fbpx
Bank Syariah BUMN Merger, Nasib Saham Publik di BRIS Gimana?

Bank Syariah BUMN Merger, Nasib Saham Publik di BRIS Gimana?



Jakarta, CNBC Indonesia – Belakangan investor tampak aktif memborong saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) yang dipicu oleh sentimen positif merger dengan 2 bank syariah milik bank BUMN lainnya.

Mengacu data BEI, harga sahamnya pun melesat, nilai transaksi saham BRIS hampir menyentuh angka satu triliun dalam satu hari perdagangan Selasa kemarin.

Pada sesi I, Rabu ini (14/10), saham BRIS melonjak menyentuh batas auto reject atas (ARA), 24,89% di level Rp 1.405/saham, dengan nilai transaksi Rp 337 miliar.


Dalam merger ini, Bank BRISyariah ditetapkan menjadi bank survivor atau entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) dari merger tiga bank syariah BUMN.

Dua bank syariah yang akan bergabung yaitu, PT Bank Mandiri Syariah (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS).

“Memperhatikan Perjanjian Penggabungan Bersyarat, setelah penggabungan menjadi efektif, BRIS akan menjadi entitas yang menerima penggabungan, dan pemegang saham BNI Syariah dan pemegang saham BSM, akan menjadi pemegang saham entitas yang menerima penggabungan,” tulis manajemen BRIS dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (13/10/2020).

Data laporan keuangan mencatat saham BRIS dipegang publik sebesar 18,34%, sementara BRI 73%, dan 8,6% dipegang DPLK Bank Rakyat Indonesia-Syariah.

Mengacu analisis Tim Riset CNBC Indonesia, dengan bergabungnya dua entitas baru ke dalam BRIS, tentu akan terjadi perubahan jumlah saham yang beredar. Per Juni 2020, jumlah saham beredar BRIS yakni sebanyak 9.716.113.498

Valuasi BRIS sebagai surviving entity pascamerger tentu berbeda dengan sebelum merger. Nilai aset entitas baru ini berpotensi melesat lebih dari dua kali lipat.

Berdasarkan laporan keuangan Juni 2020, total nilai aset BRIS tercatat Rp 49,58 triliun. Sementara nilai aset BSM lebih besar lagi, yaitu Rp 114,34 triliun dan nilai aset BNIS sebesar Rp 50,79 triliun.

Total nilai aset dari penggabungan tiga bank ini mencapai Rp 214,71 triliun. Artinya nilai aset meningkat lebih dari empat kali lipat.

Dengan demikian, wajar dengan penggabungan aset ini valuasi saham BRIS berubah.

Besar kemungkinan dengan merger ini akan ada penambahan jumlah saham, dengan opsi lewat penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) di mana saham barunya akan dipegang oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI).

Kedua bank ini akan menjadi pemegang saham baru, dari entitas yang dipertahankan atau BRIS.

Lantas bagaimana dengan saham publik?

Jumlah kepemilikan saham publik tentu tidak berkurang secara jumlah, tapi secara persentase jika ada saham baru maka berpotensi terdilusi jika BRIS menggunakan skema private placement (tanpa hak memesan efek terlebih dahulu).

Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menilai secara skema memang belum jelas. Tapi dia menilai awalnya saham BRIS pada skema merger ini akan dipegang oleh BMRI, BBRI, BBNI, selain juga publik.

“Belum tahu ke depannya apakah akan ada entity lain sebagai pemegang saham. Karena ini akan menjadi bank besar. Seharusnya berdiri sendiri,” katanya, Rabu siang.

“Targetnya mereka akan memiliki aset Rp 390 triliun di 2025. Pemerintah berencana ingin mendorong bank ini jadi bank BUKU 4. Aset BRIS kira-kira sebanding denga BNIS sekitar Rp 52 triliun masing-masing. Sedangkan Mandiri Syariah kira-kira 2 kali lipatnya. Jadi total aset gabungan sekitar Rp 214 triliun dengan modal sekitar Rp 21 triliun,” katanya.

Dia menilai isu dilusi saham publik tidak menjadi persoalan signifikan, lantaran bank ini akan menjadi bank besar. “Isunya bukan itu ‘dilusi]. Terdilusi pun nilai banknya sudah jauh lebih besar,” tegasnya kepada CNBC Indonesia.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menargetkan merger tiga bank syariah ini akan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan syariah dunia, menyalip negara-negara lain yang sudah kuat di bidang ini. Hal ini didukung dengan adanya lembaga keuangan syariah besar di dalam negeri dan jumlah penduduk muslim yang besar pula.

“Indonesia harus menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Untuk mewujudkan mimpi itu kita harus bersatu bahu membahu, taawun dan saling menguatkan,” kata Erick dalam sebuah video, dikutip Selasa (13/10/2020).

Untuk memulai target tersebut, pemerintah telah menginisiasi pembentukan bank syariah di dalam negeri dengan menggabungkan bank-bank syariah pelat merah yang telah ada. Bank hasil penggabungan ini digadang-gadang akan menjadi bank syariah terbesar di negeri ini.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/tas)




Source link