fbpx
Penyusunan Roadmap Industri Hasil Tembakau Bakal Terhambat

Penyusunan Roadmap Industri Hasil Tembakau Bakal Terhambat


Jakarta, CNN Indonesia —

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, penyusunan peta jalan atau roadmap industri hasil tembakau (IHT) kemungkinan terhambat. Hal ini dikarenakan regulator yang menangani sektor ini cukup banyak.

“IHT ini sebagai regulatornya banyak kementerian yang terkait di sini,” kata Susiwijono, dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (5/9).

Menurut Susiwijono, ada tiga kementerian yang intens berkoordinasi dalam pembahasan peta jalan IHT, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan.


Namun, ketiga kementerian terkait itu pun memiliki kepentingan berbeda dalam penyusunan ini. Kementerian Perindustrian berkaitan dengan sektor industri rokok, Kementerian Pertanian terkait dengan produksi hasil tembakau dan hasil pertanian, Kementerian Keuangan terkait dengan penerimaan pajak.

Selain itu sejak pandemi virus corona (Covid-19), Kementerian Kesehatan yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) turut berkomunikasi dengan intens dengan Kemenko Perekonomian mengenai hal ini.

Keempat kementerian itu, kata dia, memiliki posisi dan pandangan masing-masing yang saling bertabrakan satu sama lain dalam melihat peta jalan IHT. Dari sisi tugas dan fungsi, empat kementerian ini agak sulit berada pada posisi yang sama.

“Pasti mereka dalam tanda kutip membela konstituennya masing-masing. Kalau kemenperin jelas akan membela betul industrinya itu sendiri supaya berkembang dengan berbagai alasan, kita dorong industri hasil tembakau. Teman-teman Kementan pasti bela petani tembakau dan cengkeh,” ujarnya.

“Sedangkan Kemenkes pasti fokus isu kesehatan yang saya kira pasti tidak pada posisi yang sama dengan Kemenperin dan Kementan,” kata Susiwijono menambahkan.

Oleh karena itu, Kemenko Perekonomian saat ini akan mensinergikan sejumlah kepentingan yang berbeda itu. Apalagi, peta jalan ini bertujuan untuk memberikan kepastian bagi semua pihak.

“Yang paling penting nanti kita harus siapkan beberapa kebijakan insentif, baik untuk stakeholder industri maupun petani tembakau di era pandemi Covid,” tuturnya.

Kemenko Perekonomian juga sudah mencoba untuk menyiapkan beberapa inisiasi dan mendorong kembali bagaimana menyiapkan peta jalan IHT. Apalagi roadmap ini juga harus menampung pandangan dari berbagai pihak.

“Dari sisi kementerian pasti concern-nya beda, termasuk dari asosiasi, pengusaha hasil tembakau, dan pemerhati, akademisi juga pendapatnya berbeda-beda. Ini yang menjadi tantangan kita, saya kira akan cukup dinamis dalam perkembangan pembahasan roadmap IHT ini,” pungkasnya.

(dmi/osc)

[Gambas:Video CNN]





Source link

Pandemi Corona, Industri Hasil Tembakau Minus 10,84 Persen

Pandemi Corona, Industri Hasil Tembakau Minus 10,84 Persen


Jakarta, CNN Indonesia —

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono mengatakan Industri Hasil Tembakau masih mengalami kontraksi cukup dalam akibat pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona.

Padahal, sejumlah industri lain sudah mulai mengalami pemulihan (rebound) seiring dengan naiknya Purchasing Manufacturing Index (PMI) menuju posisi 50 persen pada Juni 2020.

Susiwijono mengatakan, kondisi tersebut terlihat di kuartal kedua 2020. Sektor industri pengolahan tembakau mengalami kontraksi minus 10,84 persen (year on year/yoy).


“Industri pengolahan tembakau ini mengalami kontraksi cukup dalam, year on year, minus 10,84 persen. Demikian juga beberapa yang terkait kalau kita bandingkan quartal to quartal kemarin,” kata Susiwijono dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (5/9).

Menurut Susiwijono, pandemi virus corona sebelumnya memang berdampak cukup parah ke industri hasil tembakau. Meski begitu, berdasarkan PMI, sejumlah industri lain sudah mengalami rebound. Namun efek ini belum berpengaruh pada olahan tembakau.

“Namun demikian untuk industri pengolahan tembakau ini masih sama dengan industri transportasi, alat angkutan, kontraksinya cukup dalam,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian juga meramal target penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) sebesar Rp170 triliun pada tahun ini tidak tercapai akibat pandemi Covid-19.

Sebelumnya tercatat ada kenaikan penerimaan CHT pada triwulan pertama 2020. Namun, ia menduga hal ini terjadi akibat dampak kebijakan kenaikan CHT yang diberlakukan pemerintah mulai Januari lalu.

Kenaikan ini mendorong industri beramai-ramai memborong CHT. Aksi borong ini membuat penerimaan CHT melonjak pada kuartal I 2020.

Tapi pada kuartal II, penerimaan CHT langsung anjlok hingga 10,84 persen. Supriadi mengatakan penurunan paling banyak dialami sigaret kretek tangan (SKT).

(dmr/eks)

[Gambas:Video CNN]





Source link