fbpx

Ide Jokowi Agar Ekonomi Anggota APEC Bisa Bangkit dari Corona



Jakarta, CNN Indonesia —

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan pentingnya mereaktivasi pertumbuhan ekonomi negara-negara APEC yang terdampak pandemi corona.

Kepala Negara, kata Retno, mengharapkan pertumbuhan ekonomi di negara kawasan pasifik bisa berbalik positif pada 2021 mendatang. Untuk mencapai harapan itu, Jokowi katanya menilai berbagai upaya harus dilakukan mulai dari sekarang.

“Presiden menekankan pentingnya mereaktivasi pertumbuhan ekonomi APEC, Presiden mengharapkan 2021 akan terjadi pertumbuhan positif dan upaya harus didorong dari sekarang,” katanya dalam keterangan resmi secara virtual pada Jumat (20/11).







Retno mengatakan ada beberapa contoh upaya reaktivasi yang ditekankan Jokowi supaya ekonomi bisa bangkit dari tekanan corona. Salah satunya dengan mendorong perjalanan bisnis yang penting (essential) dengan mengoptimalisasi APEC Business Travel Card tapi tetap menjalankan protokol kesehatan disiplin.

Dia menambahkan rantai pasok, konektivitas, dan digitalisasi ekonomi juga harus diperkuat dan menjadi fokus utama negara-negara APEC.

“Ketiga, Presiden menekankan reformasi struktur dan multilateralisme harus terus didorong,” tambahnya.

Retno mengatakan reaktivasi ekonomi harus segera dilakukan karena data Jokowi, pandemi telah membuat 34 juta penduduk di kawasan pasifik kehilangan mata pencaharian.

[Gambas:Video CNN]

(wel/agt)






Source link

Ridwan Kamil Ungkap 7 Potensi Pengembangan Ekonomi Baru di Jawa Barat


TEMPO.CO, Bandung – Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil atau Kang Emil menyebutkan ada tujuh pengembangan ekonomi baru yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Barat dan bisa dioptimalkan potensinya usai wilayah Jabar mampu mengatasi pandemi Covid-19.

“Dalam new economic Jabar, itu ada tujuh ekonomi baru yang akan jadi re-focusing Jabar. Tujuh potensi ini akan menjadi kekuatan Jabar di masa mendatang pasca Covid-19,” kata Kang Emil pada hari kedua acara West Java Investment Summit 2020 di Kota Bandung, Selasa, 17 November 2020.

Pertama, menurut dia, Jawa Barat akan menangkap potensi relokasi industri dari Cina ke negara-negara ASEAN. Karena itu, Jawa Barat siap berkompetisi dengan daerah maupun negara lain, melalui pembenahan di berbagai sektor seperti perbaikan mutu pendidikan, infrastruktur, stabilitas sosial-politik dan reformasi pemerintahan.

“Jadi Jabar harus menjadi region yang siap menerima investor China ke negara-negara ASEAN,” kata Ridwan.

Kedua, kata Kang Emil, terkait ekonomi swasembada yang ujungnya berhubungan dengan ketahanan pangan seperti yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan meluncurkan Program Petani Milenial.

“Jadi kita akan mengajak generasi milenial untuk mau bertani, caranya dengan Pemprov Jabar menyewakan lahan ke anak muda untuk jadi petani,” kata dia.





Source link

RI Susah Maju karena Literasi Keuangan Rendah, Cuma 37% Gaes!



Jakarta, CNBC Indonesia – Tingkat inklusi keuangan di Indonesia memang sudah membaik mendekati angka 80% namun hal ini belum diimbangi dengan literasi keuangan atau melek keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 37%.

Oleh sebab itu, Menurut Sekretaris Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Ahmad Solichin Lutfiyanto, ini menjadi tantangan besar bagi industri perbankan di Indonesia.

“Penetrasi keuangan di Indonesia sudah hampir 80%, masalah utamanya bukan inklusi, tapi yang terbesar adalah literasi keuangan,” kata Direktur Jaringan dan Layanan BRI ini, dalam webinar secara daring, Selasa (17/11/2020).


Dengan tingkat literasi yang baru 37% dari total penduduk lebih dari 268 juta jiwa atau baru 99,16 juta masyarakat yang sudah melek akan produk jasa keuangan. Hal tersebut menyebabkan kontribusi terhadap perekonomian masih belum optimal.

“Jika tingkat literasi keuangan minimal 50% penduduk, multiplier efeknya akan luar biasanya,” ujanya.

Solichin mengakui ada tiga isu utama dalam masalah literasi keuangan di Indonesia, pertama, masalah literasi itu sendiri. Cukup sulit untuk mengedukasi sebanyak 268 juta dengan latar belakang dan demografi yang beragam. Oleh karena itu, menurut dia, tugas literasi keuangan harus melibatkan stakeholeder seperti OJK dan industri keuangan terkait lainnya secara bersama-sama

“Saat ini tidak mungkin tugas yang besar dilakukan sendiri-sendiri,” katanya.

Salah satu upaya yang didorong ke depan adalah memperluas peran agen Laku Pandai dari yang hanya kepanjangan tangan bank untuk mempercepat literasi keuangan masyarakat, mereka akan didorong sebagai advisory.

Adapun dua isu lainnya adalah terus meningkatkan akses terhadap industri perbankan. Di sini, peran kantor cabang bank dan jasa keuangan harus dioptimalkan. Terakhir melalui penggunaan teknologi untuk memperluas coverage masyarakat yang belum terakses literasi keuangan.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)




Source link

Gubernur BI Prediksi Ekonomi Tumbuh 6 Persen pada 2025



Jakarta, CNN Indonesia —

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen pada 2025 mendatang. Ia meyakini ekonomi Indonesia sudah mulai pulih usai mengalami kontraksi yang menghantarkan pada resesi ekonomi akibat pandemi covid-19.

“Insyaallah pertumbuhan ekonomi akan positif pada kuartal IV 2020 dan akan meningkat menjadi 5 persen pada 2021, dan terus naik ke sekitar 6 persen pada kurun waktu 5 tahun mendatang,” ujarnya dalam acara West Java Investment Summit 2020, Senin (16/11).

Diketahui, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi 3,49 persen pada kuartal III 2020. Dengan demikian, Indonesia resmi memasuki jurang resesi ekonomi setelah sebelumnya mencatat minus 5,32 persen di kuartal II 2020.







Namun, Perry meyakini pada periode Oktober-Desember ekonomi akan pulih menjadi positif. Pemulihan ekonomi akan ditopang oleh perbaikan konsumsi, kinerja ekspor, dan realisasi investasi.

“Selain itu, stabilitas makro ekonomi, sistem keuangan terjaga, nilai tukar rupiah stabil, dan bahkan cenderung menguat. Lalu, inflasi rendah, defisit transaksi berjalan menurun, dan sistem perbankan keseluruhan juga sehat,” tuturnya.

Dari sisi bank sentral, ia menuturkan BI juga memberikan stimulus bagi ekonomi agar lepas dari resesi. Meliputi, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar kondusif bagi pemulihan ekonomi dan menurunkan suku bunga acuan sebesar 1 persen sejak awal tahun menjadi 4 persen pada Oktober 2020.

“Kami juga melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing dalam jumlah besar, lebih dari Rp670 triliun atau 4 persen dari PDB,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia baru memasuki fase pemulihan pada kuartal II 2021. Meski demikian, fase pembalikan ekonomi dari kontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020 lalu dimulai pada kuartal III lalu.

“Tahun depan kami berharap akan berjalan (pemulihan ekonomi) terutama pada kuartal kedua dan ketiga, dan ini akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan minimal 5 persen,” ucapnya dalam “Forum Diskusi Sektor Finansial” yang digelar CNBC Indonesia.

Tahun ini, Kementerian Keuangan memproyeksi pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran minus 0,6 persen hingga minus 1,7 persen. Namun demikian, lanjutnya, berbagai institusi lain memprediksi laju ekonomi Indonesia berada di rentang minus 1 hingga 1,5 persen.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/bir)






Source link

Khofifah Dorong Warga Menengah Atas Beli Produk UMKM Agar Ekonomi Bergerak


TEMPO.CO, Jember – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis perekonomian di Jawa Timur akan bergerak signifikan di tengah pandemi Covid-19.

“Setiap kami turun ke daerah selalu mengunjungi pelaku UMKM, sehingga kami minta warga menengah ke atas untuk belanja produk lokal UMKM agar ekonomi bergerak signifikan,” katanya usai gowes di Kabupaten Jember, Minggu, 15 November 2020.

Saat gowes bersama sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Jember, Khofifah menyempatkan untuk mengunjungi produksi oleh-oleh khas Jember di UMKM Purnomo Jati yang memproduksi berbagai olahan tape seperti suwar-suwir, brownis tape, dan prol tape.

“Dalam rangkaian pemulihan ekonomi berbagai program dan stimulus diberikan baik dari pemerintah pusat maupun Pemprov Jatim yang kami kemas formatnya gowes dan distribusi program berbagai pihak lintas sektor,” katanya.

Beberapa bantuan yang diberikan Khofifah di Jember di antaranya penyerahan sertifikat program strategis nasional, bantuan langsung tunai, bantuan subsidi upah, dan Bantuan Presiden Produktif UMKM untuk para usaha mikro, juga ada stimulus perbankan seperti kemudahan pengajuan kredit dan relaksasi kredit.

“Program tersebut diharapkan dapat membantu dan mengurangi beban masyarakat akibat dampak Covid-19. Kami juga keliling ke daerah untuk memastikan bantuan itu tepat sasaran,” katanya.





Source link

Potensi Ekonomi dari Perjanjian Dagang RCEP Versi Kemendag



Jakarta, CNN Indonesia —

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto memaparkan berbagai potensi peningkatan ekonomi yang bisa didapat Indonesia dari hasil penandatanganan perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Menurut dia, ekspor, hingga investasi berpotensi tumbuh subur.

Mengutip kajian sebuah lembaga swasta pada September 2020, Agus mengatakan potensi peningkatan ekonomi ini bisa didapat Indonesia pada tahun kelima sejak ratifikasi perjanjian RCEP.

Peningkatan ekonomi berasal dari kenaikan hubungan kerja sama dengan para negara RCEP, yaitu negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.







“RCEP berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke negara-negara peserta sebesar 8 persen sampai 11 persen dan investasi ke Indonesia sebesar 18 persen sampai 22 persen,” ujar Agus dalam konferensi pers virtual bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (15/11). 

Indonesia juga bisa mendapat manfaat lain dari perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dari negara-negara RCEP dengan negara-negara non-RCEP. 

“Perluasan peran Indonesia melalui global supply chain dari spill over effects ini berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke dunia sebesar 7,2 persen,” katanya. 

Lebih lanjut Agus bilang proyeksi peningkatan potensi ekonomi ini berhasil dari kajian perkembangan ekonomi Indonesia dan para negara RCEP dalam lima tahun terakhir.

Menurut catatannya, 15 negara RCEP mewakili 29,6 juta penduduk dunia, 32 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 27,4 persen perdagangan dunia, dan 29,8 persen investasi asing dunia. 

Potensi juga berasal dari realisasi pertumbuhan ekspor Indonesia ke 15 negara RCEP yang mencapai 7,35 persen dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019, total ekspor nonmigas Indonesia ke 15 negara RCEP mencapai 56,1 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia mencapai US$84,4 miliar. Sementara, nilai impor dari negara-negara RCEP ke Indonesia mencapai 65,79 persen dari total impor mencapai US$102 miliar dari seluruh dunia. 

Kendati begitu, ia menekankan potensi ini bisa ditangkap bila koordinasi bisnis di dalam negeri mendukung dan terhubung. Mulai dari dunia usaha besar hingga UMKM, pemerintah, dan lainnya. 

“Tak ada cara lain untuk memetik manfaat RCEP secara maksimal, selain meningkatkan daya saing dan itulah yang dilakukan negara-negara pesaing kita secara terus menerus,” tuturnya. 

Di sisi lain, Agus berharap RCEP bisa menjadi katalitas bagi Indonesia untuk memasuki lebih dalam global value chain. Selain itu, bisa membantu pemulihan ekonomi nasional usai resesi ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19. 

Sebagai informasi, perjanjian perdagangan RCEP baru saja diteken oleh para menteri perdagangan dan menteri yang mewakili pada hari ini. Penandatanganan juga disaksikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

[Gambas:Video CNN]

(uli/bir)






Source link

Jokowi Prediksi Ekonomi Digital RI Sentuh US$1,8 Kuadriliun



Jakarta, CNN Indonesia —

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan ekonomi digital Indonesia dapat mencapai US$133 miliar atau sekitar Rp1,8 kuadriliun pada 2025 mendatang. Hal ini seiring dengan kemajuan perkembangan digital, khususnya di masa pandemi covid-19 atau virus corona.

Mengutip laman resmi setkab.go.id, Jokowi menyatakan potensi ekonomi digital di ASEAN mencapai US$200 miliar. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan jaringan seluler telah menjangkau lebih dari 95 persen populasi di dunia.

Sementara, 441 juta orang atau 65 persen populasi ASEAN adalah pengguna internet per Juni 2020. Ini berarti ketergantungan dunia terhadap teknologi semakin tinggi.







“Lebih dari 1,5 miliar anak harus belajar dari rumah, ratusan juta orang harus bekerja dengan platform virtual, online shopping meningkat tajam. Kondisi ini tentu memberikan peluang besar untuk mempercepat transformasi digital,” ungkap Jokowi dalam keterangan resmi, Sabtu (14/11).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan nilai ekonomi digital dari internet berpotensi naik 3 kali lipat hingga 2025 mendatang. Nilai ekonomi digital internet pada 2019 sebesar US$40 miliar, sedangkan 5 tahun lagi diprediksi lebih dari US$133 miliar.

Proyeksi dibuat berdasarkan riset yang dilakukan oleh Google, Temasek dan Bain & Company bertajuk e-Conomy SEA 2020 at Full Velocity: Resilient and Racing Ahead.

Sementara, ia bilang ekonomi digital dari transaksi e-commerce berpotensi naik dari US$20 miliar menjadi US$82 miliar. Ini berarti ada potensi kenaikan hingga 4 kali lipat.

“Lalu online travelling naik dari US$10 miliar ke US$25 miliar. Itu 2,5 kali lipat,” jelas Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, potensi ekonomi digital Indonesia memang sangat besar. Namun, itu bisa menjadi percuma jika infrastruktur yang ada tak mendukung sektor digital itu sendiri.

Makanya, pemerintah mengalokasikan  dana sebesar Rp413 triliun untuk pembangunan infrastruktur dan Rp30 triliun untuk transformasi digital pada 2021. Dana itu dianggarkan untuk mengembangkan infrastruktur dan sektor digital di Indonesia.

(aud/chs)

[Gambas:Video CNN]






Source link

Resmi Resesi, Pemerintah Tetap Yakin Ekonomi 2021 Tumbuh 5 Persen


TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah tetap berkeyakinan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5 persen pada 2021. Angka ini sesuai dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang sudah dipatok pada APBN 2021.

“Mudah-mudahan bisa tercapai,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Kamis, 5 November 2020.

Keyakinan tersebut disampaikan Suharso di tengah kondisi saat ini yang sedang resesi. Beberapa jam sebelumnya, Indonesia resmi masuk resesi teknikal setelah tumbuh minus dua kuartal berturut-turut.

Dari minus 5,32 persen (year-on-year) pada kuartal II 2020 menjadi minus 3,49 yoy persen pada kuartal III 2020. Tapi secara kuartal, terjadi rebound pada periode yang sama. Dari minus 4,19 persen (quartal-to-quartal/qtq) menjadi 5,05 persen.

Sehingga, Suharso pun menyebut rebound ekonomi pada kuartal III 2020 ini menandakan kebijakan pemerintah sudah responsif dan adaptif. Ia berharap tren perbaikan berlanjut di kuartal IV 2020, sehingga ekonomi sepanjang 2020 bisa tumbuh mendekat 0 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga berharap tren positif berlanjut di kuartal IV 2020. Bagi dia, titik terendah sudah dilewati pada kuartal II 2020. “Artinya kita sudah melewati rock bottom,” kata dia.

Airlangga juga mengatakan sejumlah indikator sudah menunjukkan perbaikan, walau produksi dan daya beli masih belum pulih. Prompt Manufacturing Index (PMI) berada di posisi 44,91 pada kuartal III 2020, dari posisi 28,55 pada kuartal II 2020.

Pertumbuhan penjualan retail per September 2020 minus 7,3 persen yoy, lebih tinggi dari Maret 2020 yang minus 20,6 persen. Impor barang modal dan barang baku naik pada Oktober 2020, masing-masing 19,01 persen (month-to-month/mtm) dan 7,23 mtm.

Akan tetapi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sedang berbalik arah. Maret 2020, berada di posisi 77,8. Sempat naik mendekati posisi 90 pada Juli 2020, lalu turun lagi pada September 2020 ke posisi 83,4.

Baca: Airlangga, Sri Mulyani, dan Istana Sebut RI Lewati Titik Terendah, Apa Artinya?





Source link

Peringatan BPS, Covid Masih BIsa Ganjal Pemulihan Ekonomi



Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan perekonomian sejumlah negara di dunia mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal III 2020, dibandingkan kuartal II 2020. Namun, peningkatan kasus pandemi covid-19 menjadi hambatan pada perbaikan ekonomi tersebut.

“Kami bisa lihat berbagai pergerakan indikator di banyak negara mengalami perbaikan, tapi perbaikan itu masih menghadapi kendala karena masih tingginya kasus covid-19,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020, Kamis (5/11).

Ia mencontohkan sejumlah negara di Eropa bahkan sudah kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown) karena terjadi lonjakan kasus positif covid-19. Itu meliputi, Inggris, Prancis, dan Austria.







“Jadi, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kuartal mendatang,” ucapnya.

Sementara itu, negara mitra dagang Indonesia juga masih mengalami kontraksi pada kuartal III 2020. Namun, tidak sedalam pada kuartal II 2020.

Misalnya, AS mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar minus 2,9 persen dari sebelumnya minus 9 persen di kuartal II 2020.

Lalu, pertumbuhan ekonomi Singapura minus 7 persen dari sebelumnya minus 13,3 persen. Kemudian, Korea Selatan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi minus 1,3 persen dari sebelumnya minus 2,7 persen dan Hong Kong minus 3,4 persen dari sebelumnya minus 9 persen.

Hanya China dan Vietnam yang bebas dari resesi ekonomi. Ekonomi China mampu tumbuh positif pada kuartal III 2020 sebesar 4,9 persen.

Sementara ekonomi Vietnam tumbuh 2,6 persen pada Juli-September.

[Gambas:Video CNN]

“Pangsa pasar Indonesia ke China sebesar 19,6 persen paling besar, China pada kuartal III ekonominya sudah tumbuh 4,9 persen karena recovery-nya cepat sekali,” ucapnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen pada kuartal III 2020. Dengan demikian, Indonesia resmi memasuki jurang resesi ekonomi setelah sebelumnya kontraksi 5,32 persen.

Namun, secara kuartal (quartal to quartal/qtq), ekonomi Indonesia berhasil tumbuh positif 5,05 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dari kuartal II 2020 lalu, yang tercatat kontraksi minus 4,19 persen (qtq).

(ulf/agt)






Source link

Warga soal Resesi Ekonomi RI: Apaan Tuh?



Jakarta, CNN Indonesia —

Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Indonesia masuk ke dalam jurang resesi dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut hingga kuartal III 2020.

Meski Kabinet Indonesia Maju telah mengantisipasi resesi sejak berbulan-bulan yang lalu, banyak kaum milenial yang tak paham arti resesi meski mereka merupakan kelompok yang merasakan dampak resesi secara langsung.

“Resesi? Apaan tuh?” ucap Yuli (22) dengan dahi mengernyit sebelum mencari tahu lewat mesin pencarian Google.







Dia mengaku tak pernah mendengar kata ‘resesi’ sebelumnya. Bagi pekerja di sektor nonformal sepertinya, resesi adalah istilah yang asing.

Setelah berselancar di internet mencari tahu arti resesi, Yuli tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia mengaku masih tak paham. Ekonomi, bagi dia, sebatas beberapa juta rupiah yang datang dan pergi dari rekening bank setiap bulannya.

Selama ia masih memiliki pekerjaan dan gajinya tak berkurang, Yuli menilai resesi bukan masalahnya. Sejauh ini ia belum merasakan dampak dari resesi, pekerjaannya masih lancar, jajan bulanan pun tak perlu direm.

“Biar deh, yang penting masih bisa makan,” katanya.

Dina (27) malah kaget mendengar Indonesia baru dinyatakan resesi. Pasalnya, dia merasa ‘dicekoki’ pemberitaan mengenai resesi sejak beberapa bulan yang lalu hingga ia pikir resesi sudah terjadi dari beberapa bulan yang lalu.

“Hah? Baru resesi? Bukannya sudah ya dari kemarin-kemarin?” ucapnya.

Dia menilai wajar jika Indonesia terperosok dalam jurang resesi. Seperti negara-negara lainnya, RI tak kebal dari dampak ekonomi pandami covid-19.

Ibu rumah tangga dua anak ini mengaku khawatir jika resesi terjadi berkepanjangan. Jika mencari makan kian sulit, ia khawatir cicilan bulanan dan uang sekolah anaknya terancam menunggak.

“Harapannya covid-19 bisa cepat selesai, sudah mau setahun ini,” harap dia.

Melisa (23), mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jakarta juga mengaku tak tahu menahu soal resesi. Dia secara blak-blakan menyebut tak tertarik untuk mencari tahu.

“Enggak tahu (resesi), sudah lama enggak baca berita. Kalau resensi tahu,” katanya diselingi tawa.

Mahasiswa semester terakhir ini menyebut ia tak paham arti resesi meski dampak dari resesi yaitu meningkatnya pengangguran dan kian sempitnya lapangan kerja berdampak langsung untuk calon pekerja.

Selain sibuk mempersiapkan sidang kuliah, ia juga sudah malas membaca pemberitaan yang menurutnya dipenuhi oleh kabar buruk.

Dia hanya berharap pemerintah dapat mengatasi permasalahan yang tengah menggerogoti Indonesia, baik itu pandemi atau pun dampak turunannya, seperti resesi ekonomi.

Sebagai informasi, resesi merupakan suatu keadaan di mana ekonomi negara negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020.

Dengan pertumbuhan itu berarti ekonomi Indonesia minus dalam dua kuartal terakhir. Pasalnya, pada kuartal II 2020 kemarin ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

[Gambas:Video CNN]

(wel/sfr)






Source link