fbpx

Airbnb Bakal IPO di Tengah Kenaikan Kasus Covid-19



Jakarta, CNN Indonesia —

Perusahaan jasa pemesanan hotel dan penginapan daring, Airbnb telah meluncurkan prospektus dalam rangka penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Perusahaan tetap akan go public di pasar saham di tengah kenaikan kasus pandemi covid-19.

Melansir CNN, Selasa (17/11), perusahaan mengajukan dokumen IPO yang telah lama ditunggu-tunggu pada awal pekan ini. Dalam prospektus itu, perseroan mengungkap bahwa mereka berhasil menghasilkan keuntungan sebesar US$219 juta pada kuartal III 2020 dan pendapatan US$1,34 miliar.

Namun, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai perbandingan, perusahaan mencetak laba US$227 juta selama kuartal III 2019 dan berhasil mengantongi pendapatan US$1,65 miliar.







Sementara itu, paruh pertama 2020 merupakan periode suram bagi Airbnb lantaran dampak pandemi covid-19. Platform yang digunakan pada lebih dari 220 negara itu mengalami kerugian bersih sebesar US$916 juta dengan pendapatan US$1,18 miliar.

Prospektus IPO Airbnb muncul saat kondisi pandemi covid-19 memburuk. Kondisi ini telah diantisipasi oleh perusahaan dengan perkiraan penurunan lebih besar dalam pemesanan kamar hotel.

“Selama kuartal IV 2020, gelombang infeksi covid-19 muncul lagi,” tulis perusahaan dalam pernyataan resmi.

Airbnb berencana untuk mendaftar sahamnya di bursa saham Nasdaq, dengan kode saham ABNB. Rencana IPO ini sudah diumumkan perseroan pada pada September 2019 lalu.

Setahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2020, perusahaan mengatakan telah menyerahkan dokumen rahasia kepada pihak sekuritas dan bursa AS untuk penawaran umum perdana, sehingga memperjelas rencana go public itu.

Airbnb sendiri berdiri pada 2008 sebagai Airbed & Breakfast oleh Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharczyk. Sejak saat itu, perusahaan telah memperluas penawarannya mencakup apartemen, rumah, dan hotel serta perjalanan.

Namun, bisnis perusahaan terpukul parah oleh pandemi pada Maret dan April ketika banyak terjadi pembatalan pemesanan. Tetapi, perseroan telah melihat peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, didorong penggunaan Airbnb untuk perjalanan domestik dan jarak pendek.

“Kami percaya pandemi covid-19 memperkuat bahwa perjalanan adalah keinginan manusia yang abadi, bahkan dalam menghadapi tantangan. Orang-orang semakin mencari opsi perjalanan yang lebih dekat dengan rumah,” kata perusahaan itu.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/bir)






Source link