fbpx

Tembang If We Hold on Together Sri Mulyani di Hari Oeang ke-74


TEMPO.CO, Jakarta – Dengan mengenakan kaos wangki berwarna biru, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memetik gitar dan menembangkan lagu. Di belakang ada dua gitaris pengiring, dan di samping ada suami, Tonny Sumartono yang bermain cajon.

Ia pun bergitar seraya mendendangkan tembang berjudul “If We Hold on Together” yang ditulis James Horner dan Will Jennings. Lagu yang kemudian dipopulerkan oleh penyanyi Amerika, Diana Ross di tahun 1988. Sesekali Sri Mulyani melirik ke papan partitur lagu.

Baca Juga: Sri Mulyani: Krisis Covid-19 Jadi Kesempatan Perkuat Fondasi Negara

If we hold on together. I know our dreams will never die. Dreams see us through to forever,” demikian penggalan lirik yang dinyanyikan Sri Mulyani, dalam video yang diunggah di akun instagramnya @smindrawati pada Minggu, 1 Oktober 2020.

Tembang yang terkenal ini dinyanyikan Sri Mulyani dalam acara virtual Family Gathering Kementerian Keuangan dalam peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-74 pada Sabtu kemarin, 31 Oktober 2020. Ini adalah momen ketika ORI pertama kali beredar secara resmi, pada 30 Oktober 1964.

Sri Mulyani pun mendedikasikan lagu ini untuk seluruh pegawai Kementerian Keuangan sebagai ucapan terima kasih. Selain itu, Ia juga menjadikan lagi ini sebagai ungkapan keinginan untuk terus bersama-sama bergandengan tangan saling menjaga, saling, menyemangati.

“Terima kasih kepada seluruh jajaran Kemenkeu atas dedikasinya merawat janji kita kepada Republik, untuk bekerja menjadi penjaga keuangan negara,” kata Sri Mulyani.

Ia Mulyani menyadari bahwa rasa lelah, bosan, kesal, rindu jauh dari keluarga, tentu kadang muncul di tengah tugas. Namun, perasaan ini harus dikelola.

“Fokus kita tetap sama, bagaimana membuat Indonesia bisa keluar dari krisis ini, menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih kuat, dengan kemampuan terbaik yang kita miliki,” kata Sri Mulyani.





Source link

Sejarah Uang Kertas Pertama di Indonesia



Jakarta, CNN Indonesia —

Indonesia memperingati Hari Oeang ke-74 pada hari ini, Jumat (30/10). Kendati setiap hari bertransaksi menggunakan uang, tidak banyak masyarakat yang mengetahui sejarah lahirnya uang kertas pertama di Indonesia.

Mengutip laman resmi Kementerian Keuangan, Kamis (29/10), mulanya Indonesia memiliki 4 mata uang tetapi bukan asli Indonesia. Pertama, sisa zaman kolonial Belanda yaitu uang kertas De Javasche Bank. Kedua, uang kertas dan logam pemerintah Hindia Belanda dengan satuan gulden.

Ketiga, uang kertas pendudukan Jepang yang menggunakan Bahasa Indonesia yaitu Dai Nippon emisi 1943 dengan pecahan bernilai Rp100. Keempat, Dai Nippon Teikoku Seibu, emisi 1943 bergambar Wayang Orang Satria Gatot Kaca bernilai Rp10 dan gambar Rumah Gadang Minang bernilai Rp5.







Kemudian, Menteri Keuangan ke-2 Indonesia, A.A Maramis berencana menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Guna mewujudkan rencana itu, Maramis membentuk panitia penyelenggara pencetakan uang kertas RI pada 7 November 1945.

Proses persiapan lahirnya ORI membutuhkan waktu hampir satu tahun. Desain dan bahan-bahan utama pembuatan ORI disediakan oleh percetakan Balai Pustaka Jakarta. Sedangkan, pelukis pertama ORI adalah Abdulsalam dan Soerono.

Proses pencetakan dilakukan di percetakan RI, Salemba, Jakarta. Pada Januari 1946, proses cetak ORI mulai dilakukan setiap harinya, yakni mulai pukul 07.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Namun, pada Mei 1946, situasi keamanan mengharuskan pencetakan ORI di Jakarta dihentikan serta terpaksa dipindahkan ke daerah-daerah seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo.

Kondisi ini menyebabkan, tanda tangan yang tertera pada ketika pertama kali beredar adalah milik AA Maramis. Padahal, sejak November 1945, Maramis tidak lagi menjabat sebagai menteri keuangan.

Ketika persiapan matang, Menteri Keuangan saat itu, Sjafruddin Prawiranegara mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan pada 29 Oktober 1946. Keputusan itu berisi penetapan berlakunya ORI secara sah mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00 WIB.

Pada detik-detik ORI diluncurkan, Wakil Presiden Mohammad Hatta memberikan pidato yang membakar semangat kedaulatan bangsa. Pidato itu disampaikan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta pada 29 Oktober 1946.

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah suatu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadapi penghidupan baru. Besok mulai beredar Oeang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah,” ujar Bung Hatta, kala itu.

[Gambas:Video CNN]

Sang proklamator menambahkan mulai pukul 12.00 WIB, 29 Oktober 1946, uang lainnya yakni uang Jepang Javasche Bank otomatis tidak berlaku.

“Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara,” ujar Bung Hatta.

Dengan demikian, pemerintah menyatakan 30 Oktober 1946 sebagai tanggal beredarnya ORI, sekaligus diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia. Masyarakat Indonesia pun menyambut dengan bangga sekaligus haru atas kedaulatan keuangan melalui kepemilikan ORI tersebut.

(ulf/sfr)





Source link