda jika masa transisi ini berubah menjadi masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) alias new normal dengan syarat.

“Dari kemarin Wagub DKI sudah instruksikan hiburan bioskop dibuka, ini sudah ada tanda-tanda masa transisi kemungkinan besar berubah jadi new normal,” imbuhnya.

Ia memprediksi rupiah melaju di rentang Rp14.650 hingga Rp14.800 per dolar AS hari ini, dengan kecedenrungan menguat.

(ulf/agt)





Source link