fbpx
Keran Ekspor APD Dibuka, Ini Dampaknya Bagi Industri TPT

Keran Ekspor APD Dibuka, Ini Dampaknya Bagi Industri TPT


Jakarta, CNBC Indonesia-  Pembukaan keran ekspor alat pelindung diri (APD) dan alat kesehatan menjadi angin segar bagi industri tekstil dan garmen dalam negeri. Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk (PBRX), Anne Patricia Sutanto, menyebutkan, APD yang diekspor dipastikan tidak mengganggu pasokan APD dalam negeri.

PBRX juga mencatat produksi tidak mengalami penurunan dan mengalami kenaikan 15% sepanjang H1-2020 ditopang stabilnya permintaan global brand dan diharapkan dapat berahan hingga akhir 2020. Seperti apa kinerja PBRX di industri tekstil? Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dengan Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers, Anne Patricia Sutanto dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Kamis, 10/09/2020)




Source link

Kadin Sebut Industri Tekstil RI Masih Gagap Produksi APD

Kadin Sebut Industri Tekstil RI Masih Gagap Produksi APD


Jakarta, CNN Indonesia —

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menengarai industri tekstil domestik belum siap menggarap produk baju hazmat atau Alat Pelindung Diri (APD) tenaga medis. Padahal, permintaannya meningkat selama pandemi virus corona.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengungkap industri tekstil dalam negeri saat ini masih banyak terfokus pada produk pakaian, sedangkan potensi untuk produk nonpakaian belum banyak digarap.

“Bagaimana (potensi) untuk tesktil yang nonpakaian? masih luas sekali. Sampai hari ini terjadi Covid-19, kita pun gagap menanggapi pembuatan APD karena bahan bakunya kita tidak punya,” kata Benny dalam webinar bertajuk “Penyelamatan Industri Tekstil” seperti dikutip dari Antara, Rabu (26/8).


Berkaca dari kondisi itu, ia menilai keterlibatan seluruh pihak untuk memajukan industri sangatlah penting. Terlebih, selain menciptakan lapangan kerja, industri pada umumnya juga berperan dalam meningkatkan devisa negara.

Untuk memajukan sektor industri, Benny menyebutkan ada tiga pilar yang perlu dioptimalisasi, yakni pembiayaan, power dan main power. Ketiga pilar ini dinilai penting untuk mendorong produk yang dihasilkan industri dapat berdaya saing di pasar global.

“Misalnya lembaga keuangan, produk-produk pembiayaannya masih seperti dulu. Saya mulai industri di tahun ’82, ya masih seperti itu, belum ada produk pembiayaan yang baru,” kata dia.

Selain itu, harga listrik untuk industri juga masih terbilang mahal dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Kondisi itu menyebabkan hasil produk menjadi mahal dan kurang berdaya saing di pasar dunia.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/agt)





Source link