fbpx

GAPKI Pede Devisa Ekspor Sawit 2020 Naik Meski Ada Corona



Jakarta, CNN Indonesia —

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) optimistis pendapatan devisa dari ekspor sawit tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pasalnya meski volume ekspor turun, harga sawit sedikit lebih tinggi dibandingkan 2019.

Wakil Ketua Umum III GAPKI bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang bahkan mengatakan hari ini harga freight on board (FOB) CPO sudah mencapai US$860 per ton.

“Mungkin sedikit lebih tinggi dibandingkan 2019, tapi tidak jauh. Kalau 2019 US$20 miliar. Kalau 2020 ini mudah-mudahan sampai US$21 miliar. Tetapi intinya sama,” ucapnya dalam konferensi virtual IPOK 2020, Jumat (20/11).







Menurut catatan GAPKI, produksi minyak sawit Indonesia juga telah menunjukkan pemulihan. Itu terlihat dari kenaikan yang konsisten dalam 3 bulan terakhir.

Pada Juli, produksi CPO 3,85 juta ton, kemudian naik menjadi 4,38 juta ton pada Agustus dan 4,73 juta ton pada September 2020. Meski demikian secara year on year (yoy) sampai dengan September produksi 2020 masih minus 4,7 persen dari produksi 2019.

Sementara itu, nilai ekspor produk sawit pada September mencapai US$1,871 miliar naik 10 persen dibandingkan dengan nilai ekspor Agustus sebesar US$1,697 miliar. Jika dilihat secara yoy sampai dengan September, nilai ekspor produk sawit tahun ini mencapai US$15,498 miliar atau yang lebih besar dari 2019 sebesar US$14,458 juta.

Sedangkan secara volume, ekspor September mencapai 2.764 ribu ton naik 81 ribu ton atau naik 3 persen dari bulan Agustus sebesar 2.683 ribu ton.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi penentu atas harga komoditas sawit tahun depan. Beberapa di antaranya adalah pasar ekspor, konsumsi domestik, dan implementasi kebijakan.

“Untuk pasar ekspor, diperkirakan belum akan pulih pada 2021. Pasalnya, pasar masih akan menyesuaikan diri dengan kondisi new normal. Dari konsumsi dalam negeri, peningkatan yang terjadi, terutama untuk oleokimia, dinilai menjadi catatan positif,” tuturnya.

Menurut Joko, konsistensi pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan biodiesel menjadi senjata bagi pelaku usaha ekspor dalam negeri untuk mengendalikan pasokan dan permintaan.

Karena itu ia berharap implementasi kebijakan terkait dengan biodiesel harus terus diperhatikan di tahun depan. Selain itu pemerintah juga perlu menyiapkan berbagai hal untuk mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang implementasinya diperkirakan jauh lebih sulit dari pengesahannya.

“Ambisi pemerintah dalam implementasi UU Ciptaker yang semestinya bisa memberi dukungan kepada industri sawit, juga bersifat challenging. Mengaca kepada kisruh yang mengikuti pembahasan aturan tersebut yang dinilai akan mempersulit industri tahun depan,” pungkasnya.

(hrf/agt)






Source link