fbpx

Gonjang-Ganjing Hasil Pemilu AS dan Isu Brexit Menekan Rupiah Pekan Depan


TEMPO.CO, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan depan. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi faktor eksternal.

“Kalau rupiah melemah itu disebabkan oleh masalah eksternal yang sampai sekarang belum stabil,” ujar dia kepada Tempo, Ahad, 22 November 2020. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 14.050 hingga 14.200 per dolar AS pada pekan depan. Pada perdagangan Jumat kemarin, rupiah ditutup melemah pada level 14.165 per dolar AS.

Sejumlah sentimen eksternal yang membayangi pergerakan rupiah antara lain perkara stimulus yang masih simpang siur di Amerika Serikat. Para pelaku pasar, menurut Ibrahim, menunggu kepastian dari kebijakan ini.

Pada mulanya, stimulus penanganan pandemi Covid-19 itu diperkirakan akan digelontorkan setelah 3 November 2020 atau setelah pemilihan umum di AS. Namun, sampai saat ini perkara tersebut masih belum putus juga.

Di samping itu, para pelaku pasar juga menunggu masa transisi di Amerika. Semenjak diumumkan bahwa pemilihan umum di Amerika Serikat (pemilu AS) dimenangkan oleh Joe Biden, tim transisi masih belum juga dibentuk lantaran dikabarkan belum mendapat restu dari inkumben, Presiden Donald Trump.

Pelaku pasar masih mengamati dan mengantisipasi gonjang-ganjing politik di AS. Ibrahim menyebut adanya kekhawatiran bahwa masalah politik ini akan berbuntut panjang, misalnya apabila Donald Trump mengeluarkan dekrit. “Ini ada ketakutan karena tim transisi belum dibentuk,” ujar dia.

Dari benua Eropa, Ibrahim melihat negosiasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih alot. Kemungkinan negosiasi itu akan mencapai keputusan pada pekan depan. Dua belah pihak masih memiliki waktu untuk bernegosiasi hingga penghujung tahun ini.

“Negosiasi Brexit ini butuh waktu cukup lama. Bisa saja Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa persyaratan. Ini cukup memprihatinkan ya suatu negosiasi yang begitu lama dan belum ada kepastian secara hukum. Ini yang membuat mata uang rupiah berfluktuasi,” tutur Ibrahim.

Untuk sentimen dari dalam negeri, Ibrahim menilai fundamental ekonomi dan politik Tanah Air masih cukup baik. Hal ini membuat pemodal asing percaya dan mau masuk ke Indonesia. Kebijakan yang diperhatikan oleh pelaku pasar, tutur dia, misalnya terkait penegakan protokol kesehatan di dalam negeri hingga pemberlakuan Undang-undang Cipta Kerja yang dinilai memberi angin segar pada dunia usaha.





Source link

Ledakan Kasus Covid Menghantui Sentimen Pasar Pekan Depan



Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar finansial dalam negeri bergerak bervariasi pada pekan ini. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga surat berharga negara (SBN) pekan ini sama-sama masih mencatatkan kinerja yang cukup positif. Lain halnya untuk rupiah, pada pekan ini cenderung flat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penguatan 2,03% ke 5.571,66. Data perdagangan mencatat investor asing melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 321,93 miliar pada perdagangan akhir pekan lalu (20/11/2020).


Sementara itu, di kawasan Asia, penguatan IHSG berada di posisi ketujuh, di mana posisi pertama diduduki oleh Straits Times Index (STI) Singapura yang berhasil menguat 3,75% pada pekan ini.

Di pasar obligasi pemerintah, Seluruh tenor surat berharga negara (SBN) mengalami kenaikan harga selama sepekan yang tercermin dari penurunan yield-nya, di mana penurunan yield terbesar ada di SBN bertenor 20 tahun yang turun 21,8 basis poin pekan ini

Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara selama sepekan turun 12,4 basis poin ke level 6,900% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Hal ini juga didukung dari minat investor terhadap obligasi Indonesia yang kembali tinggi, tercermin dari lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (17/11/2020) lalu yang kelebihan permintaan (oversubscribed) 5 kali lipat dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp 104,7 triliun, lebih tinggi dari penawaran yang masuk dalam lelang 2 pekan sebelumnya Rp 66,27 triliun.

Target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 20 triliun, dan dimenangkan dengan nilai sebesar Rp 24,6 triliun.

Namun, penguatan IHSG dan harga SBN tidak dibarengi oleh pergerakan rupiah, di mana pada pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung stagnan di level Rp 14.150/US$.

Hal ini karena rupiah sudah menguat selama tujuh pekan berturut-turut, sehingga investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking). Selain itu, kombinasi sentimen jangka pendek negatif dan positif juga membuat pergerakan rupiah cenderung datar.

Rupiah pada perdagangan Jumat (20/11/2020) ditutup pada level Rp 14.150 per dolar Amerika Serikat (AS), atau tak berubah dibandingkan dengan posisi penutupan sepekan lalu. Penguatan hanya terjadi pada Senin dan Selasa, dan selanjutnya melemah hingga akhir pekan.

Sepanjang pekan ini, cukup banyak sentimen positif yang datang, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri.

Di dalam negeri, sentimen positif yang datang sepanjang pekan ini adalah terkait rilis data suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) periode Oktober 2020 dan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2020.

Pada Kamis (19/11/2020), BI RDG BI edisi November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3% dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5%.

“Keputusan ini mempertimbangkan perkiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan langkah pemulihan ekonomi nasional,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Hal ini tidak diperkirakan oleh mayoritas pelaku pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dan Reuters menghasilkan proyeksi BI 7 Day Reverse Repo Rate tetap di 4%.

Artinya, suku bunga acuan kini berada di di posisi terendah sejak diperkenalkan pada Agustus 2016 menggantikan BI Rate.

Dalam kondisi normal, penurunan suku bunga acuan membuat rentang (spread) imbal hasil SBN suatu negara menipis jika dibandingkan dengan negara maju, yang pda gilirannya menekan harga surat utang.

Kemudian pada Jumat (20/11/2020), BI mencatat, NPI pada kuartal III-2020 surplus sebesar US$ 2,1 miliar melanjutkan capaian surplus sebesar US$ 9,2 miliar pada triwulan sebelumnya.

Surplus NPI yang berlanjut tersebut didukung oleh surplus transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial.

Pada kuartal III-2020, transaksi berjalan (current account) mencatat surplus sebesar US$ 1 miliar atau 0,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini menjadikan transaksi berjalan Indonesia berhasil mencatatkan surplus setelah selama 9 tahun mengalami defisit.

Surplus transaksi berjalan ditopang oleh surplus neraca barang seiring dengan perbaikan kinerja ekspor di tengah masih tertahannya kegiatan impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat.

Selain dari dalam negeri, sentimen positif dari global yang datang yakni kabar positif dari vaksin Covid-19 besutan Moderna, di mana pihak perseroan mengklaim berhasil membentuk antibodi di tubuh orang dewasa pada vaksin tersebut.

Moderna, perusahaan bioteknologi asal AS mengembangkan vaksin untuk Covid-19 dengan platform yang sama dengan vaksin besutan Pfizer dan BioNTech yang menggunakan molekul RNA.

“Kita akan memiliki vaksin yang dapat menghentikan Covid-19,” kata Presiden Moderna Stephen Hoge dalam wawancara telepon dengan Reuters.

Analisis sementara Moderna didasarkan pada 95 infeksi di antara peserta uji coba yang menerima vaksin atau plasebo. Hanya lima infeksi terjadi pada sukarelawan yang menerima vaksin mRNA-1273, yang diberikan dalam dua suntikan dengan selang waktu 28 hari.

“Vaksin benar-benar cahaya di ujung terowongan,” kata Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS.



Source link

Rupiah Lunglai ke Rp14.165 di Akhir Pekan



Jakarta, CNN Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.165 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Jumat (20/11) sore. Mata uang Garuda  melemah 0,07  persen dari Rp14.155 per dolar AS pada Kamis (19/11).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.228 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.167 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini ditunjukkan oleh dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Singapura bertambah 0,08 persen, won Korea Selatan naik 0,09 persen, dan peso Filipina menguat 0,18 persen.







Selanjutnya, rupee India bertambah 0,21 persen, yuan China naik 0,20 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,14 persen, dan baht Thailand naik 0,17 persen.

Mata uang Garuda hanya melemah bersama yen Jepang sebesar 0,11 persen dan dolar Taiwan 0,05 persen terhadap dolar AS.

Serupa, mayoritas mata uang di negara maju juga kompak perkasa terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, dolar Australia naik 0,03 persen, dolar Kanada bertambah 0,08 persen, dan franc Swiss naik 0,19 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan ada dua faktor yang menjadi sentimen negatif bagi mata uang Garuda. Pertama, keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan menekan rupiah. 

[Gambas:Video CNN]

Diketahui, bank sentral menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020. Ibrahim mengatakan pemangkasan suku bunga acuan itu luar dugaan pasar, lantaran para analis memprediksi BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan.

“Ini merupakan kejadian yang kedua kali dan pada akhirnya pasar merespons negatif terhadap kebijakan tersebut,” katanya dalam riset tertulis.

Kedua, pasar juga kecewa terhadap molornya program vaksinasi. Diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan rencana vaksin covid-19 yang ditargetkan Desember molor ke Januari 2021.

Kemunduran ini disebabkan Emergency Use of Authorization (EUA) atau izin yang dikeluarkan untuk kepentingan mendesak tak mungkin diberikan akhir tahun ini.

“Pasar kecewa tentang penundaan vaksinasi tersebut,” katanya.

(ulf/agt)






Source link

Hadeeehhh… Rupiah Kayaknya Mau Melemah Nih



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat jelang penutupan perdagangan pasar spotkemarin dibandingkan hari ini, Jumat (20/11/2020), mengutip data Refinitiv:











Periode

Kurs 19November (14:54 WIB)

Kurs 20 November (07:20 WIB)

1 Pekan

Rp14.163,5

Rp 14.197,5

1 Bulan

Rp14.200

Rp 14.235

2 Bulan

Rp14.227,5

Rp 14.262,5

3 Bulan

Rp14.267,5

Rp 14.302,5

6 Bulan

Rp14.367,3

Rp 14.417,5

9 Bulan

Rp 14.489,4

Rp 14.550,5

1 Tahun

Rp 14.664,5

Rp 14.680

2 Tahun

Rp 15.410

Rp 15.424

 

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 19 November pukul 14:23 WIB:




Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.188

3 Bulan

Rp 14.283

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link

Pak Perry Mohon Petunjuk, Rupiah Gatal Jebol Rp 14.000/US$


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke Rp 14.050/US$ pada perdagangan Rabu kemarin, setelah membukukan penguatan tajam 0,86% dalam 2 hari sebelumnya.

Pada Selasa lalu, rupiah sempat menyentuh level “angker” alias level psikologis Rp 14.000/US$, pada pekan lalu bahkan sempat ditembus, tetapi sayang masih belum mampu mengakhiri perdagangan di bawahnya.

Penguatan tajam tersebut, dan rupiah yang berada di level terkuat 5 bulan terkahir memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat rupiah melemah kemarin. Apalagi hari ini, Kamis (19/11/2020), Bank Indonesia akan mengumumkan hasil Rapat Kebijakan Moneter (RDG).


Gubernur BI, Perry Warjiyo ,dan sejawat menggelar RDG pada 18-19 November 2020. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate masih bertahan di 4%.

Dari 13 ekonom/analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, delapan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan tidak akan berubah. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kejutan dari BI dengan memangkas suku bunga.

Selain itu pelaku pasar tentunya akan melihat petunjuk-petunjuk dari Gubernur Perry, mengenai kondisi perekonomian, stabilitas finansial, nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan moneter ke depannya. 

BI hingga saat ini masih “merestui” rupiah untuk terus menguat, baik Gubernur Perry dan pejabat BI lainnya berulang kali mengatakan rupiah masih undervalue.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR kini bergerak jauh di bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), sehingga memberikan momentum penguatan.

Sementara itu, indikator stochastic pada grafik harian berada di wilayah jenuh jual (oversold).


idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ada risiko rupiah akan terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking), dengan resisten berada di kisaran Rp 14.080/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah lebih jauh ke Rp 14.115/US$, sebelum menuju Rp 14.150/US$.

Sementara itu support terdekat berada di kisaran level “angker”14.000/US$, penembusan di bawah level tersebut akan membawa rupiah ke Rp 13.975/US$.

Rupiah berpeluang menuju 13.810/US$ di pekan ini jika mampu menembus dan mengakhiri perdagangan hari ini di bawah level “angker” tersebut. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Belum Beranjak Dari Rp 14.060/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 0,5% kemarin.

Pada Rabu (18/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.060/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,21% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya di pembukaan perdagangan rupiah menguat 0,07% ke Rp 14.020/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.078,5
1 Bulan Rp14.112,0
2 Bulan Rp14.128,0
3 Bulan Rp14.168,9
6 Bulan Rp14.281,2
9 Bulan Rp14.429,0
1 Tahun Rp14.564,0
2 Tahun Rp15.335,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 11:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.040
3 Bulan Rp 14.090

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 14.017 14.202
Bank BRI 13.845 14.355
Bank Mandiri 14.050 14.150
Bank BCA 14.100 14.130
CIMB Niaga 13.800 14.400
Bank BTN 13.900 14.250

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Masih di Rp 14.020/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 0,35% awal pekan kemarin.

Pada Selasa (17/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.020/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,57% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Di pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,71% ke Rp 14.000/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 9:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.042,1
1 Bulan Rp14.073,0
2 Bulan Rp14.097,6
3 Bulan Rp14.134,0
6 Bulan Rp14.252,0
9 Bulan Rp14.387,0
1 Tahun Rp14.527,0
2 Tahun Rp15.285,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 9:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.047
3 Bulan Rp 14.140

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 9:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 13.967 14.152
Bank BRI 13.835 14.345
Bank Mandiri 14.000 14.075
Bank BCA 14.055 14.085
CIMB Niaga 13.780 14.380
Bank BTN 13.888 14.238

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Rupiah Belum Beranjak Dari Rp 14.125/US$



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau di perdagangan pasar spot hari ini, setelah membukukan penguatan 6 pekan beruntun.

Pada Senin (16/11/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.125/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,18% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Sebelumnya rupiah sempat menguat 0,38% di Rp 14.095/US$

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:54 WIB:











Periode Kurs
1 Pekan Rp14.095,7
1 Bulan Rp14.123,6
2 Bulan Rp14.155,1
3 Bulan Rp14.190,1
6 Bulan Rp14.315,1
9 Bulan Rp14.446,8
1 Tahun Rp14.602,4
2 Tahun Rp15.370,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 11:54 WIB:




Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.100
3 Bulan Rp 14.200

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:51 WIB:








Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 14.037 14.222
Bank BRI 14.035 14.305
Bank Mandiri 14.075 14.150
Bank BCA 14.120 14.150
CIMB Niaga 13.850 14.550
Bank BTN 13.950 14.300

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)




Source link

Ada Pertanda Rupiah Mau Menguat Nih…



Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda apresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat jelang penutupan perdagangan pasar spotakhir pekan lalu dibandingkan hari ini, Jumat (16/11/2020), mengutip data Refinitiv:











Periode

Kurs 13November (14:54 WIB)

Kurs 16 November (07:16 WIB)

1 Pekan

Rp14.212,5

Rp 14.183,1

1 Bulan

Rp14.244,8

Rp 14.224

2 Bulan

Rp14.275,5

Rp 14.252,85

3 Bulan

Rp14.312,5

Rp 14.292,35

6 Bulan

Rp14.439,5

Rp 14.442,25

9 Bulan

Rp 14.571,3

Rp 14.576,56

1 Tahun

Rp 14.730,3

Rp 14.729

2 Tahun

Rp 15.479

Rp 15.475

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 13 November pukul 14:47 WIB:




Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.190

3 Bulan

Rp 14.290

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)




Source link