fbpx

Belum Mau Stop, Harga Batu Bara Naik Lagi Bersiap ke US$ 63



Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kontrak futures batu bara termal Newcastle kembali ditutup dengan apresiasi meski fenomena diskoneksi antara pasar batu bara China dan pasar batu bara lintas laut (seaborne) masih terjadi.

Pada perdagangan Kamis (12/11/2020) harga kontrak batu bara Newcastle ditutup naik 0,32% dibanding posisi penutupan sehari sebelumnya ke level US$ 62,65/ton. Secara month to date (mtd) harga batu bara telah melesat 5,74%. 



Impor batu bara China hampir turun setengahnya pada Oktober dari tahun lalu. China sebagai importir batu bara terbesar dunia membeli lebih sedikit bahan bakar dari Australia di tengah hubungan yang memburuk antara Beijing dan Canberra.

Perlambatan pembelian juga terjadi ketika negara itu mendekati kuota impor informal. Tersiar kabar bahwa pihak berwenang menginstruksikan pedagang dan pengguna batu bara untuk mempertahankan total impor tahun 2020 di sekitar level 2019.

Tujuannya adalah untuk menopang industri batu bara domestik yang sempat terkapar akibat pandemi Covid-19. Namun akibat kebijakan ini dan dibarengi dengan ketatnya pasokan membuat harga batu bara lokal China melambung tinggi melampaui target rentang harga yang sudah ditetapkan pemerintah.

Harga batu bara termal Qinhuangdao masih kokoh bertengger di atas RMB 610/ton. Padahal rentang harga yang ditetapkan oleh otoritas China berada di kisaran RMB 500 – RMB 570 per ton. 

Dalam kondisi normal tingginya harga batu bara domestik akan membuat para pedagangan dan sektor industri lebih memilih mengimpor batu bara dari luar. Namun itu belum terjadi sampai saat ini. 

Hanya saja spekulasi China bakal melonggarkan kebijakan kuota impornya membuat harga batu bara Newcastle juga ikut terkerek naik. 

Kenaikan harga belakangan ini terjadi seiring dengan risk appetite investor yang membaik akibat kabar gembira yang datang dari kandidat vaksin Covid-19. Salah satu pengembang vaksin yang sudah berada di fase akhir melaporkan analisa awal hasil uji klinis tahap ketiganya.

Pengembang tersebut adalah Pfizer yang berkolaborasi dengan BioNTech. Kandidat vaksin yang dikembangkan diklaim memiliki tingkat keampuhan lebih dari 90%. Ini masih analisa awal dan jalan menuju ke distribusi vaksin secara global masih panjang.

Namun kabar baik ini setidaknya mampu meningkatkan optimisme banyak orang bahwa ekonomi akan segera pulih kembali.

Ketika ekonomi pulih diharapkan konsumsi listrik meningkat dan sektor industri manufaktur kembali bergerak sehingga bisa mendongkrak permintaan batu bara yang tahun ini lesu akibat lockdown untuk menangani pandemi Covid-19.

Kabar baik juga datang dari dunia barat yakni Amerika Serikat (AS). Lembaga pemerintah AS (EIA) memprediksi sektor tenaga listrik AS bakal mengkonsumsi 546 juta ton (495 juta metrik ton) batu bara pada tahun 2021, naik dari yang diharapkan 443 juta tahun ini.

Badan tersebut menaikkan perkiraan pembakaran batu bara tahun 2020 dan 2021 masing-masing sebesar 10 juta ton dan 24 juta ton dibandingkan dengan laporan bulan lalu. Pangsa batu bara dari total pembangkitan di AS diharapkan naik menjadi 25% pada 2021 dari 20% tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)




Source link

Cuan, Cuan, Cuan! Harga Batu Bara ‘Lompat’ Nyaris 7% Sepekan


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara menguat signifikan sepanjang pekan ini (2-6 November). Harga di batu hitam berhasil menembus level psikologis US$ 60/ton.

Minggu ini, harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) melesat 6,75% secara point-to-point. Pada perdagangan akhir pekan, harga komoditas ini ditutup di US$ 62,35/barel.



Impor batu bara China yang anjlok pada Oktober mulai kembali naik bulan ini. Pada Oktober, impor batu bara China tercatat 11,3 juta ton, turun hingga 5,04 juta ton dibandingkan September.

Namun pada November, sejauh ini impor sudah 11,63 juta ton, sudah di atas Oktober. Masih ada sisa waktu lebih dari setengah bulan, artinya ada peluang impor bisa naik lagi.


coalSumber: Refinitiv

Sementara di India, permintaan batu bara pun naga-naganya bakal naik. Hingga akhir pekan ini, impor batu bara Negeri Bollywood adalah 13,22 juta ton. Pada akhir bulan, kemungkinan bisa melampaui pencapaian bulan lalu yaitu 17,93 juta ton.


coalSumber: Refinitiv

“Dalam jangka menengah, kami masih berpersepsi positif terhadap harga batu bara. Permintaan global lambat laun akan meningkat, yang dibarengi dengan pengurangan produksi, akan menyeimbangkan harga,” sebut Toby Hassel, Analis Refinitiv.

Kenaikan harga batu bara, jika bertahan lama, akan berdampak positif buat Indonesia. Pasalnya, batu bara adalah salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia.

Pada Januari-Agustus 2020, nilai ekspor batu bara nasional mencapai US$ 9,89 miliar. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO).


coalSumber: Badan Pusat Statistik

Sepanjang kuartal III-2020, harga baru bara meroket 15,82% point-to-point. Hasilnya, kinerja industri batu bara membaik meski masih tumbuh negatif alias terkontraksi.

Pada kuartal III-2020, pertumbuhan industri batu bara adalah -7,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Membaik ketimbang kuartal sebelumnya yang -10,31%.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link

Harga Batu Bara Ogah Turun, Next Siap Tembus US$ 61/ton



Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara berjangka termal Newcastle masih ‘ogah’ turun dan lanjut menguat. Harga batu bara domestik China yang terus menguat juga menjadi pemicu naiknya harga batu bara lintas laut (seaborne).

Kontrak futures batu bara termal Newcastle ditutup menguat 0,5% ke US$ 60,9/ton. Tinggal selangkah lagi harga batu bara kontrak tembus ke level US$ 61/ton.

Meski sudah tembus ke atas US$ 60/ton harga batu bara belum menyamai level tertingginya saat pandemi Covid-19 yaitu di awal Oktober. 


Pada 1 Oktober 2020, harga kontrak berjangka batu bara Newcastle ditutup di US$ 62,3/ton dan menandai harga tertinggi dalam lima bulan terakhir atau tepatnya sejak 6 April 2020.


Pandemi Covid-19 membuat banyak negara memilih melakukan pembatasan dengan ketat melalui lockdown. Aktivitas produksi pun anjlok. Alhasil kebutuhan listrik sektor industri melorot. 

Aktivitas yang sangat terbatas juga membuat mobilitas publik berkurang drastis. Permintaan listrik dari sektor komersil pun ikut turun. Inilah yang membuat harga batu bara ambrol sepanjang pandemi. 

Permintaan global yang turun dibarengi anjloknya harga membuat para produsen memangkas produksi mereka. Di saat produksi dipangkas, banyak negara mulai melonggarkan pembatasan seiring dengan menurunnya kasus infeksi Covid-19.

China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia bahkan ekonominya bangkit dengan cepat. Namun di saat yang sama kebutuhan akan batu bara di China tak dapat diimbangi dengan ketersediaan batu bara lokal.

Ketatnya pasokan akibat pembatasan aktivitas pertambangan semasa Covid-19 membuat harga batu bara domestik China melesat tinggi. China memiliki kebijakan zona hijau atau green zone terkait rentang harga batu bara yang harus dijaga. 

Zona hijau ditetapkan di rentang RMB 500 – RMB 570 per ton. Rentang harga tersebut dipilih agar tidak terlalu tinggi sehingga menggerus laba perusahaan utilitas pengguna batu bara sebagai bahan bakar. Selain itu harga juga dipatok agar tidak kerendahan yang dapat menyengsarakan para penambang.

Hanya saja harga batu bara termal China Qinhuangdao yang jadi acuan harganya sudah melampaui level tersebut. Usai turun dua minggu lalu, pekan kemarin harga batu bara domestik China kembali naik 1,5% ke RMB 616/ton.

Artinya selisih terhadap batas atas zona hijau sebesar RMB 46/ton. Jika dikonversi ke kurs dolar AS nilainya setara dengan US$ 6,81/ton. Namun jika dibandingkan dengan harga batu bara impor terutama untuk kelas batu bara termal Newcastle selisihnya mencapai lebih US$ 35/ton. 

Jelas ini selisih yang sangat fantastis. Dalam kondisi normal China akan lebih memilih batu bara impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Hanya saja adanya kebijakan kuota impor membatasi hal tersebut.

Apalagi belum lama ini beredar rumor bahwa pemerintah China membisikkan kepada para pelaku industri untuk memboikot batu bara termal dan kokas dari Australia. Setelah sekan lama bungkam, akhirnya pemerintah China pun buka suara. 

Saat dikonfirmasi soal isu tersebut, pemerintah China yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri menepisnya. Menurutnya kebijakan tidak lagi mengimpor produk-produk Australia salah satunya batu bara adalah murni inisiatif dan keputusan pelaku industri.

Ke depan selain adanya ketidakpastian kebijakan impor China, harga batu bara juga masih dibayangi oleh gelombang kedua infeksi Covid-19 di berbagai negara terutama Eropa. 

Kembali maraknya lockdown dan bentuk pembatasan lain dengan berbagai skala di Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Norwegia hingga Hungaria menjadi ancaman serius yang membuat prospek batu legam jadi suram.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)




Source link

Harga Batu Bara Sentuh US$ 60/ton, Kuat Berapa Lama?



Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kontrak berjangka batu bara termal Newcastle masih melanjutkan tren kenaikannya. Kendati belum mencapai level tertingginya di bulan Oktober, tetapi harga kontrak batu legam tersebut sudah tembus level psikologis US$ 60/ton.

Pada perdagangan awal pekan sekaligus awal bulan November Senin (2/11/2020), harga kontrak berjangka Newcastle naik 2,28% ke US$ 60,6/ton. Sejak mencapai level terendahnya di pertengahan Oktober lalu, harga kontrak batu bara telah naik hampir 13%.



Harga batu bara terus melorot akibat merebaknya pandemi Covid-19. Pada periode Januari-April harga merosot tajam. Setelah itu harga cenderung bergerak menyamping atau sideways.

Namun memasuki bulan Juli, harga batu bara malah kembali tertekan dan sempat turun ke bawah US$ 50/ton di bulan Agustus. Namun karena pasokan batu bara domestik China yang ketat membuat harga batu baranya naik signifikan maka harga batu bara termal Newcastle pun ikut terkerek naik. 

Bayangkan saja harga batu bara domestik China kini hampir US$ 38/ton lebih mahal dari harga batu bara impor lintas laut (seaborne) Newcastle Australia. Dalam kondisi normal, perusahaan listrik, baja hingga industri lain termasuk trader harusnya beralih ke batu bara impor yang lebih murah. 

Hanya saja kebijakan kuota impor yang diterapkan China membatasi hal tersebut terjadi. Apalagi beredar rumor tak sedap soal China yang memboikot batu bara termal dan kokas Australia karena hubungan keduanya yang tak harmonis akibat pandemi Covid-19.

Sentimen di pasar batu bara telah membaik akibat pelonggaran lockdown di berbagai belahan dunia. Pelonggaran pembatasan mengarah pada aktivitas ekonomi yang lebih kuat dan peningkatan permintaan listrik.

Pengurangan pasokan batu bara lintas laut karena harga yang sudah sangat rendah telah membantu menyeimbangkan pasar, yang bahkan sampai saat ini masih kelebihan pasokan.

Menurut kajian Refinitiv, dengan harga batu bara saat ini, sebagian besar (sekitar 50% pada harga spot saat ini) dari volume produksi batu bara yang diangkut melalui laut menghasilkan marjin operasi tunai negatif.

“Dengan harga yang ditetapkan tetap jauh di bawah biaya marjinal industri karena permintaan yang masih lemah, pemotongan pasokan yang sedang berlangsung dari produsen berbiaya tinggi seharusnya berfungsi untuk secara perlahan mendukung pemulihan harga.” tulis laporan Refinitiv

Lebih lanjut, harga juga didukung oleh permintaan impor yang mulai pulih di sejumlah pasar utama termasuk India sebagai importir batu bara termal terbesar kedua di dunia.

Jika perbaikan impor ini terus terjadi, pemulihan lebih lanjut dalam impor batu bara India akan memainkan peran penting dalam mendukung perdagangan lintas laut global, termasuk menimbulkan tekanan ke atas pada harga.

Hanya saja prospek pemulihan permintaan dan harga batu bara masih menghadapi risiko yang besar. Gelombang kedua infeksi Covid-19 di berbagai negara terutama Amerika Utara dan Eropa membuat banyak wilayah yang kembali jatuh dalam lockdown. 

Negara Eropa seperti Prancis telah melakukan lockdown nasional. Sementara itu Jerman lebih memilih menutup restoran, bar dan bioskop. Di Italia, pemerintah membatasi mobilitas publik antar kawasan.

Jika kondisi ini terus berkembang, maka kenaikan harga batu bara akan sedikit tertahan seiring dengan terhambatnya laju roda pemulihan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)




Source link

Demand Belum Membaik, Industri Batu Bara Butuh Relaksasi Ini

Demand Belum Membaik, Industri Batu Bara Butuh Relaksasi Ini


Jakarta, CNBC Indonesia-  Pelaku industri batu bara disebut Acting Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, sangat membutuhkan relaksasi dalam menghadapi anjloknya harga batu bara yang telah mencapai 23% (yoy). Menurut Andre, demand batu bara RI yang mayoritas datang dari China, India, Jepang, Korea dan Asia Tenggara tengah mengalami pelemahan akibat pandemi, dimana hal ini juga senada dengan permintaan domestik yang melemah. Diperkirakan permintaan akan membaik di 2021 dengan syarat perekonomian sudah membaik.

seperti apa daya tahan industri hadapi kejatuhan harga batu bara? Selengkapnya saksikan Maria Katarina dengan Acting Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Rabu, 26/08/2020).

 




Source link