fbpx

Konkret! Ini Cara BRI Dukung Pemerintah Tingkatkan Ekspor RI



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank BRI sebagai salah satu bank devisa terbesar di Indonesia terus menunjukkan komitmen untuk mengembangkan potensi bisnis ekspor di Indonesia khususnya pada segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu bentuk keseriusan BRI dalam mendukung bisnis ekspor di Indonesia, adalah dengan mendukung pameran dagang tahunan Trade Expo Indonesia Virtual Exhibition 2020 (TEI-VE 2020) yang digelar pada 11-16 November 2020 dan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo.

Digelar dengan konsep virtual exhibition, TEI-VE 2020 diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan RI dengan tujuan untuk mempromosikan produk-produk berkualitas buatan Indonesia melalui platform pameran virtual untuk pasar global, mengembangkan jaringan bisnis, investasi dan menghadirkan showcase produk-produk premium dan terbaik Indonesia yang pada ujungnya diharapkan mampu untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

“Tema yang diusung Bank BRI pada tahun ini adalah ‘The Key to Easy and Secure Export Import Transactions’, dimana pada virtual booth ditampilkan showcase produk digital Bank BRI yang berkaitan erat dengan transaksi eksport import, seperti BRITrade Online, Trade Finance Online, dan BRICaMS. Tampilan produk-produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan awareness terhadap keunggulan Bank BRI dalam layanan digital trade,” ujar SEVP Treasury & Global Services BRI Listiarini Dewajanti.


Sejalan dengan semangat tersebut, sampai dengan saat ini, BRI telah melayani transaksi Trade Finance untuk lebih dari 8.800 nasabah UMKM dan lebih dari 200 nasabah korporasi.

Dalam rangka memberikan edukasi produk perbankan dan bisnis ekspor-impor, booth Bank BRI di TEI-VE 2020 juga telah menggelar kegiatan Coaching Clinic secara virtual pada tanggal 11 hingga 15 November 2020 lalu. Materi terkait ekspor-impor yang dipresentasikan antara lain : Manajemen Kargo, Kepabeanan, Edukasi Produk Perbankan, dan Sharing Session dari UMKM eksportir.

Adapun materi terkait metode pembayaran yang digunakan pada transaksi ekspor-impor antara lain : Import Financing, Export Financing, dan Supply Chain Financing, Telegraphic Transfer, Documentary Collection, Letter of Credit, dan SBLC. Coaching Clinic BRI disambut antusias oleh para Visitor maupun Exhibitor TEI-VE 2020 dengan total 648 peserta yang berasal dari para pelaku eksportir UMKM maupun Korporasi, jumlah ini naik signifikan dibandingkan total keikutsertaan peserta pada event yang sama tahun lalu. Selama berlangsungnya gelaran, setidaknya 46 UMKM akan bergabung menjadi mitra binaan BRI dan menjajal layanan trade finance BRI.

Dalam event tersebut BRI juga secara khusus menyediakan Booth Indonesia Mall. Indonesia Mall merupakan wadah atau sarana ekspansi bagi UMKM di Indonesia dengan tujuan pengembangan bisnis lokal kreatif untuk go online. Dengan Indonesia Mall, pebisnis lokal hanya perlu mengupload produknya satu kali dan sudah bisa terkoneksi ke beberapa e-commerce baik skala lokal, regional, maupun global.

Guna mempermudah pembelian produk-produk unggulan dari Indonesia Mall, masyarakat dapat mengaksesnya melalui market placebesar di Indonesia seperti Tokopedia, blibli.com, shopee, ebay, Zalora, Lazada, bukalapak, bhinneka, dan lain lain.

“Dengan dukungan network yang luas dan tekhnologi terkini dengan platform trade finance yang memberikan kemudahan bagi eksportir, BRI siap untuk mendukung pertumbuhan transaksi ekspor Indonesia,” pungkas Listiarini.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

Potensi Ekonomi dari Perjanjian Dagang RCEP Versi Kemendag



Jakarta, CNN Indonesia —

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memaparkan berbagai potensi peningkatan ekonomi yang bisa didapat Indonesia dari hasil penandatanganan perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Menurut dia, ekspor, hingga investasi berpotensi tumbuh subur.

Mengutip kajian sebuah lembaga swasta pada September 2020, Agus mengatakan potensi peningkatan ekonomi ini bisa didapat Indonesia pada tahun kelima sejak ratifikasi perjanjian RCEP.

Peningkatan ekonomi berasal dari kenaikan hubungan kerja sama dengan para negara RCEP, yaitu negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.







“RCEP berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke negara-negara peserta sebesar 8 persen sampai 11 persen dan investasi ke Indonesia sebesar 18 persen sampai 22 persen,” ujar Agus dalam konferensi pers virtual bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (15/11). 

Indonesia juga bisa mendapat manfaat lain dari perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dari negara-negara RCEP dengan negara-negara non-RCEP. 

“Perluasan peran Indonesia melalui global supply chain dari spill over effects ini berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke dunia sebesar 7,2 persen,” katanya. 

Lebih lanjut Agus bilang proyeksi peningkatan potensi ekonomi ini berhasil dari kajian perkembangan ekonomi Indonesia dan para negara RCEP dalam lima tahun terakhir.

Menurut catatannya, 15 negara RCEP mewakili 29,6 juta penduduk dunia, 32 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 27,4 persen perdagangan dunia, dan 29,8 persen investasi asing dunia. 

Potensi juga berasal dari realisasi pertumbuhan ekspor Indonesia ke 15 negara RCEP yang mencapai 7,35 persen dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019, total ekspor nonmigas Indonesia ke 15 negara RCEP mencapai 56,1 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia mencapai US$84,4 miliar. Sementara, nilai impor dari negara-negara RCEP ke Indonesia mencapai 65,79 persen dari total impor mencapai US$102 miliar dari seluruh dunia. 

Kendati begitu, ia menekankan potensi ini bisa ditangkap bila koordinasi bisnis di dalam negeri mendukung dan terhubung. Mulai dari dunia usaha besar hingga UMKM, pemerintah, dan lainnya. 

“Tak ada cara lain untuk memetik manfaat RCEP secara maksimal, selain meningkatkan daya saing dan itulah yang dilakukan negara-negara pesaing kita secara terus menerus,” tuturnya. 

Di sisi lain, Agus berharap RCEP bisa menjadi katalitas bagi Indonesia untuk memasuki lebih dalam global value chain. Selain itu, bisa membantu pemulihan ekonomi nasional usai resesi ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19. 

Sebagai informasi, perjanjian perdagangan RCEP baru saja diteken oleh para menteri perdagangan dan menteri yang mewakili pada hari ini. Penandatanganan juga disaksikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

[Gambas:Video CNN]

(uli/bir)






Source link

Peluang Terbuka, KBRI Stockholm Dorong Peningkatan Ekspor Sepeda ke Swedia


TEMPO.CO, Jakarta -Dubes RI di Stockholm Kamapradipta Isnomo mendorong pengusaha Indonesia untuk mengambil peluang ekspor produk-produk peralatan olah raga terutama sepeda ke Swedia.

“Budaya olah raga Swedia perlu dimanfaatkan oleh produsen dan eksportir Indonesia untuk menjadi salah satu pasar tujuan. Ekspor kita saat ini masih kecil dibandingkan potensi yang dimiliki. Kita harus bisa tingkatkan” kata Dubes Kamapradipta Isnomo  dalam acara virtual Business Forum on “Sporting Goods Opportunity in Sweden”, pada pembukaan Trade Expo Indonesia 2020.

Baca Juga: Mendag Agus Suparmanto Yakin Pameran TEI Tingkatkan Ekspor

Sekretaris Ketiga Pensosbud KBRI Stockholm Fajar Primananda kepada ANTARA London, Selasa mengatakan pembukaan Trade Expo Indonesia 2020 ini disambut antusias oleh para produsen dan pelaku bisnis dari kedua negara yang sempat mencapai 146 pengunjung virtual.

Kegiatan hasil kolaborasi antara Kementerian Perdagangan RI, KBRI Stockholm, dan Open Trade Gate bertujuan memberikan gambaran mengenai peluang pasar peralatan olah raga, terutama sepeda, di Swedia.

Dubes Kamapradipta menekan, bahwa sebagai negara dengan tingkat inovasi yang tinggi, terdapat peluang kerja sama Swedia dan Indonesia di bidang R&D.

“Inovasi dan teknologi yang dimiliki Swedia digabung dengan kapasitas teknis Indonesia berpotensi untuk produksi peralatan olah raga dan sepeda dengan label designed in Sweden and made in Indonesia,” ujarnya.

Acara yang dibuka Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemdag RI Kasan ini, memberikan penekanan pentingnya untuk mengisi pasar komoditas peralatan olah raga di tengah pandemi Covid-19.

“Situasi pandemi telah mendorong masyarakat global untuk lebih aktif berolah raga untuk menjaga kesehatan. Di Swedia terdapat empat musim di mana ini menjadi kesempatan baik bagi produsen Indonesia untuk mengisi pasar Swedia”, ujar Dirjen Kasan.

Pembicara dari KBRI Stockholm dan Open Trade Gate Swedia yang diwakili Anamaria Deliu dalam paparannya, memberikan gambaran strategis mengenai peluang dan tantangan ekspor Indonesia ke Swedia serta penjelasan teknis yang komprehensif mengenai regulasi yang berlaku.

Salah satu tantangan yang perlu dihadapi adalah kapasitas produksi dalam negeri untuk memenuhi demand, serta standarisasi untuk memenuhi pasar Swedia dan Uni Eropa.

Peluang terbesar bagi produsen Indonesia adalah pasar e-bikes yang menjadi salah satu jenis sepeda yang semakin diminati masyarakat Swedia. Pasar e-bikes juga masih terbuka lebar dan belum terlalu banyak pesaing.





Source link

Asosiasi Sepatu Sebut Permintaan Ekspor Turun Memperparah Tren PHK


TEMPO.CO, Jakarta – Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami 1.800 pekerja di Kabupaten Tangerang dinilai merepresentasikan kondisi industri secara keseluruhan.

“Sebagai wilayah sentral untuk industri sepatu berorientasi ekspor di Tanah Air, mau tidak mau PHK yang terjadi di Tangerang, Banten, merepresentasi kondisi industri secara keseluruhan,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie kepada Bisnis, Sabtu 7 November 2020. 

Dia mengatakan tren tersebut cukup representatif untuk menggambarkan situasi industri di kawasan lain seperti Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dampak penurunan permintaan di pasar ekspor terhadap produk dari Tanah Air pun diperkirakan sama parahnya terhadap pekerja-pekerja di industri sepatu di daerah-daerah tersebut.

Firman menjelaskan, konsumsi dalam negeri dan luar negeri sebagai tonggak utama industri sedang dalam kondisi rentan akibat keterpurukan yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

Kondisinya, kata Firman, baik pasar dalam negeri yang memiliki porsi besar dalam hal kuantitas maupun pasar global dengan nilai lebih tinggi sama-sama terdistraksi.





Source link

Garuda Indonesia Catat Jumlah Penumpang Naik 17,9 Persen di Kuartal III


TEMPO.CO, Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk secara konsisten mencatatkan pertumbuhan penumpang dalam periode Kuartal III-2020 ini. Tren pertumbuhan tersebut salah satunya terlihat dari adanya peningkatan penumpang Garuda Indonesia yang tumbuh sebesar 17,9 persen di bulan September 2020 dibandingkan dengan capaian jumlah penumpang pada bulan Agustus 2020.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan tren pertumbuhan penumpang yang meningkat secara konsisten dalam periode Kuartal III-2020 lalu, menjadi optimisme tersendiri bagi kami dalam upaya pemulihan kinerja fundamental di masa pandemi Covid-19.

“Konsistensi tersebut menandakan minat dan confident masyarakat untuk terbang sudah mulai pulih,” kata Irfan dalam keterangan tertulis, Sabtu, 7 November 2020.

Selain mencatatkan pertumbuhan penumpang, Garuda Indonesia pada September 2020 lalu juga turut mencatatkan pertumbuhan angkutan kargo sebesar 40,11 persen dibandingkan dengan Jumlah angkutan kargo pada Agustus 2020, menjadi sebesar 15 ribu ton angkutan kargo.

Di tengah imbas pandemi ini, kata dia, layanan kargo turut berperan penting dalam menunjang capaian kinerja Perusahaan sejalan dengan pesatnya perkembangan bisnis e-commerce dimasa pandemi serta upaya optimalisasi angkutan kargo untuk komoditas ekspor unggulan nasional.





Source link

Kadin: Pengusaha RI Baru Manfaatkan 20 Persen Fasilitas Ekspor GSP


TEMPO.CO, Jakarta – Melalui United States Trade Representative (USTR), pemerintah Amerika Serikat (AS) telah memperpanjang fasilitas Generalized System of Preference (GSP) bagi Indonesia pada 30 Oktober 2020. Fasilitas memberikan pembebasan bea masuk yang diberikan AS dalam rangka meningkatkan akses pasar ekspor bagi negara-negara berkembang. Setidaknya ada 3.572 pos tarif produk yang mendapatkan fasilitas tersebut dan bisa dimanfaatkan oleh eksportir dalam negeri.

Namun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja mengatakan eksportir Indonesia baru memanfaatkan sekitar 20 persen fasilitas tersebut. Menurut Shinta, hal tersebut terjadi karena masih banyak produk Indonesia yang tidak bisa menyesuaikan syarat untuk mendapatkan fasilitas GSP tersebut.

“Karena produk yang diberikan fasilitas GSP kebanyakan adalah semi-processed input product (barang setengah jadi) untuk industri-industri AS yang proporsi preference-nya paling besar di GSP,” tutur Shinta kepada Tempo, Selasa 3 November 2020.

Sementara itu, Shinta menuturkan Indonesia lebih banyak mengekspor barang konsumsi (consumer goods) atau pun barang mentah (raw materials) ke AS. Untuk itu, Shinta mengatakan industri dalam negeri perlu mengekspor lebih banyak semi-processed input products, seperti komponen elektronik, permesinan, kendaraan, atau pun raw materials lain untk industri-industri di AS seperti bahan kimia, panel kayu, dan tembakau.

Selain itu, Shinta mengatakan produk perikanan dan pertanian serta turunannya, mulai dari produk makanan dan minuman hingga produk turunan dari minyak sawit mentah. Produk tersebut dinilai juga berpotensi untuk diekspor dengan memanfaatkan GSP selama Indonesia bisa memenuhi standar pasar AS.





Source link

Unilever Sudah Naikkan Harga Produk Sejak Awal Tahun, Alasannya?


TEMPO.CO, Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk menyatakan telah menaikkan harga produknya sejak awal tahun 2020. Kenaikan harga tersebut bisa mencapai sekitar 2 persen.

“Tentang kenaikan harga, Jadi selama sembilan bulan ini kenaikan harga mulai dari Januari itu secara menyeluruh sekitar mendekati 2 persen,” ujar Direktur Keuangan Unilever Indonesia Arif Hudaya dalam konferensi pers, Selasa, 3 November 2020.

Arif mengatakan kenaikan harga itu dilakukan di awal tahun, yaitu pada Januari dan Februari, lantaran perseroan melihat adanya potensi inflasi pada material produk. “kami melihat bahwa tahun yang berjalan akan mempunyai kesempatan dan tantangan dalam segi inflasi material.”

Pada masa Covid-19, kata Arif, ternyata kenaikan harga 2 persen tersebut tetap bisa dipertahankan. Sebab, ia mengatakan merek-merek dari perusahaannya bisa memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada konsumen untuk memberikan solusi di masa pandemi.

“Kedua adalah memang betul sudah terjadi tingkat promosi yang berbeda di channel-channel tertentu, tetapi kami bisa selalu tetap kompetitif tanpa harus melakukan koreksi harga menyeluruh,” ujar Arif.





Source link

Teten Masduki Ajak UMKM Manfaatkan Fasilitas GSP Ekspor Produk ke AS


TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM mengajak para pelaku UMKM yang telah siap mengekspor untuk memanfaatkan Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk yang memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan GSP menjadi peluang bagi produk UMKM untuk memperluas pasar ke AS dengan lebih mudah. “GSP ini fasilitas yang diberikan secara unilateral oleh pemerintah AS kepada negara berkembang sejak tahun 1974 yang harus dimanfaatkan dengan baik sebagai peluang oleh UMKM di Indonesia,” kata Teten dalam keterangan tertulis, Senin, 2 November 2020.

Keputusan pemberian GSP diambil AS melalui United States Trade Representative (USTR) pada Sabtu, 30 Oktober 2020. Keputusan ini diambil setelah USTR melakukan review terhadap fasilitas GSP untuk Indonesia selama kurang lebih 2,5 tahun sejak Maret 2018.

Terdapat 3.572 pos tarif yang telah diklasifikasikan oleh US Customs and Border Protection(CBP) pada level Harmonized System(HS) 8-digit yang mendapatkan pembebasan tarif melalui skema GSP. Ekspor GSP Indonesia pada 2019 berasal dari 729 pos tarif barang dari total 3.572 pos tarif produk yang mendapatkan preferensi tarif GSP mencakup produk-produk manufaktur dan semimanufaktur, pertanian, perikanan, dan juga industri primer. Indonesia saat ini merupakan negara pengekspor GSP terbesar ke-2 di AS setelah Thailand.

Teten menilai hal ini harus dimanfaatkan sebagai peluang mengingat saat ini harga komoditas Cina menjadi tidak kompetitif di pasar AS karena adanya penerapan tarif impor dari AS, sehingga volume komoditas yang berasal dari Cina berkurang.

Di samping itu AS memiliki potensi pasar yang besar sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia (tercatat pada 2020 mencapai US$ 22,34 triliun) dengan konsumsi domestik masyarakat AS yang sangat besar dan daya beli tinggi (GDP per kapita US$ 53.240).





Source link

Ekspor Bebas Tarif Bea Masuk RI ke AS Naik 10,6 Persen



Jakarta, CNN Indonesia —

Jumlah ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dengan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) selama masa pandemi diklaim naik 10,6 persen. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan peningkatan tersebut tercatat mencapai US$1,87 miliar.

“Kalau kita lihat angka Januari-Agustus 2020, di tengah pandemi nilai ekspor Indonesia yang menggunakan fasilitas GSP tercatat US$1,87 miliar atau naik 10,6 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” katanya melalui konferensi video, Minggu (1/11).

Untuk diketahui GSP adalah fasilitas pembebasan tarif bea masuk yang diberikan AS kepada negara berkembang sejak 1974. Retno menjabarkan pada tahun 2019 tercatat ada 729 pos tarif barang dari total 3.572 pos tarif produk yang mendapat preferensi tarif GSP.







Berdasarkan data dari United States International Trade Commission (USITC), 13,1 persen atau US$2,61 miliar dari total ekspor Indonesia ke AS yang mencapai US$20,1 miliar menggunakan fasilitas GSP.

Total nilai perdagangan dua arah kedua negara pada tahun lalu tercatat mencapai US$27 miliar. Secara keseluruhan, para periode Januari-Agustus 2020 ekspor Indonesia mencapai US$11,8 miliar, dua persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu dengan US$11,6 miliar.

“Kenaikan ini terjadi di tengah situasi pandemi, dan secara rata-rata saat impor AS dari seluruh dunia turun 13 persen,” ujarnya.

Hingga Agustus 2020, Retno menyampaikan lima besar ekspor GSP ke AS dipegang produk matras karet maupun plastik dengan US$185 juta, kalung dan rantai emas dengan US$142 juta, tas berpergian dan olahraga dengan US$104 juta, minyak asam dari kelapa sawit dengan US$84 juta dan ban pneumatik radial untuk bus atau truk dengan US$82 juta.

Sedangkan pada tahun 2019, lima besar ekspor dipegang kalung rantai emas dengan US$225 juta, ban pneumatic radial untuk bus atau truk dengan US$145 juta, tas bepergian dan olahraga dengan US$142 juta, perhiasan dari logam berharga selain perak dengan US$112 juta dan minyak asam dari kelapa sawit dengan US$95 juta.

“[Dan] Pada tanggal 30 Oktober 2020, pemerintah AS melalui United States Trade Representative (USTR) secara resmi telah mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) kepada Indonesia,” ungkapnya.

Ia menjelaskan keputusan itu diambil setelah USTR melakukan peninjauan terhadap fasilitas GSP selama 2,5 tahun sejak Maret 2018. Peninjauan dilakukan sejak pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Retno mengatakan sejak diberlakukan pada 1980, sudah ada 3.572 pos yang diklasifikasi oleh US Customs and Border Protection (CBP) pada level Harmonized System (HS) 8-digit yang mendapatkan pembebasan tarif melalui skema GSP. 3.572 pos tarif.

Menurutnya ini merupakan bukti konkret dari komitmen pemerintah terhadap hubungan bilateral dan perdagangan Indonesia-AS. AS sendiri, sambungnya, merupakan negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia kedua setelah China.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengklaim Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang mendapat perpanjangan GSP tanpa pengurangan semenjak peninjauan dilakukan AS.

“Tentu ini semakin penting lagi apabila kita menyadari pula bahwa mayoritas dari produk yang diekspor menggunakan fasilitas GSP diproduksi oleh produsen dan produsen eksportir UKM di Indonesia,” tuturnya.

Ia juga mengatakan dalam peninjauan tersebut ditemukan bahwa proses perdagangan dan investasi dari kedua belah pihak kerap menemukan hambatan. Untuk itu keduanya berupaya memperoleh solusi yang saling menguntungkan, termasuk perpanjang GSP.

Menurut Mahendra, perpanjangan ini dapat meningkatkan daya saing ekspor ke AS lebih tinggi. Kemudian bisa membuka kesempatan besar untuk investasi AS ke Indonesia, maupun investasi peningkatan kapasitas investor dalam negeri dengan memanfaatkan fasilitas GSP.

Khususnya investasi asing di sektor digital dan information technology. Ia menaksir daya tarik Indonesia terhadap investasi perusahaan digital serta teknologi informasi dan komunikasi bakal meningkat.

“Termasuk pembukaan pusat data di Indonesia yang sudah dimulai oleh beberapa perusahaan besar di bidang ini. Karena perusahaan tersebut menyadari ekonomi digital di Indonesia yang sekarang nilai US$40 miliar akan menjadi US$133 miliar dalam lima tahun,” katanya.

Selain itu, Mahendra mengklaim AS juga tertarik melakukan investasi dengan lembaga pengelolaan investasi untuk pembiayaan proyek infrastruktur dan proyek strategis nasional yang dimungkinkan melalui UU Cipta Kerja.

(fey/evn)

[Gambas:Video CNN]





Source link

Kemendag: Fluktuasi Harga Tambang Internasional Pengaruhi Biaya Patokan Ekspor


TEMPO.CO, Jakarta – Fluktuasi harga internasional memengaruhi penetapan harga patokan ekspor (HPE) produk pertambangan yang dikenakan bea keluar (BK) periode November 2020. Dibandingkan dengan HPE periode Oktober 2020, sebagian besar komoditas mengalami penurunan HPE. Ketentuan ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 85 Tahun 2020, tanggal 23 Oktober 2020.

“HPE produk pertambangan periode November 2020 yang mengalami fluktuasi, diantaranya komoditas konsentrat mangan, konsentrat ilmenit, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian (washed bauxite) mengalami kenaikan dibandingkan periode bulan lalu. Harga beberapa komoditas produk pertambangan mengalami kenaikan dikarenakan adanya permintaan dunia yang meningkat,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 Oktober 2020.

Didi menambahkan, komoditas konsentrat tembaga; konsentrat besi; konsentrat besi laterit (gutit, hematit, magnetit); konsentrat timbale; konsentrat seng; konsentrat pasir besi; dan konsentrat rutil mengalami penurunan dikarenakan industri belum stabil sebagai dampak pandemi Covid-19.

Sejumlah produk tambang yang dikenakan bea keluar adalah konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat besi laterit, konsentrat pasir besi, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat timbal, konsentrat seng, konsentrat ilmenit, konsentrat rutil, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian.

Perhitungan harga dasar HPE untuk komoditas konsentrat besi, konsentrat besi laterit, konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat ilmenit, dan konsentrat rutil bersumber dari Asian Metal dan Iron Ore Fine Australian. Sedangkan konsentrat tembaga, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, dan bauksit bersumber dari London Metal Exchange (LME).





Source link