fbpx

Trik Raup Cuan Pakai BLT Subsidi Gaji Rp2,4 Juta



Jakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah tengah menjalankan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) subsidi gaji untuk pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta. Tujuannya, untuk mengurangi beban ekonomi kalangan pekerja menengah di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp2,4 juta kepada penerima dalam dua tahap, masing-masing Rp1,2 juta per pencairan. Apabila memenuhi kriteria, bantuan ini bisa langsung masuk rekening penerima.

Jika dilihat dari pagunya, nominal Rp2,4 juta mungkin tidak terlalu besar bagi pekerja bergaji Rp5 juta, karena belum mencapai setengahnya. Jumlahnya pun tak sebanding dengan ‘bonus’ dari perusahaan yang biasanya sebesar satu kali gaji.







Tapi, kalau dibilang sedikit, mungkin tidak juga. Pasalnya, dana Rp2,4 juta sebenarnya tetap bisa dimaksimalkan bila tepat mengelolanya.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho membagi kiat untuk memaksimalkan penggunaan dana tersebut. Menurutnya, prinsip penggunaan dana ini sebenarnya sama dengan gaji bulanan, meski datangnya secara tiba-tiba dan hanya sekali saja, sehingga tidak seperti gaji bulanan.

“Artinya bukan berarti karena ini bonus yang sekali datang, jadi dipakainya untuk foya-foya, untuk ‘jajan’ saja, dan lainnya. Jadi tetap harus bijak membelanjakan dan mengelolanya,” ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/11).

Maka dari itu, buatlah prioritas penggunaan dana berdasarkan jenis kebutuhan. Mulai dari yang mendesak dan wajib hingga yang tidak terlalu penting. Berikut urutannya:

1. Penuhi kebutuhan harian

Menurut Andi, bantuan ini sejatinya merupakan tambahan dari pemerintah untuk mencukupi pengeluaran masyarakat kelas menengah di tengah pandemi. Dengan begitu, dana ini bisa digunakan pertama kali untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti makan, minum, vitamin, dan lainnya.

“Jadi bisa untuk penuhi makan pokok sehari tiga kali, tapi mungkin tidak dengan foya-foya ya, order delivery ini itu, kurangi unsur mewahnya, apalagi hanya untuk beli kopi kekinian setiap hari, yang penting cukup dulu untuk makan,” ucap Andi.

Dana juga bisa digunakan untuk kebutuhan penunjang, misalnya membayar kuota internet. Maklum, saat ini masih banyak pekerja kelas menengah yang bekerja dari rumah (work from home/WFH). Begitu juga dengan kuota internet untuk anak yang belajar dari rumah.

2. Bayar utang

Nah, kalau kebutuhan harian sudah dipenuhi, dana ini bisa dipakai untuk pemenuhan kebutuhan mendesak lain seperti membayar utang. 

Meski bukan dana rutin yang diterima, bantuan ini bisa untuk memenuhi kewajiban angsuran pada bulan tersebut. Misalnya, untuk bayar cicilan kartu kredit hingga bila memungkinkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

3. Modal usaha

Bila kebutuhan harian dan utang sudah dipenuhi lalu masih ada sisa, Andi bilang, dana itu bisa digunakan untuk modal usaha. Namun jumlahnya perlu dicermati.

Ia memberi simulasi agar dana digunakan secara bertahap. Misalnya 30 persen dulu. Lalu kalau usaha memberi hasil yang cukup baik, bisa ditambahkan menjadi 50 persen hingga akhirnya dipakai semua.

“Tentunya usaha ini disesuaikan dengan kemampuan atau minat, kira-kira usaha apa? Kalau yang mau laku mungkin bisa yang tren juga, seperti frozen foods, masker, tanaman hias, dan lainnya, kebetulan modalnya tidak besar,” katanya.

Andi mengatakan alokasi dana BLT subsidi gaji untuk modal usaha ini sangat bermanfaat karena bisa memutar dana. Dengan begitu, nilainya bertambah dari pagu awal dan bisa memberi manfaat jangka panjang meski nominalnya tidak terlalu besar.

4. Investasi

Selain modal usaha, tentu dana BLT Subsidi gaji bisa digunakan untuk berinvestasi. Pilihan ini, menurutnya, tepat bagi orang-orang yang mungkin tidak terlalu percaya diri untuk mengelola bisnis baru, namun ingin dana berkembang.

Untuk pilihan instrumen investasi dengan pagu Rp2,4 juta beragam. Pertama, bisa coba ke deposito online dari bank. Instrumen ini cocok untuk orang dengan profil risiko konservatif dan mereka yang ingin menjadikan dana ini sebagai dana darurat karena terbilang cepat pencairannya.

“Cocok untuk dana darurat, kalau sekarang belum ada pengeluaran, bisa disimpan dulu, tapi cepat penarikannya dengan keamanan yang steady,” imbuhnya.

Kedua, logam mulia. Instrumen ini juga cocok untuk mereka yang konservatif. Tapi kalau bisa, kata Andi, lebih baik beli emas batangan, bukan online.

“Perlu pegang fisik untuk minimalisir risiko. Kalau emas online, lebih cocok kalau yang mau cicil belinya, top up. Tapi kalau sudah ada dananya, langsung beli saja,” tuturnya.

Ketiga, reksa dana. Andi bilang instrumen ini yang paling menjanjikan, khususnya reksa dana saham dan campuran. Keuntungannya, harga pembeliannya tidak terlalu besar seperti obligasi misalnya, tapi memberikan imbal hasil yang cukup menarik dalam jangka waktu pendek dan menengah sampai tiga tahun.

“Nilai aktiva akan tumbuh maksimal meski dengan nilai (awal) yang tidak terlalu besar, tapi bisa disisihkan untuk investasi. Bisa juga ke reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang kalau lebih konservatif dan belum siap hadapi turun naiknya bursa saham,” katanya.

Keempat, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Agustina Fitria menambahkan, dana Rp2,4 juta cocok juga dimasukkan ke instrumen investasi saham. Namun, saham yang dituju bukanlah saham blue chip atau berkapitalisasi besar.

“Tapi tidak apa, asal emitennya bagus track record-nya, bisa beli 100-1.000 lembar lumayan untuk awal investasi,” ucap Agustina.

Kelima, investasi sukuk tabungan. Agustina bilang surat utang pemerintah ini bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp1 juta, sehingga masih masuk untuk penerima BLT Subsidi Upah yang mendapat dana Rp2,4 juta.

“Tapi memang dua tahun tidak bisa diambil ya, hanya bisa dapat bunganya setiap bulan, baru setelah jatuh tempo bisa diambil,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)






Source link

Pahami Wakaf, Ibadah yang Bantu Gerakkan Ekonomi Saat Corona



Jakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah kini sedang gencar mendorong masyarakat untuk berwakaf. Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan.

Kementerian Keuangan memaparkan potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp217 triliun. Angka itu setara dengan 3,4 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Namun, literasi wakaf di Indonesia masih sangat rendah, yakni 54,48 persen. Realisasi itu masih lebih rendah dari pemahaman masyarakat mengenai zakat yang mencapai 66,78 persen.







Selama ini, banyak orang berpikir wakaf adalah ibadah yang mahal. Wakaf adalah ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang kaya.

Sebagian orang hanya tahu bahwa harta yang bisa diwakafkan adalah tanah menganggur atau aset tak bergerak. Kemudian, aset itu akan digunakan untuk membangun kuburan massal, madrasah, sekolah, atau masjid.

Dengan pengertian itu, maka rasanya mustahil bagi masyarakat kelas menengah atau menengah ke bawah untuk berwakaf. Jangankan mengikhlaskan tanah menganggur, masyarakat kelas menengah atau menengah bawah saja masih banyak yang belum punya rumah sendiri.

Jadi, kalau pun mereka punya aset berupa tanah tak terpakai, otomatis tanah itu akan dibangun rumah sendiri. Inilah yang membuat wakaf masih belum berkembang di Indonesia.

Lantas apa sebenarnya arti wakaf dan dampaknya bagi ekonomi negara?

Arti Wakaf

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mohammad Nuh menjelaskan wakaf adalah menyerahkan aset yang memiliki nilai kepada pengelola wakaf alias nadzir. Nantinya, nadzir yang akan mengurus harta wakaf, sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh orang yang berhak menerima wakaf atau mauquf ‘alaih.

Wakaf sifatnya berbeda dengan zakat. Jika seseorang membayar zakat, maka 100 persen dana itu langsung diberikan kepada orang yang berhak menerima.

Sementara, harta wakaf tidak boleh dibagikan kepada penerima. Sebagai contoh, seseorang memberikan wakaf berupa tanah.

Tanah itu tidak boleh langsung diberikan kepada orang yang berhak menerima. Tapi, tanah itu harus dikelola agar mendapatkan keuntungan. Nantinya, keuntungan itu yang dibagikan kepada mereka yang berhak.

“Kalau wakaf itu induk, induk tidak boleh dibagi. Jadi pokok dari wakaf tidak bisa dibagi. Sebagai contoh orang berwakaf ayam, ayam itu tidak bisa diberikan ke orang, tapi harus diternak, hasilnya telor, itu yang boleh dibagikan,” ungkap Nuh kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (26/10).

Pengelolaan Wakaf

Ia mengatakan masyarakat bisa mewakafkan apapun dari harta yang dimiliki, asalkan memiliki nilai. Bukan hanya tanah seperti yang banyak dipahami selama ini, tapi juga boleh uang tunai.

“Paling banyak pengertian lama, wakaf itu hanya berupa tanah. Tapi sekarang ada wakaf uang. Orang berwakaf Rp1 juta, nanti pengelola wakaf akan mengelola uang itu, begitu ada hasil atau bunga, bunga itu diberikan ke anak yatim dan piatu misalnya,” papar Nuh.

Ia bilang tidak ada minimal jumlah dana untuk berwakaf. Artinya, masyarakat bebas berwakaf mulai dari Rp100 ribu, Rp10 juta, Rp100 miliar, atau bahkan lebih.

Dana wakaf harus diberikan ke lembaga pengelola wakaf. Di Indonesia, semua lembaga pengelola wakaf harus mendapatkan izin dan terdaftar di BWI.

BWI adalah regulator pengelola wakaf di Indonesia. Selain regulator, BWI juga bisa mengelola uang wakaf jika ada masyarakat yang menyerahkannya ke lembaga tersebut.

“Pengelola wakaf namanya nadzir. Pengelola wakaf ini harus dapat izin dari BWI, BWI sebagai nadzir juga boleh. Jadi bisa dikumpulkan di BWI atau nadzir lain, seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat. Itu tidak apa-apa,” kata Nuh.

Wakaf uang ini, sambung Nuh, akan dikumpulkan oleh lembaga pengelola dan ditempatkan dalam berbagai instrumen keuangan agar mendapatkan imbal hasil atau keuntungan. Beberapa contohnya, seperti tabungan biasa, deposito, hingga sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah.

“Kami harus menempatkan dana wakaf di instrumen yang tidak berisiko, karena dana wakaf tidak boleh hilang. Dana pokok dari wakaf harus dijaga,” tutur Nuh.

Sebagai gambaran, A berwakaf Rp100 ribu, B berwakaf Rp100 juta, C berwakaf Rp25 juta, sehingga total wakaf yang dikumpulkan oleh lembaga pengelola wakaf sebesar Rp125,1 juta. Total dana itu nantinya bisa ditempatkan di dalam instrumen sukuk, deposito, atau bisa juga tabungan biasa.

Sukuk Jadi Instrumen Pengelolaan Wakaf

Nuh menyatakan sukuk menjadi instrumen baru yang kerap dipilih badan pengelola wakaf. Sebab, instrumen itu dijamin negara, sehingga tidak akan terjadi gagal bayar.

Selain itu, masyarakat juga secara tidak langsung bisa membantu negara dalam mendorong perekonomian di tengah pandemi covid-19. Maklum, pemerintah butuh uang banyak untuk mengatasi virus corona di Indonesia.

Nuh bilang uang pokok dari harta wakaf itu tidak boleh habis atau dibagikan. Tapi, keuntungan dari tabungan, deposito, dan sukuk yang dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima wakaf.

“Kalau sukuk yang beli asing, maka bunganya yang dapat asing. Oleh karena itu, kalau dana wakaf bisa dibelikan sukuk, maka bunganya untuk orang Indonesia. Apalagi wakaf, keuntungannya tidak dinikmati orang per orang, tapi untuk kegiatan sosial, untuk kesejahteraan rakyat,” papar Nuh.

Di sisi lain, masyarakat secara mandiri juga bisa membeli sukuk secara langsung. Kebetulan, pemerintah baru saja menerbitkan sukuk wakaf atau Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS) ritel seri SWR 001.

Sukuk ini bisa dibeli secara individu dan institusi. Masa penawaran dimulai 9 Oktober 2020 hingga 12 November 2020.

Melalui SWR001, pemerintah memfasilitasi masyarakat yang ingin berwakaf dengan uang tunai. Masyarakat bisa memilih apakah ingin wakaf tunai secara temporer atau permanen.

Permanen artinya seluruh dana modal investasi hingga hasil investasi diniatkan untuk wakaf. Sebaliknya, temporer adalah wakaf untuk sementara waktu dan hanya hasil investasi yang dibagikan kepada penerima.

Sebagai gambaran, jika masyarakat berwakaf secara permanen, artinya dana pokok wakaf dan hasil dari pengelolaan wakaf akan diberikan seluruhnya untuk penerima wakaf. Sementara, bila memilih wakaf temporer, dana dari modal investasi itu akan kembali ke masyarakat saat jatuh tempo.

“Jadi yang diwakafkan hanya imbal hasilnya saja, dana modal beli sukuk akan kembali ke pemilik,” imbuh Nuh.

Pemerintah mematok minimal wakaf uang lewat sukuk SWR001 ini sebesar Rp1 juta, tanpa ada maksimum nominal pemesanan. SWR001 ini memiliki tenor dua tahun dan tingkat imbalan 5,5 persen per tahun.

Nuh menuturkan pemerintah biasanya akan menggunakan dana dari penerbitan sukuk wakaf untuk kegiatan sosial yang berdampak pada sosial dan ekonomi domestik. Artinya, dana itu tak hanya dinikmati satu atau dua orang, tapi berjuta-juta rakyat Indonesia.

“Ini yang mendorong perekonomian untuk tumbuh,” kata Nuh.

Apalagi di masa pandemi covid-19. Sudah diketahui bersama bahwa keuangan negara tertekan karena penerimaan pajak anjlok, sedangkan pemerintah butuh dana jumbo untuk menangani dampak pandemi di Indonesia.

Sementara itu, masyarakat juga punya opsi lain dalam berinvestasi sekaligus berwakaf. Salah satunya saham, baik dengan skema temporer maupun permanen.

Jika permanen, dana modal membeli saham dan keuntungan saham diniatkan untuk wakaf. Di sisi lain, jika memilih temporer, dana modal untuk membeli saham bisa kembali ke pemilik sesuai waktu yang diniatkan untuk wakaf dan hanya imbal hasilnya saja yang diwakafkan.

Misalnya, masyarakat ikrar untuk berwakaf temporer untuk 2 tahun. Artinya selama 2 tahun itu dana akan terus berada di rekening saham dan keuntungannya diberikan ke penerima wakaf. Setelah 2 tahun, pemilik bisa menarik lagi dananya dari rekening saham.

“Intinya, temporer adalah dana yang bisa diwakafkan hanya hasilnya, kalau permanen sama modal atau induknya,” tutur Nuh.

Wakaf Bisa Topang Ekonomi Indonesia

Sependapat, Pakar Ekonomi Syariah Syakir Sula mengatakan dana wakaf punya potensi yang cukup besar untuk menopang ekonomi Indonesia. Hal ini khususnya membantu negara dalam menghadapi tekanan ekonomi di tengah pandemi.

Menurut Syakir, pemerintah saat ini sudah mulai fokus mengembangkan wakaf di Indonesia. Hal itu terlihat dari instrumen sukuk wakaf ritel yang baru diterbitkan pemerintah.

“Ini bisa jadi sumber pendanaan baru bagi pemerintah. Ini bisa dimaksimalkan, Indonesia lagi krisis utang, harus banyak yang kreativitas dan inovasi,” tutur Syakir.

Selain sukuk, Syakir menyebut masyarakat juga bisa berwakaf melalui bank. Masyarakat bisa memilih produk wakaf di perbankan, baik di bank konvensional maupun syariah.

“Masyarakat menabung seperti biasa, nanti bank mengelola atau menginvestasikan uang itu dan imbal hasilnya dibagi ke penerima wakaf. Lalu uangnya tetap akan menjadi milik orang yang menabung,” ucap Syakir.

Kemudian, masyarakat juga bisa berwakaf melalui reksa dana. Sama seperti di bank, dana yang diwakafkan hanya hasil keuntungan dari pengelolaan di reksa dana.

Bedanya, masyarakat bisa memilih berapa porsi keuntungan yang akan diwakafkan. Misalnya, keuntungan yang diwakafkan hanya 75 persen, sedangkan 25 persennya masuk ke rekening pemilik reksa dana.

Nantinya, uang pokok dari investasi tersebut tetap akan menjadi hak pemilik rekening reksa dana. Hanya saja, dana itu akan ditanamkan di instrumen reksa dana dalam waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan investor dan perusahaan manajer investasi.

“Misalnya saya bilang ke perusahaan manajer investasi, ini uang saya untuk wakaf, tapi kalau sudah ada hasilnya lima tahun atau setiap tahun, 75 persen untuk wakaf, sisanya balik ke rekening saya,” jelas Syakir.

Ia bilang, pemerintah perlu mengontrol secara ketat pengelolaan dana wakaf di Indonesia. Pasalnya, potensi wakaf sendiri terbilang tinggi.

Maklum, sebagian besar masyarakat Indonesia beragama Islam. Jika pemerintah bisa memberikan imej bahwa dana wakaf dikelola secara transparan, maka Syakir optimistis wakaf akan berkembang pesat di Indonesia.

“Bagi orang Islam, wakaf memang tidak wajib, tapi orang Islam merasa belum sempurna Islam nya jika belum wakaf. Kalau masyarakat percaya bahwa masyarakat bisa mengelola uang wakaf dengan baik, masyarakat akan berbondong-bondong untuk wakaf,” kata Syakir.

Syakir menambahkan bahwa pemerintah juga harus terus berinovasi dalam mengembangkan wakaf. Menurutnya, Indonesia bisa mencontoh Timur Tengah, Brunei Darussalam, dan Malaysia dalam menyediakan instrumen wakaf dan mengelola uang wakaf.

“Di Mesir misalnya, uang wakaf bisa dikelola dalam berbagai bentuk, misalnya lahan kurma, properti, kelapa sawit. Itu sudah berkembang luar biasa,” tutup Syakir.

[Gambas:Video CNN]

(age)





Source link

4 Tip Liburan Asyik Anti Boncos



Jakarta, CNN Indonesia —

Cuti bersama menjadi kesempatan emas bagi pekerja untuk melepas penat dari pekerjaan. Tak jarang, momentum itu dimanfaatkan untuk liburan, baik sendiri maupun bersama teman dan keluarga.

Di penghujung Oktober, keinginan berlibur bisa jadi tak terbendung. Terlebih, pandemi covid-19 telah ‘mengurung’ masyarakat selama berbulan-bulan. Kesempatan melepas stres lewat liburan pun sulit untuk dilewatkan.

Tak heran, di hari pertama libur panjang terhitung puluhan ribu mobil memadati ruas tol. Penumpang juga meningkat di terminal, stasiun hingga bandara.







Namun, liburan ‘bareng’ di musim puncak atau peak season akan membuat biaya menjadi lebih mahal. Harga tiket perjalanan dan akomodasi yang membengkak bisa saja membebani dompet Anda.

Jika tak menahan diri, saldo di rekening pun berpotensi jadi korban. Untuk mereka yang tak disiplin, bisa saja malah menuai sesal setelah liburan berakhir.

Untuk mencegah hal itu, tak ada salahnya memetik beberapa saran dari perencana keuangan sebelum Anda berlibur. Berikut tip dan trik agar tak boncos kala liburan yang dihimpun CNNIndonesia.com:

1. Cek Kemampuan Finansial

Perencana Keuangan Andi Nugroho menyebut hal pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan berlibur adalah mengecek kemampuan finansial Anda. Menurut Andi, idealnya, dana berlibur sudah disisihkan setiap bulan dalam pos hiburan atau leisure.

Dia menyarankan untuk menyisihkan 10 persen dari pendapatan bulanan Anda ke pos leisure. Dengan melakukan hal itu, Anda memiliki uang yang siap dipakai tanpa mengorbankan pos rutin lainnya ketika masa liburan menghampiri.

Apabila sejak awal Anda tak menyisihkan uang untuk berlibur, Andi menyarankan untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menghabiskan uang untuk liburan.

Meski penting untuk melepas penat, Andi mengingatkan berlibur bukan termasuk dalam kebutuhan yang mendesak. Jika situasi keuangan sedang tak mendukung, sebaiknya urungkan niat untuk menguras tabungan dari pos lain.

“Jalan-jalan bukan sesuatu yang bersifat urgent (mendesak), meski penting biar tidak stress tapi kalau dananya ga ada, maka harus kompromi dengan situasi,” katanya.

2. Pisahkan Anggaran dari Keperluan Rutin

Bagi mereka yang senang berlibur namun kesulitan mengerem pengeluaran, Andi menyarankan untuk memisahkan anggaran liburan dengan pengeluaran rutin, tabungan investasi, dan dana darurat.

Jika tak memiliki disiplin tinggi, Andi khawatir dana pengeluaran rutin seperti jatah cicilan rumah dan kendaraan serta kebutuhan rutin lainnya akan terpangkas tanpa disadari. Terlebih, jika tak direncanakan sama sekali dan berangkat liburan selepas gajian.

Ia mencontohkan, jika Anda memiliki pendapatan Rp5 juta, 10 persen dari pendapatan atau Rp500 ribu dapat dipisahkan sebagai dana liburan. Dengan begitu, Anda dapat menyesuaikan destinasi yang sesuai dengan anggaran tersedia.

Meski berniat berwisata ke luar daerah, destinasi liburan dapat diubah ke tempat di sekitar rumah apabila dana terbatas. Terlebih, tujuan liburan adalah melepas penat, bukan gengsi berlibur jauh untuk diunggah di sosial media.

“Kalau dananya ada ya tidak masalah, tapi kalau cuma sekedar menuruti keinginan dan ambisi mau terlihat lebih keren di feed sosmed saya sarankan jangan,” ujar Andi.

3. Rencanakan dari Jauh-jauh Hari

Perencana Keuangan Safir Senduk menyarankan untuk merencanakan liburan Anda dari jauh-jauh hari. Menurut dia, liburan adalah momen yang dapat diduga dan direncanakan.

Dengan memantau tanggal merah atau libur panjang sebelumnya, eksekusi dapat dilakukan dengan perencanaan yang baik. Selain itu, harga tiket dan akomodasi biasanya juga lebih murah bila dipesan dari jauh-jauh hari.

Safir juga tak menyarankan untuk melakukan liburan spontan tanpa disertai perencanaan yang matang. Pasalnya, liburan tanpa persiapan bisa membuat dompet Anda kebablasan. Apalagi, kalau dilakukan pada peak season saat segalanya jadi serba mahal.

Jika tak diikuti perencanaan, dia menyarankan untuk mengurungkan niat untuk berlibur. Ia juga ‘mengharamkan’ mengambil fasilitas menunggak seperti paylater demi memenuhi hasrat yang tak ada habisnya.

“Liburan adalah sesuatu yang bisa diduga kapan datangnya dan bisa dieksekusi dan direncanakan. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak merencanakan,” katanya.

4. Tekan Belanja

Safir menyebut, dalam setiap liburan, ada lima kategori pengeluaran berbeda yang harus dibedakan yaitu transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, objek wisata, dan belanja.

Dari kelima pos tersebut, akomodasi seperti hotel atau penginapan dapat disisihkan lebih dulu setelah pemesanan dilakukan. Jika menggunakan moda transportasi umum, pengeluaran transportasi pun dapat dibayarkan dulu sebagai patokan Anda mengetahui berapa sisa anggaran yang tersisa.

Lalu, untuk makanan dan minuman dan objek wisata dapat disesuaikan dengan sisa anggaran. Jika masih memiliki dana yang lumayan, Anda bisa memanjakan diri dengan belanja suvenir atau oleh-oleh khas daerah yang dikunjungi.

Jika dana Anda pas-pasan, Safir menekankan untuk menekan belanja. Menurut dia, pos belanja adalah pos yang paling berpotensi menguras keuangan Anda mengingat, belanja yang tidak direm jumlahnya tak memiliki batasan.

“Ada lima pos liburan yaitu transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, objek wisata, dan belanja. Dari lima ini, yang potensi besar untuk boncos di belanja,” kata Safir.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)





Source link

Tip Jaga Kantong Agar Tak Bolong karena Pesta Diskon saat WFH

Tip Jaga Kantong Agar Tak Bolong karena Pesta Diskon saat WFH


Jakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total mulai awal pekan kemarin. Itu dilakukan demi mengatasi penyebaran virus corona yang belakangan ini terus meningkat.

Dampak dari kebijakan itu, mayoritas perkantoran menerapkan kebijakan bekerja dari rumah alias work from home (WFH). Situasi itu dimanfaatkan marketplace dan online shop untuk menawarkan diskon besar-besaran supaya dagangan mereka laku.

Diskon tak hanya diberikan saat tanggal cantik. Tapi, hampir setiap hari tawaran diskon terus bermunculan.







Kalau dilihat, tawaran itu bisa menjadi godaan tersendiri bagi pekerja yang tengah WFH. Nah, kalau tak pintar-pintar memilih kemauan dan kebutuhan, bisa-bisa dompet terkuras karena tawaran itu.

Lantas, apa yang harus dilakukan supaya tak khilaf melahap seluruh diskon yang ditawarkan di online shop dan marketplace?

1. Transfer Dana Menganggur ke Rekening Khusus

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad mengatakan masyarakat bisa menempatkan dana menganggur ke rekening khusus. Jadi, harus dibedakan antara rekening operasional atau belanja sehari-hari dan untuk menabung supaya tak kalap dengan tawaran itu.

“Jadi pindahkan dana untuk menabung, dana yang tidak dipakai ke rekening yang berbeda,” ucap Tejasari kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/9).

Selain dana menganggur, masyarakat juga bisa menempatkan uang yang seharusnya digunakan untuk membayar utang ke rekening khusus. Dengan demikian, dana itu tetap aman sampai tanggal jatuh tempo.

“Semua dana untuk bayar cicilan dan dana darurat pindahkan ke rekening khusus, yang aman,” kata Tejasari.

2. Belanja Sesuai Budget

Masyarakat sebaiknya mengalokasikan dana khusus untuk berbelanja. Dana untuk belanja itu dimasukkan dalam rekening yang berbeda dengan uang untuk kebutuhan lainnya.

“Untuk transfer bayar belanjaan gunakan satu rekening saja,” kata Tejasari.

Ia bilang masyarakat sebaiknya menyeleksi betul barang-barang yang hendak dibeli. Ini diperlukan agar pengeluaran untuk berbelanja tak melebihi dana yang sudah dialokasikan.

“Belanja sesuai dengan budget yang ada di rekening khusus belanja itu,” ujar Tejasari.

Tejasari mengingatkan masyarakat jangan menambah alokasi rekening untuk belanja dengan mengambil dana dari pos lain. Jika itu terjadi, maka pengelolaan keuangan akan kacau.

“Kalau uang habis jangan ditambah lagi dari pos lain. Ini semua dibuat agar terkontrol. Kalau di rekening belanja habis tidak apa-apa karena kan memang sudah sesuai budget,” jelas Tejasari.

3. Tambah Alokasi Dana Darurat

Untuk menghindari godaan diskon, Tejasari menyarankan masyarakat agar menambah alokasi dana darurat. Idealnya, tiap masyarakat yang belum berkeluarga memiliki dana darurat 3x dari pengeluaran per bulannya.

“Amannya yang muda-muda itu 3x dari pengeluaran bulanan. Itu aman,” ujar Tejasari.

[Gambas:Video CNN]

Sementara, untuk satu keluarga idealnya memiliki dana darurat sebesar 6x dari pengeluaran per bulan. Jika pengeluaran per bulan Rp5 juta, maka mereka harus punya dana darurat sebesar Rp30 juta.

Bahkan, semakin besar dana darurat akan tambah bagus. Terlebih, situasi saat ini semakin tak pasti.

Masyarakat harus siap-siap dengan segala kemungkinan terburuk di tengah pandemi virus corona, seperti, pemutusan hubungan kerja (PHK), pemotongan gaji, hingga dirumahkan tanpa gaji.

“Semakin besar dana darurat semakin bagus. Untuk keluarga kalau bisa 12x dari pengeluaran,” jelas Tejasari.

4. Jangan Aktifkan Mobile Banking

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menyarankan masyarakat membuka beberapa rekening sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, dana untuk belanja sehari-hari bisa ditempatkan di rekening sendiri.

Kemudian, tentukan satu rekening yang bisa melakukan transaksi lewat mobile banking. Jangan semua terkoneksi dengan mobile banking.

“Misalnya ada dua rekening. Hanya satu yang diaktifin mobile banking nya. Yang satu rekening lagi tidak perlu diaktifin mobile banking nya,” kata Andi.

Masalahnya, semakin mudah sistem pembayaran, maka masyarakat akan mudah tergoda untuk mengeluarkan uang. Di sisi lain, kalau akses pembayaran sulit, seseorang akan malas untuk melakukan transaksi.

“Ini susah kalau tidak disiplin karena ada di rumah. Semua ada. Jadi persulit dengan hanya satu rekening yang aktif mobile banking nya,” jelas Andi.

5. Investasi

Demi mengamankan dana, Andi bilang masyarakat bisa menempatkan dana menganggur atau tak terpakai di instrumen investasi. Bukan cuma untuk mengamankan dana, tapi juga meraup keuntungan.

Beberapa investasi yang bisa dipilih saat ini, kata Andi, antara lain reksa dana pendapatan tetap dan emas. Dengan modal Rp100 ribu saja, masyarakat bisa mulai berinvestasi di dua instrumen tersebut.

“Untuk emas kan bisa nabung emas itu murah dan terjangkau, reksa dana juga bisa mulai dengan harga murah,” kata Andi.

Ia menyarankan agar masyarakat menghindari saham terlebih dahulu. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergejolak di tengah ketidakpastian yang tinggi akibat pandemi.

“Kondisi sekarang ini IHSG anjlok. Jadi kalau mau investasi pikirkan juga potensi keuntungan, sehingga kalau mau dicairkan sewaktu-waktu ada keuntungan,” jelas Andi.

Ia menambahkan jika ada dana lebih minimal Rp10 juta, masyarakat bisa menempatkannya di deposito. Meski bunganya rendah jika dibandingkan dengan investasi lain, tapi instrumen itu aman untuk mengamankan dana dalam jangka panjang.

(agt)





Source link

4 Cara Agar Rekening Bank Tak Dibobol Maling

4 Cara Agar Rekening Bank Tak Dibobol Maling


Jakarta, CNN Indonesia —

Kemajuan teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk dalam melakukan transaksi perbankan. Dengan teknologi, nasabah tak perlu keluar rumah untuk transfer uang, pembayaran tagihan kartu kredit, pembelian pulsa, pembayaran rekening listrik, cek saldo, mutasi rekening, dan sebagainya.

Maklum, semua itu bisa dilakukan melalui teknologi mobile banking (m-banking).

Namun, bagi sejumlah oknum kehadiran teknologi perbankan justru menjadi celah untuk menarik keuntungan pribadi. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Central Asia (Tbk) atau BCA Jahja Setiaatmadja bahwa ada modus pembobolan rekening bank melalui nomor telepon yang sudah lama tak terpakai atau mati.


Modusnya, pelaku menggunakan nomor telepon tersebut untuk melakukan transaksi lewat m-banking.

Jahja menyatakan pembobolan rekening bank bisa dilakukan apabila pemilik nomor rekening tak mengatur password secara rumit, seperti, hanya dengan tanggal lahir atau urutan angka 123. Menurutnya, modus ini beberapa kali dialami oleh nasabah BCA.

“Banyak yang tidak sadar mengganti nomor telepon, nomor telepon lama diabaikan. Itu kejadiannya kalau dia gunakan password lalu ada yang menggunakan lagi nomor itu dan ternyata password aplikasi mobile banking mudah, itu akan kejebol,” ungkap Jahja dalam diskusi online Sistem Pembayaran Digital oleh CNBC Indonesia.

Oleh karena itu, sebagai nasabah kita harus mampu mengimbangi kecanggihan teknologi dengan kewaspadaan serta kehati-hatian. Berikut sejumlah tips yang bisa dipertimbangkan agar rekening kita anti bobol.

[Gambas:Video CNN]

1. Rutin Memperbaharui Data

Perencana Keuangan dari Zelts Consulting Ahmad Gozali menyarankan nasabah untuk memperbaharui data secara berkala terutama jika terjadi perubahan data. Meliputi, data alamat rumah, kantor, email, nomor telepon, dan sebagainya.

Meski terkesan sepele, namun pembaharuan data sangat penting. Tujuannya, agar pihak bank mudah mendeteksi jika ditemukan transaksi menggunakan data lama oleh oknum tidak bertanggung jawab. Pembaharuan data bisa dilakukan melalui aplikasi maupun datang langsung ke kantor cabang bank terdekat.

“Khusus untuk modus terbaru dengan memanfaatkan nomor handphone lama yang tidak terpakai. Jangan lupa untuk melakukan pengkinian data nasabah ke bank, atau melakukan update nomor di aplikasi yang terhubung dan menggunakan OTP (One Time Password) via sms,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

2. Lindungi Data Pribadi

Gozali mengatakan nasabah harus melindungi data-data pribadi dengan cara tidak memberitahukan data tersebut kepada sembarang orang. Apalagi, jika data-data tersebut berkaitan dengan validasi transaksi perbankan, misalnya tanggal lahir, nama ibu kandung, dan alamat sesuai KTP.

Ia juga mengimbau nasabah bijak menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, lantaran tidak ada batasan penerima jika sebuah informasi sudah kadung diunggah melalui internet.

“Karena kadang secara tidak sadar kita share nama ibu kandung, foto kartu ATM, terutama di bagian belakang ada kode keamanan, atau informasi pribadi lainnya yang mungkin dimanfaatkan sebagai celah penipuan,” imbuhnya.

3. Berkala Ubah PIN

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad menambahkan tak kalah pentingnya agar rekening tidak bobol adalah mengganti nomor PIN secara berkala. Hindari pemakaian PIN dengan kombinasi nomor tanggal lahir, sebaiknya menggunakan PIN dengan tingkat kerumitan tinggi.

“Secara berkala mengubah PIN dan punya catatan dengan (PIN) agar tidak lupa tadi catatannya jangan di handphone,” ujarnya.

Untuk informasi, PIN dengan kerumitan tinggi adalah kombinasi huruf kapital, huruf kecil, angka, dan karakter. Selain itu, hindari kombinasi PIN untuk transaksi perbankan yang mudah ditebak seperti urutan angka 1234.

Gozali menambahkan jika nasabah berganti smartphone, sebaiknya menghapus aplikasi m-banking pada perangkat lama. Termasuk, menghapus riwayat SMS dan email yang mencantumkan kode OTP maupun validasi transaksi lainnya.

“Begitu juga ketika smartphone hilang, langsung lakukan tindakan pencegahan dengan blokir rekening atau ganti password,” katanya.

4. Tidak Menaruh Dana dalam Satu Rekening

Tejasari juga menyarankan agar nasabah tidak menempatkan uangnya dalam satu rekening. Terlebih jika nasabah selalu membawa kartu ATM rekening tersebut di dalam dompet, maupun menginstal m-banking dari smartphone.

Sebaiknya, kata dia, nasabah memiliki sejumlah rekening di bank dengan tujuan penggunaan dana berbeda. Misalnya, satu rekening uang penghasilan lalu rekening lain untuk dana darurat.

Tujuannya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka nasabah masih memiliki cadangan dana.

“Juga disarankan tidak menaruh banyak uang di rekening tabungan, kalau banyak bisa memasukkan ke deposito atau rekening investasi,” ucapnya.

(agt)





Source link