fbpx

Tangkal fraud dari internal, ini yang dilakukan OCBC NISP


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank OCBC NISP Tbk berkomitmen penuh menjaga kepercayaan nasabah yang telah mempercayakan pengelolaan uangnya pada OCBC NISP. Bank ini selalu melakukan pengawasan internal guna mencegah terjadinya fraud yang dilakukan internal perseroan.

Direktur Bank OCBC NISP Lili S. Budiana mengatakan, strategi anti fraud dilakukan lewat dua strategi yakni dari pencegahan dan deteksi dini. Dua langkah strategi itu dilakukan untuk meminimalkan peluang terjadinya fraud.

Tindakan pencegahan dilakukan lewat beberapa langkah. Pertama, melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran karyawan dan nasabah terkait risk and fraud awareness kepada staf dan nasabah.

OCBC NISP selalu displin mengingatkan karyawan untuk menaati peraturan dan prosedur yang berlaku, disiplin dalam melakukan eskalasi baik jalur laporan sesuai struktur organisasi maupun whistle blower bila ada indikasi penyalahgunaan wewenang dan selalu menganalisa risiko.

“Lalu proaktif mengikuti dan mengantisipasi perkembangan pola-pola risiko yang berkembang cepat dan masif, dan menyimpan arsip terutama terkait transaksi sesuai pengaturan yang berlaku di perusahaan,” kata Lili pada Kontan.co.id, Rabu (18/11).

Baca Juga: Soal kasus pembobolan Maybank, OJK: Tunggu proses hukum

Kedua, OCBC NISP meningkatkan fungsi kontrol dan juga melakukan perbaikan atas kelemahan kontrol yang sudah teridentifikasi. Salah satu fungsi kontrol yang dilakukan adalah dengan menerapkan melakukan cross checking nasabah, dual control dalam verifikasi nasabah.

Khusus untuk memastikan objektivitas pemberian kredit, OCBC NISP menerapkan proses persetujuan yang mengikuti prinsip empat mata sebagai syarat mutlak dengan pengelolaan risiko dibagi antara unit bisnis dan fungsi pengelolan risiko kredit.

Ketiga, selalu mengimplementasikan know your employee (KYE) untuk memastikan calon karyawan tidak mempunyai rekam jejak negatif terkait permasalahan hukum atau kejahatan perbankan maupun indikasi pencucian uang/pendanaan terorisme. Bank juga memantau dan memastikan karyawan melakukan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan role yang telah ditetapkan.

Sementara tindakan deteksi dilakukan dengan menghadirkan sistem whistleblowing yang dapat diakses bukan hanya oleh karyawan namun oleh pihak eksternal untuk melaporkan kejadian mencurigakan dan indikasi kejadian fraud. Lalu, melakukan proses rekonsiliasi dan proses audit secara berkala dan berkesinambungan, memantau transaksi mencurigakan atau surveillance, dan memonitoring proses kerja pada karyawan yang melakukan cuti.

Untuk memastikan strategi tersebut berjalan, kata Lili, OCBC NISP telah membentuk komite serta perangkat organisasi yang tidak hanya berfungsi untuk mencegah terjadinya fraud melainkan memastikan seluruh elemen bank mulai dari sales hingga management memiliki budaya anti-fraud.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Cegah fraud, ini yang harus dilakukan perbankan menurut pengamat


ILUSTRASI. Pamflet himbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang kejahatan pencucian uang./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengawasan internal bank tengah dipertanyakan di tengah pusaran kasus raibnya uang puluhan miliar milik nasabah di Maybank. Kasus pembobolan dana nasabah itu dilakukan oleh oknum internal bank yakni Kepala Cabang Maybank Cipulir.

Menurut Mas Achmad Daniri, Pengamat Kebijakan Good Covernance Corporate (GCG), ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya kasus fraud oleh internal bank. 

Yakni, lemahnya pengawasan internal bank dan juga kekurang-pedulian nasabah terkait keamanan datanya. 

Ia mengatakan, penerapan GCG itu harus dibarengi dengan sistem check and balance karena penerapannya melobatkan orang dan sistem. Keseimbangan itu bisa dilakukan dengan selalu melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap SDMnya disesuaikan dengan kemajuan zaman dan teknologi.

Sementara check atau kontrol bisa dilakukan misalnya menerapkan bertemu nasabah harus minimal tiga orang. Harus ada saksi yang berasal dari divisi lain saat melakukan pertemuan dengan nasabah. 

“Jika check and balance ini dilakukan, tidak akan mungkin terjadi fraud. Jadi menurutnya saya penyebabnya itu adalah lemahnya kontrol dan juga ada faktor kelalaian dari nasabah,” jelasnya.

Baca Juga: Cegah fraud oleh pihak internal, begini strategi Bank Panin

Menurut pengamatan Daniri, sistem GCG pada industri perbankan Indonesia sebenarnya sudah bagus. Namun, kemungkinan yang jadi masalah yang harus ditinjau adalah dari sisi implementasinya. 

Sistem GCG bank terkadang bisa overlap dengan sistem risk management dan sistem compliance. Kordinasi di antara ketiganya panjang dan membutuhkan biaya lebih besar.

Oleh karena itu, ia menilai perlu diterapkan integrasi Tata Kelola, Manajemen Risiko dan Kepatuhan atau Good Governance, Risk Management, And Compliance (GRC). Dengan begitu tidak akan terjadi lagi tumpang tindih dan koordinasi menjadi gampang sehingga biayanya menjadi lebih murah.

“Dengan integrasi ini, setiap orang dengan bantuan teknologi, kalau tidak masukkan laporan pasti bisa ketahuan dalam sistem,” lanjutnya. 

Namun, hal paling utama dari awal yang bisa dilakukan bank mencegah fraud adalah dengan menerapkan prinsip know your costumer (KYC). Dari sisi nasabah, harus menerapkan prinsip know your bank. Lantarbelakang  dan sistem dalam bank itu  harus dipelajari sebelum memutuskan menempatkan uangnya di dalam satu bank.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link