fbpx

Pendapatan bunga turun, bank getol mengais biaya-biaya dari nasabah


ILUSTRASI. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/02/11/2017

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan kian getol mengais pendapatan non bunga di tengah seretnya pendapatan berbasis bunga saat ini. Di tengah digitalisasi layanan perbankan, nasabah harus menanggung berbagai biaya. 

PT Bank BTPN Tbk misalnya,  melalui produk tabungan digitalnya bertajuk Jenius telah mengumumkan bahwa seluruh fitur dalam aplikasi Jenius bakal dikenakan biaya berlangganan (Feesible) sebesar Rp 10.000 per bulan mulai Januari 2021.

Irwan Sutjipto Tisnabudi, Head of Digital Banking BTPN menerangkan, seesible merupakan biaya berlangganan untuk memanfaatkan seluruh layanan dalam ekosistem finansial yang terhubung dengan akun Jenius. Feesible akan berlaku bagi seluruh pengguna Jenius tanpa terkecuali.

Ia menambahkan, biaya berlangganan ini diberlakukan agar Jenius dan penggunanya dapat bersama-sama mewujudkan impian. “Dengan adanya Feesible, pengguna dapat menikmati kemudahan pengelolaan finansial dan saat yang sama akan membantu Jenius mewujudkan mimpi yang lebih besar untuk membangun bisnis digital yang berkelanjutan melalui inovasi dan peluncuran fitur-fitur baru,” katanya pada KONTAN, Kamis (19/11).

Namun, nasabah Jenius masih tetap dibebaskan dari biaya transaksi saat mengirimkan uang ke bank lain dan melakukan tarik tunai di ATM mana pun jika saldo rata-rata bulanannya di atas Rp 1 juta.

BTPN belum mematok target fee based income tahun dengan adanya biaya berlangganan tersebut. Irwan bilang, masih terlalu dini untuk menentapkan target. Fokus perseroan saat ini adalah memberikan layanan yang prima bagi nasabah.

Baca Juga: Ekonom: Beda dengan krisis 1998, likuiditas perbankan saat ini sangat kuat

Penarikan fee based income juga dilakukan bank lewat dari sisi kartu kredit maupun kartu debit. Untuk kartu kredit, ada bank yang mengenakan biaya untuk laporan tagihan lewat SMS di samping biaya iuran tahunan. 

Namun, Bank CIMB Niaga menegaskan tidak mengenakan biaya kepada nasabah atas laporan tagihan yang dikirimkan ke nasabahnya. Bank ini hanya mengenakan biaya tahunan, biaya over limit dan biaya bunga jika mencicil. ” Biaya tahunan kartu kredt tergantung jenisnya. Tetapi ada juga jenis kartu yang bebas biaya tahunan,” kata Lani Darmawan, Direktur Konsumer CIMB Niaga. 

Produk tabungan di bank ini juga tidak semuanya dikenakan biaya admin. Lani mengatakan, penarikan biaya dilakukan tergantung feature dan jenis tabungannya. Perseroan bisa mengratiskan biaya rata-rata transaksi sampai 20 kali per bulan. 

Sementara Bank Mandiri mengenakaan biaya dan bunga kartu kredit secara bervariasi tergantung jenis kartunya. “Adapun besar biaya notifikasi via SMS adalah sesuai dengan standar biaya pengiriman SMS di masing-masing provider,” kata Rudi Aturridha, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

DPK industri naik tinggi, bank kecil masih gigit jari?


ILUSTRASI. DPK Bank

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kondisi likuiditas perbankan di Tanah Air diakui regulator tetap kokoh. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat per September 2020 total simpanan (Dana Pihak Ketiga/DPK) di perbankan sudah mencapai Rp 6.721 triliun. Realisasi tersebut meningkat sebanyak 10,6% secara year to date (ytd). 

Namun, LPS menggarisbawahi bahwa kondisi likuiditas bank kecil tengah menjadi perhatian setelah sempat tertekan pada pertengahan tahun ini. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi bilang hal itu disebabkan sempat menurunnya kepercayaan nasabah penabung pada bank kecil khususnya di kelompok BUKU I. 

Menurut catatan LPS pada periode Maret-Juli 2020 Bank BUKU I memang mengalami pertumbuhan negatif secara ytd. Ini artinya ada indikasi perpindahan dana dari bank kecil ke bank-bank besar. Kabar baiknya, per September 2020 angka tersebut sudah mulai positif. 

Baca Juga: Askrindo Syariah dan Peruri jalin kerja sama implementasi digital signature

Bila merujuk pada data OJK kelompok BUKU I memang masih mencatat pertumbuhan DPK negatif 4,95% secara yoy di akhir September 2020 lalu. Jauh lebih rendah dari kelompok BUKU lainnya. Tapi, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso bilang hal itu terjadi lantaran ada beberapa BUKU I yang naik ke BUKU II.

“Tidak ada masalah kritikal mengenai hal ini,” katanya belum lama ini. 

Menanggapi hal itu, beberapa bank kecil yang dihubungi Kontan.co.id memang mengakui kalau sejatinya likuiditas bank secara umum sangat tebal. Namun, Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) Daniel Budirahayu menjelaskan memang ada indikasi pergeseran dana dari bank kecil ke bank besar. Beruntungnya, hal ini tidak terjadi di perseroan.

“Di Bank Ina DPK cenderung meningkat. Persaingan perebutan DPK sudah tidak dirasakan lagi karena market sudah likuid,” ujar dia, Senin (16/11). 

Terbukti di bulan September 2020 Bank Ina memang masih mencatatkan DPK tumbuh di kisaran 3% secara tahunan. Walau rendah, Daniel menuturkan potensi peningkatan likuiditas masih terus berlanjut.

Pihaknya pun optimis sampai akhir tahun DPK bisa tumbuh di kisaran 7%-10% yoy. “Strateginya untuk sementara ini kami menjaga hubungan baik dengan nasabah agar dana bisa terjaga,” paparnya. 

Meski begitu, perlambatan DPK memang dirasakan sebagian bank kecil, salah satunya PT BPD Banten Tbk (BEKS). Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengamini kalau di bulan Oktober 2020 ada sedikit penurunan DPK perseroan. Hal ini disebabkan belum pulihnya kepercayaan pada bank kecil termasuk perseroan. 

Baca Juga: Ingin taruh dana di deposito? Perhatikan dulu hal-hal berikut ini

Kabar baiknya, penurunan itu menurut Fahmi sudah lebih kecil dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Sebagai gambaran saja, per September 2020 total DPK Bank Banten tercatat sebesar Rp 4,21 triliun menurun dari tahun sebelumnya Rp 6,72 triliun atau susut -37,35% yoy. 

Walau tidak mematok target untuk tahun ini, menurut perseroan pihaknya tengah berupaya untuk mendapatkan dana menjelang akhir tahun. Salah satunya dengan menaikkan tingkat bunga deposito. 

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Ada dana PEN, namun kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di Bank Mandiri. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Bank Sampoerna himpun dana murah via Tasaku


ILUSTRASI. Layanan di PT Bank Sahabat Sampoerna

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Diluncurkan sejak 2016, program Laku Pandai PT Bank Sahabat Sampoerna yaitu Tabungan Sampoerna AlfaKu terus didorong. Sampai kuartal III-2020, Tasaku telah berhasil menghimpun dana hingga Rp 7 miliar, tumbuh 14% (yoy).

Direktur Keuangan Bank Sampoerna Henky Suryaputra menyatakan pertumbuhan rogram ini juga turut didorong oleh 350 gerai ritel Alfa Grup yang dapat melayani Tasaku. 

“Memperhatikan penerimaan masyarakat atas TASAKU selama 4 tahun terakhir ini. Untuk itu, kami akan memperluas jangkauan layanan Tasaku. Jika saat ini layanan masih terbatas di beberapa kota di Jawa Timur, kami mengusahakan agar pada tahun 2021 Tasaku sudah bisa dilayani di seluruh Indonesia melalui jaringan Alfa Grup,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Minggu (8/11).

Mendorong masyaraat untuk memanfaatkan layanan Tasasku, Bank Sampoerna juga baru saja menggelar undian berhadiah, Jumat (6/11) lalu dengan hadiah utama peralanan umrah senilai Rp 25 juta. Serta sejumlah hadiah tabungan Tasaku.

Baca Juga: Ada dana PEN, namun kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020

Henky bilang program tersebut jadi salah satu apresiasi perseroan kepada para nasabah Tasaku. Apalagi di masa pandemi kini. 

Ia menambahakan buat masyarakat yang berminat membuka rekening Tasaku bisa langsung datang ke gerai Alfamart, atau Alfamidi yang bertanda stiker Agen Saku.

Sementara buat bertransaksi, selain via gerai Alfa Grup,  nasabah Tasaku juga dapat melakukan transaksi melalui smartphone. Tasaku yang dapat diakses lewat aplikasi BSS Mobile yang  memiliki berbagai fitur menarik. 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya

DPK bank tumbuh lebih tinggi dari kredit, ini sebabnya


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi melalui ATM. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam masa pandemi Covid-19, permintaan kredit memang melandai. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2020 yang menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) cuma 1,04%.

Tetapi di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan tumbuh lebih tinggi yakni sebesar 11,64% secara year on year (yoy). Lebih baik ketimbang periode Juli 2020 yang kala itu disebut OJK tumbuh 8,53% secara tahunan.

Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id mengamini, peningkatan DPK memang tinggi. Selain karena tren menabung yang tinggi di tengah pandemi, hal ini juga disebabkan minimnya permintaan kredit. Walhasil, secara suplai pendanaan alias likuiditas saat ini bisa dikatakan ada di level paling longgar.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri: Kredit perbankan hanya tumbuh 1,5% di 2020

PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya yang mencatatkan DPK Rp 203,98 triliun per Juli 2020, naik 18,51% dari periode sama setahun lalu yang sebesar Rp 172,12 triliun.

Direktur Konsumer CIMB Niaga Lani Darmawan menyebutkan, mayoritas penopang pertumbuhan tersebut tak terlepas dari kenaikan dana murah (CASA) yang juga sebesar 18%. Namun, pertumbuhan deposito cenderung melambat karena CIMB Niaga lebih fokus menjaring dana murah.

“Secara total, DPK kami tumbuh positif. Nasabah mungkin lebih nyaman ke tabungan daripada deposito karena lebih fleksibel dan banyak fasilitas lewat mobile banking,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (24/9) lalu.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pun menyerukan hal senada. Walau tidak sederas industri, menurut Direktur Bank BTN Jasmin, per Agustus 2020 DPK BTN sudah naik 6,5%. Pertumbuhan itu didominasi dana murah yakni giro sebesar 15,5% yoy.

Malah bila dirinci, dari Juni 2020 ke bulan Agustus 2020 ada peningkatan cukup tinggi sekitar 9% dari Rp 226,32 triliun menjadi Rp 246,53 triliun. “Tren DPK di bulan eptember 2020 diperkirakan juga tetap naik,” kata Jasmin kepada Kontan.co.id, Jumat (25/9).

Walau punya potensi besar, bank bersandi bursa BBTN ini tidak ngotot menargetkan DPK jumbo tahun ini. Menurut Jasmin, DPK hanya ditargetkan tumbuh sekitar 7%-8% saja sepanjang tahun 2020. Ini karena BTN ingin memperbesar porsi dana murah (rasio CASA).

Menurut Jasmin, wajar kalau DPK tumbuh jauh melampaui pertumbuhan kredit. Sebab, kebanyakan nasabah atau debitur pastinya tengah mengerem kredit di masa pandemi. Walhasil, bisa dibilang dana-dana tersebut sedang diparkir di instrumen DPK, setidaknya sampai ekonomi stabil.

“Kami tidak mematok tinggi. Permintaan kredit juga masih jauh dari normal. Semoga tahun depan ekonomi kita membaik,” terangnya.

Baca Juga: Ini progres restrukturisasi kredit korporasi bank besar

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Bank kebut ekspansi dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

Bank kebut ekspansi dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)


ILUSTRASI. Costumer Service melayani nasabah di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Maybank Kalibesar Jakarta usai peresmian kembali, Kamis (6/9). KCP Maybank Kalibesar merupakan cabang yang beroperasi saat bank didirikan pada tahun 1959. Dengan beroperasinya kembali KCP m

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Menjaga rentabilitas selama pandemi, bank penerima dana pemulihan ekonomi (PEN) terus berupaya mendorong  ekspansinya. Bank pelat merah bahkan hampir memenuhi target penyaluran kredit yang ditetapkan pemerintah.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya hingga 24 Agustus 2020 telah menyalurkan kredit Rp 12,03 triliun. Nilai tersebut setara 2,4 kali dari nilai penempatan dana Rp 5 triliun, adapun targetnya, hingga akhir September perseroan bakal menyalurkan kredit dari dana PEN senilai Rp 15 triliun, atau tiga kali lipat dari nilai penempatan dana.

Direktur Manajamen Risiko BNI Osbal Saragi bilang dana PEN memang akan jadi sumber utama ekspansi kredit perseroan hingga akhir tahun. Maklum, tak cuma dan akan diberikan, perseroan juga memanfaatkan sejumlah stimulus lain seperti penjaminan kredit dari PT Askrindo dan Jamkrindo guna menekan risiko kredit.

Baca Juga: Ekonom ini memprediksi akan terjadi deflasi 0,01% mom pada bulan Agustus 2020

“Ekspansi kami akan lebih hati-hati di semester kedua, strateginya akan mengarah terkait program PEN, atau seiring kebijakan pemerintah yang akan mengakselerasi penyerapan anggaran, sehingga segmen korporasi, menengah, dan kecil pasti akan sangat relevan,” kata Osbal kepada KONTAN pekan lalu.

Adapun dari komposisi penyaluran kredit dari dana PEN mayoritas disalurkan ke sektor usaha kecil, yakni senilai Rp 6,95 triliun atau 57,8% nilai penyaluran.

Bank pelat merah lainnya yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bahkan sudah memenuhi target penyaluran kredit tiga kali lipat dari nilai penempatan dana. Perseroan telah berhasil menyalurkan kredit Rp 26,9 triliun dari dana PEN senilai Rp 10 triliun yang ditempatkan. Atau setara 88,3% dari target penyaluran Rp 30,4 triliun.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Silvano Rumantir bilang penyaluran kredit bahkan difokuskan kepada sejumlah debitur anyar, alih-alih debitur lama perseroan, terutama untuk segmen KUR.

Baca Juga: Hingga Juli 2020, Pegadaian sudah bebaskan bunga pinjaman kepada 1,9 juta nasabah

“Realisasi penyaluran kredit PEN sampai 13 Agustus 2020 telah mencapai Rp 26,9 triliun kepada 50.596 debitur. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33.828 debitur atau 66,9% diantaranya merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bahkan dapat kami sampaikan bahwa seluruh debitur penerima pembiayaan PEN untuk segmen KUR merupakan debitur baru,” katanya dalam paparan virtual pekan lalu.

Jika dirinci, Rp 9,4 triliun kredit tersalurkan ke segmen UMKM, sementara sisa Rp 17,4 triliun mengucur ke segmen padat karya.

Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bahkan telah menunaikan target untuk menyalurkan kredit lebih dari tiga kali lipat dari dana Rp 10 triliun . Bank terbesar di tanah air ini telah menyalurkan kredit hingga Rp 35,8 triliun.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link