fbpx

Kemendag Kebut Terjemahan Teks dan Ratifikasi RCEP 2 Bulan



Jakarta, CNN Indonesia —

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan terjemahan naskah (teks) perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa rampung dalam dua bulan ke depan. Target ini juga termasuk penyelesaian tahap ratifikasi sebelum perjanjian bisa diimplementasikan.

Ratifikasi merupakan proses adopsi perjanjian internasional melalui persetujuan dari berbagai kementerian/lembaga yang bersinggungan dengan kebijakan di dalam perjanjian tersebut.

Ratifikasi juga berarti pemerintah perlu menyinkronkan aturan di dalam negeri agar sejalan dengan ketentuan di dalam perjanjian perdagangan RCEP.







Hal ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian perdagangan RCEP yang baru saja diteken oleh para menteri perdagangan dan menteri yang mewakili pada hari ini, Minggu (15/11). Penandatanganan juga disaksikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Mudah-mudahan dalam waktu dua bulan ke depan kita bisa sampaikan hasilnya ke DPR untuk ratifikasi sebagai mitigasi tantangan yang muncul dari implementasi perjanjian ini,” ucap Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo saat konferensi pers virtual.

Iman menjelaskan, proses terjemahan dan ratifikasi ini merupakan syarat dasar sebelum perjanjian dagang bisa diimplementasikan oleh sebuah negara. Maka dari itu, negara lain pun turut melakukan tahapan ini sebelum benar-benar menjalankan ketentuan dagang yang tertuang dalam RCEP.

“Kami pun baru bisa memprosesnya bila sudah melalui DPR, nanti dilihat apakah ini akan menjadi undang-undang atau peraturan presiden, saya kira kami akan coba ajak bicara semua pihak secara holistik. Kami siap diskusikan dengan DPR,” tutur dia lagi.

Selain ratifikasi, kata Iman, pemerintah juga akan melakukan sosialisasi implementasi ketentuan perjanjian dagang RCEP ke pelaku usaha di dalam negeri. Khususnya para UMKM karena keberlangsungan bisnis mereka beberapa ada yang diatur dalam perjanjian ini.

Di sisi lain, menurut Iman implementasi RCEP akan menjadikan perjanjian dagang ini sebagai yang terbesar di dunia. Bahkan jauh melebihi perjanjian dagang Trans Pasific Partnership (TPP) dan EU-28, forum dagang antar negara Uni Eropa.

Iman mencatat saat ini potensi ekonomi RCEP tanpa India yang menarik diri pada tahun lalu, mencapai 29 persen dari total ekonomi dunia. Nilai ini setara dengan perdagangan mencapai US$10,64 triliun atau 27,1 persen dari perdagangan dunia.

Selain itu, berasal dari aliran investasi negara-negara RCEP tanpa India, mencapai US$379,9 miliar atau 29,3 persen dari investasi di dunia.

RCEP juga menjadi pasar dengan populasi terbanyak mencapai 2,24 miliar atau 29,6 persen dari total populasi dunia.

Sementara ekonomi dari keberlangsungan TPP tanpa Amerika Serikat yang juga menarik diri dari perjanjian ini, sebesar 13 persen dari total ekonomi dunia. Perhitungan ini berasal dari nilai perdagangan sebesar US$5,88 triliun atau 15 persen dari total perdagangan dunia.

Sedangkan dari sisi investasi, TPP tanpa AS hanya menghimpun US$258 miliar atau 19,9 persen dari total aliran investasi di pasar internasional. Dari jumlah populasi, pasar TPP tanpa AS hanya melibatkan 6,6 persen populasi dunia.

Begitu pula dengan EU-28 tanpa Inggris yang menarik diri melalui kebijakan Brexit. Ekonomi dari EU-28 hanya 18,7 persen dari total ekonomi dunia.

Terdiri dari nilai dagang US$11,71 triliun atau 29,8 persen dari total perdagangan dunia dan investasi US$213,2 miliar atau 16,4 persen dari total. Untuk populasi, pasar ini hanya melibatkan 5,9 persen penduduk dunia.

(uli/nma)

[Gambas:Video CNN]






Source link

OJK Sebut Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat


JawaPos.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis pemulihan ekonomi Indonesia harus diimbangi dengan upaya pengendalian pandemi Covid-19. Hal tersebut juga tercermin dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menaikkan revisi pertumbuhan ekonomi global.

Kepala Departemen Surveillance OJK Henry Rialdi mengatakan, pemulihan ekonomi global secara perlahan mulai terlihat meski belum terjadi secara merata. IMF telah merevisi terhadap pertumbuhan ekonomi global pada 2020 yang dilatarbelakangi oleh kinerja ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok memang lebih baik daripada perkiraan dan didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal global yang akomodatif serta pro terhadap pertumbuhan,” ujarnya, dalam Financial Award 2020 dan Webinar Indonesia Financial Industry & Economy Outlook 2021, Kamis (12/11).

Sementara, ekonomi Indonesia sendiri meskipun pada kuartal ketiga masih terkontraksi sebesar minus 3,49 persen. Namun lebih baik ketimbang puncak tekanan ekonomi yang terjadi di kuartal kedua pada tahun ini sebesar 5,34 persen. Kondisi tersebut merupakan sinyal positif bahwa telah terjadi perbaikan atau pemulihan ekonomi.

“Saat ini, sektor rumah tangga dan dunia usaha terlihat masih sangat berhati-hati dalam beraktivitas ekonomi,” tuturnya.

Ia juga mengarakan, dengan masih berlangsungnya peningkatan laju infeksi covid-19, secara umum rilis data pertumbuhan ekonomi terlihat ada perbaikan. Hal itu tercermin dari kinerja positif dari neraca perdagangan yang terus mencatat surplus selama lima bulan terakhir dan belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terakselerasi.

“Kami juga melihat masih ada sektor-sektor yang tumbuh positif dengan tren yang meningkat, misalnya, sektor jasa kesehatan dan industri farmasi. Lalu sektor pertanian khususnya tanaman hortikultura dan perkebunan serta industri makanan dan minuman,” tegasnya.

Meskipun demikian, Ia menambahkan, OJK mencatat masih ada beberapa tantangan yang sedang dihadapi baik di tahun ini maupun di tahun depan. Terdapat dua tantangan yang harus dihadapi, yaitu tantangan sektor keuangan sebagai akibat dari krisis pandemi covid-19. “Kedua, tantangan sektor keuangan yang lebih bersifat struktural,” ucapnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri





Source link