fbpx
Bos Bio Farma Bantah Cina Jual Vaksin Lebih Mahal ke Indonesia Ketimbang Brasil

Bos Bio Farma Bantah Cina Jual Vaksin Lebih Mahal ke Indonesia Ketimbang Brasil


TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir membantah harga vaksin Sinovac produksi perusahaan farmasi asal Cina, Sinovac Biotech Ltd, yang dijual kepada Indonesia lebih mahal ketimbang yang dipasarkan di Brasil. Saat ini, harga penjualan vaksin Sinovac berkisar Rp 200 ribu per dosis.

Pernyataan tersebut menanggapi kabar yang beredar bahwa Sinovac menjual vaksin per dosis seharga Rp 1,96 (sekitar Rp 29 ribu) di Brasil, atau jauh lebih murah ketimbang yang dipatok untuk Indonesia. Honesti mengklaim pihaknya telah menghubungi Sinovac terkait persoalan ini.

“Mereka (Sinovac) sudah mengirimkan surat elektronik resmi ke Bio Farma, yang memastikan bahwa informasi dalam pemberitaan tentang kontrak pembelian 46 juta dosis dengan nilai kontrak US$ 90 juta dengan pemerintah Brasil tidak tepat dan mengenai harga US$ 1.96 per dosis  pun tidak tepat,” ujar Honesti pada Selasa, 13 Oktober 2020.

Honesti menyatakan harga vaksin tidak mungkin terlalu murah karena biaya pengiriman tiap dosisnya saja sekitar US$ 2. Meski demikian, dia mengakui skema pemberian harga vaksin Covid-19 tidak dapat diseragamkan.

Sinovac dalam surat resminya menyampaikan ada beberapa komponen pembentuk harga vaksin Covid-19. Salah satunya investasi pada studi klinis fase ketiga, terutama dalam uji efikasi dalam skala besar. Faktor pembentuk harga itu juga berlaku untuk pembelian dari Indonesia. Ia memastikan perusahaan mengikuti prinsip-prinsip produsen.





Source link

Cina Kuasai 73 Persen Pasar Ponsel di Indonesia, Siapa Teratas?

Cina Kuasai 73 Persen Pasar Ponsel di Indonesia, Siapa Teratas?


TEMPO.CO, Jakarta – Persaingan di pasar ponsel pintar Cina sangat ketat dan banyak merek yang menyasar pasar ke luar China. Menurut laporan terbaru Counterpoint Research, salah satu pasar ponsel pintar (smartphone) yang sedang berkembang di dunia adalah Indonesia.

Menurut laporan tersebut, merek Cina memiliki porsi besar dalam pasar ponsel pintar Indonesia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pada kuartal kedua tahun ini, Vivo memimpin pasar dengan pangsa pasar 21,2 persen.

Setelah Vivo, ada Oppo di posisi kedua dengan 20,6 persen, lalu Samsung 19,6 persen, Xiaomi (17,9 persen) dan Realme (13,6 persen). Di antara mereka, produsen ponsel Cina menyumbang 73,3 persen. Ini menunjukkan betapa populernya merek Cina di Indonesia.

Pada kuartal kedua tahun lalu di Indonesia, pabrikan terkemuka di pasar adalah Samsung. Namun, karena beberapa alasan, pangsa pasar pabrikan ini menurun, tetapi Vivo dan Realme mengantarkan pertumbuhan substansial.

Selain itu, saat mengomentari pasar yang dibawa oleh platform daring, Wakil Direktur CounterPoint mengatakan bahwa Xiaomi telah menjadi pemimpin dalam penjualan saluran daring dengan pangsa 40 persen.

Adapun, Redmi 8A menjadi model terlaris yang dijual secara daring, disusul Realme seri 5i dan Redmi Note 8.

“Selain Xiaomi, Realme dan Samsung masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga dalam penjualan pasar online,” tuturnya seperti dikutip dari www.gizchina.com.

Sayangnya, baik portal berita daring tersebut maupun Counterpoint Research tidak secara spesifik menyebutkan jumlah unit ponsel pintar yang terjual selama periode tersebut.





Source link

Pendapatan Global TikTok Anjlok 14 Persen

Pendapatan Global TikTok Anjlok 14 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Berdasarkan data statistik terbaru dari Sensor Tower, pendapatan global TikTok pada Agustus 2020 telah anjlok 14 persen dibanding Juli. Diduga, anjloknya pendapatan ini terjadi karena pelarangan penggunaan aplikasi TikTok oleh Donald Trump di Amerika Serikat. 

Meski begitu, menurut laporan tersebut, dikutip dari laman Gizchina, Sabtu 5 September 2020, TikTok masih menjadi aplikasi non-game tertinggi di dunia.

Pada Agustus, total pendapatan TikTok di Apple Store dan Google Store sebesar US$ 88,1 juta. Jumlah ini turun 14 persen dibanding bulan sebelumnya yang menyentuh angka US$102 juta. Sementara itu, angka untuk aplikasi dari April hingga Juni tahun ini yaitu US$78 juta, US$95,7 juta dan US$90,7 juta.

Sekitar 85 persen pendapatan TikTok pada bulan Agustus berasal dari Cina. Adapun pasar Amerika Serikat hanya menyumbang 7,8 persen dari total.





Source link

Trending Bisnis: Wajib Meterai di Transaksi Elektronik hingga Sosok Mafia Utang

Trending Bisnis: Wajib Meterai di Transaksi Elektronik hingga Sosok Mafia Utang


TEMPO.CO, Jakarta – Berita trending ekonomi dan bisnis sepanjang Kamis, 3 September 2020, dimulai dari aturan baru bea meterai untuk transaksi elektronik, jawaban stafsus Sri Mulyani soal mafia utang dan rencana investasi FMG di Kalimantan Timur. 

Selain itu, ada juga berita tentang Faisal Basri yang tak yakin Ekonomi Indonesia terbesar kelima dunia di 2025 dan rencana investor Australia mengembangkan ekonomi hijau. Berikut lima berita trending ekonomi dan bisnis sepanjang hari Kamis.

1. Mulai 1 Januari 2021, Transaksi Elektronik di Atas Rp 5 Juta Kena Bea Meterai

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Hestu Yoga Saksama mengatakan transaksi digital dengan nilai Rp 5 juta ke atas akan dikenakan bea meterai. Termasuk, pada pembelanjaan di e-commerce untuk nilai tersebut.

“Iya. Itu dengan meterai digital, enggak harus ditempelkan. Jadi ditambahkan. Mau belanja Rp 10 juta atau Rp 1 miliar, tetap kena bea meterai Rp 10 ribu,” ujar  Hestu di Kompleks Parlemen, Kamis, 3 September 2020.

Sejatinya, selama ini pun, menurut Hestu, seharusnya belanja dengan nilai di atas Rp 1 juta mesti dikenakan bea meterai. Namun, ia menduga tidak semua retail mengenakan bea tersebut.





Source link