fbpx

Pemerintah Bakal Bentuk Holding BUMN Jasa Sertifikasi



Jakarta, CNN Indonesia —

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal membentuk holding perusahaan pelat merah bidang jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi.

Wakil Menteri BUMN I Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan terdapat tiga BUMN yang bergerak dalam bidang pengujian, inspeksi, dan sertifikasi yakni PT Biro Klasifikasi Indonesia, PT Sucofindo, dan PT Surveyor Indonesia. Sebagai induk holding, pemerintah menunjuk Biro Klasifikasi Indonesia.

“Kementerian BUMN sudah memutuskan akan dibentuk holding dari ketiga BUMN ini, Biro Klasifikasi Indonesia jadi induk, Sucofindo dan Surveyor akan bergabung untuk mengintegrasikan seluruh kemampuan BUMN dalam membangun bisnis testing, inspeksi, dan sertifikasi di Indonesia,” ujar Budi di sela seremoni penyerahan SaveGuard Label milik Surveyor Indonesia – Bureau Veritas seperti dikutip dari Antara, Jumat (20/11).







Menurut Budi, sertifikasi untuk risiko keamanan dari sisi kesehatan di tengah pandemi sangat diperlukan dalam rangka menggerakkan kembali aktivitas bisnis.

Dengan skala bisnis sertifikasi yang lebih besar, Budi berharap dapat membuat holding BUMN sertifikasi semakin mampu untuk mengadopsi teknologi baru dan masuk ke bisnis baru yang membutuhkan sertifikasi dan testing.

“Bisnis ini melakukan uji terhadap segala macam standar yang memang diperlukan untuk semua jenis industri, bisa makanan, kesehatan, elektronika, industri processing dan lain sebagainya,” paparnya.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, di tengah pandemi, Budi juga mengatakan dibutuhkan banyak ide-ide baru dalam bisnis, termasuk sertifikasi agar masyarakat merasa aman untuk melakukan kegiatan normal.

Oleh karenanya, ia mengapresiasi ide bisnis dari Surveyor Indonesia dengan memasukkan program sertifikasi SafeGuard Label. Dengan ide tersebut, perusahaan dapat membantu membangkitkan kepercayaan masyarakat atas rasa aman dalam beraktivitas sehingga mendorong pemulihan ekonomi.

(sfr)






Source link

Kebut konsolidasi sektor keuangan, ini yang dilakukan Kementerian BUMN


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian BUMN terus mensinergikan sejumlah perusahaan pelat merah. Setelah beberapa aksi rampung atau telah diumumkan pada Oktober lalu, kini mengemuka lagi rencana sinergi perusahaan BUMN di segmen pembiayaan mikro yakni PT Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani.

Sebelumnya telah rampung pembentukan holding asuransi di bawah komando PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia yang menjelma jadi Indonesia Financial Group (IFG). Setelahnya juga diumumkan rencana penggabungan usaha tiga bank entitas bank pelat merah yakni PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri Syariah, dan PT Bank BNI Syariah.

Aksi konsolidasi perusahaan pelat merah memang tengah digeber Kementerian. Apalagi Menteri BUMN Erick Thohir Mei lalu bilang beleid terkait konsolidasi BUMN juga baru diteken Presiden Joko Widodo. 

Sementara kepada KONTAN belum lama ini, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga bilang seluruh aksi korporasi yang dilakukan untuk mensinergikan sejumlah ekosistem bisnis perusahaan pelat merah yang memiliki segmen serupa.

Baca Juga: Akan bentuk holding bareng BRI, Pegadaian: Masih dalam kajian

“Ini berhubungan dengan ekosistem bisnis, dan sudah dirancang sejak tahun lalu,” katanya. 

Transformasi BPUI menjadi IFG yang efektif pada Maret 2020 jadi langkah awal. IFG yang memimpin holding sejumlah perusahaan asuransi, dan penjaminan BUMN mencatat lonjakan aset dari Rp 4,7 triliun menjadi Rp 72,5 triliun. 

Tambahan berasal dari sembilan entitas perusahaan pelat merah yang dikonsolidasikan ke IFG. Ada tiga kluster yang dibentuk, pasar modal yakni Bahana TCW Invesment Management, Bahana Kapital Investasi, Bahana Sekuritas, Graha Niaga Tata Utama, Bahana Artha Ventura dan Bahana Mitra Investasi.

Kemudian kluster asuransi umum dan penjaminan dari Askrindo, Jasindo, dan Jamkrindo. Serta terakhir kluster asuransi jiwa dan kesehatan melalui IFG Life yang menerima limpahan portoflio dari Asuransi Jiwasraya. 

Adapun oktober lalu rencana penggabungan usaha tiga bank syariah entitas bank pelat merah juga mengemuka. Ini salah satu rencana besar Kementerian BUMN buat menghadirkan bank syariah terbesar di Indonesia sekaligus berskala dunia. 

“Tujuan merger untuk memiliki bank syariah yang besar, dan berdaya saing global. Bank hasil merger juga bisa masuk 10 bank terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di dunia,” kata Ketua Tim Project Management Office Hery Gunardi. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Kementerian BUMN kebut konsolidasi sektor keuangan


ILUSTRASI. Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian BUMN bergegas untuk mensinergikan sejumlah perusahaan pelat merah. Setelah beberapa aksi rampung atau telah diumumkan pada Oktober lalu, kini mengemuka lagi rencana sinergi perusahaan BUMN di segmen pembiayaan mikro yakni PT Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani.

Sebelumnya telah rampung pembentukan holding asuransi di bawah komando PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia yang menjelma jadi Indonesia Financial Group (IFG). Setelahnya juga diumumkan rencana penggabungan usaha tiga bank entitas bank pelat merah yakni PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri Syariah, dan PT Bank BNI Syariah.

Aksi konsolidasi perusahaan pelat merah memang tengah digeber Kementerian. Apalagi Menteri BUMN Erick Thohir Mei lalu bilang beleid terkait konsolidasi BUMN juga baru diteken Presiden Joko Widodo. 

Sementara kepada KONTAN belum lama ini, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga bilang seluruh aksi korporasi yang dilakukan untuk mensinergikan sejumlah ekosistem bisnis perusahaan pelat merah yang memiliki segmen serupa.

Baca Juga: Akan bentuk holding bareng BRI, Pegadaian: Masih dalam kajian

“Ini berhubungan dengan ekosistem bisnis, dan sudah dirancang sejak tahun lalu,” katanya. 

Transformasi BPUI menjadi IFG yang efektif pada Maret 2020 jadi langkah awal. IFG yang memimpin holding sejumlah perusahaan asuransi, dan penjaminan BUMN mencatat lonjakan aset dari Rp 4,7 triliun menjadi Rp 72,5 triliun. 

Tambahan berasal dari sembilan entitas perusahaan pelat merah yang dikonsolidasikan ke IFG. Ada tiga kluster yang dibentuk, pasar modal yakni Bahana TCW Invesment Management, Bahana Kapital Investasi, Bahana Sekuritas, Graha Niaga Tata Utama, Bahana Artha Ventura dan Bahana Mitra Investasi.

Kemudian kluster asuransi umum dan penjaminan dari Askrindo, Jasindo, dan Jamkrindo. Serta terakhir kluster asuransi jiwa dan kesehatan melalui IFG Life yang menerima limpahan portoflio dari Asuransi Jiwasraya. 

Adapun oktober lalu rencana penggabungan usaha tiga bank syariah entitas bank pelat merah juga mengemuka. Ini salah satu rencana besar Kementerian BUMN buat menghadirkan bank syariah terbesar di Indonesia sekaligus berskala dunia. 

“Tujuan merger untuk memiliki bank syariah yang besar, dan berdaya saing global. Bank hasil merger juga bisa masuk 10 bank terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di dunia,” kata Ketua Tim Project Management Office Hery Gunardi. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) siap bikin holding bareng PNM dan Pegadaian


ILUSTRASI. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) siap bikin holding bareng PNM dan Pegadaian.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Rencana sinergi perusahaan pembiayaan mikro pelat merah yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani kembali mencuat pasca laporan keuangan kuartal III-2020 telat dilaporkan.

Direktur Keuangan BRI dalam paparan kinerja Rabu (11/11) kemarin bilang proses laporan keuangan  telat dipublikasikan lantaran perseroan tengah menyiapkan aksi korporasi. Sayangnya ia enggan memberi penjelasan lebih lanjut.

“Audit ini dalam rangka untuk corporate action. Nanti pada saatnya kami share ke publik,” ungkapnya.

Adapun saat dikonfirmasi Corporate Secretary BRI Aestka Oryza Gunarto hanya menjelaskan aksi tersebut akan bertujuan mengembangkan bisnis perseroan pada lini UMKM.

Baca Juga: Saham perbankan big cap cuan besar, ini kata analis

“Secara umum aksi korporasi dilakukan untuk mendukung strategi BRI, dan makin fokus mengembangkan UMKM,” katanya kepada KONTAN, Kamis (12/11).

Rencana terkait sebenarnya telah mengemuka sejak awal tahun. Saat itu, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa akan melakukan sinergi antara BRI, Pegadaian, dan PNM.

Ini dilakukan lantaran ketiga perusahaan pelat merah tersebut punya amanat serupa dari Kementerian BUMN untuk menyalurkan pembiayaan ke segmen UMKM terutama mikro.

Baca Juga: Indeks saham BUMN20 bangkit di kuartal IV, simak rekomendasi sahamnya

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Alasan Penas Jadi Holding Pariwisata: Cuma Punya 5 Karyawan



Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah membentuk Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung dengan PT Survai Udara Penas sebagai induknya. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan alasan penunjukan Penas sebagai induk.

“Banyak yang bertanya kenapa Penas? Karena kami mencari perusahaan yang ringan, yang tidak banyak pegawai, tidak banyak juga manusianya, manajemennya. Jadi kami nanti bisa bikin subholding induk ini bertugas hanya manajemen subholding saja. Makanya Penas kami ambil,” jelas Arya dalam sebuah webinar, Rabu (11/11/2020).

Penas diketahui hanya memiliki 5 orang karyawan. Namun, Penas juga memiliki satu buah anak usaha. 


Ke depan, Penas bakal membawahi anggota holding yakni PT Angkasa Pura II, PT Angkasa Pura I, Garuda Indonesia (Accessibilities); Inna Hotels & Resorts dan Sarinah (Amenities); serta Indonesia Tourism Development Corporation dan Taman Wisata Candi (Attractions).

Arya juga menjelaskan alasan tak menunjuk perusahaan lain yang notabene lebih besar. “Kalau Garuda atau Angkasa Pura ini akan berat, di sisi lain urus holding, lainnya operasional, ini kita hindari,” ucapnya.

Dia mengaku tak ingin induk holding nantinya tidak bisa fokus. Karenanya, nantinya Penas akan bekerja secara terstruktur sebagai pucuk pimpinan organisasi, yang didukung sejumlah perusahaan lainnya.

“Nanti kita restrukturisasi organisasi Penas induknya ini, dukungan bisnis bandara kita support membentuk sebuah subholding pariwisata sehingga supply chain menjadi end to end di dunia pariwisata dari hulu ke hilir,” tandasnya.

Ia mengatakan, pemerintah memang ingin membangun alias rantai pasok dalam sektor pariwisata di Indonesia. Hal itu bisa terjadi melalui holding ini.

“Kami di Kementerian BUMN nggak mau terjebak hanya sekedar menanggulangi Corona, justru kami melakukan aksi korporasi, khususnya transformasi bisnis di sektor pariwisata. Saat ini kami godok, kami bentuk subholding pariwisata, di mana kita membangun supply chain pariwisata,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)




Source link

BPK Klaim Pembentukan Holding Tak Efektif Kerek Kinerja PTPN



Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN Holding tidak efektif dalam meningkatkan kinerja PTPN Grup selama 2015 hingga semester I 2019. Pasalnya, kinerja keuangan perusahaan tak juga membaik setelah holding BUMN perkebunan terbentuk.

Mengutip Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2020, Rabu (11/11), keuangan PTPN Grup justru memburuk selama 2015-semester I 2019. Hal itu terlihat dari likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas.

“Akibatnya, pembentukan PTPN III sebagai holding BUMN perkebunan kurang efektif dalam meningkatkan perbaikan kinerja keuangan PTPN Grup,” ungkap BPK.







BPK mengatakan kinerja on farm PTPN Grup belum efektif meski holding BUMN perkebunan telah terbentuk. Sebab, belum ada perbaikan komposisi umur tanaman dan tidak ada efisiensi biaya harga pokok produksi (HPP) pada PTPN Grup.

“Akibatnya tidak tercapainya target kinerja on farm pada PTPN Grup, sehingga tujuan pembentukan holding BUMN perkebunan dalam rangka perbaikan on farm tidak tercapai,” jelas BPK.

Selain itu, kinerja pabrik kelapa sawit milik beberapa PTPN juga belum sesuai dengan norma standar PTPN III dan komitmen PTPN Grup. Hal itu terlihat dari jam berhenti kerusakan pabrik, losses minyak sawit, efisiensi pengutipan minyak, efisiensi pengutipan inti sawit, dan kadar air minyak sawit.

“Pencapaian anggaran mutu kelapa sawit dan karet belum terpenuhi, produksi minyak sawit dan inti sawit, serta produksi karet high grade pada beberapa PTPN Grup belum optimal,” ucap BPK.

Untuk itu, BPK telah merekomendasikan direksi PTPN III untuk melakukan beberapa upaya dalam memperbaiki kinerja perusahaan. Pertama, memperbaiki kinerja keuangan PTPN Grup dengan melakukan monitoring dan evaluasi atas laporan keuangan PTPN Grup secara rutin.

Kedua, memerintahkan divisi tanaman PTPN III untuk melakukan penyelarasan key performance indicator (KPI) dengan tupoksi dan tugas pada bagian tanaman, serta menyusun peta jalan perbaikan komposisi umur tanaman.

Ketiga, memerintahkan kepada Direktur Operasional PTPN I, II, IV, VII, VIII, IX, dan XII menetapkan target kinerja pabrik kelapa sawit dan karet dengan memperhatikan normal standar yang ditetapkan PTPN III.

[Gambas:Video CNN]

(aud/age)






Source link

Holding BUMN Pariwisata, Sarinah Ancang-ancang Buka Toko Bebas Bea


TEMPO.CO, Jakarta –PT Sarinah (Persero) akan langsung membuka toko bebas bea atau duty free shop setelah holding company atau induk usaha BUMN pariwisata dan penerbangan terbentuk. Direktur Utama Sarinah Fetty Kwartati mengatakan rencana ini ditargetkan terealisasi pada 2021.

“Dengan holding, Sarinah dapat berperan sebagai retail management & duty free shop operator,” ujar Fetty saat dihubungi pada Ahad, 8 November 2020.

Toko duty free milik Sarinah rencananya akan ada di tiga lokasi, yakni Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, dan gerai perseroan di MH Thamrin Jakarta. Fetty belum mendetailkan rencana investasi untuk toko tersebut.

Ihwal holding BUMN, Fetty memastikan bahwa upaya yang dilakukan Kementerian BUMN untuk menggabungkan perusahaan-perusahaan pelat merah yang bergerak dalam lini yang sama bisa membuka peluang bisnis lebih luas pada masa mendatang. “Perusahaan bisa membuka toko-toko retail lainnya,” katanya.

Fetty berharap holding BUMN bisa memberikan efek yang bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Baik sekali untuk menggerakkan daya beli masyarakat dan pemulihan ekonomi,” ucapnya.

Holding BUMN pariwisata dan penerbangan akan melibatkan enam perusahaan pelat merah dan anak-anak usahanya. Keenam perusahaan itu adalah PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Inna Hotels & Resorts, PT Sarinah (Persero), Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), serta Taman Wisata Candi (TWC). Adapun PT Survai Udara Penas ditunjuk sebagai induk holding.

Rencana holding pariwisata terangkum dalam dokumen paparan dan diskusi karyawan yang disosialisasikan sejak Oktober 2020. Berdasarkan paparan tersebut, rencana holding akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah setoran modal dari enam perusahaan yang akan dilakukan pada kuartal IV 2020.

Kemudian tahap kedua berupa restrukturisasi portofolio yang akan berlangsung pada 2021 hingga 2022. Nantinya akan terbentuk empat klaster dalam holding pariwisata dan penerbangan.

Klaster pertama, yakni bandara, akan beranggotakan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II. Kemudian yang kedua ialah klaster penerbangan yang meliputi Garuda Indonesia dan Pelita Air Service.

Klaster selanjutnya, yaitu klaster manajemen perjalanan yang bakal beranggotakan ITDC, TWC, Inna Hotel & Resorts, Aerowisata, dan Garuda Indonesia Holiday France. Keempat, klaster servis aviasi dan logistik berisi Gapura Angkasa, Angkasa Pura Solusi, GMF AerAsia, Garuda Indonesia Kargo, Angkasa Pura Kargo, Aero Express, Angkasa Pura Supports, Aerofood ACS, dan Sarinah.

FRANCISCA CHRISTY ROSANA | LARISSA HUDA





Source link

Erick Thohir Bentuk Holding BUMN Pariwisata, Bos Garuda: Banyak PR


TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menanggapi ihwal rencana pembentukan holding BUMN pariwisata dan penerbangan yang diinisiasi Menteri BUMN Erick Thohir. Irfan mengatakan perseroannya masih membutuhkan proses penyesuaian sebelum holding terlaksana.

“Banyak pekerjaan rumah. Saat ini (rencana holding) sedang di-set up dengan tim,” ujar Irfan saat dihubungi pada Ahad, 8 November 2020.

Dia yakin holding BUMN akan meningkatkan sinergi antar-perusahaan. Holding, kata dia, juga akan mengakselerasi pertumbuhan emiten berkode sandi GIAA tersebut pada masa mendatang.

Meski demikian, Irfan belum ingin menggamblangkan rencana bisnis perusahaan setelah holding pariwisata dan penerbangan terbentuk. “Tunggu tanggal mainnya,” kata dia.

Holding pariwisata dan penerbangan akan melibatkan enam perusahaan pelat merah dan anak-anak usahanya. Keenamnya adalah PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Inna Hotels & Resorts, PT Sarinah (Persero), Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), serta Taman Wisata Candi (TWC). Adapun PT Survai Udara Penas ditunjuk sebagai induk holding.

Rencana holding pariwisata terangkum dalam dokumen paparan dan diskusi karyawan yang disosialisasikan sejak Oktober 2020. Berdasarkan paparan tersebut, rencana holding akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah inberg atau setoran modal dari enam perusahaan yang akan dilakukan pada kuartal IV 2020.





Source link

Merger bank BUMN Syariah bakal jadi bank kelas kakap

Merger bank BUMN Syariah bakal jadi bank kelas kakap


ILUSTRASI. Suasana di salah satu bank syariah di Jakarta, Jumat (29/5). Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mengatakan bank syariah cenderung menanggung risiko yang lebih kecil saat pandemi covid-19 bila dibandingkan dengan kondisi bank konvensional. Konsep

Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Rencana Kementerian BUMN untuk melakukan penggabungan atau merger bank syariah yang merupakan anak-anak usaha bank berplat merah masih berlanjut. Jika tidak ada aral melintang, merger ini akan selesai pada awal tahun 2021 mendatang.

Bank Syariah Mandiri (BSM) selaku anak usaha dari Bank Mandiri mendukung penuh rencana merger ini. Toni EB Subari, Direktur Utama Mandiri Syariah mengatakan, rencana merger ini merupakan hal menarik yang akan membuat pangsa pasar bank syariah semakin besar.

Baca Juga: Meski ditekan pandemi, laba Bank Syariah Mandiri masih naik 30,5% di semester I

Dalam hitungan kasar, Toni mengatakan, jika empat bank syariah milik pemerintah ini berhasil merger maka aset yang akan dimiliki mencapai Rp 207 triliun. Tentunya, potensi memperkuat pembiayaan dan pendanaan akan semakin besar.

“Jika bank syariah dari BUMN ini merger maka akan masuk dalam kelompok 10 bank besar secara nasional,” katanya, Selasa (25/8).

Untuk itu, BSM akan mendukung rencana pemegang saham ini, salah satunya dengan terus melakukan komunikasi dengan Kementerian dan pemegang saham.

Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, rencana merger ini berpotensi untuk meningkatkan penetrasi bank syariah di tanah air.

Baca Juga: Ini penyebab NPL bank besar meningkat meski sudah gelar program restrukturisasi

Saat ini, pangsa pasar bank syariah hanya 8,5%-9%, atau ketinggalan jauh dengan bank syariah dari negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai 40%-50%.

Sejauh ini, tujuan pemegang saham untuk mengawinkan anak-anak usaha di bidang perbankan syariah ini agar mereka dapat tumbuh lebih solid dan sejajar dengan perbankan lainnya. Apalagi, Indonesia punya pasar syariah dan industri halal yang sangat luas.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link