fbpx

Manfaatkan GSP, Kadin Dorong Industrialisasi & Promosi Produk



Jakarta, CNBC Indonesia- Amerika Serikat resmi memperpanjang fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) bagi Indonesia, dimana menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta W. Kamdani, GSP ini diberikan pada 3.500 tarif produk tetapi baru dimanfaatkan sebanyak 20% atau sekitar 700 tarif produk saja dengan nilai ekspor USD 2,61 Miliar.

Sehingga agar dapat memaksimalkan fasilitas GSP ini, maka RI harus mampu mendorong ekspor dari produk yang masuk dalam GSP terutama mempersiapkan produk dan industri RI mampu berdaya saing di pasar AS. Lalu apa saja persoalan yang dihadapi oleh pengusaha untuk masuk ke pasar AS? Selengkapnya saksikan Erwin Surya Brata dengan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta W. Kamdani dalam Squawk Box,CNBCIndonesia (Rabu, 04/11/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini




Source link

RI Incar Perjanjian Dagang Terbatas dengan AS



Jakarta, CNN Indonesia —

Indonesia menargetkan fasilitas pembebasan bea masuk Amerika Serikat (AS) dalam kerangka Generalized System of Preferences (GSP) menjadi perjanjian perdagangan terbatas (Limited Trade Deal/LTD).

Duta Besar Indonesia untuk AS Muhammad Lutfi menuturkan bahwa peningkatan fasilitas tersebut dapat membuat volume perdagangan dua arah antara Indonesia dan AS dapat naik hingga US$60 miliar pada 2024.

Ekspor Indonesia menggunakan fasilitas GSP sendiri mencapai US$2,61 miliar pada. Nilai itu setara dengan 13,1 persen dari keseluruhan ekspor Indonesia ke AS yang berjumlah US$20,1 milyar.







Sementara untuk periode Januari-Agustus 2020, nilainya berjumlah US$1,87 milyar atau naik 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Targetnya sebelum saya pulang, harusnya nilai perdagangan sudah double (volume ekspornya), tiga tahun lagi,” ujarnya dalam Konferensi Pers Virtual Terkait Perpanjangan Fasilitas GSP kepada Indonesia, Senin (2/11).

Luthfi menyampaikan AS merupakan satu-satunya negara di dunia yang bisa melakukan LTD. Fasilitas ini juga diproyeksikan dapat mengoptimalkan potensi kerja sama di luar perdagangan barang, khususnya perdagangan digital, energi dan infrastruktur, serta peningkatan arus investasi.

Hal tersebut dapat meningkatkan arus perdagangan dua arah dan merupakan pintu masuk bagi perluasan kerja sama investasi.

[Gambas:Video CNN]

Indonesia, sambung Lutfi, tengah memperhatikan perjanjian perdagangan antara Jepang dan AS di pasar digital. Pasalnya, pasar digital Indonesia sangat menarik untuk dimasuki investor dan pasar yang makin terbuka dapat mengakselerasi perbaikan di berbagai sektor.

“Kalau seumpama kita membuka pasar digital kita yang sudah terbuka, kita bisa mendatangkan investasi dengan platform digital dan Indonesia bisa jadi pasar kelas dunia dengan harapan itu akan memperbaiki sektor logistik, teknologi dan menjadikan Indonesia tujuan utama pasar digital,” tandasnya.

(hrf/sfr)





Source link

Jokowi Yakin Perpanjangan Bebas Bea Masuk AS Angkat Investasi



Jakarta, CNN Indonesia —

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan keputusan Amerika Serikat (AS) melalui United States Trade Representative (USTR) memperpanjang fasilitas pembebasan bea masuk Generalized System of Preferences (GSP) terhadap produk impor asal Indonesia bisa menjadi momentum untuk memperbaiki investasi di Indonesia.

“Karena GSP untuk (barang) masuk ke AS sudah diberikan perpanjangan. Ini jadi kesempatan karena Indonesia satu-satunya negara di Asia yang mendapatkan fasilitas ini,” kata Jokowi dalam pembukaan rapat terbatas (ratas), Senin (2/11).

Menurutnya, fasilitas GSP yang diberikan oleh AS akan menarik minat investasi di Indonesia. Investor, kata Jokowi, akan memanfaatkan momentum ini untuk mendirikan usaha di Indonesia.







“Orang ingin mendirikan pabrik, perusahaan di Indonesia lebih menarik karena (kalau kirim barang) masuk ke AS diberikan fasilitas,” terang dia.

Selain itu, ekspor juga diharapkan meningkat. Maklum, fasilitas GSP juga akan mempermudah pengiriman barang impor dari Indonesia ke AS.

“Kami harapkan ekspor bisa naik, lompat, karena fasilitas GSP diberikan ke Indonesia,” imbuh Jokowi.

Sementara, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan keputusan AS dalam memperpanjang fasilitas GSP setelah USTR melakukan evaluasi terhadap fasilitas GSP yang telah diberikan untuk Indonesia selama 2,5 tahun lalu. Diketahui, Indonesia mendapatkan fasilitas itu sejak Maret 2018.

GSP sendiri merupakan fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk yang diberikan secara unilateral oleh AS kepada negara-negara berkembang di dunia sejak 1974. Indonesia sendiri pertama kali dapat fasilitas GSP pada 1980 silam.

Retno menyatakan ada 3.572 pos tarif yang mendapatkan pembebasan tarif lewat GSP. Ribuan pos tarif itu mencakup produk-produk manufaktur dan semi manufaktur, pertanian, perikanan, dan industri primer.

“Berdasarkan data dari United Stated International Trade Commision (USITC), ekspor Indonesia pada 2019 yang menggunakan GSP mencapai US$2,61 miliar atau setara 13,1 persen dari total ekspor Indonesia ke AS, yakni US$20,1 miliar.

“Ekspor GSP Indonesia pada 2019 berasal dari 729 pos tarif barang daro total 3.572 pos tarif produk yang mendapatkan preferensi tarif GSP,” jelas Retno.

Sementara, total nilai ekpor Indonesia yang menggunakan fasilitas GSP sepanjang Januari-Agustus 2020 sebesar US$1,87 miliar. Angkanya naik 10,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Retno menyatakan lima besar ekspor Indonesia yang menggunakan fasilitas GSP sepanjang Januari-Agustus 2020, antara lain matras sebesar US$185 juta, kalung dan rantai emas sebesar US$142 juta, tas bepergian dan olah raga sebesar US$104 juta, minyak asam dari pengolahan kelapa sawit sebesar US$84 juta, dan ban penumatik radial untuk bus atau truk sebesar US$82 juta.

Secara keseluruhan, AS adalah negara tujuan ekspor non migas terbesar kedua setelah China. Total nilai perdagangan dua arah antara AS dengan Indonesia mencapai US$27 miliar pada 2019.

Sementara, total ekspor Indonesia ke AS pada Januari-Agustus 2020 sebesar US$11,8 miliar. Realisasi itu naik 2 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$11,6 miliar.

“Kenaikan ini terjadi di tengah situasi pandemi dan saat impor AS dari seluruh dunia turun 13 persen,” tutup Retno.

[Gambas:Video CNN]

(aud/sfr)





Source link

Ekspor Bebas Tarif Bea Masuk RI ke AS Naik 10,6 Persen



Jakarta, CNN Indonesia —

Jumlah ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dengan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) selama masa pandemi diklaim naik 10,6 persen. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan peningkatan tersebut tercatat mencapai US$1,87 miliar.

“Kalau kita lihat angka Januari-Agustus 2020, di tengah pandemi nilai ekspor Indonesia yang menggunakan fasilitas GSP tercatat US$1,87 miliar atau naik 10,6 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” katanya melalui konferensi video, Minggu (1/11).

Untuk diketahui GSP adalah fasilitas pembebasan tarif bea masuk yang diberikan AS kepada negara berkembang sejak 1974. Retno menjabarkan pada tahun 2019 tercatat ada 729 pos tarif barang dari total 3.572 pos tarif produk yang mendapat preferensi tarif GSP.







Berdasarkan data dari United States International Trade Commission (USITC), 13,1 persen atau US$2,61 miliar dari total ekspor Indonesia ke AS yang mencapai US$20,1 miliar menggunakan fasilitas GSP.

Total nilai perdagangan dua arah kedua negara pada tahun lalu tercatat mencapai US$27 miliar. Secara keseluruhan, para periode Januari-Agustus 2020 ekspor Indonesia mencapai US$11,8 miliar, dua persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu dengan US$11,6 miliar.

“Kenaikan ini terjadi di tengah situasi pandemi, dan secara rata-rata saat impor AS dari seluruh dunia turun 13 persen,” ujarnya.

Hingga Agustus 2020, Retno menyampaikan lima besar ekspor GSP ke AS dipegang produk matras karet maupun plastik dengan US$185 juta, kalung dan rantai emas dengan US$142 juta, tas berpergian dan olahraga dengan US$104 juta, minyak asam dari kelapa sawit dengan US$84 juta dan ban pneumatik radial untuk bus atau truk dengan US$82 juta.

Sedangkan pada tahun 2019, lima besar ekspor dipegang kalung rantai emas dengan US$225 juta, ban pneumatic radial untuk bus atau truk dengan US$145 juta, tas bepergian dan olahraga dengan US$142 juta, perhiasan dari logam berharga selain perak dengan US$112 juta dan minyak asam dari kelapa sawit dengan US$95 juta.

“[Dan] Pada tanggal 30 Oktober 2020, pemerintah AS melalui United States Trade Representative (USTR) secara resmi telah mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) kepada Indonesia,” ungkapnya.

Ia menjelaskan keputusan itu diambil setelah USTR melakukan peninjauan terhadap fasilitas GSP selama 2,5 tahun sejak Maret 2018. Peninjauan dilakukan sejak pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Retno mengatakan sejak diberlakukan pada 1980, sudah ada 3.572 pos yang diklasifikasi oleh US Customs and Border Protection (CBP) pada level Harmonized System (HS) 8-digit yang mendapatkan pembebasan tarif melalui skema GSP. 3.572 pos tarif.

Menurutnya ini merupakan bukti konkret dari komitmen pemerintah terhadap hubungan bilateral dan perdagangan Indonesia-AS. AS sendiri, sambungnya, merupakan negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia kedua setelah China.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengklaim Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang mendapat perpanjangan GSP tanpa pengurangan semenjak peninjauan dilakukan AS.

“Tentu ini semakin penting lagi apabila kita menyadari pula bahwa mayoritas dari produk yang diekspor menggunakan fasilitas GSP diproduksi oleh produsen dan produsen eksportir UKM di Indonesia,” tuturnya.

Ia juga mengatakan dalam peninjauan tersebut ditemukan bahwa proses perdagangan dan investasi dari kedua belah pihak kerap menemukan hambatan. Untuk itu keduanya berupaya memperoleh solusi yang saling menguntungkan, termasuk perpanjang GSP.

Menurut Mahendra, perpanjangan ini dapat meningkatkan daya saing ekspor ke AS lebih tinggi. Kemudian bisa membuka kesempatan besar untuk investasi AS ke Indonesia, maupun investasi peningkatan kapasitas investor dalam negeri dengan memanfaatkan fasilitas GSP.

Khususnya investasi asing di sektor digital dan information technology. Ia menaksir daya tarik Indonesia terhadap investasi perusahaan digital serta teknologi informasi dan komunikasi bakal meningkat.

“Termasuk pembukaan pusat data di Indonesia yang sudah dimulai oleh beberapa perusahaan besar di bidang ini. Karena perusahaan tersebut menyadari ekonomi digital di Indonesia yang sekarang nilai US$40 miliar akan menjadi US$133 miliar dalam lima tahun,” katanya.

Selain itu, Mahendra mengklaim AS juga tertarik melakukan investasi dengan lembaga pengelolaan investasi untuk pembiayaan proyek infrastruktur dan proyek strategis nasional yang dimungkinkan melalui UU Cipta Kerja.

(fey/evn)

[Gambas:Video CNN]





Source link