fbpx

Tren Deflasi Terhenti, tapi Daya Beli Masyarakat Masih Lemah


JawaPos.com – Secara nasional, tren deflasi berakhir. Sebelumnya, indeks harga konsumen (IHK) mencatat deflasi sejak Juli hingga September. Senin (2/11) Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan IHK Oktober yang mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen.

“Harga berbagai komoditas pada Oktober tahun ini secara umum menunjukkan adanya kenaikan berdasar hasil pemantauan BTS di 90 kota. Pada Oktober 2020 ini terjadi inflasi sebesar 0,07 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin.

Dia menggarisbawahi bahwa meski tren deflasi berturut-turut berakhir pada Oktober, daya beli belum pulih. Sebab, inflasi inti masih rendah. Inflasi inti Oktober mencapai 0,04 persen dengan sumbangan ke inflasi 0,03 persen.

Inflasi inti Oktober lebih rendah daripada bulan sebelumnya. Yakni, 0,13 persen. “Secara umum, inflasi inti ini menunjukkan bahwa daya beli memang belum pulih” imbuh Suhariyanto.

Dia melanjutkan, ada penurunan daya beli sekitar 40 persen kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah. Inflasi inti biasanya digunakan sebagai indikator daya beli. “Tapi, behavior masyarakat agak berbeda. Sebanyak 40 persen ke bawah karena terdampak Covid-19, banyak yang dirumahkan dan mengalami penurunan upah,” jelasnya.

Dia menduga kelompok masyarakat menengah ke atas hingga kini masih menahan konsumsi. Namun, hal itu nanti terjawab saat rilis PDB Indonesia kuartal III/2020 pada 5 November.

Secara umum, inflasi Oktober disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,29 persen dengan andil 0,07 persen. Di dalam kelompok itu, dua komoditas, yaitu bawang merah dan cabai merah, jadi penyumbang terbesar akibat dampak cuaca buruk.

Terpisah, Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana memproyeksikan penurunan inflasi inti terus berlanjut pada bulan-bulan ke depan. Penurunan itu dipengaruhi lambatnya distribusi vaksin yang akan berdampak pada kepercayaan konsumen dan masih akan menekan daya beli masyarakat.

“Kami melihat inflasi inti mungkin terus turun karena lambatnya distribusi vaksin, yang dapat menghambat kepercayaan konsumen dan meningkatkan ketidakpastian,” jelasnya.

Sementara itu, Jawa Timur (Jatim) masih mencatatkan deflasi pada Oktober sebesar 0,02 persen. Penyebabnya adalah penurunan harga.

Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan mengatakan, penurunan harga ditunjukkan turunnya sebagian indeks kelompok pengeluaran. Yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,17 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,06 persen; dan transportasi 0,21 persen.

Sementara itu, kelompok yang mengalami inflasi adalah pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 persen; kesehatan 0,50 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 0,52 persen; pendidikan 0,04 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,45 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga tidak mengalami perubahan.

“Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain, angkutan udara, mangga, emas perhiasan, apel, semangka, tarif listrik, alpukat, daging sapi, daging ayam ras, dan wortel,” sebutnya.

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK)

Januari: 0,39 persen

Februari: 0,28 persen

Maret: 0,10 persen

April: 0,08 persen

Mei: 0,07 persen

Juni: 0,18 persen

Juli: minus 0,10 persen

Agustus: minus 0,05 persen

September: minus 0,05 persen

Oktober: 0,07 persen

Sumber: BPS

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (dee/res/c7/hep)





Source link