fbpx

Rupiah Lunglai ke Rp14.165 di Akhir Pekan



Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.165 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Jumat (20/11) sore. Mata uang Garuda  melemah 0,07  persen dari Rp14.155 per dolar AS pada Kamis (19/11).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.228 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.167 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan oleh dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Singapura bertambah 0,08 persen, won Korea Selatan naik 0,09 persen, dan peso Filipina menguat 0,18 persen.







Selanjutnya, rupee India bertambah 0,21 persen, yuan China naik 0,20 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,14 persen, dan baht Thailand naik 0,17 persen.

Mata uang Garuda hanya melemah bersama yen Jepang sebesar 0,11 persen dan dolar Taiwan 0,05 persen terhadap dolar AS.

Serupa, mayoritas mata uang di negara maju juga kompak perkasa terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, dolar Australia naik 0,03 persen, dolar Kanada bertambah 0,08 persen, dan franc Swiss naik 0,19 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan ada dua faktor yang menjadi sentimen negatif bagi mata uang Garuda. Pertama, keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan menekan rupiah. 

[Gambas:Video CNN]

Diketahui, bank sentral menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020. Ibrahim mengatakan pemangkasan suku bunga acuan itu luar dugaan pasar, lantaran para analis memprediksi BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan.

“Ini merupakan kejadian yang kedua kali dan pada akhirnya pasar merespons negatif terhadap kebijakan tersebut,” katanya dalam riset tertulis.

Kedua, pasar juga kecewa terhadap molornya program vaksinasi. Diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan rencana vaksin covid-19 yang ditargetkan Desember molor ke Januari 2021.

Kemunduran ini disebabkan Emergency Use of Authorization (EUA) atau izin yang dikeluarkan untuk kepentingan mendesak tak mungkin diberikan akhir tahun ini.

“Pasar kecewa tentang penundaan vaksinasi tersebut,” katanya.

(ulf/agt)






Source link

Hadeeehhh… Rupiah Kayaknya Mau Melemah Nih



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat jelang penutupan perdagangan pasar spotkemarin dibandingkan hari ini, Jumat (20/11/2020), mengutip data Refinitiv:











Periode

Kurs 19November (14:54 WIB)

Kurs 20 November (07:20 WIB)

1 Pekan

Rp14.163,5

Rp 14.197,5

1 Bulan

Rp14.200

Rp 14.235

2 Bulan

Rp14.227,5

Rp 14.262,5

3 Bulan

Rp14.267,5

Rp 14.302,5

6 Bulan

Rp14.367,3

Rp 14.417,5

9 Bulan

Rp 14.489,4

Rp 14.550,5

1 Tahun

Rp 14.664,5

Rp 14.680

2 Tahun

Rp 15.410

Rp 15.424

 

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 19 November pukul 14:23 WIB:




Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.188

3 Bulan

Rp 14.283

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link

Pak Perry Mohon Petunjuk, Rupiah Gatal Jebol Rp 14.000/US$


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke Rp 14.050/US$ pada perdagangan Rabu kemarin, setelah membukukan penguatan tajam 0,86% dalam 2 hari sebelumnya.

Pada Selasa lalu, rupiah sempat menyentuh level “angker” alias level psikologis Rp 14.000/US$, pada pekan lalu bahkan sempat ditembus, tetapi sayang masih belum mampu mengakhiri perdagangan di bawahnya.

Penguatan tajam tersebut, dan rupiah yang berada di level terkuat 5 bulan terkahir memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat rupiah melemah kemarin. Apalagi hari ini, Kamis (19/11/2020), Bank Indonesia akan mengumumkan hasil Rapat Kebijakan Moneter (RDG).


Gubernur BI, Perry Warjiyo ,dan sejawat menggelar RDG pada 18-19 November 2020. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate masih bertahan di 4%.

Dari 13 ekonom/analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, delapan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan tidak akan berubah. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kejutan dari BI dengan memangkas suku bunga.

Selain itu pelaku pasar tentunya akan melihat petunjuk-petunjuk dari Gubernur Perry, mengenai kondisi perekonomian, stabilitas finansial, nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan moneter ke depannya. 

BI hingga saat ini masih “merestui” rupiah untuk terus menguat, baik Gubernur Perry dan pejabat BI lainnya berulang kali mengatakan rupiah masih undervalue.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR kini bergerak jauh di bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), sehingga memberikan momentum penguatan.

Sementara itu, indikator stochastic pada grafik harian berada di wilayah jenuh jual (oversold).


idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ada risiko rupiah akan terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking), dengan resisten berada di kisaran Rp 14.080/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah lebih jauh ke Rp 14.115/US$, sebelum menuju Rp 14.150/US$.

Sementara itu support terdekat berada di kisaran level “angker”14.000/US$, penembusan di bawah level tersebut akan membawa rupiah ke Rp 13.975/US$.

Rupiah berpeluang menuju 13.810/US$ di pekan ini jika mampu menembus dan mengakhiri perdagangan hari ini di bawah level “angker” tersebut. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Belum Beranjak Dari Rp 14.060/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 0,5% kemarin.

Pada Rabu (18/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.060/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,21% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya di pembukaan perdagangan rupiah menguat 0,07% ke Rp 14.020/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.078,5
1 Bulan Rp14.112,0
2 Bulan Rp14.128,0
3 Bulan Rp14.168,9
6 Bulan Rp14.281,2
9 Bulan Rp14.429,0
1 Tahun Rp14.564,0
2 Tahun Rp15.335,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 11:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.040
3 Bulan Rp 14.090

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 14.017 14.202
Bank BRI 13.845 14.355
Bank Mandiri 14.050 14.150
Bank BCA 14.100 14.130
CIMB Niaga 13.800 14.400
Bank BTN 13.900 14.250

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Masih di Rp 14.020/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 0,35% awal pekan kemarin.

Pada Selasa (17/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.020/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,57% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Di pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,71% ke Rp 14.000/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 9:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.042,1
1 Bulan Rp14.073,0
2 Bulan Rp14.097,6
3 Bulan Rp14.134,0
6 Bulan Rp14.252,0
9 Bulan Rp14.387,0
1 Tahun Rp14.527,0
2 Tahun Rp15.285,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 9:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.047
3 Bulan Rp 14.140

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 9:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 13.967 14.152
Bank BRI 13.835 14.345
Bank Mandiri 14.000 14.075
Bank BCA 14.055 14.085
CIMB Niaga 13.780 14.380
Bank BTN 13.888 14.238

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Belum Beranjak Dari Rp 14.125/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 6 pekan beruntun.

Pada Senin (16/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.125/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,18% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Sebelumnya rupiah sempat menguat 0,38% di Rp 14.095/US$

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.095,7
1 Bulan Rp14.123,6
2 Bulan Rp14.155,1
3 Bulan Rp14.190,1
6 Bulan Rp14.315,1
9 Bulan Rp14.446,8
1 Tahun Rp14.602,4
2 Tahun Rp15.370,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 11:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.100
3 Bulan Rp 14.200

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 14.037 14.222
Bank BRI 14.035 14.305
Bank Mandiri 14.075 14.150
Bank BCA 14.120 14.150
CIMB Niaga 13.850 14.550
Bank BTN 13.950 14.300

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Ada Pertanda Rupiah Mau Menguat Nih…



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda apresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat jelang penutupan perdagangan pasar spotakhir pekan lalu dibandingkan hari ini, Jumat (16/11/2020), mengutip data Refinitiv:











Periode

Kurs 13November (14:54 WIB)

Kurs 16 November (07:16 WIB)

1 Pekan

Rp14.212,5

Rp 14.183,1

1 Bulan

Rp14.244,8

Rp 14.224

2 Bulan

Rp14.275,5

Rp 14.252,85

3 Bulan

Rp14.312,5

Rp 14.292,35

6 Bulan

Rp14.439,5

Rp 14.442,25

9 Bulan

Rp 14.571,3

Rp 14.576,56

1 Tahun

Rp 14.730,3

Rp 14.729

2 Tahun

Rp 15.479

Rp 15.475

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 13 November pukul 14:47 WIB:




Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.190

3 Bulan

Rp 14.290

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link

Diborong Investor, Rupiah Tumpas Dolar & Mata Uang Dunia!



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah sukses membukukan penguatan enam pekan beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) minggu ini. Bahkan sempat menembus ke bawah level Rp 14.000/US$ dan berada di level terkuat dalam 5 bulan terakhir.

Tidak hanya itu, rupiah juga berjaya di Benua Asia dan Eropa. Melansir data Refinitiv, sepanjang pekan ini rupiah menguat 0,28% melawan dolar AS di Rp 14.150/US$. Mata Uang Eropa disapu bersih, euro melemah 0,62%, franc Swiss merosot 1,59%, krona Swedia minus 1,15%, sementara poundsterling melemah tipis 0,05%.


Di Asia, rupiah menguat melawan mayoritas mata uang utama, hanya melemah melawan won Korea Selatan, baht Thailand, dan dolar Taiwan.


Aliran investasi yang besar masuk ke dalam negeri dalam 2 pekan terakhir membuat rupiah perkasa.

Data Bank Indonesia menunjukkan pada periode 2-5 November 2020, transaksi nonresiden di pasar keuangan domestik membukukan beli neto Rp3,81 triliun. Rinciannya, beli neto di pasar SBN sebesar Rp3,87 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp 60 miliar.

Sementara data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan sepanjang pekan lalu, investor asing melakukan aksi beli (net buy) sebesar Rp 1,2 triliun. Sepanjang pekan ini bahkan lebih besar lagi, Rp 4,45 triliun masuk ke pasar saham dalam negeri.

Sementara dari pasar obligasi, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada Selasa (10/11/2020) lalu kelebihan permintaan (oversubscribed) 2 kali lipat dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp 22,6 triliun, lebih tinggi dari penawaran yang masuk dalam lelang 2 pekan sebelumnya Rp 20,9 triliun.

Target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 10 triliun, dan dimenangkan dengan nilai yang sama.

Besarnya aliran modal tersebut terjadi setelah hasil pemilihan presiden AS 3 November lalu menunjukkan kemenangan Joseph ‘Joe’ Biden dari Partai Demokrat dalam pilpres AS melawan petahana Donald Trump dari Partai Republik.

Kemenangan Biden dianggap menguntungkan negara-negara emerging market seperti Indonesia, sebab perang dagang AS-China kemungkinan akan berakhir atau setidaknya tidak memburuk.

Analis dari Citi memprediksi kemenangan Joe Biden ke depannya dolar AS akan melemah dan mata uang emerging market akan menjadi yang paling diuntungkan. Alasannya, seperti yang disebutkan sebelumnya, perang dagang dengan China kemungkinan akan berakhir, selain itu pemerintahan akan kembali konvensional.

“Mungkin perdagangan internasional yang paling terlihat pasti usai pilpres. Kebijakan luar negeri AS akan lebih bisa diprediksi tanpa ancaman kenaikan bea impor. Kami melihat penurunan dolar AS, dan penguatan mata uang emerging market,” tulis analis Citi, sebagaimana dilansir CNBC International.

Selain itu, stimulus fiskal yang akan digelontorkan juga akan lebih besar ketimbang yang akan digelontorkan Trump dan Partai Republik. Negara-negara emerging market seperti Indonesia juga berpotensi kecipratan aliran modal.

Selain itu, vaksin virus corona dari Pfizer yang dilaporkan mampu menangkal virus hingga lebih dari 90% membuat pelaku pasar semakin ceria, hingga mengalirkan investasi ke negara-negara emerging market dengan imbal hasil tinggi seperti Indonesia.



Source link

Rupiah Lesu ke Rp14.085 per Dolar AS pada Rabu Ini



Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.085 per dolar AS pada Rabu (11/11) sore. Posisi ini melemah 28 poin atau 0,2 persen dari Rp14.058 persen pada Selasa (10/11).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.076 per dolar AS atau melemah dari Rp14.015 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Rupiah melemah bersama beberapa mata uang lain di Asia. Ringgit Malaysia melemah 0,26 persen, yen Jepang minus 0,21 persen, dan rupee India minus 0,18 persen. 







Sedangkan won Korea Selatan menguat 0,46 persen, baht Thailand 0,15 persen, dolar Singapura 0,02 persen, peso Filipina 0,02 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Mata uang utama negara maju bervariasi. Rubel Rusia menguat 0,41 persen, poundsterling Inggris 0,05 persen, dan dolar Australia 0,03 persen.

Namun, euro Eropa melemah 0,24 persen, franc Swiss minus 0,17 persen, dan dolar Kanada minus 0,08 persen. 

[Gambas:Video CNN]

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah berbalik melemah karena sentimen pengetatan wilayah di beberapa negara. Hal ini untuk merespons penyebaran virus corona atau covid-19 yang kembali meningkat.

“Ini memudarkan (sentimen) pengumuman Pfizer tentang vaksin covid-19 mereka. Investor menyadari masih ada cara untuk melakukan profit taking sebelum vaksin memenuhi semua persyaratan,” ujar Ibrahim, Rabu (11/11).

Ia memperkirakan besok rupiah melemah sebesar 15-100 poin ke level Rp14.050-Rp14.120 per dolar AS.

(uli/agt)






Source link

Rupiah Sudah Lari Sangat Kencang, Istirahat Dulu Lah…



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat usai penutupan perdagangan pasar spot kemarin dibandingkan hari ini, Rabu (11/11/2020), mengutip data Refinitiv:











Periode

Kurs 10 November (15:09 WIB)

Kurs 11 November (07:00 WIB)

1 Pekan

Rp14.075

Rp 14.126

1 Bulan

Rp14.114,8

Rp 14.150,55

2 Bulan

Rp14.136

Rp 14.187

3 Bulan

Rp14.185

Rp 14.217

6 Bulan

Rp14.300,8

Rp 14.350

9 Bulan

Rp 14.438,2

Rp 14.496

1 Tahun

Rp 14.603,2

Rp 14.646

2 Tahun

Rp 15.330

Rp 15.400

 

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 10 November pukul 14:53 WIB:




Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.020

3 Bulan

Rp 14.100

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link