fbpx
Tip Jaga Kantong Agar Tak Bolong karena Pesta Diskon saat WFH

Tip Jaga Kantong Agar Tak Bolong karena Pesta Diskon saat WFH


Jakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total mulai awal pekan kemarin. Itu dilakukan demi mengatasi penyebaran virus corona yang belakangan ini terus meningkat.

Dampak dari kebijakan itu, mayoritas perkantoran menerapkan kebijakan bekerja dari rumah alias work from home (WFH). Situasi itu dimanfaatkan marketplace dan online shop untuk menawarkan diskon besar-besaran supaya dagangan mereka laku.

Diskon tak hanya diberikan saat tanggal cantik. Tapi, hampir setiap hari tawaran diskon terus bermunculan.







Kalau dilihat, tawaran itu bisa menjadi godaan tersendiri bagi pekerja yang tengah WFH. Nah, kalau tak pintar-pintar memilih kemauan dan kebutuhan, bisa-bisa dompet terkuras karena tawaran itu.

Lantas, apa yang harus dilakukan supaya tak khilaf melahap seluruh diskon yang ditawarkan di online shop dan marketplace?

1. Transfer Dana Menganggur ke Rekening Khusus

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad mengatakan masyarakat bisa menempatkan dana menganggur ke rekening khusus. Jadi, harus dibedakan antara rekening operasional atau belanja sehari-hari dan untuk menabung supaya tak kalap dengan tawaran itu.

“Jadi pindahkan dana untuk menabung, dana yang tidak dipakai ke rekening yang berbeda,” ucap Tejasari kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/9).

Selain dana menganggur, masyarakat juga bisa menempatkan uang yang seharusnya digunakan untuk membayar utang ke rekening khusus. Dengan demikian, dana itu tetap aman sampai tanggal jatuh tempo.

“Semua dana untuk bayar cicilan dan dana darurat pindahkan ke rekening khusus, yang aman,” kata Tejasari.

2. Belanja Sesuai Budget

Masyarakat sebaiknya mengalokasikan dana khusus untuk berbelanja. Dana untuk belanja itu dimasukkan dalam rekening yang berbeda dengan uang untuk kebutuhan lainnya.

“Untuk transfer bayar belanjaan gunakan satu rekening saja,” kata Tejasari.

Ia bilang masyarakat sebaiknya menyeleksi betul barang-barang yang hendak dibeli. Ini diperlukan agar pengeluaran untuk berbelanja tak melebihi dana yang sudah dialokasikan.

“Belanja sesuai dengan budget yang ada di rekening khusus belanja itu,” ujar Tejasari.

Tejasari mengingatkan masyarakat jangan menambah alokasi rekening untuk belanja dengan mengambil dana dari pos lain. Jika itu terjadi, maka pengelolaan keuangan akan kacau.

“Kalau uang habis jangan ditambah lagi dari pos lain. Ini semua dibuat agar terkontrol. Kalau di rekening belanja habis tidak apa-apa karena kan memang sudah sesuai budget,” jelas Tejasari.

3. Tambah Alokasi Dana Darurat

Untuk menghindari godaan diskon, Tejasari menyarankan masyarakat agar menambah alokasi dana darurat. Idealnya, tiap masyarakat yang belum berkeluarga memiliki dana darurat 3x dari pengeluaran per bulannya.

“Amannya yang muda-muda itu 3x dari pengeluaran bulanan. Itu aman,” ujar Tejasari.

[Gambas:Video CNN]

Sementara, untuk satu keluarga idealnya memiliki dana darurat sebesar 6x dari pengeluaran per bulan. Jika pengeluaran per bulan Rp5 juta, maka mereka harus punya dana darurat sebesar Rp30 juta.

Bahkan, semakin besar dana darurat akan tambah bagus. Terlebih, situasi saat ini semakin tak pasti.

Masyarakat harus siap-siap dengan segala kemungkinan terburuk di tengah pandemi virus corona, seperti, pemutusan hubungan kerja (PHK), pemotongan gaji, hingga dirumahkan tanpa gaji.

“Semakin besar dana darurat semakin bagus. Untuk keluarga kalau bisa 12x dari pengeluaran,” jelas Tejasari.

4. Jangan Aktifkan Mobile Banking

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menyarankan masyarakat membuka beberapa rekening sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, dana untuk belanja sehari-hari bisa ditempatkan di rekening sendiri.

Kemudian, tentukan satu rekening yang bisa melakukan transaksi lewat mobile banking. Jangan semua terkoneksi dengan mobile banking.

“Misalnya ada dua rekening. Hanya satu yang diaktifin mobile banking nya. Yang satu rekening lagi tidak perlu diaktifin mobile banking nya,” kata Andi.

Masalahnya, semakin mudah sistem pembayaran, maka masyarakat akan mudah tergoda untuk mengeluarkan uang. Di sisi lain, kalau akses pembayaran sulit, seseorang akan malas untuk melakukan transaksi.

“Ini susah kalau tidak disiplin karena ada di rumah. Semua ada. Jadi persulit dengan hanya satu rekening yang aktif mobile banking nya,” jelas Andi.

5. Investasi

Demi mengamankan dana, Andi bilang masyarakat bisa menempatkan dana menganggur atau tak terpakai di instrumen investasi. Bukan cuma untuk mengamankan dana, tapi juga meraup keuntungan.

Beberapa investasi yang bisa dipilih saat ini, kata Andi, antara lain reksa dana pendapatan tetap dan emas. Dengan modal Rp100 ribu saja, masyarakat bisa mulai berinvestasi di dua instrumen tersebut.

“Untuk emas kan bisa nabung emas itu murah dan terjangkau, reksa dana juga bisa mulai dengan harga murah,” kata Andi.

Ia menyarankan agar masyarakat menghindari saham terlebih dahulu. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergejolak di tengah ketidakpastian yang tinggi akibat pandemi.

“Kondisi sekarang ini IHSG anjlok. Jadi kalau mau investasi pikirkan juga potensi keuntungan, sehingga kalau mau dicairkan sewaktu-waktu ada keuntungan,” jelas Andi.

Ia menambahkan jika ada dana lebih minimal Rp10 juta, masyarakat bisa menempatkannya di deposito. Meski bunganya rendah jika dibandingkan dengan investasi lain, tapi instrumen itu aman untuk mengamankan dana dalam jangka panjang.

(agt)





Source link

4 Cara Agar Rekening Bank Tak Dibobol Maling

4 Cara Agar Rekening Bank Tak Dibobol Maling


Jakarta, CNN Indonesia —

Kemajuan teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk dalam melakukan transaksi perbankan. Dengan teknologi, nasabah tak perlu keluar rumah untuk transfer uang, pembayaran tagihan kartu kredit, pembelian pulsa, pembayaran rekening listrik, cek saldo, mutasi rekening, dan sebagainya.

Maklum, semua itu bisa dilakukan melalui teknologi mobile banking (m-banking).

Namun, bagi sejumlah oknum kehadiran teknologi perbankan justru menjadi celah untuk menarik keuntungan pribadi. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Central Asia (Tbk) atau BCA Jahja Setiaatmadja bahwa ada modus pembobolan rekening bank melalui nomor telepon yang sudah lama tak terpakai atau mati.


Modusnya, pelaku menggunakan nomor telepon tersebut untuk melakukan transaksi lewat m-banking.

Jahja menyatakan pembobolan rekening bank bisa dilakukan apabila pemilik nomor rekening tak mengatur password secara rumit, seperti, hanya dengan tanggal lahir atau urutan angka 123. Menurutnya, modus ini beberapa kali dialami oleh nasabah BCA.

“Banyak yang tidak sadar mengganti nomor telepon, nomor telepon lama diabaikan. Itu kejadiannya kalau dia gunakan password lalu ada yang menggunakan lagi nomor itu dan ternyata password aplikasi mobile banking mudah, itu akan kejebol,” ungkap Jahja dalam diskusi online Sistem Pembayaran Digital oleh CNBC Indonesia.

Oleh karena itu, sebagai nasabah kita harus mampu mengimbangi kecanggihan teknologi dengan kewaspadaan serta kehati-hatian. Berikut sejumlah tips yang bisa dipertimbangkan agar rekening kita anti bobol.

[Gambas:Video CNN]

1. Rutin Memperbaharui Data

Perencana Keuangan dari Zelts Consulting Ahmad Gozali menyarankan nasabah untuk memperbaharui data secara berkala terutama jika terjadi perubahan data. Meliputi, data alamat rumah, kantor, email, nomor telepon, dan sebagainya.

Meski terkesan sepele, namun pembaharuan data sangat penting. Tujuannya, agar pihak bank mudah mendeteksi jika ditemukan transaksi menggunakan data lama oleh oknum tidak bertanggung jawab. Pembaharuan data bisa dilakukan melalui aplikasi maupun datang langsung ke kantor cabang bank terdekat.

“Khusus untuk modus terbaru dengan memanfaatkan nomor handphone lama yang tidak terpakai. Jangan lupa untuk melakukan pengkinian data nasabah ke bank, atau melakukan update nomor di aplikasi yang terhubung dan menggunakan OTP (One Time Password) via sms,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

2. Lindungi Data Pribadi

Gozali mengatakan nasabah harus melindungi data-data pribadi dengan cara tidak memberitahukan data tersebut kepada sembarang orang. Apalagi, jika data-data tersebut berkaitan dengan validasi transaksi perbankan, misalnya tanggal lahir, nama ibu kandung, dan alamat sesuai KTP.

Ia juga mengimbau nasabah bijak menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, lantaran tidak ada batasan penerima jika sebuah informasi sudah kadung diunggah melalui internet.

“Karena kadang secara tidak sadar kita share nama ibu kandung, foto kartu ATM, terutama di bagian belakang ada kode keamanan, atau informasi pribadi lainnya yang mungkin dimanfaatkan sebagai celah penipuan,” imbuhnya.

3. Berkala Ubah PIN

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad menambahkan tak kalah pentingnya agar rekening tidak bobol adalah mengganti nomor PIN secara berkala. Hindari pemakaian PIN dengan kombinasi nomor tanggal lahir, sebaiknya menggunakan PIN dengan tingkat kerumitan tinggi.

“Secara berkala mengubah PIN dan punya catatan dengan (PIN) agar tidak lupa tadi catatannya jangan di handphone,” ujarnya.

Untuk informasi, PIN dengan kerumitan tinggi adalah kombinasi huruf kapital, huruf kecil, angka, dan karakter. Selain itu, hindari kombinasi PIN untuk transaksi perbankan yang mudah ditebak seperti urutan angka 1234.

Gozali menambahkan jika nasabah berganti smartphone, sebaiknya menghapus aplikasi m-banking pada perangkat lama. Termasuk, menghapus riwayat SMS dan email yang mencantumkan kode OTP maupun validasi transaksi lainnya.

“Begitu juga ketika smartphone hilang, langsung lakukan tindakan pencegahan dengan blokir rekening atau ganti password,” katanya.

4. Tidak Menaruh Dana dalam Satu Rekening

Tejasari juga menyarankan agar nasabah tidak menempatkan uangnya dalam satu rekening. Terlebih jika nasabah selalu membawa kartu ATM rekening tersebut di dalam dompet, maupun menginstal m-banking dari smartphone.

Sebaiknya, kata dia, nasabah memiliki sejumlah rekening di bank dengan tujuan penggunaan dana berbeda. Misalnya, satu rekening uang penghasilan lalu rekening lain untuk dana darurat.

Tujuannya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka nasabah masih memiliki cadangan dana.

“Juga disarankan tidak menaruh banyak uang di rekening tabungan, kalau banyak bisa memasukkan ke deposito atau rekening investasi,” ucapnya.

(agt)





Source link